Elang Marah dan Kesal

1266 Kata
Hari ini, Elang pulang lebih awal. Dia kesal karena dari tadi menghubungi Jeny tidak kunjung diangkat. Elang merasa heran pada Jeny. Saat Elang benar-benar membutuhkannya, kekasihnya itu tidak ada. Dia berharap setelah tiba di rumah ada sedikit hiburan dari Annora. “Eh, kenapa gue jadi pengen cepet-cepet pulang dan ketemu Nora? Ini semua karena Jeny nggak bisa dihubungi!” Elang memukul setir mobilnya. Elang terus berusaha menghubungi Jeny, tetapi tidak diangkat juga. Akhirnya, Elang pun berniat tidak akan pernah menelepon Jeny kalau tidak dihubungi lebih dulu. Setelah melakukan perjalanan selama hampir setengah jam, Elang sampai di rumah. Dia segera memarkirkan mobilnya. Saat memasuki teras rumahnya, Elang merasa heran karena pintu masih tertutup. Biasanya Annora selalu membukakan pintu kalau mendengar deru mobil Elang. Dahinya makin berkerut saat hendak membukanya, ternyata masih terkunci. Elang pun merasa heran. “Jangan-jangan Nora pergi sama pria tua kemarin! Dasar cewek munafik!” Elang mengepalkan telapak tangannya. Setelah Elang menemukan kunci pintu di tempat biasanya, dia segera membukanya. Lalu, segera menyalakan lampu. Setelah itu dia melangkah ke lantai atas ke kamarnya. Saat dia melihat kamar Annora sedikit terbuka, Elang hendak menutupnya. Namun, matanya langsung terbelalak saat melihat peralatan di meja kecil Annora tidak ada. Elang pun masuk ke kamar Annora dan membuka lemari baju Annora. Kosong. “Ke mana Nora? Kenapa dia pergi tanpa pamit? Apa itu namanya wanita baik-baik? Jangan-jangan dia pergi sama pria itu!” Wajah Elang memerah. Namun, dia segera menepisnya. “Halah, ngapain susah-susah. Biarin ajalah, besok palingan juga pulang. Gue nggak bakal telepon dia, gede kepalanya entar, ngerasa dibutuhkan. Lagian gue malah bisa lebih bebas bawa Jeny ke sini.” Elang tersenyum miring. Elang segera membersihkan diri, setelah itu dia memesan goofood. Dia sangat lapar. Ketika melihat ke dapur tidak ada makanan apa pun. “Kenapa dia pergi tanpa nyiapin makanan buat gue? Emang dia pergi ke mana?” Elang bertanya-tanya sendiri, tapi dia gengsi jika harus menghubungi Annora lebih dulu. Saat Elang sedang menunggu pesanan makanannya, ponselnya berdering. Mata Elang membelalak saat tahu mamanya yang menghubungi. Elang takut, karena biasanya Bu Nani selalu menanyakan Annora. Namun, akhirnya Elang pun menerima panggilan dari mamanya. “Kenapa lama sekali angkat teleponnya?” tanya Bu Nani. “Iya, Ma. Sorry, Elang baru selesai mandi, karena baru nyampe rumah.” “Kamu nggak kangen Mama? Kenapa kalau bukan Mama dulu yang telepon, kamu nggak telepon?” tanya Bu Nani. “Maaf, Ma. Elang sibuk banget. Kerjaan banyak banget di kantor.” Elang berbohong, karena tak mau Bu Nani semakin marah. “Nora mana? Mama mau ngomong sama dia, kangen banget.” Wajah Elang langsung pias saat mendengar mamanya ingin ngobrol dengan Annora. “Nora belum pulang, Ma. Lagi banyak kerjaan kayaknya di sekolahnya.” Elang berbohong lagi. “Yah, padahal kangen banget sama dia.” Bu Nani seperti kecewa. “Mama bisa telepon ke nomor Nora langsung, kan?” tanya Elang dengan suara agak jengkel. Elang merasa kesal, karena Annora adalah menantu kesayangan mamanya. Mamanya tidak tahu kelakuan Annora yang sebenarnya. Kalau Mama tahu siapa Nora sebenarnya, mungkin dia nggak bakal begitu sayang pada Nora. Dasar Nora, pinter banget akting. Elang berbicara dalam hati sambil tersenyum miring. Bu Nani kemudian mengakhiri teleponnya. Dia bilang mau menelepon Annora langsung. “Ya, telepon langsung saja tu si Nora, biar Mama tahu di mana tu cewek!” Elang bermonolog. Lalu, Elang pun mengirim pesan pada Jeny, kekasihnya. Dia mengatakan kalau malam ini di rumah sendiri. Elang butuh seseorang untuk menemaninya. Pesannya langsung terkirim dan terbaca. [Beb, kamu serius? Emang tuh cewek kampung ke mana?] Balasan pesan dari Jeny. Elang tersenyum saat menerima balasan dari Jeny dengan cepat. [Kenapa tadi aku telepon nggak diangkat? Terus kenapa kamu nggak telepon balik?] Elang memberondong dengan berbagai macam pertanyaan. [Atau jangan-jangan kamu selingkuh lagi?] Belum sempat dibalas oleh Jeny, Elang mengirimi Jeny pesan lagi. [Kamu, kok, ngomong gitu, sih, Beb? Maafin aku, jangan ungkit masa laluku lagi dong. Aku nggak mungkin ngelakuin kesalahan dua kali.] Jeny menyertakan emot mata berkaca-kaca. Elang merasa bersalah dengan pesannya barusan. Elang memang kesal karena seharian tadi, Jeny tidak bisa dihubungi. [Maafin aku, Yang. Aku cuma takut aja kamu ngekhianati aku lagi. Soalnya seharian ini kamu nggak bisa dihubungi.] Jeny membalas kalau seharian memang dia tidak sempat pegang HP. Jeny benar-benar sibuk. Dia berjanji untuk menebus kesalahannya tadi, malam ini Jeny akan menemani Elang. Mereka pun memutuskan untuk mengakhiri chating. Elang menunggu Jeny datang. Tak lama kemudian, makanan yang dipesan Elang datang, dan sedetik kemudian Jeny datang. Mata Elang berbinar saat melihat Jeny. Jeny datang menggunakan rok mini dan kaos ketat yang menunjukkan badannya yang seksi. Elang langsung menyambut Jeny dengan wajah berbinar. “Aku kangen banget sama kamu, Yang.” Elang langsung memeluk Jeny dengan erat. “Aku juga Beb. Sorry, ya, seharian tadi udah bikin kamu kesal dan badmood.” Jeny mengurai pelukan dan menatap Elang dengan mata berkaca-kaca. “Udah nggak apa-apa. Yang penting sekarang kamu datang.” Elang mengambil kepala Jeny dan menenggelamkannya ke dadanya. Mereka menumpahkan rasa rindu yang terpendam. Padahal mereka hanya tidak bertemu dua hari, entah kenapa seperti berbulan-bulan tidak berjumpa. Elang sangat suka mencium harum tubuh Jeny, begitu pun sebaliknya. “Sayang, kamu janji nggak bakal jatuh cinta pada cewek kampung itu, ya?” pinta Jeny. “Tenang Sayang, cintaku hanya padamu. Pokoknya nanti kalau kamu udah siap nikah, aku bakal cerai.” Elang tersenyum menatap Jeny. Jeny pun tersenyum bahagia. Dia langsung mencium kedua pipi Elang. Jeny juga tidak bertanya ke mana Annora pergi. Baginya itu tidak penting, malah bagus kalau Annora tidak pernah pulang ke rumah ini. Jeny bisa dengan bebas datang ke sini. Meski sebenarnya walaupun ada Annora, Jeny bebas keluar masuk ke rumah Elang. Namun, Jeny sendiri yang merasa risih. Sementara, Elang tidak peduli ke mana perginya Annora. Elang juga tidak merasa bersalah pada Annora. Elang tidak merasa kalau Annora pergi dari sini, karena sikap Elang yang keterlaluan. Namun, memang dasar Elang, dia sama sekali lupa dan tak acuh. Elang juga merasa bebas kalau Annora pergi dari rumah ini dan tak pernah kembali. Elang sama sekali tak ingin tahu Annora pergi ke mana. Dia juga malas menghubungi nomor Annora. Elang ingin merasakan kebebasan. Malam ini, Elang dan Jeny menghabiskan malam bersama. Mereka pesta berdua. Mereka merasa dunia hanya milik mereka berdua, tanpa peduli pada orang lain. Dasar Elang bodoh! Mau saja gue bohongi. Siapa juga yang kerja seharian. Gue pergi sama seseorang yang bisa ngasih gue uang banyak. Yang bisa bikin gue bahagia. Dasar cowok bodoh! Siapa juga yang bakal mau nikah sama lo. Jeny berucap dalam hati. Jeny hanya tidak mau kehilangan Elang, karena Jeny juga butuh seseorang yang begitu baik dan perhatian padanya. Sebab, Jeny kurang kasih sayang dari orang tuanya. Jeny haus kasih sayang. Harta yang berlimpah dan semua keinginan Jeny pun selalu dituruti, tetapi tidak menjamin hidup Jeny bahagia. Hati Jeny serasa gersang. Itulah sebabnya, Jeny mencari kepuasan dan kesenangan sendiri. Dia pergi bersenang-senang dengan pria lain. [Malam ini lo jangan hubungi gue dulu.] Jeny mengirim sebuah pesan pada seorang pria. [Why? Kalau gue kangen gimana?] [Lo nurut sama gue! Gue lagi sama kekasih gue. Gue nggak mau dia ninggalin gue gara-gara tahu ada pria lain.] [Ok siap, Bebeb tersayang.] Pria itu mengirim pesan dengan disertai emot cium. Jeny hanya bergidik menerima pesannya. Pria itu hanya sebagai hiburan bagi Jeny, tak ada cinta sama sekali. Kalau masalah cinta memang hanya Elang yang ada di hati Jeny. Hanya saja, Jeny malas jika harus menikah. Jeny lebih menikmati kesendiriannya, toh orang tuanya juga tidak menuntut Jeny untuk menikah. “Sayang, siapa yang chat?" tanya Elang saat datang dari luar. "Eh, bukan siapa-siapa. Ini tadi cuma teman." Annora langsung mematikan ponselnya dan menaruh di dalam tas kecilnya. Elang juga tidak bertanya apa pun lagi. Dia sudah percaya sepenuhnya pada Jeny, kekasihnya. *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN