“Kamu satu kamar dengan wanita lain ternyata. Gitu kamu bilang aku murahan?”
Elang terbelalak, dia sama sekali tak menyangka Jeny bakal membalikkan keadaan. Dia masih menahan amarah. Tak mau membuat keributan di tempat ini.
“Apa maksud lo? Jelas lo murahan karena lo pergi sama selingkuhan lo!” sentak Elang.
“Terus cewek yang bareng kamu nggak murahan?” tanya Jeny dengan sinis.
Elang benar-benar geram.
“Udahlah Jen, lo itu salah nggak usah membela diri dengan membalikkan keadaan. Lagian status gue dan Annora suami istri, beda dengan lo dan selingkuhan lo iitu” Elang menatap Jeny dengan tajam.
Jeny hanya menunduk, wajahnya menunjukkan penyesalan.
“Lang, maafin aku. Aku khilaf. Aku janji nggak bakal ngelakuin ini lagi. Aku sayang banget sama kamu.” Jeny memohon pada Elang.
“Nggak ada kata maaf! Hati gue terlanjur sakit! Gue udah percaya banget sama lo. Tapi, lo ngekhianati kepercayaan gue!” Telunjuk Elang menukik tepat di wajah Jeny.
“Lang, aku mohon maafin aku. Aku ngelakuin ini semua karena kesepian. Kamu nggak pernah ada waktu untuk aku, jadi apa salah kalau aku cari hiburan dengan bersenang-senang dengan pria lain? Aku sama sekali nggak ada hati sama bos aku. Semua karena aku kangen banget sama kamu.” Jeny menatap Elang dengan sendu.
Mendengar pengakuan Jeny, Elang terdiam. Yang awalnya dia kesal karena merasa dikhianati, tiba-tiba hatinya tersentuh. Dia merasa bersalah. Semua yang terjadi akibat sikap Elang. Ya, semenjak Elang menikah dengan Annora memang tidak pernah ada waktu khusus untuk Jeny. Wajar Jeny mencari hiburan.
Melihat Elang terdiam, Jeny pun tersenyum tipis. Sepertinya Elang mulai luluh. Lalu, Jeny pun memeluk Elang dengan erat.
“Aku kangen banget sama kamu, Lang. Udah lama kita nggak ketemu.” Jeny terus memeluk Elang dengan erat. Elang hanya diam, getaran hebat di dadanya mengalahkan kemarahannya.
Mendapat pelukan dari orang yang disayanginya membuatnya tak bisa berkutik.
“Lang, aku nggak sekamar dengan Rio. Aku pesan kamar sendiri. Aku nggak serendah yang kamu kira.” Jeny terus membujuk Elang.
“Maafin gue, Jen.” Akhirnya, Elang membuka suara, dan itu membuat Jeny merasa bahagia. Mudah sekali Elang dirayu, itu artinya Elang memang tak bisa lepas dari Jeny.
“Gue nggak pernah ada waktu buat lo. Kalau saja waktu bisa diputar ulang kembali, gue akan lebih perhatian sama lo.”
“Nggak apa-apa, Lang. Nggak usah minta maaf, aku sadar kok kamu nggak ada niat mengabaikan aku. Aku tahu, kamu pergi ke sini juga pasti bukan karena keinginanmu, kan?” Jeny melepas pelukannya dan memandang wajah Elang dengan lekat.
“Iya, gue dipaksa sama Papa dan Mama. Males sebenarnya gue pergi ke sini bareng Nora.” Elang mengeluh. Lalu, dia mengajak Jeny untuk masuk ke kamarnya.
Jeny melihat ke sekeliling, ternyata ada Annora sedang berbaring di kasurnya. Dia baru tahu ternyata Elang memesan kamar dengan dua ranjang. Annora yang melihat Elang membawa Jeny langsung terbangun.
“Kenapa kamu nggak bilang dulu ke aku kalau mau bawa cewek kamu ke sini? Kan, aku bisa keluar!” sentak Annora.
“Suka-suka guelah. Pacar, pacar aku.” Elang tanpa berdosa menggandeng Jeny dengan mesra dan menyuruh Jeny duduk di sofa kamar hotelnya.
“Iya, aku tahu! Tapi, seenggaknya kamu nggak dengan seenak sendiri! Kamu tahu kamar ini bukan cuma kamar kamu!” Annora benar-benar kesal. Dia merasa privasinya terganggu dengan kehadiran Jeny.
“Lo tenang aja. Abis ini gue bakal keluar sama Jeny. Gue bakal nikmatin keindahan Karma Beach Private bareng Jeny.” Elang tersenyum miring pada Annora.
Annora memutar bola mata malas.
“Ya udah pergi sana!” perintah Annora.
“Ngapain lo main perintah pacar gue! Lo itu cuma istri boongannya, nggak usah sok deh!”
Annora hanya diam. Dia malas menanggapi cewek tak jelas seperti itu. Annora merasa heran, baru saja Elang terdengar teriak-teriak seperti orang marah. Dan dari tadi wajahnya juga terlihat suntuk, tetapi sekarang sudah normal kembali. Annora hanya bertanya-tanya dalam hati.
“Udah yuk, Sayang. Kita jalan-jalan menikmati Bali.” Elang mengajak Jeny.
Annora hanya menyaksikan dua sejoli itu dengan mengendikkan bahu.
“Baguslah pergi. Nggak usah balik ke sini malah bagus.” Annora bermonolog.
Elang pergi tanpa pamit pada Annora. Dia pergi ke tempat parkir dan membawa Jeny keluar dari area Pantai Karma.
“Loh, Sayang kita mau ke mana? Katanya mau menikmati Pantai Karma.” Jeny merasa heran karena Elang membawanya keluar area Pantai Karma.
“Jalan-jalanlah. Udah tenang aja. Ini sebagai bentuk permintaan maafku, karena lama nggak pernah menemui kamu.” Elang menatap Jeny dengan penuh cinta.
Jeny merasa senang karena ternyata Elang tidak terlalu lama marahnya. Dirayu sebentar saja sudah lupa dengan kekesalannya dan lupa dengan kesalahan Jeny. Tiba-tiba ponsel Jeny berdering, dia melihat nama yang tertera di ponselnya. Bosnya yang menghubungi, dia menoleh ke arah Elang. Jeny tak mau Elang marah kembali.
“Kenapa nggak diangkat Yang?” tanya Elang.
Jeny merasa senang karena ternyata Elang sudah memanggilnya Sayang kembali.
“Emmm, nggak. Biarinlah. Nggak penting, ganggu kemesraan kita aja.” Jeny menyandarkan kepalanya di bahu Elang.
“Sayang jangan gini dulu, ya? Aku lagi nyetir ini.”
Jeny pun menurut apa yang dibilang Elang.
***
Annora merasa kesal pada Elang. Karena dia sama sekali tak mengatakan kalau akan mengajak Jeny. Annora tak peduli sebenarnya, hanya saja Elang bilang kalau tidak membuat janji dengan orang lain. Ya, walau bulan madu ini karena dipaksa kedua mertuanya, harusnya Elang sedikit menghargai Annora. Bukan malah pergi bermesraan dengan pacarnya. Harusnya bulan madu kali ini momen untuk saling mengenal.
Annora juga ingin pergi jalan-jalan menikmati keindahan Bali, apalagi dia sama sekali belum pernah ke Bali. Annora benar-benar merasa kesal. Dia berandai-andai, kalau saja menikah dengan pria yang dicintainya, dan pergi bulan madu ke Karma Beach Private ini, pasti sangat menyenangkan sekali. Annora membayangkan wajah Pak Johar teman seprofesinya yang menjadi incarannya. Sayangnya Pak Johar sama sekali tak pernah mengajak Annora berkomunikasi.
Saat sedang melamun ponsel Annora berdering. Mama mertuanya menelepon. Annora pun menggeser tombol warna hijau di ponselnya.
“Assalamualaikum, Ma.”
“Waalaikumsalam, Sayang. Gimana bulan madunya?” tanya Bu Nani.
“Emmm, ya nggak gimana-gimana, Ma. Gimana emang?” tanya Annora dengan polos, membuat Bu Nani tertawa.
“Ya, maksud Mama, lancar nggak? Tadi, nyampe jam berapa di Bali?” tanya Bu Nani.
“Ya, kan, masih setengah hari, Ma,” jawab Annora dengan polos.
“Tadi, nyampe di Bali jam tujuh pagi Ma.”
“Elang baik, kan, sama kamu? Nggak semena-mena gitu?” tanya Bu Nani.
“Iya, Ma. Baik, kok,” jawab Annora berbohong.
Ya, Annora memang terpaksa berbohong, tidak mungkin dia menceritakan perlakuan Elang yang buruh ke Annora.
“Sekarang mana Elang? Mama telepon nggak diangkat.”
Annora merasa salah tingkah, saat Bu Nani menanyakan Elang. Dia bingung harus menjawab apa. Lama Annora terdiam.
“Nora Sayang, kamu dengar Mama, kan?” tanya Bu Nani.
“I-iya, Ma,” jawab Annora.
“Elang mana?”
“Emmm, tidur Ma. Iya, tidur.” Annora akhirnya berbohong lagi.
Maafkan Nora, Ma, harus berbohong lagi. Annora berkata dalam hati.
“Tidur?” tanya Bu Nani merasa heran.
“Iya, Ma. Mungkin karena kecapean habis mengendarai mobil semalaman.” Annora mencoba menjawab dengan tenang agar tidak ketahuan kalau berbohong.
“Oh, iya mungkin. Pantes nggak diangkat pas Mama telepon.”
Nggak mungkin diangkat Ma, kan, lagi berduaan sama pacarnya. Lagi-lagi Annora berkata dalam hati. Sebenarnya dia merasa kesal sekali, entah Annora tidak tahu apa yang membuatnya merasa kesal mengingat Elang bermesraan dengan Jeny.
“Ya udah, ya, kamu istirahat juga gih. Nanti kalau Elang udah bangun, suruh telepon Mama, ada hal penting yang mau Mama omongin.”
“Iya, Ma.”
“Ya udah, ya, selamat berbulan madu, Sayang. Nikmati waktumu, ya?”
“Iya, Ma.”
Lalu, sambungan telepon pun terputus. Setelah itu Annora segera mengirim pesan pada Elang, takut sewaktu-waktu Bu Nani telepon, Elang mengangkatnya.
[Lang, barusan Mama telepon aku. Katanya telepon kamu nggak diangkat. Aku bilang kalau kamu tidur, karena kecapean semalaman nyetir mobil. Nanti kalau Mama telepon lagi, kamu bilang kalau bangun tidur.] Terkirim dan langsung centang biru.
[Bagus. Tumben cerdas. Gue emang sengaja nggak angkat. Karena gue nggak mau ngenganggu waktu gue sama Jeny. Gue udah ngira kalau bakal telepon lo.]
Mendapat balasan dari Elang, Annora hanya geleng-geleng tak percaya. Hanya karena pacar, dia rela mengabaikan telepon mamanya. Sungguh Annora tak menyangka Elang seperti itu.
[Kamu nanti balik ke sini jam berapa? Jangan malam-malam, aku nggak berani sendirian.] Annora pun memberanikan diri mengirim pesan lagi.
[Suka-suka guelah! Ya elah, masak nggak berani. Udah, nggak usah kirim pesan lagi! Ganggu orang pacaran aja!]
Annora menarik napas dalam membaca balasan dari Elang. Hatinya sakit bagai ditusuk-tusuk. Annora hanya bisa pasrah dan berdoa. Lalu, dia berdiri dan keluar menuju balkon kamar hotel. Dia melihat pemandangan laut lepas di bawah sana. Suasananya menenangkan jiwa.
***
bersambung