Kemarahan Elang

1033 Kata
Elang benar-benar marah. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Lalu, dia melangkah meninggalkan Jeny bersama Rio. Jeny hendak mengejar Elang, tapi ditahan oleh Rio. “Lo, kenapa nahan gue?” tanya Jeny. “Percuma lo kejar, Elang lagi emosi. Dia bakal tetap nyalahin lo.” Jeny hanya terdiam. Dia merasa bersalah pada Elang. Jeny sama sekali tak menyangka kalau akan bertemu dengan Elang di Pantai Karma ini. Elang melangkah dengan tergesa. Napasnya kembang kempis. Tanpa berkata-kata Elang langsung menarik tangan Annora. Annora kaget saat tiba-tiba Elang menariknya. Annora memang tidak mengetahui kalau Elang baru saja bertengkar dengan kekasihnya. Sebab, memang Elang tadi menjauh dari Annora. Annora mengernyit saat melihat wajah Elang yang tampak tak bersahabat. Dia selama ini memang cuek, tetapi wajahnya tidak semenakutkan sekarang. Mereka kembali ke kamar hotel. Di sana Elang langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Tanpa banyak kata dia berteriak sambil menjambak rambutnya. Annora mengernyit. Dia ketakutan melihat sikap Elang. “E-elang, kamu nggak apa-apa?” tanya Annora dengan gugup. Elang tetap bergeming. Dia hanya menoleh sebentar, lalu dia berdiri dan melangkah keluar kamar menuju balkon kamar hotel. Annora mengikuti. “Elang, kamu kenapa? Kok, kayaknya kesal banget?” tanya Annora. “Nggak usah sok peduli dan perhatian sama gue! Pergi dari hadapan gue! Gue mau sendiri!” sentak Elang. Annora langsung menciut. Dia menelan ludahnya. Lalu, perlahan mundur. Kalau Elang sedang marah memang sangat menyeramkan. Annora kembali masuk kamar hotel dan dia berniat untuk mandi dan berwudhu kemudian salat Zuhur. “Jeny! Gue nggak nyangka lo ngehianati gue! Gue benci sama lo! Gue berusaha setia sama lo. Sebisa mungkin menjaga hati agar tidak terpincut pada Annora. Ternyata lo yang mendua!” Elang terus meracau sendiri. Elang benar-benar marah. Ponsel Elang terus berdering, tapi dibiarkan oleh Elang. Ponselnya berdering kembali. Sampai akhirnya, Elang pun mengangkatnya. “Sayang,” panggil Jeny. “Nggak usah panggil Sayang. Mulai hari ini kita nggak ada hubungan apa pun!” sentak Elang. “Lang, jangan gitu, dong. Aku nggak bisa tanpa kamu.” Jeny terus membujuk Elang. Elang tak menggubrisnya. “Lang, kamu masih di situ, kan?” “Aku yakin kamu masih di situ, belum kamu matikan.” Jeny terus merayu Elang. “Udahlah, gue nggak ada urusan sama kamu!” Elang langsung mematikan teleponnya, tanpa menunggu jawaban Jeny. Elang menarik napas dalam. Dia sama sekali tak menyangka kalau akan dikhianati oleh orang yang dicintainya. Elang berteriak sambil memandang ke hamparan laut lepas di bawah bukit. *** “Kenapa harus ketemu Elang di sini?” tanya Jeny pada Rio. “Gawat ini! Elang nggak mau nerima telepon gue. Gimana ini Rio?” tanya Jeny lagi. “Lo tenang dulu, Jen. Semua masalah kalau dihadapi dengan jiwa yang gelisah, nggak bakal terselesaikan.” Rio memberi nasihat. Jeny hanya diam. Dia sama sekali tak menyangka kalau Elang bakal pergi ke pantai private ini. Dulu, Elang memang pernah mengajak Jeny ke sini suatu saat nanti. “Argh!” Jeny berteriak karena merasa kesal pada dirinya sendirinya. “Lo, tenangin diri dulu, ya? Kita balik ke kamar dulu? Atau gimana?” tanya Rio. “Iya.” Jeny menjawab dengan singkat. Lalu, Rio pun mengajak Jeny untuk kembali ke kamar hotel. Ya, mereka memesan kamar yang berbeda, mereka tidak satu kamar. Saat tiba di kamarnya, Jeny terus kepikiran tentang Elang. Dia mencoba menghubungi Elang, tetapi sama sekali tak diangkatnya. Jeny makin panik dan stress. “Elang, ayo, angkat, dong telepon aku.” Jeny bermonolog. Jeny terus pantang menyerah untuk menghubungi Elang. Akhirnya, dia mengirimkan chat pada Elang. [Lang, maafin aku. Aku sama sekali nggak ada rasa pada bosku. Apa yang kamu lihat tak seperti yang kamu kira. Di hatiku hanya ada kamu.] tulis Jeny. Pesan tersebut sudah dibaca, tetapi belum dibalas. [Lang, balas, dong.] [Nggak usah hubungi gue lagi! Anggap saja kita nggak pernah kenal!] Akhirnya, Elang membalas chat Jeny. Membaca chat Elang membuat hati Jeny tertusuk jarum. [Lang, aku ke kamar kamu, ya? Atau kamu yang ke kamar aku?] [Nggak usah! Gue nggak mau lihat lo berduaan dengan cowok b******k itu!] Elang menambahkan emot marah di pesannya. Jeny tak mampu berkata apa pun lagi. Jeny bingung menjelaskan pada Elang bahwa dia dan Rio tidak sekamar. Elang tidak mungkin percaya. Namun, Jeny harus menjelaskan semuanya, agar bisa clear. [Lang, kita harus ketemu. Aku nggak pesen satu kamar, tapi dua kamar. Aku nggak serendah itu Lang.] [Kita ketemu ya?] Terkirim dan langsung centang biru, tetapi sama sekali tak ada balasan dari Elang. Elang benar-benar marah. Jeny merasa bersalah. [Rio, kita balik hari ini bisa?] Jeny mengirim pesan pada Rio. [Hah? Balik? Secepat ini?] tanya Rio. [Iya, gue udah badmood.] [Katanya bakal di sini satu minggu. Baru dua hari udah ngajak balik.] [Suka-suka gue!] [Besok aja, deh, pulangnya. Nanggung ini.] Akhirnya, Jeny pun menurut. Dia terus berusaha menghubungi Elang. Walau kecil kemungkinan untuk diangkat. Akhirnya, Jeny nekat ke kamar Elang. Jeny segera keluar dengan tergesa-gesa. Dia langsung menanyakan ke resepsionis kamar Elang. Beruntung resepsionisnya memberi tahu. Setiba di depan kamar Elang, Jeny langsung menggedor pintu. Stelah beberapa akhirnya dibuka. Elang tampak kaget melihat. Dia pun hendak menutup kembali pintu, tetapi Jeny menahan. “Lang, tunggu. Aku bisa jelasin semua.” Jeny berusaha membujuk Elang. “Udahlah, gue capek. Anggap aja kita nggak pernah kenal.” Elang menimpali. “Lang, jangan gitu. Maafin aku. Aku sayang kamu. Aku khilaf. Aku sama Rio nggak ada hubungan apa pun." Jeny terus membujuk Elang agar tidak marah. Elang hanya diam. Dia benar-benar marah dan kesal. Apalagi saat mengingat Jeny begitu mesra pada Rio. Jeny begitu murahan. “Lang, kamu mau maafin, kan?” tanya Jeny. “Gue nggak bisa maafin lo! Hati gue terlanjur sakit dan terluka. Jadi, nggak akan pernah bisa disambung lagi." Elang berkata dengan begitu sinis. “Lang, emang ada apa, sih? Kamu kenapa teriak-teriak gitu?” tanya Annora dari dalam, dia tidak mengetahui apa yang terjadi pada Elang. "Nggak ada apa-apa! Lo nggak usah tahu dan nggak usah ikut campur! Jangan pernah ikut campur dengan kehidupan gue!" sentak Elang. Mendengar perkataan Elang, Annora langsung diam. Nyalinya menciut. Kemudian, dia pun diam. Tak berniat ingin melihat apa yang terjadi. Dia tak mau kalau Elang makin marah. Annora sadar diri siapa dirinya. Jeny tersenyum miring, Elang sekamar dengan Annora. Ini bisa dijadikan alasan untuk menyudutkan Elang. "Kamu satu kamar dengan wanita lain ternyata. Gitu kamu bilang aku murahan?" Elang terbelalak, dia sama sekali tak menyangka Jeny bakal membalikkan keadaan. Dia masih menahan amarah. Tak mau membuat keributan di tempat ini. *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN