Desahan sial

1128 Kata
Jane mengakui kalau dirinya sempat terlena. Ia bahkan mengeluarkan sebuah desahan panjang saat lehernya disentuh. Tapi hanya sebatas itu saja. Tidak butuh waktu lama, Daniel seakan tersadar kalau membuat sebuah kesalahan. Ia melepas ciumannya sembari menggerutu kencang. Bagi Jane, mirip sebuah racauan sesal. “Bersihkan mulutmu. Minta Jim untuk memberi antibiotik.” Daniel menggeser dagu Jane lalu beranjak dari atas ranjang. Raut wajahnya masih sama, kesal dan penuh gerutuan. Pedih di lidah Jane, tidak berarti apa-apa. Justru sisa ciuman Daniel adalah faktor gadis itu terpaku lama. Pantas Mila pernah bilang padanya kalau keperawanan itu baiknya dijual saja. Saat wanita terlena, semua hanya akan diberikan secara gratis. Bermodal sedikit rayuan, kaum hawa akan terlentang. Jane membuktikan kalau teori menyedihkan tentang perempuan itu benar. --- Sebenarnya Mila tidak benar-benar kabur. Sudah menjadi kebiasaan kalau ia wajib mengganti nomor setelah transaksi dilakukan. Selain untuk menghindari kecurigaan, ada baiknya uangnya disimpan di rekening baru. Jadi misal ada masalah, jejak digitalnya tidak akan terbaca dengan mudah. Bisnis prostitusi adalah sebuah hal ilegal. Bisa dilakukan secara terang-terangan di aplikasi, tapi tidak kalau jumlah dinilai terlalu besar. Hukum akan mengindentifikasi sebagai perdagangan manusia. Ya, walau selama ini masih aman-aman saja. Asal uang keamanan selalu disisihkan, tidak akan ada masalah apapun. “Sudah dapat info tentang pelanggan kemarin malam?” tanya Mila pada seorang pria suruhannya. Ia tidak tahu kalau Jim menggunakan kartu member orang lain. Setelah diidentifikasi, pemilik aslinya adalah Hudabi, seorang kriminal kelas tinggi. “Yang saya tahu, namanya Jim. Bekas anak buah Pak Hudabi. Tapi belakangan ia menjaga anak bosnya yang bernama Daniel. Kudengar Daniel ini terlibat pembunuhan, jadi sudah menjadi rahasia umum kalau tengah disembunyikan.” Pria itu meletakkan puluhan foto ke atas meja. Agar Mila bisa melihat sendiri hasil kerjanya. Mila menjepit rokok di bibirnya lalu merentangkan puluhan foto itu dengan jari. Semua adalah foto Jim, si pria royal yang memberinya lima ratus juta tanpa perhitungan. Meski keraguannya besar, tapi uang merupakan hal tersulit untuk ditolak. Demi mendapat nilai lebih, Jane sengaja diumpankan. Kini Mila dihantui kekhawatiran. Takut kalau Jane malah jadi korban kekerasan. Pak Hudabi saja sudah mengerikan, apalagi anaknya yang disinyalir terlibat pembunuhan? “Cari tahu tempat tinggal Daniel. Aku harus memastikan kalau Jane baik-baik saja,” pinta Mila menghisap kuat nikotinnya. Gila benar kalau ia malah membiarkan Jane jadi korban. Bukan hanya masalah nurani, tapi lebih ke memikirkan diri sendiri. ia tidak mau terlibat dalam urusan kriminal. Uang tidak selamanya bisa membeli kebebasan. Polisi akan tetap menjebloskannya ke penjara kalau terbukti terlibat dalam kejahatan besar. Setelah mengulurkan puluhan lembar ratusan ribu, pria suruhan itu pergi dan berjanji akan kembali lagi dalam kurun waktu dua puluh jam. Mencari informasi Daniel cukup susah, jadi butuh kerja sama dengan beberapa teman lainnya. Mila merebahkan punggungnya ke belakang, meraih ponsel sembari terus merokok. Tahu begini, ia tidak akan memberi Jane pada Jim. Hidupnya berakhir tidak tenang karena merasa gagal melindungi gadisnya sendiri. Bersamaan dengan itu, ponsel Mila berbunyi. Benda pipih itu berputar sebelum akhirnya diangkat di dering ke tiga. Entah siapa, tidak ada namanya. “Ya, halo?” sapa Mila hati-hati. “Dua malam lalu aku menerima notifikasi dari email. Katanya, aku mendapatkan memenangkan lelang atas nama Jane. Ngomong-ngomong, aku tidak memesan pelacur.” Nada pria di seberang cukup tinggi. Menyentak alam bawah sadar Mila. “Maaf, pak atas nama siapa tadi?” tanya Mila selembut mungkin. “Jane. Apa mungkin kartu memberku dicuri?” Mila langsung menebak kalau itu adalah pak Hudabi. Mereka memang tidak pernah berbicara lewat telepon, tapi siapa lagi yang memenangkan Jane kalau bukan kartu atas namanya sendiri? “Begini pak, apa mungkin kartu member anda hilang? Malam itu yang datang pada kami pria bernama Jim. Dia setuju membawa Jane dengan nominal pelelangan terkhir.” Mila mengusapi sisi kepalanya gelisah. Rokoknya terakhirnya mati dan sekarang mulutnya berubah pahit. Sejenak hening. Pak Hudabi terdengar berbicara pada orang lain dan mengabaikan panggilan mereka sekitar tiga menitan. Mungkin bertukar pendapat mengenai ini. “Baik.” Tanpa menunggu penjelasan lebih jauh, Pak Hudabi tiba-tiba menutup panggilan itu. Tidak masuk akal kalau ia memarahi orang lain atas kelakuan anaknya sendiri. Toh Daniel sudah dewasa. Di usia muda Pak Hudabi, ia selalu berganti wanita setiap diinginkan. Tidak ada yang berani mengekang karena takut jadi samsak berjalan. Tidak terkecuali ibu Daniel yang bahkan dihabisi lantaran mengoceh setiap hari “Sebelum pulang, aku mau bertemu Daniel sebentar,” kata Pak Hudabi pada sang supir. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari bertemu pejabat daerah. Urusannya masih seputar pencucian uang dan bisnis senjata api. Sudah menjadi rahasia umum kalau Pak Hudabi membantu mencari solusi haram untuk mempelancar kegiatan korupsi. Selain uang, imbalan yang diterima pak Hudabi adalah kelancaran bisnis ilegalnya. Ribuan senapan kaliber kecil setiap bulan diproduksi dan diselundupkan keluar negeri. Itu yang dinamakan simbiosis mutualisme. Sama-sama membantu dalam kriminalitas terselubung. Selang setengah jam kemudian, Pak Hudabi sampai di pelataran parkir apartemen Daniel. Ia menolak diikuti, jadi menyuruh supirnya untuk menunggu di sana saja. Apartemen itu cukup kecil, tidak ada penjaga di pintu depan karena beberapa unitnya memang sudah kosong. Benar-benar tempat yang cocok untuk menyembunyikan Daniel dari pemberitaan televisi. Rencananya setelah berita publik mereda, Pak Hudabi akan mempersiapkan anaknya untuk menjadi penerus bisnis terlarang. “Jim? Apa kabarmu?” Pak Hudabi muncul dari lift dan langsung berpapasan dengan Jim yang berniat turun untuk cari makan. Tentu saja, bukan untuk Daniel, melainkan Jane. Beberapa menit lalu, luka di lidah gadis itu diolesi obat. Sebenarnya sudah mendingan, tapi berhubung perihnya tidak kunjung hilang, Jim berinisiatif untuk meredakannya dengan es krim. Sayang, untuk sekarang niat baiknya sudah pasti susah direalisasikan. “Bo-bos?” ujarnya tanpa sadar menunduk. “Antar aku menemui Daniel,” kata Pak Hudabi dingin. Tanpa pikir panjang Jim langsung mengangguk patuh, mengurungkan niatnya untuk turun. Ia sudah menduga kalau moment ini akan terjadi. Pak Hudabi tidak mungkin mau memberitahu kunjungannya. Kalau direncanakan, Daniel akan bersandiwara. Sialnya, baru selangkah kakinya masuk, Jim langsung diserang dengan sebuah pertanyaan telak. “Mana gadis lima ratus juta itu? Aku penasaran dan ingin tahu apa Daniel sebenarnya bodoh atau memang kecantikannya sebanding dengan uang yang dia keluarkan?” Setelah mengatakan itu, Pak Hudabi berjalan cepat menuju ruang tamu. Tapi tidak ada siapapun di sana. Semua terlihat rapi, bersih dan tertata. Seakan yang tinggal adalah penderita gangguan OCD. Hal itu cukup mengesankan mengingat Daniel sering merusak barang-barang. “Jane yang membersihkan semua ini,” ucap Jim berusaha menjawab rasa penasaran bosnya. “Rupanya dia juga berbakat menjadi pembantu,” ujar Pak Hudabi sinis. Dulu mantan istrinya pun begitu. Selalu mengurus rumah tangga seperti pekerja rendahan saja. Bukannya apa-apa, tapi itu menganggu mata. Jim berjalan menuju pintu kamar Daniel, mengetuk berulang kali agar pemiliknya keluar untuk menghadapi teror ayahnya sendiri. Diam-diam Jim berharap kalau Jane tidak dilibatkan dalam masalah apapun. Gadis itu sudah cukup menderita dengan gangguan fisik, jadi jangan sampai hatinya ikut tersakiti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN