Pertengkaran Annora dan Elang

1638 Kata
Annora sampai di rumah. Setelah membayar ongkos taksi, dia melangkah dengan gontai. Ketika membuka pagar, ternyata mobil Elang sudah terparkir rapi di garasi. Berarti dia sudah pulang. Annora membuka pintu, tidak terkunci. Akan tetapi, Annora merasa heran karena lampunya masih mati. Annora juga merasa aneh karena Elang sudah pulang. Biasanya selalu pulang tengah malam. Annora pun memutuskan untuk masuk dan hendak menyalakan lampu. Akan tetapi, dia terperanjat ketika sudah berada di dalam. Lampu langsung menyala dengan sendirinya. “Bagus! Ternyata begini kelakuan asli lo?” Elang tersenyum miring. “Maksud kamu apa?” tanya Annora dengan suara pelan. “Dari mana aja seharian ini? Apa begini kelakuan seorang istri yang katanya wanita salehah, hah!” Elang menggebrak meja di ruang tamu. Annora menutup mata. Tak menyangka Elang akan marah besar seperti ini. Annora kira Elang belum pulang, karena biasanya larut malam baru sampai di rumah. “Siapa lelaki tadi! Jawab!” Mata Elang melotot tajam dan rahangnya mengeras. Annora tak berani menatap wajah Elang yang sedang tersulut emosi. Annora mengernyit. Dari mana Elang tahu? Aku memang salah, tak seharusnya jalan berdua dengan pria lain. Meskipun tak ada hubungan apa pun dengannya. Annora berkata dalam hati. “Telinga lo masih berfungsi, kan? Kenapa nggak jawab! Buka jilbab ini!” hardik Elang sambil memegang jilbab Annora. “Nggak ada guna lo pakai jilbab, kalau kelakuannya lebih buruk dari wanita lain di luaran sana!” Elang masih menatap Annora dengan tajam. “Gue kira gue pulang lebih awal lo ada di rumah. Mungkin kayak gini kelakuan lo tiap hari. Hah, dasar munafik!” Elang tersenyum miring. Annora hanya bergeming, matanya berembun. Kenapa dia bisa tahu kalau aku jalan dengan pria lain? Selama ini dia tak pernah menganggapku sebagai istri. Bahkan dia selalu bersama pacarnya, tapi aku tak marah. Lalu, jika aku hanya jalan berdua, tanpa ada hubungan apa pun, apa itu salah? Elang memang sangat egois! Annora hanya bisa mengomel dalam hati. “Kamu tahu dari mana kalau aku jalan dengan pria lain?” Annora bertanya dengan bibir bergetar. “Lo pikir gue bodoh! Gue punya banyak mata-mata buat ngawasin lo!” Elang tersenyum sinis. Annora menatap Elang heran. Tak menyangka kalau pria bertubuh jangkung ini selalu mengawasi setiap yang dilakukan. Atau mungkin hanya omong kosong belaka. Annora tidak tahu. “Kenapa? Kaget? Makanya jangan macem-macem! Jawab siapa pria tadi!” sentak Elang. “Dia hanya teman kerja di sekolah,” jawab Annora pelan. “Teman kerja, tapi sampai lupa pulang. Atau jangan-jangan dia pacar lo?” tanya Elang sambil melangkah ke arah Annora. Annora berjalan mundur ketika tahu Elang semakin dekat. Kemudian, dia mendekatkan bibirnya dengan paksa. Annora mendorong tubuh Elang kasar dan menutup wajah dengan tangannya. “Ck, kenapa takut? Gue suami lo!” Mata Elang merah menyala. Annora langsung berlari menuju kamar. Matanya memerah. Air mata perlahan menetes satu per satu. Kenapa hidupku harus seperti ini? Tak bisakah, Elang menghargaiku? Annora tergugu sendiri. “Hei! Buka pintunya! Nora! Cepat buka! Atau gue dobrak ini pintu?!” teriak Elang dari luar. Annora bergeming. Hatinya masih sangat ngilu. Dia juga manusia, ingin diperlakukan dengan sopan. Bukan b***k pemuas nafsu. Masih terdengar suara teriakan Elang. Karena risih Annora pun membukakan pintu. “Hei, Nora! Gue suami lo, boleh dong meminta hak gue,” ucap Elang. Annora tetap bergeming. Kemudian, mengambil baju ganti dan keluar dari kamar. Namun, tiba-tiba tangannya dicengkeram oleh Elang. “Apa gara-gara pria tua tadi, lo menolak gue yang jelas-jelas sudah halal?” Mata Annora membulat sempurna. Siapa maksudnya pria tua? Apa Pak Johar? Seenaknya saja menghina orang lain. Tahu apa dia soal halal dan haram, bukankah selama ini dia pun sering bersama bahkan satu kamar dengan wanita yang belum halal? Lalu, ketika Annora hanya sekadar jalan berdua, dia begitu marahnya. Dasar egois! Rutuk Annora dalam hati. “Lepas! Tanganku sakit!” Annora meringis menahan sakit. “Gue nggak bakal lepas sebelum lo jawab! Siapa pria tua yang jalan sama lo tadi sore?” “Dia belum tua! Teman kerja di sekolah,” jawab Annora. “Halah, nggak usah boong! Dia pacar lo, kan? Dasar sok suci, katanya nggak pernah pacaran, nyatanya diam-diam jalan berdua di belakang suami. Ternyata lo itu munafik, nggak lebih dari seorang jalang.” Mata Elang menatap sinis pada Annora sambil melepas genggaman tangannya. Seketika Annora langsung menampar kedua pipi Elang. Annora tak terima dihina seperti ini. Seenaknya saja menuduh orang sembarangan. Elang sungguh tak punya perasaan! “Kurang ajar banget, sih, kamu! Nggak tahu apa yang sebenarnya, asal jeplak aja itu mulut! Kamu sekolah tinggi, tapi nggak tahu sopan santun dan cara menghargai orang lain!” Annora kemudian mendorong Elang agar keluar dari kamarnya. Air matanya jatuh dengan derasnya seperti air sungai. Hati Annora benar-benar hancur seenaknya saja menghina orang. Dasar cowok playboy tidak tahu diri! Annora terus mengumpat dalam hati. Annora langsung mengunci pintu dan mengempaskan tubuh ke ranjang. Kenapa aku harus menikah dengan orang seperti Elang? Mulutnya sangat tajam menusuk hati. Annora terus merutuki takdir hidupnya. Dia begitu menyesal menerima perjodohan dengan Elang. Sungguh Elang berbeda dengan Pak Johar. “Astagfirullah, aku nggak boleh memuji pria lain.” Annora mengusap air matanya yang membasahi pipinya. Annora merasa heran, kenapa Elang begitu marahnya saat tahu Annora jalan dengan pria lain. Bukankah selama ini Elang selalu bersama Jeny dan tak peduli pada Annora. “Ayah, Nora ingin pulang. Nggak sanggup menjalani pernikahan ini,” rintih Annora. Kemudian, Annora memejamkan mata. Berharap bisa terbang ke alam mimpi, hingga beban hidup bisa lenyap. *** Keesokan paginya, sengaja Annora tidak masak. Sebelum Elang berangkat, dia tidak keluar dari kamar. Annora ngin tahu reaksi Elang, tapi ternyata dia tak memanggil bahkan membiarkan Annora begitu saja. Berarti memang Annora tidak ada harganya sama sekali menurutnya. Mungkin semalam dia seperti itu, karena habis bertengkar dengan Jeny. Atau mungkin karena hal lain. Elang sama sekali tak menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya. Annora mendesah pelan. Setelah dirasa sepi dan Elang telah berangkat ke kantor. Annora segera keluar, kemudian dia membuat roti bakar dan s**u untuk sarapan. Setelah itu, dia kembali ke kamarnya dan mengambil beberapa baju dan memasukkannya ke tas. Annora ingin pergi ke rumah ayahnya. Biarlah dibilang sebagai istri durhaka. Setelah semua siap, Annora segera mengunci pintu dan menaruh di tempat biasa. Lalu, bergegas berangkat ke rumah sang ayah dengan naik taksi. Dia tidak berpamitan pada Elang. Annora rindu ayahnya. Dia ingin melupakan sejenak masalah yang menerpa hidupnya. Selain itu Annora ingin membiarkan Elang agar bisa terus berduaan dengan kekasih tercintanya. Bukankah selama ini kata Elang, Annora menghalangi hubungan mereka. Selama perjalanan Annora hanya diam. Dia meratapi nasibnya yang kurang beruntung. Akhirnya, setelah melakukan perjalanan kurang lebih dua jam, sampailah dia di rumah ayahnya. “Ayah! Assalamualaikum.” Annora berteriak memanggil ayahnya. Pintunya dikunci, rumah tampak sepi. Annora memanggil sekali lagi. Tak lama kemudian terdengar pintu dibuka. “Nora,” ucap Pak Hardi sambil tersenyum bahagia. Annora mencium tangan ayahnya dengan takzim. “Sendirian? Elang mana?” tanya Pak Hardi sambil matanya melihat ke depan, mencari Elang sepertinya. “Elang kerja, Yah,” jawab Annora. Annora pun masuk ke rumah, kemudian menuju kamar. Kondisinya sama seperti dulu, Annora menarik napas dalam-dalam. Lalu, mengempaskan tubuhnya ke ranjang. Hatinya terasa sedikit tenang. Annora tidak akan pernah kembali ke rumah Elang, kecuali dijemput. Itu tekad Annora. Baru hendak memejamkan mata terdengar notif w******p. Tertera di layar ponsel, chat dari Pak Johar. [Kamu nggak masuk, ya?] tanya Pak Johar. Astaga, aku lupa tidak izin. Annora menepuk keningnya. Annora segera mengetik balasan. [Maaf, Mas. Tolong, ya, izinkan aku selama dua hari. Aku lagi sedikit nggak enak badan.] [Kamu sakit? Kemarin sepertinya nggak apa-apa.] [Sedikit pusing, Mas.] Annora berbohong pada Pak Johar. Tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Kepala Annora memang pening, memikirkan nasib pernikahannya. Akan dibawa ke mana hubungan ini nantinya? Entah, dijalani saja dulu. Annora menghela napas panjang. Toh, nanti memang pernikahan ini tidak akan bertahan. Seperti perjanjian yang sudah mereka sepakati. “Nora!” panggil Pak Hardi. “Iya, Yah.” “Boleh ayah masuk?” tanya Pak Hardi. “Silakan, Yah. Pintunya nggak Nora kunci, kok,” jawab Annora. Kemudian, terdengar suara pintu berderit. Annora menoleh, Pak Hardi tersenyum. Lalu, melangkah mendekat dan duduk di sebelah Annora. “Kamu nggak sedang ada masalah, kan, Nduk?” tanya Pak Hardi. Annora terkejut mendengar pertanyaan ayahnya. “Eemm, nggak ada, kok, Yah. Hanya kangen sama Ayah saja. Makanya ke sini.” Annora tersenyum sambil menggelayut manja di lengan Pak Hardi. “Yakin, nggak bohong?” Pak Hardi menatap Annora sambil tersenyum. Annora mengangguk. “Sudah izin sama Elang?” Annora mengangguk lagi. Maafkan Nora, Ayah, terpaksa berbohong. Tak mau Ayah mengetahui hal yang sebenarnya. Annora berkata dalam hati sambil menatap ayahnya. Dia merasa bersalah. “Ya sudah kalau sudah izin. Kamu sekarang telah bersuami, jadi ke mana pun perginya harus atas izin suami. Sekalipun ke rumah Ayah.” Pak Hardi mengusap kepala Annora dengan lembut. “Iya, Yah.” “Ingat, ya, Nduk, menikah itu bukan main-main, tetapi peristiwa yang sakral. Ketika sudah menjalin pernikahan akan ada perasaan cinta dan kasih sayang, lalu terciptalah tempat berbagi keluh kesah di antara keduanya. Dalam Islam, menikah juga bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Jadi, jika kamu ada masalah bicarakan baik-baik dengan Elang, sehingga tercipta komunikasi yang baik. Jangan malah lari dari masalah. Kamu mengerti, kan, apa yang Ayah maksud?” Pak Hardi menatap Annora dalam. Annora mengangguk. Lalu, menyerap semua nasihat Pak Hardi. Ya, aku memang salah, pergi dari rumah tanpa pamit pada Elang. Akan tetapi, ini semua salah Elang, kalau saja pria itu bersikap lebih baik tak mungkin aku seperti ini. Annora mendesah pelan. “Ya sudah, ayo kita sarapan dulu. Kebetulan Ayah tadi sudah masak. Sepertinya memang firasat Ayah benar kalau anak kesayangan Ayah bakal ke sini.” Pak Hardi tersenyum, kemudian meninggalkan Annora. Selepas kepergian Pak Hardi, Annora masih merenung mengingat semua nasihat Pak Hardi. Seharusnya memang membicarakan semua secara baik-baik. Elang marah karena Annora pulang tidak tepat waktu. Namun, biasanya Elang juga seperti itu. Bahkan tengah malam baru datang. Kenapa jika Annora yang berbuat langsung kena marah? Elang memang egois. Apa pun yang terjadi aku tidak akan pulang sebelum dijemput dan minta maaf. Annora bertekad dalam hati. “Toh, Elang pasti bahagia kalau aku nggak di rumahnya. Dia bisa bebas dengan Jeny, pacarnya.” Annora tersenyum miring. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN