Waktu berjalan begitu lambat. Sudah tiga hari Annora berada di Bali. Sayangnya Annora hanya sendiri. Elang setiap hari selalu bersama Jeny, ya, Elang memutuskan tinggal di kamar Jeny. Annora benar-benar tak habis pikir dengan sikap Elang. Setiap mertuanya menghubungi, Annora selalu mencari alasan. Berharap Ibu mertuanya tidak menanyakan lagi. Annora merasa bersalah karena harus berbohong pada ibu mertuanya.
Annora terkadang menyesal dengan pernikahannya ini. Kenapa dia harus menyetujui keputusan Elang. Elang sama sekali tak memiliki hati. Baru beberapa waktu menjalani pernikahan serasa sudah bertahun-tahun lamanya. Ah, mengapa nasibku harus seperti ini? Annora meratap dalam hati. Lalu, ponselnya berdering, ayahnya menelepon. Annora segera mengusap air matanya dan segera menerima telepon dari ayahnya.
“Assalamualaikum, Yah.”
“Waalaikumsalam. Nak, gimana bulan madunya? Nyenengin, ‘kan?” tanya Pak Hardi dengan suara yang ceria.
Annora menarik napas dalam. Annora bingung apa yang harus dikatakan.
“Gimana, ya, Yah? Ya, gitulah pokoknya.” Annora tersenyum kecut.
“Loh, gitu gimana? Kamu seneng, ‘kan? Elang bersikap baik ke kamu, ‘kan?” tanya Pak Hardi.
“Ayah tenang aja pokoknya. Nora seneng, kok, semuanya baik-baik aja.” Annora terpaksa berbohong lagi.
“Syukurlah kalau gitu. Elang mana, Ayah mau ngomong sama dia.”
Annora langsung bingung ketika ayahnya ingin mengobrol dengan Elang.
“Emmm, Elang lagi mandi, Yah.” Annora berusaha berkata dengan tenang.
“Oh, ya udah kalau gitu. Nanti Ayah telepon lagi. Salam buat Elang, ya? Assalamualaikum.”
“Iya, Yah. Waalaikumsalam.”
Annora lalu mematikan sambungan teleponnya. Dia tak tahu sudah berapa banyak dosa yang dia lakukan. Berbohong pada kedua mertuanya dan ayahnya.
“Maafin Nora, Yah, terpaksa berbohong. Ibu maafin Nora.” Annora bermonolog.
Dia lalu tergugu dalam sepi. Malam yang seharusnya indah bagi pasangan pengantin baru, malah membuatnya kelabu. Kenapa juga harus ada Jeny di sini? Annora merasa kesal sendiri. Walaupun memang pernikahan ini terjadi bukan karena cinta, tetapi liburan yang harusnya dinikmati berdua bersama Elang, hancur sudah. Harapan agar bisa saling mengenal musnah sudah. Annora ingin sekali cepat pergi dari Bali sini. Ingin pulang ke Malang, lalu kembali beraktivitas. Biar jika nanti setiap hari harus bertemu dengan Jeny, melihat kemesraan Elang dan Jeny setiap hari.
[Lang, aku mau pulang sekarang. Kamu terserah pulang kapan-kapan!] Annora mengirim pesan pada Elang, lalu segera beres-beres. Menurut Annora buat apa terlalu lama, toh di sini dia juga cuma kesepian dan melamun saja kerjaannya.
[Lo gila! Lo mau pulang sendiri tanpa gue? Apa kata orang? Kita ke sini bulan madu, masak pulangnya sendiri-sendiri?] Elang langsung mengirim balasan pada Annora dengan menyertai emot kesal.
Annora tersenyum miring membaca chat Elang.
[Lagi pula aku ngapain juga di sini! Cuma suntuk sendirian. Nungguin orang pacaran doang. Mending, kan, kerja bisa dapat duit.]
[Ok, kita pulang besok. Gue nggak bakal ngebiarin lo pulang sendiri tanpa gue. Kena omel entar gue.]
Annora hanya membacanya tanpa berniat membalas. Tiba-tiba ponselnya berdering, si kulkas menelepon. Annora mengernyit, dia heran kenapa Elang menghubungi, selama ini tidak pernah kecuali memang ada hal penting. Karena penasaran, akhirnya Annora pun menerimanya.
“Ngapain telepon? Tumben? Kenapa nggak datang ke sini?”
“Udah nggak usah banyak tanya lo! Lo jangan pulang duluan hari ini. Kita pulang besok. Gue nggak mau ada masalah nanti di antara keluarga kita.”
Annora hanya diam.
“Lo, dengar, kan?” tanya Elang lagi.
“Iya, aku denger! Udah nggak usah telepon-telepon ntar pacar kamu tercinta marah besar. Aku dilabraknya,” jawab Annora.
“Sayang, kamu ngapain di luar? Sini dong!” Terdengar dengan jelas teriakan Jeny yang terdengar manja, membuat Annora ilfill.
“Eleuh. Udahlah nggak usah telepon-telepon lagi. Urus aja itu pacarmu yang manja.” Annora langsung mematikan sambungan teleponnya.
Setelah itu Annora kembali merenung. Dia keluar menuju belakang kamar hotelnya. Di luar dia bisa melihat keindahan pantai. Suasana remang-remang di belakang Pantai Karma benar-benar indah. Sebenarnya sangat cocok untuk bulan madu.
Kamar Annora memang menghadap ke samudera Hindia. Bahkan, hampir semua kamar. Interior dan arsitektur bangunan resort ini mengingatkan Annora pada film Lilo and Stich yang bernuansa kayu dengan beberapa part berwarna-warni. Kemudian, terdapat gazebo yang bisa dijadikan tempat nongkrong bersama-sama. Resort ini didominasi dengan warna kayu dan cream dengan sentuhan biru alami dari lautan. Arsitektur bangunan ini terlihat klasik dan elegan. Di area luar tampak taman bunga yang memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menjadi pemanis bangunan.
Annora benar-benar takjub. Dia menikmati sendiri keindahannya. Annora menghela napas dalam. Dia merutuki nasibnya yang seperti ini. Namun, Annora tak bisa berbuat apa-apa, selain harus menerima takdir hidupnya.
“Ibu, kenapa nasib Annora harus seperti ini? Annora lelah dan capek, Bu. Malah setiap hari harus berpura-pura.” Annora bermonolog.
Setelah puas menikmati malam yang sepi, Annora kembali masuk. Dia lalu menyucikan diri di kamar mandi. Annora ingin mengadu pada Sang Maha Pencipta.
Annora melakukan dua rakaat sunah. Annora bersimpuh memohon petunjuk pada Yang Mahakuasa. Annora mengadu pada Sang Pencipta. Baginya tidak ada tempat terindah selain bersujud pada Allah. Annora menangis, mengingat nasibnya yang di ujung tanduk.
Annora hanya bisa meratap dalam sepi. Dia tak tahu harus bagaimana lagi. Kesepakatan pernikahan ini membuat Annora mau tidak mau harus menerima takdirnya. Annora tidak bisa protes akan sikap Elang. Annora harus menerima apa yang dilakukan Elang tanpa melarangnya.
Selain itu, Annora tak bisa mengatakan pada kedua mertuanya. Annora mau tidak mau harus bilang kalau perlakuan Elang begitu baik. Meskipun kenyataannya berbanding terbalik.
Annora lama bermunajat pada Sang Pencipta.
“Ya Allah, ampuni segala dosa yang telah hamba perbuat. Hamba harus berbohong berkali-kali, pada Mama, Papa. Semua hamba lakukan demi kebaikan bersama."
Annora menarik napas dalam. Setelah selesai, dia lalu melepas mukenahnya. Annora kembali ke bagian depan kamar hotel. Satu-satunya tempat merenung. Suasana sepi memang cocok untuk merenung.
Annora ingat kata-kata Bu Nani. Annora tidak boleh pantang menyerah untuk mendekati Elang. Annora harus bisa menyentuh hati Elang. Mengingat itu semua, Annora hanya bisa mendesah pelan. Sebab, bagaimana bisa Annora mendekati dan menyentuh hati Elang, kalau mereka tak pernah bersama. Annora tak habis pikir, kenapa harus ada Jeny di sini. Andai tidak ada Jeny, mungkin proses pendekatan mereka tidak ada hambatan.
Annora tidak tahu harus menjawab apa jika ditanya oleh mertuanya tentang perkembangan hubungannya dengan Elang.
Annora benar-benar kesal sendiri terutama kepada Jeny. Kenapa gadis itu harus berada di sini di saat yang tidak tepat. Annora mengembuskan napas kasar.
***
bersambung