Di sebuah tempat makan mewah, seorang gadis modis tampak sedang bercanda dengan teman seprofesinya. Mereka tertawa bahagia.
“Lo hebat Jen.” Salah satu temannya menatap Jeny takjub.
“Hebat gimana maksudnya?” tanya Jeny dengan mengernyit.
“Si Elang bisa klepek-klepek gitu sama lo. Nggak mau kehilangan lo.” Sinta, teman Jeny, berkata sambil menyeruput minumannya.
“Ya, kan, gue cantik gitu. Tipe dia banget.” Jeny tertawa terbahak-bahak.
“Eh, tapi lo ngejalin hubungan sama Rio, nggak masalah?” tanya Sinta lagi.
“Nggaklah. Kan, tahunya Elang Rio itu boss gue. Jadi, ya dia tahunya gue sama Rio itu cuma urusan kerjaan doang. Dia nggak tahu kalau gue ada main sama Rio.” Jeny tersenyum tipis.
“Kerenlah. Satu dua pulau terlampaui.”
Lalu, mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Ya, Jeny menjalani hubungan terlarang dengan Rio, boss yang mengurus masalah kerjaan Jeny. Jeny dilarang menikah selama bekerja di bawah Rio. Itulah alasannya kenapa Jeny menolak diajak menikah oleh Elang. Jeny sebenarnya tidak mau kehilangan kerjaan dan Rio. Namun, dia juga berat meninggalkan Elang karena Elang kaya dan tampan. Banyak wanita yang tergila-gila pada Elang.
“Hai, sorry nunggu lama.” Tiba-tiba terdengar suara bass seorang pria.
Jeny menoleh, ternyata Rio.
“Nggak apa-apa. Gue baru aja nyampe, kok, belum pesan makanan.” Jeny tersenyum menatap Rio.
Penampilan pria ini sangat sempurna. Memakai kemeja biru dongker yang lengannya dilipat sampai siku. Rambut disisir ke belakang, sungguh membuat Jeny terpesona. Ya, walau Jeny tahu kalau Rio ini sudah memiliki istri. Itulah kenapa dia juga tidak mungkin meninggalkan Elang demi Rio, karena Rio tidak mungkin memilih Jeny. Karena katanya hubungan dengan Jeny hanya untuk have fun saja. Tidak dengan hati. Rio hanya ingin variasi baru saja.
“Emm, nggak usah makan deh. Kita langsung otw aja, gimana?” tanya Rio.
“Emm, Sin, lo gue tinggal sendiri nggak apa-apa?” tanya Jeny.
“Nggak apa-apalah.” Sinta menjawab dengan mantap.
“Ya udah gue sama Rio pergi dulu, ya, bye.”
Lalu, Jeny pun menggelayut mesra di lengan Rio. Mereka berlaku seolah-olah pasangan kekasih yang tak bisa terlepas.
“Rio, lo takut ketahuan istrimu pergi sama gue?” tanya Jeny setelah masuk ke mobil.
“Nggaklah. Dia kan tahunya kita cuma rekan kerja. Jadi nggak bakal mikir aneh-aneh. Risiko punya suami ngurusin dunia permodelan ya harus rela ditinggal pergi sama cewek-cewek cantik kayak kamu.” Rio mencubit pipi Jeny dengan mesra. Lalu, dia mengecup bibir Jeny dengan mesra. Perbuatan Rio membuat Jeny terkaget, tapi dia langsung bisa merespons dengan baik. Jeny membalas lumatan bibir Rio dengan mesra.
Setelah itu mereka pun melepasnya.
“Justru gue takut lo ketahuan pacar lo.” Rio menatap Jeny dengan dalam.
“Nggak bakal tahulah. Lagian dia sekarang lagi fokus sama istrinya. Nggak mungkin ingat sama gue.” Jeny menarik napas dengan kasar. Sebenarnya dia cemburu saat mengingat Elang harus berduaan dengan wanita lain.
“Gue heran deh, kenapa lo ngebiarin cowok lo nikah sama cewek lain. Lo nggak takut dia bakal jatuh cinta sama istrinya itu?” tanya Rio.
“Nggaklah. Lagian itu cewek yang dinikahi Elang cewek kampungan. Nggak bakal sukalah Elang ke dia. Lagian Elang udah janji nggak bakal jatuh cinta sama tu cewek. Dia bakal nunggu sampai gue siap nikah.” Jeny tersenyum penuh kemenangan.
“Ya, semoga aja omongan cowok lo bisa dipegang.”
“Lagian selama dia nggak ngurusin gue, gue bisa senang-senang sama lo. Seperti halnya lo, gue ngejalanin ini buat have fun saja. Nggak boleh sama hati.” Jeny menoleh ke arah Rio.
Rio hanya mengangguk-angguk saja. Dia membenarkan apa yang dibilang Jeny. Dia sama Jeny juga hanya have fun, tidak boleh bermain hati. Hati Rio hanya untuk istrinya, hati Jeny hanya untuk Elang.
Mobil terus meluncur dengan cepat.
***
Di rumah Elang.
“Lo, besok harus sembuh, karena besok pindah ke rumah kita." Elang berkata dingin.
Annora membelalak tak percaya. Apa dia bilang, kita? Dia menyebut rumah kita? Aneh memang ini cowok.
"Udah gue mau pergi, jangan sampai ngadu ke Mama yang macem-macem. Gue bisa bertindak apa aja sama lo. Paham!" Matanya merah menyala menatap Annora.
“Eh, kamu mau ke mana? Mama tadi nyuruh kamu nemenin aku. Lagian, besok aku belum tahu udah sembuh apa belum. Jangan main paksa dong.” Annora berkata dengan sangat pelan.
“Duh, lo manja amat jadi orang?” sentak Elang.
“Elang!”
Elang langsung berjingkat kaget saat mendengar suara menggelegar dari luar. Elang menoleh tampak mamanya sudah berdiri sambil berkacak pinggang.
“Loh, Mama kok di sini? Tadi katanya mau istirahat.” Elang nyengir kuda sambil garuk-garuk kepalanya.
“Kamu bisa nggak berkata yang pelan ke Annora! Dia itu istrimu, lagi sakit pula. Malah dibentak-bentak.” Bu Nani menatap tajam Elang.
“Elang nggak ada maksud ngebentak Annora Ma. Elang mau keluar ambil minum buat Annora.” Elang mencoba membela diri.
“Nggak usah bohong! Mama denger semua! Kamu nyuruh Nora supaya cepat sembuh? Udah nggak usah pindah dulu! Biar Nora sembuh dulu! Setelah sembuh kalian juga harus pergi bulan madu. Papa udah urus semuanya!” Bu Nani menatap Elang dengan tajam.
Annora terbatuk mendengar perkataan Bu Nani. Apa bulan madu? Astaga Mama ada-ada saja, sih? Annora mendesah pelan.
“Ma,” panggil Annora.
“Iya, Nak? Kamu mau apa?” tanya Bu Nani sambil melangkah ke arah Annora.
“Emmm, kayaknya kita nggak perlu bulan madu, deh. Emmm, nanti setelah Nora sembuh bisa langsung pindah ke rumah yang udah Elang siapin.” Annora berkata dengan hati-hati.
“Nah, bagus gitu,” sahut Elang.
“Pokoknya kalian harus bulan madu! Biar bisa cepet kasih Mama dan Papa cucu.” Pak Handoko ikut menimpali.
Annora dan Elang menoleh ke arah pintu, Pak Handoko sudah berdiri di pintu sambil berkacak pinggang. Annora langsung salah tingkah saat mendengar kata cucu. Sementara Elang melirik Annora dengan tajam.
“Duh, Pa, Ma. Kenapa kalian harus memaksa? Kita yang ngejalani bukan kalian. Lagian Nora juga nggak mau bulan madu.” Elang memohon pada mamanya agar tidak dipaksa bulan madu.
“Udah kalian nggak boleh ngebantah. Nora kamu istirahat dulu. Elang jangan ke mana-mana, temenin Annora. Istrimu butuh perhatian dan kasih sayang suami!” ancam Bu Nani.
Elang hanya menghela napas kasar. Bu Nani dan Pak Handoko pun keluar kamar mereka. Memberi waktu untuk Annora dan Elang saling mengenal.
“Jangan harap gue bakal ngajak lo bulan madu! Ingat kesepakatan kita!” Elang mengancam Annora.
“Iya, aku tahu. Lagian siapa juga yang mau bulan madu sama kamu! Pacar orang!” sungut Annora.
“Bagus, kalau lo ngerti.” Elang tersenyum miring.
Kemudian, Elang teringat Jeny. Dia harus menghubungi Jeny lagi. Supaya kekasihnya itu tidak marah karena Elang tak memberi kabar. Elang tak mengerti kalau Jeny sedang bersenang-senang dengan pria lain. Ya, Jeny sedang bersama Rio di sebuah bioskop.
Elang mencoba menelepon Jeny, lama tak ada jawaban membuat Elang begitu kesal. Annora menatap Elang dengan senyum sinisnya.
“Kenapa muka kamu ditekuk gitu? Nggak diangkat sama pacar tersayangmu?” tanya Annora mengejek.
“Pacarku, kan, orang sibuk jadi mungkin dia sedang pemotretan,” jawab Elang menutupi rasa kesalnya.
“Yakin pemotretan? Malam-malam begini? Jangan-jangan dia lagi sama cowok lain.” Annora menebak kelakuan Jeny, karena setahu Annora seorang model itu pergaulannya sangat bebas.
“Jaga mulut lo! Pacar gue nggak serendah itu!” sentak Elang.
Elang menatap tajam Annora. Dia mendekat pada Annora, tangannya mengepal dengan kuat. Annora menunduk takut.
“Untung lo lagi sakit, coba kalau sehat udah gue tampar itu mulut lo. Awas sekali lagi lo bilang yang jelek soal Jeny! Lo nggak kenal pacar gue, jadi diem!” Mata Elang menatap Annora dengan tajam.
Annora hanya mengangguk pelan.
“Maafin aku Lang. Tapi, untuk saat ini tolong kamu nurut sama Mama. Mama nyuruh kamu jaga aku, jadi tolong kamu jangan keluar lagi. Aku hanya nggak mau nanti Mama tanya macem-macem ke aku.” Annora berkata dengan lirih, dia menunduk.
Mata Annora tampak berkaca-kaca, tetapi Elang sama sekali tak peduli. Elang kembali duduk di sofa. Dia mencoba menghubungi Jeny. Akhirnya, mata Elang berbinar saat sambungan teleponnya direspons.
“Sayang, ya ampun aku khawatir banget sama kamu. Ke mana aja, kok, nggak diangkat dari tadi.” Elang begitu halus tutur katanya pada Jeny, berbeda sekali pada Annora.
Mendengar itu Annora hanya meringis sedih.
“Eh, sorry. Aku lagi pemotretan Sayang.” Suara Jeny terdengar bergetar, dia seperti gugup.
“Suara kamu, kok, aneh?” tanya Elang sambil mengernyit.
“Aneh gimana?” tanya Jeny.
“Ah, nggak, mungkin perasaan aku aja. Sayang sorry ya, mungkin kita tertunda lagi ketemunya.” Elang merasa bersalah pada Jeny.
“Loh, kenapa? Kamu nggak kangen sama aku?” Suara Jeny terdengar marah.
“Ya, gimana, Annora masih sakit, belum boleh pindah sama Mama. Terpaksa aku nurutin kemauan Mama, daripada ntar Mama curiga.”
“Emmm, iya, deh. Ditunda dulu kangennya.” Jeny berkata dengan lirih.
Elang ingin berkata yang sesungguhnya kalau sebenarnya masih harus menuruti permintaan mamanya untuk bulan madu dengan Annora. Namun, Elang takut Jeny murka. Jadi, dia tetap tutup mulut. Toh, menurutnya bulan madu kali ini hanya menuruti keinginan kedua orang tuanya, mereka tidak mungkin melakukan apa pun.
“Sayang, kok, diem aja, sih? Kamu lagi berduaan sama si cewek kampungan itu?” tanya Jeny.
“Eh, nggak dong, aku lagi di balkon kamar, ngebayangin wajah kamu yang cantik. Kangen banget sebenarnya, pengen segera ketemu. Tapi, gimana lagi, keadaan yang nggak ngijinin.”
“Nggak apa-apa Sayang. Aku bisa paham, kok. Udah dulu ya, udah dipanggil bos aku itu, nggak enak aku.” Jeny berpamitan pada Elang.
“Iya, Sayang. Met kerja ya, jangan lupa jaga kondisi. Jangan sampai jatuh sakit, apalagi aku nggak bisa ngedampingi kamu.” Elang merasa bersalah pada Jeny.
“Iya, Sayang, tenang aja. Udah ya, bye.”
Sambungan telepon pun terputus. Elang menarik napas lega. Rasa kangennya sudah terobati. Annora hanya mendesah pelan saat mendengar omongan Elang yang begitu mesra pada Jeny. Sedangkan pada dirinya begitu kasar. Annora hanya pasrah menerima keadaan. Menikah dengan pria yang memiliki pacar dan tak mencintai Annora sama sekali, membuatnya tersiksa batinnya. Annora sama sekali tak menyangka sebelumnya.
***
bersambung