Sudah tiga hari Elang dan Annora tinggal di rumah mereka sendiri. Semua berjalan normal. Namun, Annora baru akan masuk kerja hari ini. Sedangkan, Elang sudah sejak kemarin. Pagi ini, setelah selesai sarapan tiba-tiba Elang berteriak dari bawah.
“Nora! Lo mau berangkat sekarang apa nanti?!”
Annora yang sedang bersiap-siap pun merasa heran, karena Elang menjadi perhatian padanya.
“Nora! Lo denger nggak? Gue udah telat!” teriak Elang lagi.
Annora menggerutu sambil menutup pintu kamarnya.
“Berangkat dulu aja! Aku bisa pergi sendiri!” sungut Elang ketika sudah ada di lantai di bawah.
"Mulai sekarang lo berangkat bareng gue! Nggak boleh nolak!”
Annora terbatuk mendengar pernyataan Elang. Kenapa tiba-tiba mau berangkat bareng dia? Annora mengernyit heran. Kemudian, tangannya ditempelkan ke dahi Elang.
"Eh, lo ngapain?” Elang menepis tangan Annora dengan kasar.
“Pengen tahu aja, kamu sehat?” Annora menggoda Elang.
“Lo kira gue sakit? Udah ayo berangkat! Udah siang ini!”
"Eemm, kenapa tiba-tiba mau berangkat kerja bareng aku? Kita beda jalur, lagian aku sudah bisa naik motor sendiri," sahut Annora.
"Gue nggak mau jadi bahan gunjingan orang! Istrinya dibiarkan pergi kerja bawa motor sendiri! Jangan GR!” Elang berkata dengan nada sinis.
Annora hanya mengangguk dan ber ‘oh’ ria.
“Napa? Lo pikir gue perhatian sama lo?!” sentak Elang.
Annora hanya melotot.
"Lo pikir gue mulai tertarik sama lo? Jangan terlalu PD!"
Annora bersungut-sungut, napasnya naik turun menahan amarah. Dasar om-om playboy! Annora mengomel dalam hati.
"Siapa juga yang mikir gitu. Aku cuma heran aja, kenapa bisa tahu kalau jadi gunjingan orang. Jangan-jangan kamu suka ngerumpi." Annora tersenyum miring.
"Enak aja! Tahulah pokoknya!" sentaknya sambil menatap Annora tajam.
Ditatap begitu membuat Annora salah tingkah. Gadis itu langsung menunduk dan melanjutkan sarapan. Setiap tanpa sengaja kedua pasang mata mereka beradu, selalu membuat Annora bersemu merah.
Lalu, mereka pun segera keluar, Annora mengunci pintu. Sementara, Elang sudah masuk ke mobil. Setelah selesai mengunci pintu Annora bergegas menyusul Elang.
"Lama amat! Kayak siput!" Elang berkata sambil menghidupkan mesin.
Annora hanya bergeming, lalu memasang sabuk pengaman. Mobil pun melaju meninggalkan halaman. Annora tidak pernah menyangka akan berangkat kerja bersama dan berdua di dalam mobil. Rasanya sangat canggung. Annora jadi salah tingkah. Sesekali dia melirik Elang. Namun, Elang sama sekali tak peduli, pandangannya fokus ke depan. Orang ini dari mana sih asalnya? Apa dari kutub utara? Dingin dan kaku, tak ada senyum sama sekali. Annora mengomel dalam hati.
Selama dalam perjalanan mereka saling membisu. Larut dengan pikiran masing-masing. Tanpa terasa sudah sampai di sekolah tempat Annora mengajar. Annora segera turun dari mobil, tanpa pamit langsung melangkah meninggalkan Elang. Dia pun tak mengucapkan sepatah kata pun. Sempat terdengar deru mobilnya menjauh dari sekolah.
Annora segera melangkah memasuki area sekolah. Murid-murid tampak sudah ramai. Gadis berjilbab cokelat itu menyusuri koridor menuju ruang guru. Di sana sudah ada beberapa guru yang datang, hari ini memang Annora datang terlambat.
"Bu Nora, tumben datangnya agak siang," kata Pak Johar guru kelas enam.
"Iya, Pak, tadi sedikit macet," sahut Annora.
Annora berasa mimpi karena disapa Pak Johar. Selama mengajar mereka tak pernah bertegur sapa. Baru beberapa hari lalu, Annora berani mengobrol dengan Pak Johar lewat komentar di aplikasi berlogo F berwarna biru. Annora tersipu malu saat Pak Johar menatap Annora tanpa kedip.
“Ehm, sepertinya lagi ada yang baru saling sapa.” Tiba-tiba terdengar salah satu guru membuka suara membuyarkan lamunan mereka.
Annora jadi salah tingkah. Ingat Nora, kamu sudah bersuami.
Bel tanda masuk berbunyi. Annora pun ada alasan untuk pergi dari situasi menegangkan seperti ini.
“Emm, maaf Pak, saya ke kelas dulu, ya?” pamit Annora.
“Iya, Bu silakan.” Pak Johar tersenyum.
“Duh, Pak Johar dan Bu Nora, cepat diresmikan, deh,” ucap Bu Mira.
“Apa, sih, Bu Mira ini. Sudah, ya, saya ke kelas dulu. Mari,” pamit Annora.
Lalu, Annora pun masuk ke ruang kelas dua. Murid-murid menyambut dengan gembira. Mereka bersorak riang, seolah-olah bertemu dengan Ibu Peri. Annora tersenyum melihat tingkah anak-anak. Masa kecil yang penuh keceriaan tanpa ada beban hidup.
Andai waktu bisa berputar kembali, ingin rasanya kembali ke masa itu.
Annora mendesah pelan. Bayangan masa kecil berkelebat di depan mata. Ternyata masa kecilnya tak seceria anak-anak ini. Sangat suram, selalu jadi bahan gunjingan karena tak memiliki ibu. Sampai panggilan salah satu murid mengagetkan Annora.
Annora pun memulai pelajaran hari ini. Mereka menyambut dengan suka cita. Tanpa terasa waktu pelajaran usai untuk anak kelas dua. Satu per satu mereka menyalami Annora. Setelah semua murid keluar, dia pun meninggalkan ruang kelas. Menuju ruang guru.
"Bu Nora sudah selesai kelasnya?" tanya Pak Johar.
Annora mengangguk dan tersenyum. Sedikit salah tingkah di depan Pak Johar. Ya, Pak Johar adalah seseorang yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. d**a berdebar tak keruan setiap kali bertemu dengannya. Namun, sekarang Annora sudah menjadi istri orang, tak pantas merasakan seperti ini. Ya, walaupun statusnya hanya istri yang tak dianggap.
"Eemm, maaf, Pak. Saya permisi dulu," pamit Annora sambil melangkah keluar.
"Tunggu, Bu!" teriak Pak Johar.
Annora menoleh, menatapnya penuh tanda tanya.
"Eemm, Ibu mau pulang sekarang? Bagaimana kalau saya antar?" tanya Pak Johar.
Mata Annora membulat sempurna. Tawaran yang selalu diharapkan sejak dulu. Jika saja ini terjadi sebelum menikah, mungkin dia akan menerima dengan senang hati. Akan tetapi, sekarang berbeda lagi keadaannya.
"Bagaimana, Bu?" tanya Pak Johar.
Annora hanya terdiam. Binar mata Pak Johar seperti berharap Annora menerima tawarannya.
"Maaf, Pak. Bukannya Bapak masih ada jam mengajar? Saya bisa pulang sendiri, kok," jawab Annora.
Annora tak bisa berkata jujur soal status pernikahannya ini. Ya, memang tak ada yang tahu jika Annora sudah menikah. Tak ada resepsi mewah yang berlangsung, hanya dari pihak dua keluarga saja yang tahu. Annora cuti kemarin juga bukan karena menikah, tetapi mengunjungi saudara di luar kota. Mungkin memang salah, tak mengakuinya. Namun, Elang pun tak pernah menganggap pernikahan ini ada.
"Cuma mengantar sebentar saja nggak masalah, Bu." Pak Johar tersenyum ke arah Annora.
Oh Allah … tolonglah hamba, senyum Pak Johar mampu menghipnotisku. Annora segera beristigfar dalam hati. Sebelum setan terlalu jauh merayu, dia harus segera berlalu dari sini.
"Maaf, Pak, nggak perlu. Saya bisa pulang sendiri. Terima kasih atas tawarannya. Assalamualaikum."
Annora pun berlalu. Tak peduli dengan Pak Johar yang sepertinya kecewa. Annora menyusuri koridor sekolah dengan perasaan yang berkecamuk.
Andai saja, waktu bisa diulang, aku tak pernah mau menerima perjodohan ini. Mata Annora tiba-tiba berembun, buliran bening pun menetes perlahan. Annora segera menyekanya, sebelum semua orang melihatnya.
Annora terus melangkah, dia pergi. Namun, tak pulang ke rumah. Percuma pulang, toh di rumah tak ada siapa-siapa. Elang juga masih di kantor, tak tahu kapan pulang. Bisa jadi malam setelah berduaan dengan Jeny. Annora hanya mendesah pelan. Dia merutuki nasib hidupnya yang begitu menderita.
Allah ... kenapa nasibku harus seperti ini? Kapan aku akan bahagia? Annora meratap dalam hati. Dia benar-benar menyesal dengan keputusan menerima perjodohan ini. Andai saja dia tahu kalau Pak Johar bakal seperti ini, mungkin Annora tidak akan pernah menerima pernikahan palsu ini. Kini, penyesalanlah yang terjadi. Nasi sudah menjadi bubur.
Annora pun pergi ke taman kota. Tempatnya menenangkan diri. Hanya ini tempat dia mengadu nasib dan berkeluh kesah. Di sini dia akan mengadu pada angin. Memanggil nama almarhum ibunya. Hanya itu yang bisa dilakukan Annora. Tidak ada yang lain. Annora akan betah berjam-jam duduk diam di taman kota ini.
***
Hari sudah hampir senja, tapi Annora tak beranjak dari bangku taman. Sejak dari mengajar tadi, memang sengaja tak pulang. Ingin menenangkan hati dan perasaan. Pergi ke masjid, kemudian kembali ke taman kota. Hampir setengah hari dia berada di sini. Setidaknya bisa mengobati luka dalam hati.
"Bu Nora!" Terdengar panggilan seorang pria.
"Pak Johar," desis Annora sambil menoleh.
"Belum pulang?" tanyanya kemudian duduk di samping Annora.
Keringat dingin mulai bermunculan di dahi Annora. Annora meremas ujung kemejanya. Gugup, itulah yang dirasa. Annora belum pernah bertemu atau berbicara dengan Pak Johar sedekat ini. Harusnya dia bahagia, karena ini yang diharapkan sejak dulu. Namun, sekarang lain lagi kondisinya. Annora telah bersuami, meskipun tak pernah dianggap sebagai istri.
"Kamu suka ke taman sini, ya, Ra? Eh, maaf lancang panggil tanpa sebutan Bu." Pak Johar terkekeh.
Hanya senyuman yang Annora beri. Tanpa embel-embel bu, itu lebih bagus. Akan tetapi, hanya mampu diungkapkan dalam hati.
"Nggak apa-apa, kan, tanpa sebutan bu? Ini bukan sekolah, jadi bebas, iya, ‘kan?" tanya Pak Johar lagi.
"I-iya, nggak apa-apa, kok, Pak." Bibir Annora bergetar karena gugup.
"Hhmmm, nggak adil," tukas Pak Johar.
Dahi Annora mengernyit. Annora menatap Pak Johar penuh tanda tanya.
"Iya nggak adil. Harusnya jangan panggil pak. Johar aja."
"Emm, nggak enak, Pak."
"Ya, tapi jangan Pak, kayak formal aja. Ini di luar jam dinas. Jadi panggil selain Pak!" perintah Pak Johar.
"Iya deh, Mas."
Annora menutup mulut dengan kedua tangannya.
Duh, kenapa bilang gitu. Rutuk Annora dalam hati. Pipi Annora merah merona semerah tomat.
"Kenapa pipimu merona gitu?" tanya Pak Johar sambil terkekeh.
Annora menunduk, mengulum senyum. Pipinya semakin merona. Ternyata Pak Johar orangnya memang asyik dan tidak kaku. Kenapa waktunya sangat tidak tepat? Annora mendesah pelan.
Kecanggungan perlahan mulai menghilang. Suasana semakin mencair. Akan tetapi, ada yang terasa aneh di dalam d**a Annora. Di sisi lain dia merasa bersalah pada Elang, suaminya. Andai saja Elang bersikap sedikit baik pada Annora, mungkin tak akan seperti ini. Mencari kenyamanan pada yang lain. Walaupun tak ada hubungan apa pun dengan Pak Johar, tetap ini tak boleh terjadi.
Napas Annora terhela berat. Entahlah, jiwa Annora benar-benar gamang dan ragu.
***
bersambung