Persembunyian

1323 Kata
Daniel dengan sigap menyuruh Jane untuk bersembunyi di dalam kamar mandi. Bukan takut, hanya saja akan lebih baik kalau tidak menimbulkan omongan baru. Sang ayah pasti datang untuk mengecek keadaan. Setelah itu pergi seperti yang sudah-sudah. Mereka tidak pernah punya obrolan apapun. Kalau saling bicara paling hanya seputar hal penting saja. Terakhir saat datang ke mari Pak Hudabi malah tidak menemuinya, melainkan bicara sebentar dengan Jim. Namun kali ini berbeda. Ada alasan kenapa ia mau repot-repot menunggu anaknya keluar dari kamar. Selain ingin membuat perhitungan tentang member cardnya yang hilang, Pak Hudabi ingin meminta hal besar. “Duduklah. Sibuk benar kamu di kamar. Aku sudah menunggu hampir lima menit hanya untuk melihatmu keluar.” Itu sindiran yang cukup sarkas bagi orang biasa. Tapi untuk Daniel yang dibesarkan di lingkungan tanpa kasih sayang, ucapan pedas ayahnya adalah sapaan sehari-hari. Beruntung sudah diajak bicara, biasanya malah dianggap tidak ada. “Katakan saja keperluan ayah. Aku yakin pasti ada kepentingan.” Daniel menyibak rambut kecoklatannya ke belakang. Ujungnya sudah mulai panjang dan menyentuh pipi. “Kembalikan member card yang kamu curi. Tidak masalah membeli wanita atau hal lain. Tapi jangan lakukan dengan kartu identitasku. Pakai dan buat sendiri.” Pak Hudabi menatap tajam anak lelakinya itu. “Jim? Ambil kartunya,” pinta Daniel memberi isyarat pada bawahannya untuk membuka laci kedua. Sudah ia duga kalau pada akhirnya ketahuan. Di era digital, sulit menyembunyikan hal semacam itu. Apalagi sang ayah adalah master di bidang keuangan. Jangankan lima ratus juta, sepuluh kali lipat dari itu pernah ia tangani dengan sekali pemeriksaan saja. “Bagaimana wanita itu? Paling tidak perlihatkan juga pada ayahmu. Kita lihat apa dia sebanding dengan lima ratus jutamu?” Pak Hudabi memasukkan card membernya ke dalam saku jas. Daniel mengumpat dalam hati. Jelas sudah kalau ayahnya sengaja mencari masalah. Apa kegiatannya begitu membosankan sampai-sampai ingin bertengkar. Lantas rindu melayangkan pukulan? “Dia sedang keluar, membeli sesuatu.” Daniel melirik Jim, memberi tanda kalau ia butuh bantuan atas kebohongannya. Tapi Jim tidak setuju. Bosnya paling anti dikhianati. Alih-alih melindungi Daniel, ia nanti akan kena hukum sendiri. “Jim, panggil dia. Apa salahnya kalau hanya melihat saja?” Pak Hudabi menunjuk kamar Daniel dengan ekspresi serius. Ia perlu memberi anaknya sedikit pelajaran agar tidak gegabah menghabiskan uang besar. Kalau hanya untuk kenikmatan sepuluh menit, Daniel bisa mendapatkannya dengan gratis. Tidak perlu membeli. Dengan tubuh juga wajahnya, tinggal masuk diskotik lalu rayu saja. Selesai dan tidak perlu repot-repot bayar. “Sebenarnya apa masalahnya? Itu uangku dan wanita di dalam sana adalah milikku.” Daniel nekad melawan karena sudah muak dengan kediktatoran sang ayah. Puncak dari rasa marah adalah hukuman kurungan ini. Tak cukup sampai disitu, sekarang satu-satunya kesenangannya malah mau diganggu? Pak Hudabi menanggapi emosi anaknya dengan helaan napas panjang. Bisa sebenarnya ia marah, tapi waktunya terbatas. Ada banyak jadwal yang perlu diselesaikan hari ini. Salah-salah moodnya berakhir buruk “Oke, begini saja. Selesai dengan wanita itu, kamu harus menikah. Tidak perlu menjadi keluarga bahagia atau hal menggelikan lainnya. Cukup terikat secara hukum lalu buat satu atau dua anak untuk meneruskan garis keturunan kita. Tentu saja aku yang akan menentukan siapa wanitanya.” Pak Hudabi cukup to the point. Sebulan lalu, ada kenalan lama dari Jepang yang menawarkan sebuah kerjasama. Resikonya cukup besar, jadi mereka ingin menikahkan anak agar nanti bisa melanjutkan bisnis ilegal bersama. Hal seperti itu memang perlu dilakukan agar nantinya benar-benar tidak saling mengkhianati. Berhubung Daniel sudah cukup umur, situasi itu pas sekali. Dari sekian hal, ini adalah permintaan tergila. Jangankan kepikiran untuk menikah, Daniel saja benci dengan wanita. Bukan tidak bernafsu, tapi ini tentang hatinya saja. Fisik masih bisa dirayu, tapi tidak dengan jiwa. Buktinya meski ada Jane di ranjang yang sama, belum ada sentuhan fisik lanjutan. Bisa dibilang alasan Daniel menyewa wanita adalah untuk melampiaskan kebencian pada sang ibu lewat orang lain. Jim mendekat, menyentuh bahu Daniel agar tidak membantah. Untuk saat ini, lebih baik mereka diam dulu. Bukan dalam arti menyetujui, tapi menghindari perdebatan tidak berarti. Sia-sia saja melawan omongan Pak Hudabi. Keras kepalanya mengerikan, tidak pandang bulu kalau sudah emosi “Aku anggap kamu setuju. Semakin kamu bersikap baik, kemungkinanmu cepat keluar semakin besar.” Pak Hudabi berdiri, menatap ke arah pintu kamar Daniel sebelum pamit pergi. Di lain waktu, ia tidak akan mengalah lagi. Jane sedang beruntung saja karena tidak diseret secara paksa. Jim mengantar bosnya itu keluar, hingga pintu lift. “Ingat tujuan awalmu ke sini. Jangan buat aku kecewa,” kata Pak Hudabi sesaat sebelum pintu lift tertutup. Jim menanggapi peringatan bosnya dengan anggukan sopan. Ia pandai menjaga diri karena sejak tumbuh di bawah kendali pak Hudabi, ia tidak pernah membuat kesalahan berarti. Ketika semua pengawal pergi, Jim adalah orang yang paling lama bertahan. Tak heran, ia hapal dengan perangai sang atasan. Di sisi lain, Daniel pasti merasa sial karena punya ayah seorang Hudabi. Sepanjang hidupnya ia harus rela jadi boneka. Kecuali kalau sang ayah mati lebih dulu. Sementara itu, Jane sudah keluar dari kamar mandi. Ia kembali disuruh duduk, tapi kali ini sama-sama di sofa, bukan di lantai. Kontrol emosi Daniel sudah lebih baik. Ia tidak lagi gusar untuk hal tanpa alasan. “Mamimu belum bisa dihubungi?” tanyanya sedikit memberi perhatian. Jane menggeleng,”belum, nomornya masih belum aktif.” Berapa kalipun mencoba, hanya terhubung di voice mail. Sekalipun dengan nomor lain, hasilnya tetap sama saja. Lima ratus jutanya seakan lenyap entah ke mana. “Mau aku bantu?” Mendengar itu, Jane bukannya senang tapi malah was-was. Takut kalau ada udang di balik batu. Daniel jelas tipe pemeras. Wajah rupawannya adalah sumber dari kepalsuan. Serigala berbulu domba. “Tidak usah, aku bisa mengusahakannya sendiri,” tolak Jane cepat. Setidaknya ia punya alasan untuk pergi. Lima ratus juta adalah jumlah besar, sebanding dengan nyawa di badan. “Caranya bagaimana? Aku tidak mengijinkanmu keluar. Jangan coba mengancamku dengan menggigit lidah atau semacamnya. Itu tidak mempan.” Daniel mendekat, menatap ke dalam mata Jane hingga gadis itu berpaling canggung. “Aku perlu uang,” kata Jane tanpa sadar menelan saliva. Padahal lidahnya masih sakit, tapi moment saat Daniel menyesap mulutnya membuat birahi tiba-tiba menggelitik. Pria di hadapannya punya s*x appeal yang lumayan kuat. Hanya saja karena terlalu kasar, pesonanya tertutup. “Jadi mau aku bantu atau tidak?” Daniel menggerutu, mulai tidak sabar. Caranya berkomukasi selalu diliputi emosi. Padahal mereka sedang bicara, tapi seperti perdebatan belaka. “Pasti tidak gratis, kan? Aku tidak punya apapun. Bahkan harga diriku sudah kujual,” ucap Jane sarkas. “Kamu masih punya satu lagi.” Daniel menunjuk tubuh bagian bawah Jane,”rahim. Aku bisa membeli rahimmu untuk menampung bayiku. Hal ini belum kita bicarakan, jadi aku bisa membayarmu kontan, tanpa perantara.” Rahim? Batin Jane mendelik. Lama-lama ginjal, hati hingga jantungnya akan diobral juga nanti. atas dasar kebutuhan finansial, nyawanya lambat laun pasti melayang. “Tidak. Aku tidak mau.” Jane lantas berdiri. Belum terlambat untuk mundur. Keperawanannya masih utuh dan uang imbalan belum ia terima. Urusan Daniel bukan lagi dengannya, tapi Mila. Daniel melakukannya karena tidak mau menerima pernikahan yang diatur sang ayah. Kalau hanya ingin keturunan, ia bisa memberinya lewat wanita manapun. Jane terlihat cocok karena lemah dan mudah diikat. Dan yang terpenting, ia suka. “Berhubung aku bukan pria pemaksa, kuberi waktu tiga hari untuk memikirkannya. Aku yakin nantinya kamu akan naik ke ranjang dan membuka kakimu tanpa paksaan,” gumam Daniel percaya diri. Sudut bibir pria itu naik seiring dengan masuknya batang nikotin. Jane membisu, menatap bagaimana asap rokok memenuhi ruangan. Baunya mint, cukup menyengat tapi tidak menganggu sama sekali. Daniel membalas tatapan Jane sembari terus menghisap,”mau? Kamu boleh ambil satu.” Jane masih bergeming, menatap bungkus rokok yang diangsurkan padanya.”Lidahku masih sakit.” Daniel tidak memaksa. Ia meletakkan kotak kecil itu ke atas nakas lagi. Jujur saja kalau bisa memilih, akan lebih baik menikahi wanita panggilan ketimbang terus dijadikan boneka begini. Pernikahan atas dasar bisnis hanya akan jadi bumerang dan sarang kebencian. Daniel adalah bukti nyata kalau pernikahan ibu dan ayahnya adalah neraka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN