Kejadian yang Tak Diharapkan

1352 Kata
“Ra!” Panggilan Pak Johar membuyarkan lamunan Annora. Annora hanya menoleh sambil menatap Pak Johar. "Kamu nggak apa-apa, Ra?" Pak Johar bertanya lagi. "Eh, nggak apa-apa, kok, Mas." Annora tersenyum menatap pria berkulit kuning langsat ini. "Sudah hampir senja ini. Aku antar pulang sekarang. Kamu kelihatannya lelah banget." Iris hitam itu menatap Annora dalam. Hanya gelengan lemah yang Annora beri. Annora seperti tak ingin pulang. Di rumah pun percuma, tak akan ada yang mengharapkan kehadirannya. Selalu kata-kata kasar Elang yang terdengar, juga Annora takut Elang pulang membawa Jeny, kekasihnya. Semua bisa saja terjadi. Selain itu di rumah itu selalu pertengkaran dan kemarahan Elang yang terjadi. Tak ada canda atau tawa. Napas diembuskan dengan kasar. "Nora! Melamun lagi." Pak Johar menepuk pundak Annora pelan. Annora terkesiap. "Kamu sedang ada masalah? Cerita sama aku, barangkali bisa membantu," ucap Pak Johar sambil tersenyum. "Nggak, Mas." Annora menunduk, tak mungkin berkata jujur apa yang tengah menerpa hidupnya. Pak Johar tidak tahu kalau Annora sudah menikah. "Yakin? Aku perhatiin dari tadi banyak ngelamun. Kayaknya kamu berubah, Ra. Lama nggak masuk, tiba-tiba pas masuk banyak perubahan yang terjadi." Pak Johar menatap Annora kembali. Annora menatap Pak Johar sambil mengernyitkan dahi. Apa maksudnya bicara seperti itu? Berubah? Annora bertanya dalam hati. "Kamu nggak kayak dulu. Sekarang lebih sering diam dan matamu seperti menyembunyikan sesuatu." "Nggak usah sok tahu, Mas! Aku nggak menyembunyikan sesuatu!" sentak Annora dengan gemas. "Emmm, ma-maaf, Ra kalau ucapanku menyinggung perasaanmu." Annora hanya membisu, kemudian langsung beranjak pergi tanpa basa-basi. "Nora, tunggu! Nora!" Terdengar teriakan Pak Johar, tapi Annora tak peduli, dia terus pergi menjauh. "Nora! Maafkan aku." Pak Johar berhasil mengejar Annora dan meraih lengannya. "Lepas." Annora menepis tangan Pak Johar, tak enak rasanya dilihat banyak orang, apalagi Annora berjilbab. "Eemmm, maaf kalau aku lancang, Ra. Maafin perkataanku tadi, ya. Aku sudah sok tahu." Pak Johar menatap Annora dalam. Napas Annora terhela dengan panjang. Tak seharusnya aku marah hanya karena ucapan Pak Johar tadi. Yang dibilang Pak Johar memang benar, aku sekarang berbeda, tak lagi sama dengan dulu. Lagi-lagi Annora menangis dalam hati. "Aku yang seharusnya minta maaf, karena mudah emosi." Annora menunduk. Akhirnya, mereka pun kembali ke tempat semula. Duduk di bangku taman sambil menikmati indahnya cahaya senja yang mulai berpendar. Tak peduli dengan status yang disandang Annora. Sepertinya dia hanya ingin bahagia walau sejenak. Melupakan masalah yang terjadi di kehidupan yang sesungguhnya. *** Annora dan Pak Johar menghabiskan waktu bersama hingga senja berlalu. Annora tahu jika ini memang salah, tapi dia bisa apa? Pulang pun percuma, Elang tak pernah ada di rumah kecuali telah larut malam. Annora juga berhak bahagia. Meski semua ini dosa, seorang wanita bersuami jalan berdua dengan pria lain. Tuhan ampuni hamba. Annora meratap dalam hati “Kamu ngelamun lagi, Ra?” tanya Pak Johar. “Eh, ng-nggak, Mas,” jawab Annora. “Sebentar lagi Magrib, kita cari masjid dulu aja, ya? Habis itu aku antar pulang,” ucap Pak Johar. “Emmm, aku bisa pulang sendiri naik ojek, kok, nggak perlu diantar,” sahut Annora. Tak mungkin Annora diantar pulang ke rumah Elang. “Ya udah, terserah kamu. Sekarang kita ke masjid dulu.” Annora mengangguk. Kemudian, mereka meninggalkan taman. Tiba di masjid Annora segera mengambil wudu dan salat. Dia bersujud, memohon ampun pada Yang Mahakuasa. Annora tak bermaksud mengkhianati suami. Namun, perlakuannya yang tidak baik memaksa Annora berbuat seperti ini. Selesai salat, tanpa menunggu Pak Johar dia mencari taksi. Setelah itu, mengirim pesan padanya, agar nanti tidak bingung mencari. Annora mendesah pelan. Taksi melesat membelah jalanan kota. Entah, d**a berdebar-debar tak keruan. Jantungnya berdetak lebih cepat. *** Seharian Elang merasa kurang enak badan. Di kantor dia tak banyak bicara seperti biasanya. Jeny datang ke kantor Elang saat jam istirahat. Namun, melihat Elang seperti tak bersemangat, Jeny curiga. “Beb, kamu kenapa? Wajahmu pucet banget,” ucap Jeny dengan nada khawatir. “Kepalaku pusing banget, Yang.” Elang memegang kepalanya. “Mau pulang? Aku anter, ya?” pinta Jeny. “Nggak, nanti sore aja. Ini masih ada beberapa dokumen penting yang belum selesai.” Elang menolak permintaan Jeny. “Tapi, kan, kamu lagi sakit, Beb. Jangan maksain diri gitu, dong.” Jeny menatap Elang khawatir. “Aku nggak apa-apa, ini tadi abis makan aku udah minum obat sakit kepala. Pasti bentar lagi sembuh.” Elang tersenyum pada Jeny. “Ya udah biar aku temanin kamu aja dulu. Nanti biar aku temani kamu pulang.” Jeny mengecup kedua pipi Elang. “Makasih, Yang. Kamu emang pacar idaman. Coba aja kita udah nikah pasti lebih bahagia aku.” Mendengar kata pernikahan mimik wajah Jeny berubah. Jeny sama sekali tak suka jika membahas tentang pernikahan. “Udah ah, nggak usah bahas nikah mulu.” Jeny cemberut. “Iya, deh sorry.” Kemudian, Elang pun melanjutkan kerjaannya karena jam makan siang sudah berakhir. Sesekali dia memegang kepalanya. Jeny duduk di kursi tamu di ruangan Elang. Dia asyik dengan ponselnya. Tiba-tiba wajahnya berubah saat menerima sebuah telepon. Jeny melihat Elang, lalu dia mematikan teleponnya. “Kenapa dimatiin Yang?” tanya Elang. “Eh, nggak penting, kok,” sahut Jeny dengan gugup. Elang hanya mengangguk. Dia sama sekali tak curiga pada Jeny, karena Jeny sudah berjanji akan setia pada Elang setelah kejadian di Bali beberapa waktu lalu. Jeny kemudian terlihat seperti mengetik pesan. Lalu, dia mengirimkan pada nomor yang barusan meneleponnya. Setelah itu Jeny seperti buru-buru. “Beb, emmm, kamu udah enakan belum?” tanya Jeny. “Kenapa?” tanya Elang balik. “Emmm, aku harus balik sekarang ini. Ada jadwal dadakan, harus pemotretan lagi.” Jeny menatap Elang dengan rasa bersalah. “Ya udah kamu balik aja. Aku udah mendingan, kok.” Elang tersenyum. “Aku balik dulu, ya? Kamu baik-baik, ya, di sini.” Jeny mencium pipi Elang. Elang hanya mengangguk dan tersenyum. Jeny segera pergi dari kantor Elang, dia seperti terburu-buru. Sepeninggal Jeny, Elang pun melanjutkan pekerjaannya. Di sela-sela kegiatannya, dia pun menghubungi Annora. Namun, dahinya berkerut saat panggilannya tidak direspons oleh Annora. Elang merasa aneh. “Ke mana Nora? Kok, nggak nerima telepon gue? Aneh.” Elang bermonolog. Setelah itu Elang pun mengirimkan pesan pada Annora kalau dia nanti pulang lebih awal dari biasanya. Elang minta disiapkan makanan untuk makan malam. Setelah mengirim pesan pada Annora, barulah Elang merasa aneh, kenapa dia mengabari Annora. Padahal biasanya Elang masa bodoh. Elang dibuat makin penasaran, karena pesannya hanya centang satu. Elang pun lalu meletakkan ponselnya dan melanjutkan kerjaannya. Waktu berjalan dengan begitu cepat. Sampai akhirnya, hari pun sudah sore. Elang pun memutuskan untuk pulang. Entah ada apa, Elang melewati sekolah tempat Annora mengajar. Entah angin apa yang membawanya ke sana. Kemudian, Elang pun pergi menuju taman kota. Kata Annora di tempat itu bisa membuatnya tenang. Elang ke sana bertujuan ingin membuat dirinya bisa sedikit tenang. Elang pun mengendarai mobilnya menuju taman kota. Hari sudah semakin senja. Saat hendak turun dari mobil, tiba-tiba mata Elang melotot. Dia sama sekali tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Elang tak menyangka sama sekali. Elang melihat sosok gadis yang tak asing di matanya, sedang duduk di sebuah bangku taman dengan seorang pria. Mereka terlibat begitu akrab. “Dasar munafik!” Elang mengepalkan telapak tangannya. Elang pun memutuskan untuk turun, tetapi tiba-tiba urung. Dia tak mau mengganggu kebersamaan mereka. Elang hanya mengamati dari luar. Mereka mengobrol dan terlihat begitu akrab. Ya, Elang yakin kalau gadis itu ... Annora. Namun, Elang tidak tahu siapa pria yang bersama Annora. “Nora bilang nggak punya pacar dan dilarang pacaran. Tapi, pria itu siapa? Pacarnya atau siapa? Pasti pacarnya, dasar cewek munafik! Pantas tadi ditelepon nggak diangkat, dikirim pesan juga cuma centang satu, ternyata lagi pacaran!” Elang mengomel sendiri sambil terus memperhatikan mereka berdua. Entah, wajah Elang memerah seperti menahan amarah. “Hey, ada apa dengan gue? Kenapa gue harus marah sama mereka? Ah, mending gue pulang aja.” Elang pun hendak menyalakan mesin mobilnya. Namun, urung saat melihat Annora berlari menjauh dari pria yang bersamanya. Annora seperti sedang menyeka air matanya. “Kenapa Annora nangis? Apa yang udah dilakukan pria tadi?” Elang ingin mendekat ke arah Annora, tetapi dia gengsi. Akhirnya, Elang hanya mengawasi saja. Sampai akhirnya, Elang melihat pria itu mendekat ke arah Annora. Mereka terlibat sebuah obrolan, lalu kembali ke tempat asal. Elang benar-benar muak. “s**t! Kenapa gue harus ngelihat mereka pacaran?! Kenapa pula gue tadi lewat sini?!” Elang hanya mengomel-ngomel sendiri. Dia pun langsung tancap gas dan berniat untuk pulang. Elang pun merasa kesal sendiri. *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN