Annora Membaik

1229 Kata
“Pacar lo yang telepon?” tanya Rio. “Iya.” Jeny menoleh pada Rio. “Dia percaya gitu aja, saat lo bilang ada pemotretan?” tanya Rio. “Iya dong. Gue gitu lo.” Jeny tertawa. “Ya udah sekarang yuk masuk.” Rio menggandeng tangan Jeny untuk masuk ke bioskop. Mereka memutuskan menonton film di bioskop. Kata Rio suntuk di rumah, lagi kesal sama istrinya. “Lo kenapa nggak ngajak istri lo aja? Bukannya pergi sama istri lo lebih enak?” tanya Jeny. “Males! Gue lagi kesal sama istri gue, mangkanya ngajak lo.” Jeny hanya mengangguk-angguk. Itulah alasan Jeny tidak mau menikah saat Elang mengajaknya. Karena kebanyakan pria kalau sudah jadi istrinya, rasa cintanya pasti akan menguap. Jeny tidak mau seperti itu, karena itu Jeny memutuskan untuk tetap berpacaran dengan Elang. Dengan begitu Elang akan tetap cinta dan tidak akan pernah meninggalkan Jeny. Selain itu Jeny tak perlu mengurus Elang dan kecantikannya akan tetap sampai kapan pun. Jeny membayangkan wajahnya akan mengeriput dan jelek kalau sudah menikah dan memiliki anak. Lalu, Elang akan meninggalkannya dan terpincut gadis lain. Jeny tidak mau seperti itu. “Hey, Rio.” Sapaan seseorang mengagetkan Jeny. “Hai,” sapa Rio balik. “Siapa, nih? Cewek baru lo? Belum berubah aja lo!” Teman Rio menoyor lengan Rio. “Eh, enak aja. Dia ini model gue.” Rio tertawa. “Model plus-plus. Ah, Rio, ingat anak dan istri lo. Apalagi lo punya anak cewek.” Nasihat temannya lagi. Mendengar omongan temannya Jeny merasa tersentil. Tiba-tiba dia merasa kasihan pada istri Rio. Memang Jeny hanya main-main saja dengan Rio. Tidak memakai hati, tapi kalau istrinya tahu pasti sakit hati, ‘kan? Jeny berucap dalam hati. “Udahlah nggak usah ceramah. Gue tahu diri, kok, lagian gue juga nggak selingkuh. Masih ingat anak dan istri di rumah. Udah duluan ya?” Rio kemudian mengajak Jeny masuk. “Lo kenapa diem aja?” tanya Rio sambil berjalan menuju ruang bioskop. “Emmm, itu tadi temen lo?” tanya Jeny. “Iya, kenapa?” tanya Rio balik. “Dia bener juga, kasihan istri lo di rumah. Harusnya lo ngajak dia ke sini, biar terhibur.” Jeny menatap Rio. “Lo kenapa jadi peduli sama istri gue? Udah ah, kita mau senang-senang ke sini. Nggak usah bahas yang nggak ada di sini. Lagian kita Cuma have fun aja, nggak pakai hati.” Rio melangkah duluan ke dalam. Jeny pun mengikutinya. “Iya, ya. Masa bodolah. Istri Rio biar jadi urusan dia. Toh gue sama Rio nggak pacaran. Jadi gue nggak ada niat ngerebut Rio dari istrinya.” Jeny bermonolog, lalu dia berlari mengejar Rio yang sudah berjalan terlebih dulu. *** Dua hari sudah Annora sakit. Dua hari dia hanya disuruh istirahat, padahal Annora merasa sudah sehat. Hari ini dia pun memutuskan untuk bangun dan membantu Bi Ijah memasak. Badannya sudah tidak begitu lemas. Dia bangun perlahan, meskipun kepalanya masih sedikit pusing. Namun, kalau terus tidur saja maka tidak akan sembuh-sembuh yang ada malah semakin pusing. “Loh Mbak Nora, ngapain ke sini?” tanya Bi Ijah. “Bosen di kamar terus Bi. Mau bantu Bibi masak.” Annora tersenyum. “Eh, nggak usah. Kena marah Ibu nanti Mbak.” Bi Ijah mengambil sayur di tangan Annora. “Ah, nggak apa-apa Bi. Saya sudah sembuh, kok,” ucap Annora. “Tapi, tetep aja Mbak, nanti Ibu marah. Udah Mbak ke depan aja. Istirahat gih.” “Ya Allah Bi, saya itu capek suruh istirahat terus. Biasanya di rumah nggak pernah diam Bi. Udah biasa ngurus Ayah.” Annora tersenyum. “Udah nggak apa-apa Mbak. Ini udah tugas saya.” “Loh, Nora, kamu ngapain ke dapur? Kalau butuh apa-apa tinggal minta sama Bibi nanti biar diantar ke kamar. Nanti kamu sakit lagi lo.” Bu Nani panik saat tahu Annora ada di dapur. “Nah, kan, Ibu jadi marah Mbak. Bibi, udah maksa Mbak Nora buat ke depan, tapi Mbak Nora maksa mau bantu Bibi, Bu.” Bi Ijah merasa bersalah. “Nggak apa-apa Ma, Nora nggak apa-apa, kok, udah sembuh.” Annora tersenyum pada Bu Nani. Bu Nani menghela napas dalam. Dia hanya geleng-geleng saja dengan sikap Annora. Dia tahu kalau menantunya ini tidak bisa diam saja. Annora persis almarhum ibunya. Bu Nani jadi sedih mengingat sahabatnya itu. Tiba-tiba ponsel Annora berdering. Annora merogoh di saku gamisnya. Dia mengernyit saat mengetahui nama ayahnya yang menelepon. “Siapa Nak?” tanya Bu Nani. “Ayah, Ma.” “Ya udah angkat dulu sana.” “Iya Ma. Annora ke depan dulu, ya?” Bu Nani hanya mengangguk. Annora pun melangkah ke depan sambil menggeser tombol warna hijau di ponselnya. “Assalamualaikum Ayah.” Suara Annora bergetar menahan tangis. Annora rindu ayahnya, sebab selama ini dia tak pernah jauh dari sang ayah. Namun, kini harus tinggal terpisah dari ayahnya. “Loh, suara kamu kenapa? Kamu nangis?” tanya Pak Hardi. “Nora kangen Ayah. Ayah gimana keadaannya? Makannya gimana?” tanya Annora. “Ayah baik-baik saja, Nak. Kamu nggak usah khawatir. Ayah udah bisa hidup sendiri. Kan, kamu tahu dari jaman kamu kecil Ayah udah terbiasa ngurus diri Ayah sendiri.” Pak Hardi menahan agar tangisnya tidak pecah. Pak Hardi juga merindukan anaknya, tetapi dia tak mau terlihat sedih. “Iya, Yah, Nora paham. Tapi, Nora khawatir sama Ayah. Ayah jaga diri baik-baik, ya?” pinta Annora. “Iya Nak. Kamu gimana di sana? Kedua mertua kamu baik, kan, sama kamu?” tanya Pak Hardi. “Alhamdulillah mereka baik banget Yah. Mereka nggak menganggap aku sebagai menantu. Tapi, diperlakukan seperti anak sendiri.” Annora mengusap sudut matanya yang basah oleh air mata. “Syukurlah kalau begitu.” Pak Hardi bersyukur sekali. “Ayah nggak salah pilih. Lagi pula almarhum ibumu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, makanya dia bersepakat menjodohkannya dengan anak temannya sendiri.” Mata Pak Hardi berkaca-kaca saat mengingat almarhum istrinya. Dia sedih kenapa istrinya harus meninggalkannya terlebih dahulu. Pak Hardi menarik napas dalam, dia menahan Isak tangis. Namun, sayangnya diketahui oleh Annora. “Ayah nangis? Ayah nggak apa-apa?” tanya Annora. “Ayah bahagia Nak. Ayah bahagia. Sewaktu-waktu nanti Ayah harus pergi ninggalin kamu, Ayah sudah tenang.” “Ayah ngomong apa, sih? Jangan ngomong yang aneh-aneh Yah.” Annora kesal tiap ayahnya membicarakan soal kematian. Dia masih belum siap kalau harus kehilangan orang tua yang tinggal satu-satunya ini. “Oh iya, katanya kemarin kamu sempat sakit.” Pak Hardi terdengar begitu khawatir. “Loh, Ayah tahu dari siapa?” tanya Annora bingung. “Papa mertuamu yang bilang.” “Oalah, kenapa Ayah musti dikasih tahu? Annora cuma demam aja Yah. Alergi dingin.” “Loh, emang kamu kedinginan?” tanya Pak Hardi. “Iya, AC-nya tetap dinyalakan walau malam Yah.” “Oalah. Tapi, sekarang gimana? Udah sembuh?” tanya Pak Handoko lagi. “Sudah sembuh Yah. Alhamdulillah,” jawab Annora. “Alhamdulillah.” “Ya udah, Ayah mau lanjut bersih-bersih halaman dulu ya? Kamu jaga diri baik-baik.” Pesan Pak Hardi. “Iya Yah. Ayah juga jaga diri baik-baik.” Lalu, sambungan telepon terputus. “Udah ngobrol sama ayahnya?” tanya Bu Nani dari arah dapur. “Sudah Ma. Emmm, Ma, Ayah dikasih tahu, ya, pas Nora sakit kemarin?” tanya Annora. “Emmm, iya.” Bu Nani menatap Annora dengan rasa bersalah. “Ya udah kalau udah terlanjur Ma. Cuma lain kali aku minta Ayah jangan dikasih tahu. Nora nggak mau Ayah kepikiran.” Annora menatap Bu Nani dengan penuh harapan. “Iya, Nak. Maafin Mama, ya?” Annora hanya tersenyum. Lalu, Bu Nani pun memeluk Annora. Annora senang karena memiliki mertua yang begitu baik. “Oh, iya, udah ngerencanain bulan madu ke mana?” tanya Bu Nani. “Eh, be-belum Ma. Kami nggak bulan madu, kok. Nora harus cepat masuk, soalnya cuma cuti satu minggu saja.” Annora menatap Bu Nani dengan sedih. “Cuti lagilah. Pokoknya kalian harus bulan madu, biar bisa saling mengenal.” Bu Nani memberi ultimatum pada Annora. Annora hanya diam, dia tak mau membuat mama mertuanya berkata apa-apa. *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN