Elang Terciduk

1762 Kata
Dua hari sudah, Annora tidak pulang. Elang bukannya khawatir, tetapi dia merasa tenang-tenang saja. Sudah dua hari pula, Jeny tinggal di rumah Elang. Namun, tak seperti Annora yang selalu menyiapkan makanan untuk Elang. Jeny hanya bersenang-senang menikmati hidupnya. Dia bosan tinggal di rumahnya, kata Jeny. “Sayang, kalau cewek kampung itu nggak pulang, aku bakal tinggal di sini selamanya nemenin kamu.” Jeny menggelayut manja di lengan Elang. “Tapi, aku harus ngehubungi Nora, Yang. Ntar kalau Mama atau ayahnya tanya, bisa gawat.” Elang melepas tangan Jeny dengan perlahan. Jeny cemberut. “Kamu, sih, nggak mau pas diajak nikah.” Elang menoel hidung Jeny. “Enakan gini, kamu bakal sayang terus sama aku. Kalau nikah pasti kamu bakal bosen sama aku.” Jeny menyenderkan kepalanya di d**a Elang. Elang membelai rambut Jeny dengan lembut dan penuh kasih sayang, lalu mencium kening Jeny dengan mesra. Tiba-tiba, terdengar pintu rumah dibuka. “Elang! Astaga!” Elang langsung melepas tangan Jeny yang masih mendorong Jeny yang bersandar di dadanya. “Mama? Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke sini?” tanya Elang dengan gugup. Sementara Jeny pucat pasi. Dia menunduk. “Kalau Mama bilang dulu, pasti kamu bakal nyembunyiin jalang ini!” Bu Nani menatap Jeny dengan tajam. “Ma, Jeny bukan jalang.” Elang menoleh pada Jeny. Jeny masih saja menunduk. Bu Nani terlihat begitu marah. Wajahnya memerah. “Elang, ingat, kamu sudah beristri, jaga perasaan Nora!” bentak Bu Nani sambil mendorong tubuh Elang. “Mama ke sini karena ingin menanyakan kenapa Nora bisa pergi dari rumah ini! Ternyata karena ulah kamu, pantas Nora pergi. Mama nggak nyangka kamu udah ngehancurin kepercayaan Mama dan Papa!” bentak Bu Nani. Elang hanya bergeming, begitu juga dengan Jeny. “Dan kamu! Kamu sudah tahu, kan, kalau Elang sudah beristri? Kenapa masih ganggu kehidupan Elang! Dasar jalang nggak tahu malu!” Bu Nani mendorong Jeny membuat Jeny hendak terjatuh, tetapi dipegang oleh Elang. “Ma, jangan marahi Jeny, dia nggak bersalah. Elang yang masih cinta sama Jeny.” Elang menggenggam tangan Jeny. “Sadar, Elang! Kalau gadis ini memang mencintai kamu juga, pasti dia mau saat kamu ajak nikah. Tapi, buktinya dia menolak saat kamu mengajak menikah.” Bu Nani benar-benar geram pada Elang. Dia sudah dibutakan oleh cinta. “Ma, Jeny belum siap nikah.” Elang masih saja membela Jeny. “Kamu kenapa diam saja, hah? Saya nggak sudi ngelihat kamu di sini! Cepat pergi dari sini! Dan jangan pernah ganggu anak saya!” sentak Bu Nani sambil menatap Jeny dengan tajam. “Ma, jangan usir Jeny.” Elang menahan Jeny pergi. “Elang! Kamu harus cari Nora sekarang juga!” Bu Nani begitu murka pada Elang. “Kamu, kenapa masih di sini? Pergi!” Jeny langsung mengambil tasnya di kamar Elang dan langsung pergi tanpa pamit. Dia benar-benar kesal pada Bu Nani. “Jeny, tunggu!” Elang mengejar Jeny. “Jeny, maafin mamaku, ya? Aku sayang banget sama kamu.” Elang meraih tangan Jeny ketika berhasil mengejarnya. “Sayang, aku harus pergi. Aku nggak mau menjadi bahan hinaan mama kamu. Percayalah aku akan tetap mencintaimu, kita tetap berhubungan Sayang.” Jeny mengusap pipi Elang dengan lembut. “Makasih, Sayang.” Elang mencium tangan Jeny dengan mesra. “Elang!” teriak Bu Nani. Jeny langsung melepas tangan Elang dengan kasar, lalu dia pergi keluar dari rumah Elang. Beruntung dia membawa mobil sendiri. “Elang! Nora dua hari nggak pulang, kenapa kamu nggak cari dia? Malah asyik sama wanita lain?” Mata Bu Nani melotot tajam. “Ah, Mama nggak tahu Nora aja. Dia juga pergi sama pacarnya.” Elang menjawab dengan santai. Namun, dia benar-benar kaget saat Bu Nani menampar kedua pipi Elang. “Jaga mulut kamu kalau bicara! Nora ada di rumah ayahnya. Saat Mama telepon dia, dia mengatakan kalau di rumah ayahnya. Pasti ini semua karena sikap kamu, kan?” tanya Bu Nani. Elang membelalak setelah mendengar perkataan mamanya. “Emang Nora bilang apa ke Mama?” tanya Elang. “Nora emang nggak cerita apa-apa. Dia hanya bilang kalau pergi ke rumah ayahnya, karena kangen. Tapi, Mama langsung berpikir mungkin dia sakit hati karena sikap kamu. Karena kalau nggak ada apa-apa, pasti kamu tahu Nora pergi ke rumah ayahnya. Nah, saat Mama telepon kemarin kamu bilang Nora masih di sekolah. Sedangkan Nora bilang ke Mama dari pagi di rumah ayahnya.” Bu Nani menatap tajam Elang. “Sekarang jawab jujur! Apa yang kamu lakukan ke Nora!” sentak Bu Nani. Elang hanya bergeming. Dia tak tahu harus berkata apa. “Atau karena kamu tiap hari ngajak itu gadis ke sini?! Jawab Elang! Jangan diem aja!” Bu Nani begitu gemas melihat Elang hanya diam saja. “Elang nggak ngelakuin apa-apa ke Nora, Ma.” Elang membela diri. Bu Nani menghela napas dalam. “Baiklah, kalau kamu nggak mau ngaku ke Mama. Mama bakal bilang ke ayahnya Nora, apa yang telah kamu lakuin. Kamu selingkuh!” Elang langsung panik saat mendengar mamanya mengatakan semua itu. “Ma, jangan ngaco. Mama mau nyakitin hatinya Pak Hardi? Apa kata dia nanti? Apa Mama tega juga ngebuka aib anak sendiri?” Elang menatap Bu Nani dengan sendu. Bu Nani terdiam. Dia merenungkan apa yang dikatakan Elang. “Kalau gitu kamu jemput Nora ke rumah ayahnya. Kamu harus bisa mengambil hati ayahya Nora!” perintah Bu Nani. “Iya, Ma.” Elang pun bersiap-siap untuk menjemput Annora. Dia juga tidak menghubungi Annora. Saat Bu Nani menyuruh Elang untuk menelepon Annora bahwa akan menjemputnya, Elang menolak. Dia mengatakan kalau biar Annora tahu sendiri nanti. *** Sudah dua hari Annora berada di rumah ayahnya. Dia merasa Elang sama sekali tak peduli dan tak merasa bersalah. Sebab, Elang sama sekali tak menelepon untuk sekadar menanyakan di mana Annora. Padahal Annora ingin Elang datang menjemput dan meminta maaf. Biarlah, kalau memang Elang tak datang berarti memang kami tak bisa bertahan. Aku tak bisa mempertahankan hubungan tanpa cinta. Annora berkata dalam hati. Saat, ayah Annora bertanya kenapa Elang tak kunjung menjemput. Gadis itu hanya menjawab Elang sibuk dan tidak sempat menjemput. Tak ingin ayahnya tahu yang sebenarnya. Pernikahan mereka baru seumur jagung, tetapi sudah berada di ujung tanduk. Annora mendesah pelan. Awalnya, sang ayah tak percaya dengan jawaban Annora. Pak Hardi sudah menduga pasti ada masalah di antara mereka. Akan tetapi, setelah diyakinkan oleh Annora kalau memang tidak terjadi apa-apa, akhirnya ayahnya tidak bertanya lagi dan percaya. Sore ini, Annora jalan-jalan di sekitar rumah, lalu tanpa sengaja bertemu dengan Pak Johar. Pak Johar menghampiri dan betapa bahagianya Annora bertemu dengan Pak Johar. Lupa jika telah bersuami. Keadaan rumah tangga yang tak sehat membuat Annora berbuat sesuatu yang bisa membahagiakannya. Mereka pun jalan berdua. Mengobrol banyak hal, kemudian duduk di bangku trotoar. Menyaksikan lalu lalang kendaraan. Pak Johar bertanya tentang kondisi Annora. Annora baru sadar kalau izin tidak bekerja karena sakit. Padahal yang sedang kurang sehat adalah jiwanya, bukan badannya. Namun, Annora tak menjawab. Pak Johar tak perlu tahu yang sebenarnya. Ketika mereka sedang mengobrol dan tertawa lepas, tiba-tiba tangan Annora ada yang menarik, membuat Annora mengaduh. Betapa terkejutnya dia ketika tahu yang datang, Elang. Lalu, Pak Johar menepis tangan Elang. “Hei! Lepas!” bentak Pak Johar. “Suka-suka gue, dia istri gue, lo mau apa?” Sorot mata Elang tajam menatap Pak Johar. Pak Johar menatap Annora meminta penjelasan. Matanya membulat sempurna. Sementara Annora salah tingkah dan hanya menunduk. “Maaf ... aku nggak pernah jujur kalau sudah menikah, tapi sungguh pernikahan ini nggak pernah kuharapkan.” Annora menjawab dengan suara bergetar menahan tangis. “Nggak usah sok sedih dan nangis cari simpati deh. Lebay!” Elang membentak Annora. Annora melotot tajam pada Elang. “Maksud kamu apa? Ini semua gara-gara kamu! Kamu yang membuat masa depan dan hidupku hancur!” Annora mendorong Elang, lalu berlari meninggalkan mereka. Air matanya terus mengalir dengan derasnya. Hatinya benar-benar sakit. Terdengar teriakan Pak Johar memanggil, Annora berhenti dan menoleh. Pak Johar meminta penjelasan tentang semua ini. Annora pun menceritakan semuanya. Perjodohan yang berujung pernikahan. Akhirnya, Annora meminta maaf karena tak pernah jujur soal statusnya. Pak Johar pun mengerti. Dia mengatakan kalau akan selalu ada kapan pun Annora butuhkan. Mata Annora semakin deras mengeluarkan air mata saat mendengar perkataan Pak Johar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Annora berlari menjauh dengan berlinangan air mata. Kemudian, ketika sampai di rumah langsung masuk ke kamar dan menguncinya. Terdengar suara sang ayah memanggil, tapi tak dihiraukan oleh Annora. Lalu, Annora mengempaskan tubuh ke ranjang. Menutup wajah dengan bantal, dia ingin terbang ke alam mimpi. Namun, baru saja hendak memejamkan mata, terdengar pintu diketuk. Annora bergeming, lalu terdengar suara Pak Hardi memanggil. “Nora! Buka pintunya, Nduk. Ayah tahu kamu belum tidur. Ayo buka,” pinta Pak Hardi. Dengan sangat terpaksa Annora membuka pintu. Tampak Pak Hardi tersenyum. Lalu, masuk ke kamar Annora. “Nduk, Ayah, kan sudah pernah bilang, kalau ada masalah sama Elang bicarakan baik-baik. Nggak boleh kayak gini.” Pak Hardi mengusap kepala Annora lembut. Annora tetap membisu, tak tahu harus menjawab apa. Ya, aku salah, tapi Elang juga tidak boleh seenaknya sendiri. Dia sama sekali tak menghargaiku dan menganggap sebagai istri. Annora menangis dalam hati. “Eh, Nak Elang, ayo masuk saja. Jangan malu-malu, kamar Nora juga punya kamu, kok.” Annora menoleh kaget ke arah pintu. Tampak Elang tersenyum. Hah, dasar sok baik kalau di depan ayah. Ayah tidak tahu bagaimana Elang yang sebenarnya. Dia sungguh licik. Annora merutuk dalam hati. “Nora, kamu harus minta maaf sama Elang karena pergi ke rumah Ayah tanpa pamit. Kamu juga telah berbohong katanya sudah izin, ternyata nggak.” Pak Hardi menatap Annora dalam. Setelah mengucapkan sepatah dua patah kata pada Elang, Pak Hardi pergi meninggalkan kamar Annora. Setelah Pak Hardi keluar, Elang segera menutup pintu dan menguncinya. Annora bergeser ketika Elang duduk di samping, tapi tiba-tiba tangannya dicengkeram oleh Elang. “Sakit! Lepas!” Annora menepis tangan Elang. “Nggak bakal gue lepas. Duduk sini! Nggak usah pindah,” ancam Elang. Annora pun menurut. “Lo kenapa takut banget sama gue? Tapi sama Pak Tua tadi mesra banget, jalan berdua, tertawa bareng, duh lupa ya, kalau udah bersuami? Sampai lupa nggak pulang. Dasar munafik!” Elang tersenyum sinis. “Dia bukan pak tua! Pak Johar sahabatku, dia sangat baik!” bentak Annora. “Kenapa nggak jujur aja kalau itu pacar lo!” “Kamu bisa nggak, sih, ngomongnya nggak usah teriak-teriak! Sok baik di depan Ayah aja!” Elang tampak mengepalkan tangannya. “Karena lo juga nggak pernah menghargai gue sebagai suami! Ngerti nggak?” Annora tersenyum sinis. Sejak kapan minta dihargai? Bukannya selama ini dia yang memulai? Andai saja dia bisa bersikap sedikit baik, aku tak mungkin melakukan semua ini, ucap Annora dalam hati. Annora tak mau berdebat lagi. Dia melangkah keluar, ingin menghirup udara segar. Di luar tampak Pak Hardi sedang menonton TV, Annora menghampirinya. Tak lama kemudian, Elang pun ikut menonton TV. Pak Hardi sangat senang menyambut Elang. Annora hanya tersenyum miring melihat Elang. Pandai sekali mencari muka di depan Pak Hardi. Mereka berbicara banyak hal, bahkan menyindir Annora. Dasar Elang menyebalkan! Rutuk Annora dalam hati. Annora tidak betah mendengar obrolan Elang, dia pun masuk ke kamar. *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN