Mencari Mila

1137 Kata
Setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya Jane diijinkan untuk keluar. Tapi tentu saja, jamnya dibatasi. Sebelum pergi, Jim memperingati Jane agar tidak kabur. Percuma, toh pada akhirnya akan ketemu juga. Apalagi identitas Jane ada di tangan Daniel. Jane keluar jam sembilan pagi. Ia dibekali secukupnya uang dengan catatan pulang sebelum jam lima sore. Jarak dari apartemen ke tempat tinggal Mila memang lumayan jauh. Perlu satu hingga dua jam perjalanan dengan bus. Berhubung dikejar waktu, Jane memutuskan untuk naik taksi saja. Sekitar jam setengah sebelas kurang, Jane sudah sampai di salon. Bangunan yang terakhir kali terlihat sepi itu, kini ramai oleh pengunjung. Rupanya salon itu benar-benar beroperasi. Jane kira hanya sebuah pajangan belaka. “Cari siapa?” seorang wanita yang duduk di dekat pengering besar datang menyapa. Sejak masuk, Jane terlihat celingak-celinguk. “Aku cari mami Mila,” sahut Jane sembari menunjukkan foto Mila dari ponselnya. “Bos sedang tidak ada. Baru saja keluar,” kata wanita itu menatap Jane sekujur badan,”anak baru, ya?” Jane mengangguk ragu. “Tunggu saja, paling sebentar lagi datang.” Ia menunjuk kursi agar Jane duduk tenang di situ. Setelahnya, ia pergi untuk mengurus pekerjaannya yang lain. Jane penasaran dengan para wanita cantik yang tengah perawatan di sana. Apa mereka adalah bagian dari anaknya mami Mila? Wajah juga tampilan rata-rata seperti model catwalk. Kalau Jane bercermin, ia tentu saja kalah telak. Tubuhnya serasa biasa saja. Entah ia sendiri bingung kenapa bisa dibanderol tinggi. “Jane?” seru mami Mila terkejut. Ia pikir itu orang lain yang mirip. Tapi memang Jane, gadis yang ia khawatirkan dari kemarin . Baru juga ia meminta orang untuk mencari alamat Daniel, sekarang mereka malah bertemu di sini. “Aku terpaksa datang karena nomormu tidak bisa dihubungi,” keluh Jane kesal bercampur lega. “Ayo kita masuk ke dalam. Di sini terlalu banyak orang,” ajak Mila menunjuk ruangan di lantai dua. Jane mengangguk lalu mengikuti dengan perasaan campur aduk. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Kenyataannya, Mila tidak kabur. Ia masih ada di sana seakan siap dicari kapan saja. Sesampainya di dalam, Mila langsung mengeluarkan minuman dingin. Ia yakin Jane tegang lantaran uang bagiannya belum ditransfer. Wajar, siapa yang bisa tenang kalau di posisi Jane? “Aku mengambil tiga puluh persen. Tujuh puluh persen milikmu. Mau aku transfer sekarang? Tapi usahakan pakai tiga rekening agar tidak mengundang curiga pihak bank. Tapi paling amannya pakai uang cash. Aku bisa melakukannya hari ini,” kata Mila langsung ke inti. Daripada diserang lebih dulu lebih baik memberi apa yang Jane mau. “Kenapa nomormu ganti?” tanya Jane tidak puas. Ia nyaris hilang akal saat tahu nomor Mila tidak aktif. “Aku yang salah, lupa memberitahumu. Tadinya aku ingin menghubungimu lebih dulu. Tapi saat tahu siapa itu Daniel, aku mengurungkan niatku. Jane, kamu baik-baik saja, kan?” tiba-tiba saja Mila mendekat, memeriksa tangan juga wajah Jane. Jane menghembuskan napas panjang lalu pelan-pelan membuka mulutnya. Ia memperlihatkan goresan luka di ujung lidahnya,” dia psiko. Awalnya tidak mau menyentuhku. Tapi begitu melihat ada darah dari mulutku, ia menyesapnya seperti vampir. Dia tidak normal dan aku sungguh ketakutan.” Mila terdiam,mengusapi lehernya kasar,”serius? Lalu kalian sudah melakukannya belum?” Jane menggeleng,”belum. Jangan-jangan dia imponten karena itu benci padaku?” tebaknya mulai sadar kalau tidak ada pria normal yang mau membeli wanita tanpa mau menyentuhnya. Rugi, kan? Mila ikut bingung. Sepuluh tahun menjadi mucikari, ia baru menemui kasus yang begini. “Tapi Jane, kamu tidak bisa mundur. Uang lima ratus juta itu sudah masuk ke kantongku. Tidak mungkin dikembalikan karena kalau ada pihak yang mundur, dialah yang harus membayar kompensasi. Daniel bilang apalagi padamu? Dia pakai member card ayahnya, jadi aku kecolongan waktu itu.” Pantas, batin Jane ingat saat ia disembunyikan di kamar mandi. Suasana kala itu cukup tegang karena bos yang sebenarnya datang. “Dia menawariku untuk hamil. Gila, kan? Kami bahkan tidak tidur bersama, tapi ingin anak. Tunggu, kalau begitu aku tidak bisa membatalkannya? Memangnya kompensasinya berapa?” Jane menggenggam tangan Mila. Jari-jarinya begitu dingin karena gugup. “Dua puluh persen dari harga bayar,” jawab Mila menghembuskan napas panjang.”berarti dia tidak imponten. Coba pahami dia dulu. Siapa tahu kamu salah tafsir. Semakin cepat kalian tidur bersama, tugaspun akan cepat selesai.” Jane terpaku,”apa aku harus menyayat pergelangan tangan atau leher? Aku bilang kan tadi kalau dia psiko. “ “Tidak usah seekstrim itu. Pakai saja obat perangsang. Sebentar, aku punya sebotol utuh.” Mila lantas berdiri, mengambil obat yang dimaksud dari dalam laci. Jane tidak yakin dengan ide sang mami. Jim selalu memeriksa apa yang dimakan Daniel. Ditambah ada cctv di dapur juga ruangan lain. Meski di kamar tidak, tapi di sana hanya ada air putih dan alkohol. Dua minuman itu pasti langsung ketahuan kalau dicampuri sesuatu. “Aku akan mencobanya.” Jane pura-pura setuju saja. Nanti ia pikirkan lagi sambil menunggu moment yang tepat. “Untuk masalah uangnya, mau bagaimana? Ada koper. Tidak masalah dibawa sekarang. Tapi paling tidak, simpan di brankas bank biar aman. Jangan dibawa pulang.” Jane setuju saja. Setelah uang itu diurus nanti, ia tidak punya jalan untuk melarikan diri. Bahkan Mila malah menyarankannya untuk mencekoki Daniel dengan obat kuat. Logikanya, setelah urusan ranjang selesai, ia bisa pergi untuk melanjutkan hidupnya sendiri. “Daniel itu apa mungkin dia bisa membunuhku?” gumam Jane ragu. Ditanyai begitu, Mila tidak memberi jawaban pasti. Orang yang kelihatannya bengis dan jahat, kadang tidak setega itu. Banyak juga yang berpenampilan polos tapi punya jiwa psiko akut. “Aku hanya berpesan satu. Buat dia mengambil apa yang jadi haknya, yaitu perawanmu. Setelah itu kamu bisa pergi tanpa hutang atau alasan lain. Soal dia minta kamu hamil, abaikan saja. Kalau takut, aku akan menyembunyikanmu nanti. Dengan catatan kalian sudah berhubungan intim,” kata Mila serius. Setelah mengatakan itu, ia mengambil koper berisi uang. Diserahkannya pada Mila yang masih terpaku di sofa. “Aku akan mencobanya,” kata Jane buru-buru mengantongi obat itu ke dalam tasnya. Waktu terus berjalan dan ia harus pulang sebelum mendapat masalah. Dua jam semoga cukup untuk mengurus brankas bank. Mila rupanya sudah menyiapkan itu semua, jadi Jane tinggal datang ke sana. Untuk masalah Daniel, Mila bisa menjamin kalau pak Hudabi akan ikut mengawasi. Kesalahan putranya adalah kerugian. Jadi cepat atau lambat, Jane akan dilepas setelah kewajibannya sebagai wanita panggilan selesai. “Jane, jangan lupa pakai pengaman. Obat yang aku beri tadi cukup kuat dan kadang membuat lupa segala hal. Satu kesalahan itu bisa membuatmu jatuh sendirian. Ingat kan kata dokter kemarin? Dia tidak mau melayani aborsi lagi.” Mila memegang bahu Jane. Berharap kalau gadis di depannya tahu konsekuensi terbesar menjadi seorang kupu-kupu. Jane tidak menyahut, hanya menatap koper berisi uang di dekat kakinya. Demi lembaran itu, ia mengorbankan segala hal. Salah siapa? Bahkan meski punya ayah, ia tidak dipedulikan. Jane seakan tengah dihukum karena mengambil jalan yang salah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN