POV Reyhan Aku terduduk sambil memeluk lutut yang menopang daguku. Sebelah tanganku terus memutar-mutar tasbih hingga beribu-ribu kali. Kalau aku lelah beristigfar dengan mulut, aku akan mengucapkannya lewat hati. Tiba-tiba terdengar suara gembok dibuka dengan kunci, aku mendongak menatap polisi yang membukakan jeruji besi yang mengurungku. "Reyhan Arifki, ada yang ingin bertemu dengan anda." Aku diantar oleh kedua polisi itu menuju ke ruang besuk. Mungkin, Bu Salis, pikirku. Aku berjalan sambil menunduk dengan keadaan yang berantakan. Sesampainya di sana, ada seorang wanita paruh bayah menatapku dengan mata berkaca-kaca. Tak lama kemudian beliau menangis menatap keadaanku. Aku memundurkan langkah ingin kembali, aku tidak percaya kalau dia benar-benar nyata. "Reyhan sini, Nak," ujarn

