Elang memilih untuk jalan-jalan keluar. Dia mencari tempat yang aman untuk menelepon Jeny. Wajah Jeny terus terbayang di mata Elang. Lalu, Elang sampai di sebuah taman kota yang tidak terlalu jauh dari rumah mamanya. Dia pun menghubungi Jeny.
“Halo Sayang. Sorry, baru bisa telepon sekarang.” Suara Elang terdengar merasa bersalah.
“Ish, ke mana aja, sih, Yang? Aku kangen banget tahu! Berapa hari nggak denger suara kamu.” Jeny terdengar begitu manja.
“Sorry, aku masih di rumah Mama, jadi belum bisa bebas telepon kamu. Masih cuti juga, Sayang.” Elang mencoba menjelaskan.
“Ish, lama amat cutinya? Terus kamu berduaan mulu dong sama gadis kampungan itu!” sungut Jeny.
“Nggak dong, ngapain aku berduaan ama dia. Tenang yang ada di pikiran aku cuma kamu doang Sayang.” Elang terus membujuk Jeny agar tidak marah.
“Terus kapan kamu tinggal di rumah kamu sendiri? Biar kita bisa bebas ketemu. Aku udah kangen banget sama kamu.”
“Sabar, ya, rencana hari ini mau pindah. Eh nggak jadi.”
“Jangan bilang nggak jadi karena mau bulan madu!”
Elang tertawa mendengar perkataan Jeny.
“Mana mungkin sih aku bulan madu sama cewek yang nggak aku cinta. Orang nikahnya aja terpaksa,” ucap Elang.
“Ya, abisnya kenapa ditunda?” tanya Jeny.
“Nora sakit, jadi ya nggak mungkin aku ajak pindah hari ini. Sama Mama dilarang juga. Kan, dia mantu kesayangannya.” Elang berkata dengan nada meyakinkan.
“Oh, dia sakit? Kenapa bisa sakit? Bukan karena abis pecah duren, kan?” Jeny menyelidiki Elang.
“Ya elah Sayang, ya nggak mungkinlah aku pecah duren. Tidurnya aja nggak campur, kok.”
“Kamu nggak bohong, kan, Sayang?” tanya Jeny.
“Ngapain aku bohong sama orang yang sangat kucintai. Percaya sama aku deh.”
“Iya, iya, aku percaya. Love you.”
“Love you too.”
“Ya udah ya Sayang, aku mau siap-siap pemotretan nih.”
“Iya, jaga diri baik-baik, ya, Sayang.” Elang tersenyum.
“Iya, bey.” Jeny pun menutup teleponnya.
Elang merasa lega karena sudah mendengar suara kekasihnya. Setidaknya rasa kangennya sudah sedikit terobati. Jeny memang orang yang sibuk, sebagai foto model dia memang belum mau menikah, karena nanti dia tak mau dituntut untuk cepat punya anak. Jeny tidak mau tubuhnya berubah nantinya. Itu alasannya kenapa dia belum mau diajak menikah oleh Elang. Akhirnya, Elang pun mengalah untuk menerima perjodohan dengan Annora. Nanti saat Jeny sudah siap dinikahi, Annora akan diceraikannya.
Lamunan Elang tiba-tiba buyar saat mendengar ponselnya berdering lagi. Dia melihat di layar benda pipihnya. Tertulis Mama. Dengan cepat Elang menggeser tombol warna hijau.
“Iya, Ma. Ada apa?” tanya Elang.
“Kamu di mana? Istri sakit bukannya ditungguin malah ditinggal!” omel Bu Nani.
“Cari udara segar Ma. Lagian cuma sakit biasa aja, ngapain ditunggu segala? Udah Elang telepon dokter juga.” Elang menjawab seenaknya sendiri.
“Astaga Elang! Kamu ini gimana, sih? Suami macam apa kamu? Cepat pulang! Annora nanyain kamu mulu itu!” sentak Bu Nani.
Ish, Mama ada-ada saja. Annora tak mungkin cari aku!
“Elang! Kamu dengar nggak Mama ngomong?”
“Iya, iya Ma. Elang pulang sekarang! Bawel!”
Setelah itu Elang langsung mematikan teleponnya. Dia tak mau mendengar omelan mamanya lagi. Annora itu nyusahin orang saja! Cuma demam aja heboh! Elang terus menggerutu dalam hati. Dia melangkah meninggalkan taman. Dia harus secepatnya sampai rumah, kalau tidak mamanya akan semakin marah nanti.
***
Elang langsung masuk ke rumah. Melihat ke sekeliling tidak ada orang sama sekali. Elang pun memutuskan untuk naik ke lantai atas, kamarnya. Saat hendak menaiki tangga pertama, tiba-tiba suara papanya menggelegar.
“Elang! Dari mana kamu? Annora sakit malah keluyuran!” Papanya menatap Elang dengan tajam.
“Emmm, Elang cari udara segar Pa. Suntuk di rumah aja beberapa hari ini.” Elang menunduk tak berani menatap Pak Handoko.
“Kamu udah ngerencanain mau bulan madu ke mana?” tanya Pak Handoko.
Elang langsung mendongak saat mendengar pertanyaan papanya.
“Elang nggak ada rencana bulan madu Pa. Cuti kerja juga cuma seminggu.” Elang menjawab dengan santai.
“Apa? Kenapa sebentar sekali? Tambah cutinya! Nanti Papa yang urus. Pokoknya kalau Annora sudah sembuh kamu harus ajak dia bulan madu. Kalau nggak mau yang jauh bisa ke Bali.”
“Tapi, Pa—“
“Nggak ada tapi-tapian. Papa udah nyiapin dananya. Sekarang kamu lihat kondisi Nora sana! Kasihan dia, di sini ikut kamu, malah ditinggal!” perintah Pak Handoko.
Elang pun tak bisa membantah lagi. Jeny makin marah nanti sama aku, kalau sampai tahu aku cuti kerja diperpanjang dan tahu kalau pergi bulan madu. Ah, Papa ada-ada saja. Elang berjalan sambil menggerutu.
Setiba di depan kamarnya, Elang melongok sebentar. Mamanya duduk di samping Annora. Dengan pelan Elang pun masuk.
"Gimana kondisinya, Ma?" tanya Elang setelah tiba di dalam.
Annora yang sedang mengobrol dengan Bu Nani langsung menoleh. Dia berdiri dan menatap Elang tajam.
"Elang," desis Annora.
“Dari mana aja kamu? Istri sakit bukannya ditungguin malah ditinggal!” Bu Nani melotot pada Elang.
“Ma, jangan marahin Elang. Annora nggak apa-apa, kok, cuma demam aja.” Annora berkata dengan lembut.
“Duh, Nora kenapa kamu sabar banget, sih?” Bu Nani berkata sambil tersenyum.
Elang memutar bola matanya saat mendengar Bu Nani berkata begitu lembut pada Annora.
“Lang, kamu ke mana aja dari tadi? Aku tahu kamu nggak peduli sama aku. Tapi, aku khawatir sama kamu.” Annora berkata dengan begitu tulus.
Bu Nani tampak tersenyum.
“Tuh, Lang kamu denger, Annora ngomong apa, kan? Kamu harus lebih peka dan peduli sama istrimu. Sekarang kamu bukan jomblo lagi, kamu udah jadi suami jadi kudu lebih punya tanggung jawab.” Bu Nani menatap Elang dengan tajam.
“Duh, Ma, udah deh nggak usah ceramah mulu!”
“Tuh, kan, kamu kalau dibilangin.” Bu Nani menjewer telinga Elang.
Annora pun tersenyum melihat mertuanya begitu pada Elang. Annora merasa senang karena mertuanya begitu peduli dan sayang pada Annora. Ya, walaupun Elang masih tak menganggap Annora sebagai istri. Tiba-tiba Annora teringat Johar, pria yang selama ini ada di hatinya. Andai saja yang jadi suaminya Johar, mungkin Annora akan sangat bahagia, apalagi kalau dia bisa perhatian pada Annora. Namun, dia segera menggeleng menepis bayangan Johar dari otaknya. Dia tak boleh memikirkan pria lain karena sekarang Annora sudah memiliki suami. Tak boleh ada pria lain di hatinya. Namun, entah kenapa bayangan Johar makin jelas di pelupuk matanya.
“Gimana keadaan lo?” tanya Elang mengagetkan Annora.
“Eh, ba-baik-baik aja, kok, cuma masih pusing.” Annora tergagap.
“Lo ngelamun?” Elang menatap Annora dengan mata menyipit.
Annora hanya menggeleng.
"Elang, temani istrimu, ya, saat sakit seperti ini hanya suami yang dibutuhkan istri," kata Bu Nani sambil tersenyum menatap Elang dan Annora bergantian.
"Ta-tapi, Ma, Elang nggak ngerti apa yang harus dilakukan. Mama aja, ya, yang temani Nora," pinta Elang.
"Yang penting kamu temani, biar cepat sembuh. Sudah Mama tinggal, ya, jaga istrimu baik-baik," sahut Bu Nani.
Setelah itu, Bu Nani berlalu meninggalkan Annora dan Elang setelah mencium kening Annora.
Ah, mama mertua yang sangat baik, beruntung sekali aku memilikinya. Namun, kenapa anaknya seperti es? Sikapnya pun sangat kasar, bertolak belakang dengan mamanya. Batin Annora.
"Lo kenapa mesti sakit segala, sih? Oh gue tahu jangan-jangan cuma trik untuk menarik perhatian nyokap gue, ya. Basi tahu!" bentak Elang setelah Bu Nani keluar.
Ah, ternyata dia bersikap manis hanya di depan Mama saja. Ketika Mama tak ada maka akan kembali seperti asal. Dasar, manusia es! Annora menatap Elang dengan tajam.
"Aku seperti ini juga karena kamu!" sungut Annora.
"Heh, kok, malah nyalahin gue!"
"Iya. Siapa yang nyuruh aku tidur di lantai? Aku alergi dingin, nggak bisa tahan jika tidur di bawah," ucap Annora pelan.
Mata Elang membelalak. Dia menatap Annora tajam, seolah-olah tak percaya atas apa yang diucapkan Annora.
"Nggak percaya, ya sudah, dasar om-om!" sungut Annora.
"Eh, lo berani bilang gue om-om lagi. Awas, gue pastikan itu mulut bakal babak belur!" ancam Elang.
Annora bergidik.
"Kamu memang om-om, tapi keren ...," gumam Annora sambil menutup mulutnya.
"Apa? Sekali lagi bilang gue om-om, awas, ya!" ancam Elang.
"Aku sedang sakit jangan dibentak-bentak, Om," ucap Annora.
Mata Elang tajam menatap Annora. Jari-jarinya ditekan kuat-kuat.
"Jangan panggil om! Ngerti nggak, gue masih muda! Belum jadi om-om!"
"Tapi lebih tua dariku dan pantas jadi omku." Annora menutup mulut dengan kedua tangan.
"Terserahlah, dasar bocah!"
"Aku bukan bocah!" teriak Annora.
"Emang masih bocah. Heran gue apa istimewanya lo, sih, sampai-sampai Papa Mama gue maksa buat nikah sama lo." Elang menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu karena kamu nggak laku, makanya dicariin jodoh." Annora menjawab asal, sambil memijit pelipis.
"Enak aja bilang gue nggak laku!"
Kalau memang laku pastinya tidak sampai dijodohkan, dong. Batin Annora sambil tersenyum sendiri.
"Eh, lo kenapa? Cewek, kok, aneh banget, sih," ucap Elang sambil melambaikan tangan di depan Annora.
"Apa, sih, Om? Aku nggak apa-apa!" sahut Annora ketus.
"Berani sama gue, ya? Awas aja nanti malam tidur di bawah lagi!"
Annora membelalak. Apa? Ya Allah ... aku sakit saja masih diperlakukan tidak baik begini. Dasar, tidak berperikemanusiaan! Annora bersungut-sungut dalam hati.
"Ok, aku bilang sama Mama nanti, kalau aku sakit gara-gara kamu!" Annora mengancam Elang.
"Bilang aja! Gue nggak takut!" Elang berucap sambil lalu.
Annora pun mencoba berdiri dan turun dari ranjang. Namun, tiba-tiba ....
Gubrak! Annora mengaduh dengan keras. Elang pun menoleh.
"Lo kenapa?" tanyanya sambil berlari ke arah Annora.
Dia mencoba membantu Annora berdiri. Annora bergeming. Memegang kepalanya yang terasa berat.
"Ayo berbaring lagi, pelan-pelan. Makanya kalau masih pusing buat tiduran aja! Memangnya mau ke mana!" Elang masih saja mengomel tak jelas.
Ternyata Elang ini selain tidak peka juga cerewet sekali.
"Sudah ngomelnya? Tambah pusing ini kepala, aku sakit juga gara-gara kamu!" Annora mengerucutkan bibir.
"Iya-iya, maaf. Nggak usah dibahas lagi. Ok, mulai sekarang lo boleh tidur di singgasana gue," ucap Elang.
Annora tersenyum penuh kemenangan.
"Bener? Berarti nggak tidur di bawah lagi, kan?"
Elang mengangguk, tapi wajahnya masih dingin. Tak ada senyum sedikit pun di wajahnya.
"Eh, ta-tapi ...." Annora menggantungkan kalimatnya.
"Apa?"
"Kamu tidur di mana?" tanya Annora dengan khawatir.
"Gue bisa tidur di sofa itu, ogah tidur bareng lo. Gue bukan cowok manja juga!" Sorot mata Elang tajam menatap Annora.
Annora menarik napas lega. Dia bersyukur tidak tidur seranjang dengan cowok playboy ini. Annora memandang wajah Elang tanpa kedip.
"Apa lo pikir, gue bakal tidur sekasur sama lo? jangan ngimpi! Gue nggak nafsu!"
Annora mendengkus kesal mendengar penjelasannya.
“Kamu dari ketemuan sama Jeny, ya?” tanya Annora tiba-tiba.
Elang langsung menatap Annora dengan tajam.
“Kenapa emang? Lo cemburu?” Elang tersenyum miring.
“Enak aja! Aku nggak cemburu. Cuma, ya, masak istri sakit malah ditinggal ketemuan sama ceweknya.” Annora berkata dengan sangat pelan.
“Suka-suka gue! Lagian lo manja amat, cuma tidur di lantai aja sakit! Gara-gara lo sakit, kita jadi nggak bisa pindah hari ini!” sungut Elang.
“Emang mau buru-buru pindah? Nggak nunggu cuti kamu selesai dulu?” tanya Annora dengan hati-hati.
“Iya! Gue udah kangen banget sama pacar gue! Kalau di sini nggak bisa ketemuan!” Elang kemudian duduk di sofa dan mengeluarkan ponselnya.
Setelah mendengar penjelasan Elang, Annora pun tak bertanya lagi. Entah seperti ada yang aneh di hatinya. Dia kembali teringat Johar. Selama ini memang dia tak pernah berkomunikasi dengan Johar, hanya sebatas teman kerja. Menyapa kalau memang ada perlu masalah kerjaan saja. Itulah yang menyebabkan Annora tidak mau berharap lebih pada Johar dan menerima perjodohan dengan Elang. Namun, sayangnya pernikahan ini hanya perjanjian di atas kertas, suatu saat nanti Elang akan menceraikan Annora. Annora hanya mendesah pelan. Berharap semua ini hanya mimpi dalam tidurnya saja.
***
bersambung