Pulang dari Bulan Madu

1534 Kata
Keesokan harinya, annora dan Elang cek out dari hotel. Dan ternyata Jeny ikut pulang bersama Elang dan Annora. Annora awalnya tak terima, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Karena kalaupun Annora menolak, pasti yang disuruh naik kendaraan umum Annora, bukan Jeny. Jeny melirik Annora dengan wajah kesal. Lalu, dia menggandeng lengan Elang dengan begitu mesra. Sementara, Annora diperlakukan seperti pelayan, dia menyeret koper milik Elang dan Annora, juga tas milik Jeny. Annora hanya pasrah menerima semua ini. Setiba di tempat parkir mobil, Elang membukakan pintu mobil untuk Jeny. Annora lagi-lagi harus membuka pintu mobil sendiri dan duduk di belakang. “Lo, sebenarnya nggak pantes naik mobil mewah milik pacar gue! Lo, tuh pantesnya naik bus aja Sono!” sentak Jeny. Annora hanya diam, dia tak peduli. Dia tetap duduk dengan santai di belakang sambil bermain ponsel. “Ih, ngeselin banget, sih! Dasar cewek kampungan!” Jeny terlihat begitu kesal karena tidak dianggap oleh Annora. Sebenarnya, Annora merasa kesal dengan olokan Jeny, tetapi dia menahan amarahnya. Wajah Annora memerah. “Udahlah, Yang. Biarin. Lagian kalau Nora naik bus, ntar apa kata Mama? Masak habis dari bulan madu nggak pulang bareng?” tanya Elang membuat wajah Jeny cemberut. “Terserahlah!” “Jangan marah dong Sayang. Lagian, kan, aku tinggalnya sama kamu.” Elang merayu Jeny. Jeny pun menoleh dan menyenderkan kepalanya di bahu Elang. Marahnya sudah hilang. Melihat mereka Annora hanya bisa mengepalkan tangan dan memutar bola mata. “Kalau mau zina jangan di depan mata aku, aku nggak mau ikut nanggung dosa kalian!” sentak Annora. Jeny langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. “Napa lo yang sewot? Suka-suka guelah! Orang sama pacar gue!” “Ya, aku tahu! Tapi, kalian nggak tahu kalau perbuatan kalian itu dosa besar! Aku nggak mau ikut nanggung dosa!” Mata Annora melotot tajam ke arah Jeny. “Sayang, denger deh itu cewek kampung ngomong apa?” “Udah, biarin aja. Sekarang kita pulang. Aku mau fokus nyetir, kalian jangan berentem mulu. Dan lo, Nora jangan banyak omong!” Elang menoleh ke belakang. Annora hanya melengos. Lalu, Elang pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara, Jeny tetap dengan menyenderkan kepalanya di bahu Elang. Annora memilih untuk melihat ke luar jendela mobil, sambil memasang headset di telinganya. Dia mendengarkan musik dari ponselnya. Jika sedang gabut dia membuka akun sosmednya. Perjalanannya terasa begitu lama menurut Annora. Apalagi dengan kehadiran Jeny. Annora benar-benar merasa kesal. Ingin rasanya dia berteriak agar Jeny pergi dari mobil ini. Namun, Annora tak bisa melakukan itu. Elang pasti akan marah. Annora hanya bisa menyesali takdirnya, kenapa harus menikah dengan pria yang punya pacar. Mungkin kalau hanya tidak mencintai Annora, tidak akan semenyakitkan ini. Saat Annora membuka aplikasi biru berlogo F, tiba-tiba di timeline-nya lewat postingan Pak Johar, teman seprofesinya. Mata Annora membelalak, baru kali ini Pak Johar memosting fotonya. Dan terlihat begitu keren. Banyak komentar memuji dari teman ceweknya, di kolom komentar. Semua itu membuat Annora merasa cemburu, tangannya mengepal dengan kuat. Ingin rasanya dia memarahi semua cewek yang komentar sok centil pada Pak Johar. Namun, Annora tak pantas seperti itu, sebab Pak Johar bukan apa-apanya. Karena kesal Annora pun mengupdate status. [Menyebalkan!] Tak lama kemudian beberapa komentar dari teman-teman mayanya memenuhi kolom komentarnya. Rata-rata mereka bertanya ada apa dan kenapa. Mereka tidak tahu kalau Annora sudah menikah, karena memang Annora menyembunyikannya. Toh pernikahan ini hanya sebuah permainan menurut Annora. Annora memilih membaca semua komentar dan tidak membalas satu per satu, tetapi hanya menulis satu komentar di kolom komentarnya. Annora hanya mengatakan tidak apa-apa, hanya sedang kesal saja. Tiba-tiba, degup jantung Annora berdetak tak keruan, saat mendapat notif kalau Pak Johar mengomentari statusnya. Annora langsung membukanya. [Kalau menyebalkan dijitak saja Bu.] Komentarnya disertai emot tertawa. [Ah, biarin saja Pak.] Annora membalasnya. Lalu, balasan demi balasan terus meluncur. Sampai akhirnya Annora mengantuk. Dia lalu mematikan data internetnya dan meletakkan ponselnya di tas kecil miliknya. Lalu, Annora menyandarkan kepalanya ke belakang. Dia ingin tidur. “Ngapain ketawa-ketawa sendiri tadi?” tanya Elang tiba-tiba. Annora mengernyit. “Kamu tanya aku atau Jeny?” tanya Annora. “Lo-lah! Jeny udah tidur!” sentak Elang. Annora hanya mengendikkan bahu. “Suka-suka akulah. Kok, kamu kepo. Udah aku ngantuk mau tidur!” sentak Annora. Elang hanya diam mendapat bentakan dari Annora. Elang juga heran kenapa dia kepo dengan urusan Annora. *** Akhirnya, setelah perjalanan kurang lebih 11 jaman, mereka sampai di Malang. Elang mengantar Jeny dulu. Saat tiba di sebuah rumah yang sangat mewah, Annora terkagum-kagum, tetapi dia menyembunyikan rasa kagumnya itu. Ini rumah kayak istana, berarti Jeny benar-benar kaya raya. Annora hanya berucap dalam hati. “Sayang, sorry, ya, aku cuma nganterin sampe sini dulu. Nggak mampir dulu, kapan-kapan aku ke sini.” Elang merasa bersalah pada Jeny. “Yah, padahal aku kangen banget sama kamu, Sayang.” Jeny menggelayut manja di lengan Elang, membuat Annora merasa sebal. “Ya, gimana lagi, nggak mungkin aku mampir sekarang. Udah dulu, ya, masuk gih. Aku pamit dulu.” Elang mencium kening Jeny. “Ok, deh. Hati-hati, ya, Sayang.” Jeny mengecup kedua pipi Elang. “Salam buat Tante dan Om, ya?” “Iya, nanti kalau mereka telepon aku sampein.” Jeny kemudian keluar dan memberi peringatan pada Annora agar tidak macam-macam pada Elang. Annora hanya berdeham saja. Lalu, Elang pun melajukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya. Akhirnya, tak berapa lama mereka sampai. Annora segera turun dari mobil dengan membawa kopernya, tapi dengan sigap Elang mengambilnya dari tangan Annora. Annora hanya mengernyit. “Kamu takut kena marah Mama dan Papa?” “Nggak usah banyak tanya!” sungut Elang. Mereka disambut oleh satpam. Saat membuka pintu, Bu Nani dan Pak Handoko menyambut Annora dan Elang dengan senyum semringah. “Duh, anak Mama yang abis bulan madu wajahnya beda. Ceria banget.” Bu Nani tersenyum menggoda Annora. Elang hanya memutar bola matanya malas. Mamanya pasti selalu mendahulukan Annora dibanding dirinya. “Ma, yang anak Mama itu Elang apa Nora?” tanya Elang kesal. Pak Handoko tertawa melihat wajah kesal Elang. “Nora.” Bu Nani menjawab dengan singkat membuat Elang makin kesal. “Terus Elang siapa?” tanya Elang memancing Bu Nani agar memeluk Elang. “Iya, anak Mama, dong.” Bu Nani lalu memeluk Elang dengan erat. “Mama kangen banget sama kalian. Kalian itu anak Mama semua. Nggak ada yang namanya menantu,” lanjut Bu Nani. Mata Annora berkaca-kaca mendengar jawaban Bu Nani. Dia langsung menghambur ke pelukan Bu Nani, membuat semuanya saling pandang. Apalagi Annora tiba-tiba menangis. “Sayang, kamu kenapa nangis?” tanya Bu Nani dengan pandangan bingung. “Makasih, Ma. Makasih banget, udah anggep Nora anak Mama. Udah memperlakukan Nora dengan begitu baik. Nora beruntung bisa memiliki mertua sebaik Mama. Nora jadi punya Ibu, sejak kecil Nora nggak pernah ngerasain kasih sayang seorang mama.” Annora menangis di pelukan Bu Nani. Pak Handoko hanya menatap Annora dengan sendu. Matanya berkaca-kaca. Bu Nani mengusap pundak Annora dengan lembut. “Udah, jangan nangis, dong. Mama janji bakal ngejaga kamu sampai kapan pun. Mama sayang banget sama kamu. Papa juga, begitu pun dengan Elang. Iya, kan, Pa? Lang?” tanya Bu Nani sambil menatap Elang dan Pak Handoko bergantian. “Iya, Nak. Papa juga sayang banget sama kamu. Jangan sedih lagi.” Pak Handoko tersenyum. Elang hanya diam sambil menatap Mama dan papanya heran. Dia heran ada apa dengan Annora, kenapa semuanya menyayanginya? Elang hanya bertanya dalam hati. Hati Elang sama sekali tak tersentuh. “Udah, deh, nangis-nangisannya. Elang capek, baru nyetir jauh banget, mau istirahat. Boleh ke kamar, kan, Ma?” tanya Elang mengalihkan pembicaraan. “Elang, kamu ini, ya? Gimana bulan madunya? Lancar, ‘kan? Mama dan Papa pengen banget punya cucu. Kami udah tua.” Bu Nani menatap Elang. “Ish, apaan sih Ma? Nggak usah bahas itu dulu napa? Udah ah, Elang capek mau istirahat. Oh iya, Nora. Besok kita pindah ke rumah kita. Rumah yang udah gue siapin.” Setelah berkata demikian Elang pun melangkah meninggalkan Pak Handoko, Bu Nani, dan Annora yang terbengong dengan keputusan Elang yang begitu cepat. “Elang! Kenapa secepat ini ngajak Nora pergi dari sini? Mama masih pengen tinggal bareng Nora.” Bu Nani melarang Elang pindah secepatnya. Elang yang hendak naik ke lantai atas berhenti, lalu menoleh pada Bu Nani. “Duh, Ma, Elang udah lama cuti. Lusa harus masuk kerja, jadi biar enak besok pindah. Nggak ada larangan, keputusan Elang udah bulat. Titik!” Perkataan Elang tidak bisa diganggu gugat. Bu Nani dan Pak Handoko hanya diam setelah mendengar keinginan Elang. Annora pun diam. Dia sebenarnya lebih nyaman dan krasan tinggal di rumah mertuanya ini. Sebab, tidak akan pernah ada gangguan dari Jeny. Berbeda jika nanti tinggal di rumah Elang sendiri. Yang pasti setiap hari akan bertemu Jeny dan melihat hal yang sama sekali tak diinginkan. Annora hanya menarik napas dalam. “Kalau kamu capek juga. Istirahat sana,” ucap Bu Nani. “Iya, Ma.” Annora hanya tersenyum. Setelah berpamitan pada kedua mertuanya, Annora pun menyusul Elang yang sudah dulu naik ke lantai atas, ke kamar Elang. Annora membawa kopernya, karena tidak dibawa oleh Elang. Annora menaiki tangga dengan d**a yang berdebar, apalagi saat mau membuka pintu kamarnya. Annora takut tiba-tiba Elang memarahinya. Dengan perlahan, Annora membuka pintu kamar Elang. “Ngapain lo ke sini?” tanya Elang dengan sengit. “A-aku, mau istirahat. Capek dan ngantuk.” Annora menjawab dengan lirih. “Ganggu aja bisanya! Lo tidur di sofa sono! Gue mau tidur dengan nyenyak, tanpa gangguan!” sentak Elang, lalu dia merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya. Annora hanya bergeming. Dia memutuskan untuk ke kamar mandi dahulu. Annora benar-benar tidak mengerti dengan sikap Elang. *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN