Keesokan paginya, Annora benar-benar lemas. Dia tak bisa bangun. Wajahnya sangat pucat. Elang yang melihatnya sangat khawatir. Elang pun tidak membangunkan Annora. Dia pun meraih kruknya yang ditaruh di sebelah kasur. Elang memang terkadang memakai kruk jika sedang sendiri, Elang tidak mau bergantung pada kursi roda. Dengan tertatih Elang keluar dari kamarnya. Semenjak kehilangan satu kakinya, Elang tidur di kamar yang terletak di lantai bawah. Elang berniat mencari Mbok Parmi. Elang pergi ke dapur. Mbok Parmi yang melihat Elang tertatih-tatih langsung berlari ke arah Elang dan membantunya. “Kok, nggak manggil Mbok, Mas Elang?” tanya Mbok Parmi. “Nggak apa-apa, Mbok. Elang nggak mau selalu ngerepotin,” sahut Elang. “Nora udah bangun?” tanya Mbok Parmi. “Belum Mbok, Ela

