Akhirnya, setelah kurang lebih melakukan perjalanan selama sebelas jaman Elang dan Annora sampai di tempat tujuan. Mereka sampai pukul 07.00. Matahari sudah terbit saat mereka tiba. Pulau Bali salah satu destinasi wisata di Indonesia, terkenal akan keindahan pemandangan alam, salah satunya pantai pasir putih. Elang sering liburan ke Bali ke beberapa pantai terkenal di Bali, ke Pantai Kuta Bali, Pantai Jimbaran, Pantai Nusa Dua, Pantai Tanjung Benoa. Berbeda dengan Annora, dia baru pertama kali ini datang ke Bali.
Elang memutuskan untuk menginap di hotel yang ada di Pantai Karma. Karena itu Elang mengarahkan ke Hotel Karma Kandara Ungasan. Jika menginap di hotel akan memudahkan jika ingin mengunjungi Pantai Karma. Setiba di halaman hotel Elang segera memarkirkan mobilnya. Setelah itu dia membangunkan Annora karena Annora masih tertidur.
“Hey, bangun udah nyampe! Tidur apa ngebo?” Elang kesal karena Annora sangat lama bangunnya. Sudah dibangunkan.
Annora menggeliat. Lalu, dia mengerjap.
“Udah sampai di hotel? Masih ngantuk aku, pengen tidur lagi.”
“Astaga! Melek dulu makanya!” Elang terdengar sewot. “Ayo turun!” ajak Elang.
Annora pun membuka pintu depan, sementara Elang membuka bagasi untuk mengambil barang-barang. Annora tersenyum puas karena ternyata Elang tidak menyuruhnya membawa kopernya. Mungkin dia takut nantinya Annora mengadu pada kedua orang tua Elang.
Annora hanya mengikuti Elang. Dia benar-benar takjub dengan suasana hotel ini. Baru masuk di bagian resepsionis Annora sudah terpukau. Elang menyeret Annora karena Annora berjalan dengan lambat.
“Lo nggak usah malu-maluin! Nggak usah jelalatan itu mata! Biasa aja,” bisik Elang dengan sedikit kesal.
“Maaf, kan, ini baru pertama ke sini. Jadi, ya, aku takjublah!” Annora cemberut.
“Iya, gue tahu, tapi jangan bikin malu. Udah ayo ikut aku ke resepsionis dulu,” ajak Elang sambil menarik Annora.
Annora pun hanya menurut. Hotel Karma Kandara Ungasan memang penginapan eksklusif yang menjadi lokasi menginap yang menarik. Itulah kenapa Pak Handoko menyuruh Elang bulan madu di sini. Padahal memang Elang berniat bulan madu ke sini, tapi bukan dengan Annora. Hanya saja semua ini terpaksa dilakukan. Mungkin juga kalau Jeny tahu, gadis itu akan marah besar.
Setiba di tempat resepsionis Elang dan Annora disambut dengan ramah oleh pegawainya. Menanyakan mau menginap berapa lama dan kamar yang bagaimana yang diminta. Elang meminta kamar yang ekslusif, kamar suami istri dan paket bulan madu. Annora yang mendengar hanya melongo.
Annora merasa ini seperti benar-benar bulan madu. Lalu, resepsionis tersebut memberikan kunci kamar pada Elang. Elang lalu menggandeng tangan Annora. Annora menatap Elang tak berkedip, dia tak percaya Elang memperlakukan dengan begitu baik. Namun, saat sudah di kamar Elang langsung melepas tangan Annora dengan kasar.
“Nggak usah GR, gue sengaja biar orang mandangnya kita itu pengantin baru yang begitu mesra.” Elang tersenyum miring, lalu meletakkan kunci kamar di nakas dan meletakkan koper di samping almari yang tersedia di kamar hotel.
Annora hanya menarik napas dalam. Sudah menduga pasti seperti ini. Lalu, dia melangkah ke arah belakang hotel. Dia membuka gordennya. Annora begitu takjub melihat pemandangan yang indah di pantai yang terletak di bawah sana. Hotel Karma ini berada di atas tebing sedangkan untuk pantai ada di bawah. Suasana malam pasti sangat indah. Pantai ini benar-benar private, cocok memang untuk berlibur dan bulan madu. Annora hanya menelan ludah. Bulan madu kali ini bukan sebenarnya bulan madu.
“Lo, kalau mau istirahat, tidur aja! Ranjangnya dua. Gue sengaja pilih kamar dengan ranjang dua, biar lo enak tidurnya, nggak tidur di lantai lagi.”
Annora langsung menoleh, dia sama sekali tak menyangka kalau Elang ternyata sedikit perhatian. Ya, walaupun omongannya kasar.
“Nggak usah kesenangan dulu! Gue cuma nggak mau lo sakit aja karena abis tidur di lantai, gue nggak mau repot.” Elang menjawab dengan begitu sinis.
Annora hanya diam. Dia sadar diri, Elang tidak mungkin berlaku baik dan perhatian yang sesungguhnya pada Annora. Karena Annora masih merasa lelah dan mengantuk, maka dia memutuskan untuk berbaring di ranjang yang lebih kecil. Annora sadar diri, ranjang besar itu milik Elang.
“Nanti kalau abis tidur jangan lupa lo beresin itu baju di koper! Kita di sini cuma empat harian. Sebenarnya Papa Mama nyuruh satu minggu, tapi gue males di sini sama lo!” sentak Annora.
Annora hanya diam, dia tidak mau menanggapi apa pun. Annora pun berbaring membelakangi Elang.
“Eh, lo denger nggak gue ngomong apa?” tanya Elang saat menyadari Annora tidak mau berbicara dengan Elang.
“Iya, aku denger.”
“Gitu juga diam aja. Aneh!”
Suasana hening. Elang menoleh ke arah Annora, sepertinya gadis itu sudah tertidur.
“Nora! Lo nggak lapar? Nggak mau sarapan dulu?” tanya Elang, tetapi tak ada jawaban.
“Ah, ya udahlah. Makannya nanti aja. Tuh anak kayaknya emang capek.”
Setelah itu Elang pergi ke luar kamar hotel. Tepat di depan kamar hotel memiliki kolam natural, yang terbentuk oleh alam. Kemudian, Elang duduk di bangku yang terdapat di tepi kolam. Dari sini Elang juga bisa menikmati keindahan Pantai Karma.
Elang membayangkan seandainya dia pergi ke sini bersama Jeny, pasti akan sangat menyenangkan sekali. Elang menarik napas dalam. Dia sebenarnya kesal pada Jeny karena menolak saat diajak menikah dengan alasan masih ada kontrak kerjaan dan di perjanjian dilarang menikah.
Elang kemudian melihat ponselnya. Jeny sama sekali tidak menghubunginya semenjak semalam dia marah karena Elang tidak menerima panggilannya. Elang mencoba menghubungi lagi, tetapi hanya memanggil saja. Ditelepon melalui panggilan biasa tidak diangkat. Elang frustrasi. Dia kesal dan sebal pada dirinya sendirinya. Elang merasa bersalah karena berlibur ke Bali dengan wanita lain.
Kemudian, Elang pun mengirimi Jeny pesan lagi.
[Sayang nanti kalau udah kamu baca pesan aku ini, segera hubungi aku, ya? Aku benar-benar kangen sama kamu. Maaf semalam teleponmu nggak aku angkat, karena nggak tahu. Jeny, sekali lagi hubungi aku, ya? Jangan buat aku khawatir.]
Setelah mengirim pesan tersebut Elang hanya menatap ke kolam dengan pandangan kosong. Dia bingung harus berbuat apa. Perutnya lapar, tetapi dia tidak mungkin pergi makan sendiri, sementara Annora masih tidur.
Elang hanya berjalan mondar-mandir di kolam sambil sesekali mengecek ponselnya, berharap Jeny menghubunginya. Namun, sama sekali tidak ada tanda-tanda Jeny akan menelepon. Masih centang satu. Elang menarik napas dalam, lalu menjambak rambutnya dengan kasar. Dia kesal sendiri.
“Jeny, kamu sebenarnya ke mana? Udah sepagi ini masak iya belum bangun? Nggak biasanya deh. Apa mungkin semalam dia kerja sampai malam ya?” Elang hanya mampu bertanya pada diri sendiri.
Elang makin khawatir dan resah. Berkali-kali melihat ponselnya. Mata Elang berbinar saat mengetahui sudah centang dua. Kemudian, saat melihat profil w******p Jeny online, dia segera menghubungi Jeny. Saat dihubungi sudah berdering, tetapi tidak diangkat juga. Elang tidak pantang menyerah. Lalu, dia melihat pesannya sudah centang biru. Artinya sudah dibaca, tetapi belum dibalas. Mungkin juga Jeny malas membalas.
Elang pun berusaha menghubungi Jeny lagi, berharap Jeny mengangkatnya. Akhirnya, Elang tersenyum saat mendengar suara dari seberang. Jeny seperti baru bangun tidur.
“Akhirnya, kamu angkat, Sayang. Kamu tahu nggak? Semalaman aku bingung dan khawatir, saat tahu kamu marah.” Elang berusaha membujuk agar Jeny tidak marah.
“Halah, bohong! Kamu sebenarnya lagi asyik berduaan sama si cewek kampungan itu, kan?” tanya Jeny.
“Ya Tuhan Sayang, kamu kenapa selalu ngomong kayak gitu? Aku nggak berduaan.”
“Lalu, kenapa semalam aku telepon nggak diangkat? Ke mana emang?” tanya Jeny.
“Aku udah tidur, capek banget. HP aku silent, jadi nggak dengar kamu telepon.”
“Bohong! Terus kenapa balasnya jam satu dini hari?”
“Ya, karena jam segitu aku terbangun Sayang. Udah ya jangan marah. Aku takut kalau kamu marah kayak gini,” kata Elang.
“Bodo!”
“Nggak bo—”
Belum selesai Elang berbicara, Jeny langsung mematikan teleponnya. Elang hanya bisa menarik napas dalam. Cewek kalau lagi marah memang kayak gitu. Elang pun membiarkan dulu. Kalau saja dia tidak sedang di Bali, pasti Elang sudah pergi ke rumah Jeny. Sayangnya Elang sedang di Bali, Jeny juga katanya sedang syuting video klip di luar kota.
***
bersambung