Keesokan harinya, Elang menyuruh Annora untuk packing dan segera pindah ke rumah mereka. Saat Annora sedang siap-siap, Bu Nani mengetuk pintu.
“Nora! Boleh Mama masuk?” tanya Bu Nani.
“Iya, Ma, silakan.” Annora menjawab dengan masih memasukkan baju ke dalam koper.
Bu Nani pun melangkah masuk. Dia mendekat ke arah Annora.
“Nora, nggak bisa ditunda, ya, pulang ke rumah kaliannya? Mama masih kangen banget sama kamu. Besok gimana?” tanya Bu Nani.
“Nora hanya ngikut apa kata Elang, Ma.” Annora menoleh sambil tersenyum.
“Hmmm. Tapi, kamu jangan lupa sering-sering ke sini, ya?” pinta Bu Nani.
“Iya, Ma. Tenang saja.” Annora tersenyum.
“Oh, iya, gimana bulan madunya kemarin? Elang memperlakukan kamu dengan baik, kan?” Bu Nani tersenyum.
Annora terdiam. Dia menghela napas dalam. Selama di Bali, Elang hanya berduaan dengan Jeny, bahkan dia tak pernah mengajak Annora pergi jalan-jalan menikmati keindahan Bali. Annora hanya pergi sendiri. Mata Annora berkaca-kaca, tapi dia segera mengusap sudut matanya agar air matanya tidak menetes.
“Nora, kamu baik-baik saja, ‘kan? Elang nggak jahat sama kamu, kan, di sana?” tanya Bu Nani khawatir.
“Nggak Ma, Elang baik, kok, tenang saja. Elang nggak pernah jahat sama Nora. Jangan khawatir.” Annora terpaksa berbohong.
Di balik pintu diam-diam Elang menguping pembicaraan mamanya dan Annora. Seperti ada penyesalan di wajahnya, karena selama ini Elang bersikap tak baik pada Annora. Namun, Annora sama sekali tak pernah mengadu pada mamanya, bahkan kepada ayahnya. Namun, lagi-lagi Elang segera menepis pikiran itu.
“Ish, ngapain gue sok kasihan sama gadis kampung itu!” Elang kemudian masuk ke kamarnya.
“Udah belum siap-siapnya? Lama amat!” sentak Elang.
“Elang, bisa nggak sih ngomongnya biasa aja? Nggak usah bentak-bentak gitu.” Bu Nani menatap Elang dengan tajam.
“Iya, Ma. Nora, cepet dikit, ya, siap-siapnya. Kita harus segera berangkat.” Elang pura-pura tersenyum pada Annora.
“Nah, gitu dong. Udah ya Mama keluar dulu.” Bu Nani menepuk pundak Annora dengan lembut.
Annora mengangguk sambil tersenyum. Setelah Bu Nani keluar, suasana kembali hening.
“Lo ngadu apa aja ke Mama, pas kita di Bali?” Elang menatap Annora penuh selidik.
“Nggak ngadu apa-apalah. Emang aku tukang ngadu?” tanya Annora dengan sewot.
“Ya, siapa tahu.”
“Tenang, kalau aku niat ngadu udah dari kemarin-kemarin sebelum kita nikah, aku udah ngadu.” Annora menjawab dengan santai.
“Udah selesai. Mau berangkat sekarang apa nanti?” tanya Annora.
“Ya, sekaranglah.” Elang kemudian melangkah mendahului Annora.
Annora mengikuti di belakang. Setiba di lantai bawah Elang dan Annora berpamitan pada Mama dan Papa Elang.
“Nora kalau Elang bersikap kurang sopan dan nggak baik sama kamu, jangan sungkan untuk ngadu ke kami.” Pak Handoko menatap Annora dalam, lalu beralih pada Elang, Elang langsung menunduk.
“Elang, ingat, Nora ini istri kamu. Jadi harus kamu perlakukan dengan baik.” Pak Handoko menatap Elang tajam.
“Iya, Pa.”
“Nora baik-baik di sana, ya? Jangan lupa sering main ke rumah Mama. Jangan lupa sering hubungi Mama.” Bu Nani memeluk Annora, bahunya berguncang. Dia menangis.
“Ma, kita pindah nggak jauh, kok, masih satu kota. Jadi tenang aja.” Annora mengurai pelukan dan tersenyum menatap mertuanya.
Setelah cukup lama, Elang dan Annora pun melangkah keluar, Bu Nani dan Pak Handoko mengantarkan mereka, sampai Elang dan Annora tidak kelihatan lagi.
“Rumah kita sepi lagi, ya, Pa?” tanya Bu Nani.
“Iya, Ma. Tapi, nggak apa-apa, biar mereka mandiri.” Pak Handoko tersenyum.
Lalu, mereka pun masuk ke rumah. Rumah yang cukup besar jika hanya ditinggali mereka berdua. Pak Handoko sebenarnya melarang Elang membeli rumah, karena rumah ini tidak ada yang menempati. Namun, Elang bersikeras ingin membeli rumah, karena setelah menikah dia ingin hidup mandiri, tanpa harus merepotkan kedua orang tuanya. Akhirnya, Pak Handoko dan Bu Nani pun mengalah.
***
Akhirnya, mereka pun sampai di rumah Elang. Rumahnya tergolong megah. Memiliki ruang tamu yang luas. Berbagai perabot mulai dari sofa, karpet, hingga lampunya terlihat mewah. Ditambah lagi dengan langit-langitnya yang tinggi membuat ruangan terasa sejuk. Dinding putih di keseluruhan interior terkesan indah karena pantulan dari cahaya lampu. Akan tetapi, kemewahan itu tak berlaku apa-apa bagi Annora. Sebab, perlakuan yang tak baik dari Elang. Kalau saja Elang bisa bersikap layaknya seorang suami, mungkin hidup Annora akan sempurna.
“Baju-baju gue bawa ke kamar gue di lantai atas. Lo, di bawah di kamar deket dapur!”
Elang pun naik ke lantai atas. Annora mengikuti dengan membawa baju-baju Elang. Annora merasa Elang memperlakukan dia sebagai seorang pembantu. Akan tetapi, Annora tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya menurut saja.
Saat tiba di kamar Elang, Annora dibuat terkagum-kagum. Kamarnya begitu besar. Ada ranjang big size, sofa, dan televisi juga. Almarinya juga begitu besar. Di belakang ada dinding kaca sehingga ketika melihat keluar langsung disuguhi pemandangan yang indah. Annora hanya menelan ludah. Dia tidak tahu bagaimana keadaan kamarnya di lantai bawah. Padahal tadi Annora melihat di samping kamar Elang ada kamar, walaupun tidak seluas kamar Annora.
“Cepet beresin baju-baju gue. Gue mau tidur! Terus nanti jangan lupa lo masak!” sentak Elang.
“I-iya.” Annora pun langsung membereskan baju-baju Elang. “Emm, emangnya ada bahan makanan nyuruh aku masak?” tanya Annora memberanikan diri.
“Ya lo belanja aja sana! Di sebelah ada Indomaret! Nih uang buat belanja!” Elang menaruh uang di meja dekat sofa.
“Oh iya, lo tidur di kamar sebelah aja. Kalau di bawah entar kalau malam gue butuh apa-apa manggilnya kejauhan.” Elang berkata dengan begitu santai.
Annora mendesah pelan. Elang sungguh keterlaluan. Padahal tadi sudah diperingatkan Mama dan Papanya agar bersikap baik. Namun, malah memperlakukan Annora seperti pembantu.
Elang terdengar sudah tertidur. Annora segera menyelesaikan tugasnya. Setelah itu dia menata bajunya sendiri di kamar yang sudah ditunjuk Elang untuk ditiduri Annora. Perbedaan yang sangat jauh. Di kamar sebelah tidak ada ranjang, hanya ada kasur lantai yang bisa dilipat. Almarinya pun terbuat dari plastik, kecil pula. Annora hanya mendesah pelan. Dia harus menerima apa pun yang terjadi.
Ponsel Annora berdering. Telepon dari Mama mertuanya. Annora menarik napas dalam, lalu menggeser tombol warna hijau di ponselnya. Setelah itu Annora mengucap salam, Mama mertuanya membalas salam Annora.
“Nora gimana? Udah nyampe rumah?” tanya Bu Nani.
“Sudah Ma. Ini Nora lagi beres-beres.”
“Elang mana? Dia bantu kamu, ‘kan?”
“Mama tenang aja, Elang ngebantu Nora, kok,” jawab Annora berbohong.
“Terus sekarang mana? Mama mau ngomong sama dia.”
“Maaf, Ma. Elang tidur sepertinya dia kelelahan.”
“Oh, ya udah kalau gitu.”
“Udah dulu, ya, Ma. Nora mau nyelesaikan kerjaan Nora dulu.” Annora berpamitan.
“Iya, Nak.”
Setelah mengucap salam, Annora mematikan teleponnya. Annora tidak tahu, sampai kapan dia akan terus melakukan dosa. Berbohong pada Mama mertuanya dan ayahnya. Annora hanya mendesah pelan. Kemudian, Annora segera melakukan tugas selanjutnya. Karena nanti setelah Elang bangun belum ada makanan, pasti akan marah-marah lagi. Annora pun segera pergi ke Indomaret terdekat. Dia membeli bahan masakan seadanya.
Setelah selesai membeli bahan makanan, Annora segera pulang. Dia segera menanak nasi dan menyiapkan sayuran untuk menggoreng nasi. Ya, Annora berniat masak menu sederhana untuk sementara waktu ini. Karena memang belum memiliki stok bahan masakan yang banyak.
Tak lama kemudian, semuanya sudah siap. Annora pun membersihkan diri. Setelah itu baru mau melihat Elang sudah bangun apa tidak. Namun, ternyata setelah keluar dari kamar mandi, terdengar teriakan dari ruang makan. Membuat Annora berjingkat kaget. Ternyata Elang sudah bangun.
"Nora! Cepetan dikit bisa nggak? Lemot banget jadi orang!" Terdengar teriakan Elang dari ruang makan.
"Iya, sebentar! Sabar dikit napa!" teriak Annora dari dapur. “Aku kira kamu, kan, belum bangun.” Annora menggerutu.
Sebenarnya jarak dapur dengan ruang makan tak begitu jauh. Entah, kenapa Elang suka teriak-teriak. Annora merasa heran, Elang tidak pernah berbicara pelan. Semoga hanya dia makhluk Tuhan satu-satunya yang bersikap seperti itu, batin Annora.
"Gue udah lapar banget! Cepetan! Bisa cepat nggak?" Masih saja terdengar Elang berteriak.
Dengan tergesa, Annora membawa menu sarapan ke ruang makan. Meletakkan dua piring nasi goreng sayur dan telur ceplok di atasnya, ke meja yang terbuat dari kayu jati.
Elang memang mempunyai selera yang tinggi dalam dekorasi. Keseluruhan ruangan dibalut dengan perabotan dari kayu yang berwarna gelap. Menjadikan ruangan terasa elit dan juga megah. Warna kayu yang gelap memiliki kesan alami dan juga hangat. Annora sampai terpesona dengan ruangan ini, sangat kontras dengan ruang makan di rumahnya yang sederhana.
"Malah bengong aja lo! Cepetan makan!”
“Iya. Emm, Lang, maaf, ya, aku cuma masak ini aja. Soalnya, tadi belanja apa adanya aja.” Annora berkata dengan takut.
“Ya, nggak apa-apa. Besok-besok masak yang lebih mewah. Besok bisa belanja ke pasar.” Elang menjawab sambil terus menyantap nasi goreng.
“Emm, besok aku udah mulai masuk kerja.” Annora berkata dengan pelan.
“Ya samalah, gue juga. Kan, lo belanja bisa siang, sepulang dari kerja. Lo ngajar nggak sampai sore, kan?”
“Iya,” lirih Annora.
Kemudian, suasana kembali hening. Mereka menikmati makan dalam diam. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar. Annora makan sambil memikirkan apa yang harus dia katakan pada teman-temannya besok jika ditanya kenapa lama tidak masuk. Annora sama sekali tak memberi tahu temannya kalau dia cuti nikah. Annora menarik napas dalam.
Biarlah, dipikir besok saja. Toh, belum tentu mereka bertanya.
"Lo ngapain ngelamun mulu?!"
"Eh, siapa yang ngelamun?"
"Nggak usah ngelak deh. Gue tahu lo lagi ngelamun. Jangan bilang ngelamunin pacar lo!" sungut Elang.
"Emang kamu? Aku nggak ada pacar!" sentak Annora.
Pertanyaan Elang benar-benar membuat Annora bersedih. Elang sok tahu, suka menuduh orang seenaknya sendiri.
Dia pikir semua orang kayak dia? Punya pacar dan selalu mikirin pacar? Dasar cowok aneh! Batin Annora.
***
bersambung