Elang sedang berada di halaman belakang sedang bersama seorang wanita tinggi semampai, kulit bersih seperti s**u, iris mata biru dan hidung mancung. Mereka terlihat begitu akrab. “Lo kenapa tiba-tiba nyuruh gue ke sini?” tanya wanita tersebut. “Gue lagi suntuk, Lice. Gue dikhianati sama Jeny. Wanita yang begitu kusayangi.” Elang menerawang jauh ke depan. “Yaelah kayak gitu aja sedih lo. Cewek kayak gitu udah lupain aja, Lang.” Alice menepuk pundak Elang. “Entahlah Lice, gue benar-benar kecewa sama Jeny, gue udah berkorban banyak hal sama dia. Ternyata dia cuma manfaatin gue doang.” Elang mengepal tangannya dengan kuat. “Lagian kalau emang si Jeny itu cinta banget sama lo, ya nggak mungkinlah dia nolak waktu lo ajak nikah. Bukan malah rela lo nikah sama cewek lain.” Alice tertawa keci

