Pergi Bulan Madu

1516 Kata
Akhirnya, karena didesak Pak Handoko dan Bu Nani, Elang dan Annora pun bulan madu ke Bali. Annora sudah sembuh dari sakit. Elang memutuskan pergi naik mobil, dia tidak mau pergi naik pesawat atau yang lain. Annora menatap Elang dengan dahi mengerut. “Kamu yakin bisa ngendarai mobil sampai Bali sana?” tanya Annora ragu-ragu. “Yakinlah. Lagian Malang ke Bali nggak jauh kurang lebih 9 jaman sampai.” Elang menjawab dengan mantap. “Udah buruan packing sana! Males sebenarnya gue pergi ke Bali sama lo!” sentak Elang. “Emang kamu pikir aku mau? Ini semua karena Mama dan Papa. Kalau bukan mereka yang menyuruh aku juga ogah,” sahut Annora. “Elang, Nora! Gimana udah selesai belum packingnya?” tanya Bu Nani. “Iya Ma, bentar lagi selesai.” Annora menoleh sambil tersenyum saat melihat Bu Nani masuk ke kamar Elang. “Elang kamu yakin mau naik mobil?” tanya Bu Nani. “Iya Ma,” jawab Elang. “Ya udah kalau gitu. Hati-hati lo ya? Harus bener-bener fit tubuh kamu.” “Iya, Ma.” “Ya udah lanjutkan siap-siapnya ya Nora?” Annora hanya mengangguk, setelah Bu Nani keluar Annora pun melanjutkan packingnya. Sementara Elang pergi ke balkon kamarnya. “Pasti mau nelepon pacarnya,” gerutu Annora. Annora pun segera menyelesaikan packingnya, supaya nanti cepat berangkat. Perjalanan malam hari sepertinya mengasyikkan, tidak panas. Setiba di balkon kamar, Elang langsung mencari kontak Jeny. Kemudian, menekan tombol warna hijau. Setelah terdengar suara dari seberang Elang bernapas lega. “Jeny Sayang, apa kabar? Sorry, ya, udah tiga hari nggak ngehubungi kamu.” Elang merasa bersalah pada Jeny, karena sudah lama tidak menelepon Jeny. Elang tidak bisa menghubungi Jeny, karena Mama dan Papa Elang selalu mengawasi Elang. “Kirain udah lupa sama aku!” sentak Jeny. “Sayang jangan marah dong. Maafin aku, ya?” pinta Elang. “Kamu ke mana aja, sih?” tanya Jeny. “Emm, biasa Mama dan Papa ngawasi aku terus.” “Nggak bohong, kan? Aku kira karena asyik bulan madu sama si cewek kampung itu!” “Nggak, kok. Kamu lagi di mana?” tanya Elang. “Aku di luar kota, lagi ada pemotretan buat video klip.” Jeny menjawab dengan gugup membuat Elang merasa aneh. “Kok, gugup gitu? Kamu nggak lagi bohong, kan?” tanya Elang. “Nggaklah. Udah ah, aku mau istirahat dulu, capek.” “Iya Sayang.” Sambungan telepon pun langsung ditutup oleh Jeny tanpa menjawab kata-kata Elang. Elang merasa aneh dengan sikap Jeny, biasanya Jeny akan berlama-lama bermanja-manja pada Elang, apalagi kalau lama tidak berjumpa dan komunikasi. Ini meskipun lama tidak bertemu, sikap Jeny cuek. “Apa mungkin Jeny marah ke gue, ya? Lama banget nggak ketemu semenjak gue nikah. Ah, mungkin karena Jeny capek aja.” Elang segera menepis pikiran-pikiran jelek di otaknya. Lalu, terdengar Annora memanggil Elang. Elang pun segera masuk ke kamar. “Apa?” tanya Elang. “Udah siap, nih. Ayo kalau mau berangkat sekarang,” ajak Annora. “Iya.” Lalu, Elang meraih jaket yang tergeletak di sofa kamarnya. Lalu, mengambil kunci mobilnya. Sementara, Annora membawa satu koper penuh baju Elang dan Annora. Annora mengikuti Elang dengan sedikit berlari. “Lang, tungguin! Berat ini!” teriak Annora. “Halah, manja banget jadi cewek!” sentak Elang. “Ya, nggak manja, tapi mbok ya sebagai suami itu peka dikitlah. Istrinya keberatan mbok dibawakan gitu!” sungut Annora. “Lo lupa kita nikah cuma kesepakatan di atas kertas doang! Bulan madu ini juga karena tuntutan dari Mama dan Papa.” Elang menjawab dengan sinis. Annora mendengkus kesal. Dia tahu kalau pernikahan ini hanya bentuk perjanjian di atas kertas saja, tapi Annora ingin Elang sedikit tahu kewajiban suami membantu istri. “Ingatlah! Tapi, mbok ya ini dibawakan, berat tahu!” Annora masih cemberut. Namun, Elang sama sekali tak peduli. Dia menuruni tangga tanpa peduli pada Annora. Annora berjalan dengan tersuruk-suruk sambil menyeret kopernya. Saat sampai di bawah Bu Nani pun membelalakkan mata ketika tahu Elang membiarkan Annora keberatan membawa koper. “Elang, kamu gimana, sih? Nggak kasihan Annora, keberatan kayak gini!” sentak Bu Nani. Elang pun memutar bola mata malas. “Duh, Ma, ya biar nggak manja dia!” Elang menjawab sambil melirik Annora. “Nggak apa-apa, kok, Ma. Nora masih kuat.” Annora tersenyum pada Bu Nani. “Tapi, keterlaluan sekali si Elang, membiarkan istrinya membawa koper, sampai keberatan kayak gini!” Pak Handoko ikut menimpali. “Mana, Nak. Biar Elang yang bawa.” Bu Nani mengambil koper dari tangan Annora, lalu menyerahkan pada Elang. “Tapi, Ma, ke depan bentar lagi sampai, biar dibawa Annora sendirilah!” “Itu baju Annora aja emangnya di dalam koper?” “Nggak, Ma. Baju Elang juga.” “Nah, makanya kamu yang bawa! Tega sekali kamu!” Elang pun akhirnya mengikuti apa yang dikatakan mamanya, walau malas. “Elang, nanti sesampai di Karma Kandara Private Beach, kamu harus memperlakukan Annora dengan baik. Ingat kalian ke sana untuk bulan madu.” Pak Handoko menatap Elang tajam. “Iya, iya, Pa. Nggak usah bawel kayak Mama.” “Kamu ini dibilangin, kok. Jangan cuma iya iya aja!” Mama Elang menimpali. “Annora jaga diri baik-baik, ya? Kamu harus sabar dengan sikap Elang yang kekanakan gini. Ingat ya pulang bulan madu kalian harus udah baikan. Nggak boleh kayak gini lagi.” Bu Nani mengusap kepala Annora dengan lembut. “Insyaallah Ma.” Annora menjawab dengan lemah lembut. “Udah yuk. Ma, Pa, Elang berangkat dulu.” Elang melangkah mendahului Annora. Annora mencium tangan kedua mertuanya dengan takzim, dia tak peduli dengan sikap Elang yang kasar. Setelah itu Annora menyusul Elang. “Beruntung kita punya menantu kayak Annora, ya, Pa? Sangat sopan sekali.” Bu Nani menatap kepergian Annora dengan mata yang berkaca-kaca. “Iya, Ma. Semoga Annora bisa mengajak Elang pada kebaikan. Semoga nantinya mereka benar-benar berjodoh.” Pak Handoko menoleh pada Bu Nani. *** Setelah Annora masuk mobil, Elang segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tepat pukul delapan malam mereka berangkat ke Bali. Elang yang mengajak berangakt malam karena suasana di jalan tenang dan tidak panas. Juga nanti tepat tiba di Bali pagi hari. Sekitar pukul 06.00-07.00. Elang dan Annora pergi ke Karma Kandara Private Beach, atas rekomendasi Pak Handoko. Elang memang dulu punya niat pergi ke sana bersama Jeny, kalau mereka sudah menikah. Namun, ternyata harapannya itu tidak kesampaian, justru dia pergi ke sana bersama seseorang yang sama sekali tidak disangkanya. Elang sering pergi ke Bali mengunjungi tempat-tempat wisata yang terkenal seperti Pantai Kuta, Jimbaran, dan lainnya. Namun, ke Karma Beach ini tidak pernah, karena memang ingin pergi ke Karma Kandara Private Beach untuk bulan madu bersama Jeny, karena tempatnya benar-benar private. Karma beach, salah satu pantai indah dan tersembunyi yang berada di kawasan Ungasan Bali. Sementara Annora hanya menurut saja mau diajak ke mana. Dia sama sekali belum pernah ke Bali atau luar kota lainnya. Ya, berasal dari keluarga sederhana membuat Annora tidak pernah pergi berlibur ke luar kota. Baginya daripada uangnya dibuat hal-hal yang tidak penting lebih baik ditabung. Perjalanan malam membuat Annora mengantuk, sedangkan Elang harus tetap stay karena memang dia menyetir. Elang memang lebih senang pergi ke Bali mengendarai mobil pribadi daripada naik pesawat ataupun transportasi umum lainnya. Elang tidak mau ribet pesan mobil untuk di sana nanti. Elang menoleh sekilas pada Annora. Wajah Annora terlihat berseri. Tanpa sadar Elang bolak-balik menatap Annora. Lalu, tiba-tiba dia teringat Jeny. Elang segera menepis pikiran aneh tentang Annora. “Ingat Elang, yang, ada di hatimu hanya Jeny. Nggak ada orang lain. Annora memang istrimu, tetapi istri di atas kertas saja.” Elang bermonolog, lalu dia segera melajukan kembali mobilnya. Perjalanan masih jauh, sudah dini hari juga. Elang beberapa menguap, lalu dia berbelok ke arah pom bensin saat melihat ada POM. Dia mengisi bahan bakar mobilnya, setelah itu dia parkir di halaman POM di bagian pinggir. Dia ingin istirahat sebentar, daripada nanti terkena apa-apa karena mengantuk tetap mengendarai mobil. Sebelum tidur Elang menoleh ke Annora. Wajah Annora begitu tenang dan berseri, dan terlihat cantik. Elang segera menepis pikiran jeleknya. Dia pun membuka ponselnya sebentar, ingin tahu Jeny menghubungi Elang atau tidak. Mata Elang langsung terbelalak, dia tidak jadi mengantuk saat membuka salah satu notif WA dari Jeny. Jeny marah-marah tidak jelas. Ada puluhan misscall, panggilan video via w******p, dan panggilan suara. Elang tidak mengangkatnya karena tidak tahu dan tidak mendengar. [Sayang, kamu di mana?] [Sayang, angkat dong telepon aku. Aku kangen nih. Sayang.] [Hey, Elang! Lo ke mana? Kenapa telepon gue lo abaikan? Lo, lagi menikmati malam bareng si cewek kampung itu!] Salah satu chat Jeny yang terlihat begitu marah, Elang hanya menggeleng-geleng saja. Lalu, membuka chat satunya. [Munafik lo! Cowok mana, sih, yang bisa tahan lihat body cewek! Lo udah kena rayuan si cewek itu ya?] Elang menghela napas panjang saat membaca chat WA Jeny. Jeny benar-benar marah. Elang kemudian mencoba menghubungi Jeny via w******p, tetapi hanya memanggil saja. Lalu, menghubungi via telepon biasa, tidak diangkat. “Mungkin Jeny sudah tidur. Kan, udah dini hari ini.” Lalu, Elang mengirim pesan pada Jeny berharap nanti saat bangun akan dibaca. [Sayang, maaf aku nggak dengar saat kamu menghubungi aku. Jangan marah dong. Aku sayang kamu, Jeny Sayang. Aku kangen banget sama kamu, tapi keadaan yang belum memungkinkan kita bertemu. Jeny Sayang, besok saat kamu udah membaca pesan ini, cepat hubungi aku, ya? Aku kangen banget sama kamu. Aku takut kehilanganmu.] Elang tak lupa menyisipkan emot peluk dan cium di chatnya. Dia berharap Jeny akan luluh. “Andai saja bisa, gue bakal nyamperin ke tempat Jeny. Tapi, gue nggak tahu Jeny lagi di luar kota mana buat video klipnya.” Lagi-lagi Elang hanya bermonolog *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN