Jane menemukan dirinya terbaring dalam kondisi setengah tertelungkup. Pakaiannya masih lengkap dan pria yang tidur di sampingnya juga tertidur pulas. Bisa dibilang tidak ada kejadian apapun selain sama-sama mendengkur.
Semalam Daniel tidur lebih dulu sedang Jane membutuhkan waktu lama untuk terlelap di tempat asing. Ranjang empuk juga selimut nyaman itu tidak berhasil membuatnya bermimpi indah. Kenyataannya adalah ini hari pertamanya sebagai seorang b***k.
Tidak terbayang di benak perawan Jane kalau Daniel sampai memaksanya bercinta. Bisa jadi cara berhubungannya sadis hingga melukai. Video dewasa milik Mila ada yang begitu. Mereka berhubungan dengan cara menampar, mencekik juga hal berbahaya lain. Dengan tabiat Daniel yang begitu, kelihatannya masuk akal saja kalau Jane curiga.
Jam sembilan lebih sedikit, Jane memberanikan diri untuk keluar. Ia lapar dan berharap ada makanan di dapur.
“Ada sesuatu yang ingin kamu makan?” tanya Jim saat melihat Jane memeriksa isi lemari pendingin. Di sana tidak ada apapun selain air mineral juga beberapa buah beku.
Jane mengangguk ragu. Ia sengaja menjaga jarak juga omongan, takut kalau Daniel menggunakan kesalahan kecilnya untuk memarahinya.
“Katakan saja, aku akan membelikanmu. Daniel tidak makan pagi, dia tidur sampai tengah hari.” Jim menghela napas panjang, menatap Jane dengan pandangan iba. Semalam ia mendengar kaca pecah. Setelah itu, ia jadi was-was lantaran setelah itu tidak ada suara lagi. Untungnya gadis itu terlihat baik-baik saja. Luka di pinggiran bibir juga pipi merah karena tamparan, masih normal untuk jiwa psiko bosnya. Tapi tentu saja wajah juga sikap Jane terlihat jauh lebih muram dan ketakutan. Nanti lama-lama juga terbiasa.
“Bagaimana kalau bubur? Ada pedagang di bawah. Kalau mau, aku akan membelikanmu dalam sepuluh menit.” Jim akhirnya menawarkan opsi agar gadis itu tidak kebingungan sendiri. Sikapnya bisa dimengerti, mengingat sikap kasar Daniel memang tidak normal.
Jane mengangguk lagi. Ia masih tidak mau bicara dan hanya menanggapi seperlunya.
“Oke, duduk di dapur dulu. Aku akan kembali dalam sepuluh menit.” Jim lantas berbalik pergi lalu buru-buru keluar dengan langkah-langkah panjang.
Jane melihatnya dengan helaan napas lega. Paling tidak ada orang yang masih memperhatikannya. Walau hanya tugasnya sebagai bawahan, tapi Jim cukup melindunginya. Mungkin kalau tadi malam ia berteriak, Jim akan datang untuk mencegah Daniel berbuat konyol.
Benar saja, sepuluh menit berselang Jim sudah kembali dengan satu porsi bubur ayam. Ia buru-buru masuk dan meminta Jane agar cepat menyantap. Daniel kadang bangun secara tidak terduga. Jadi akan lebih baik kalau saat pria itu keluar, Jane sudah dalam keadaan kenyang.
Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan. Hanya dalam beberapa suap besar, isi steroform itu kosong. Jim tidak berkomentar, ia membantu membereskan sisa makanan juga membuangkannya ke tong sudut dapur. Tingkah sigapnya membuat Jane kikuk.
“Kalau tidak ada hal lain lagi, baiknya kamu masuk lagi. Ngomong-ngomong punya baju ganti? Kalau tidak, pesan lewat aplikasi. Nanti kalau datang, aku akan menerimanya untukmu di pintu depan.” Jim mengulurkan ponsel milik Jane dari dalam saku kemejanya. Tadi malam, ia sengaja mengamankan agar Daniel tidak terganggu dengan suara apapun. Bosnya sangat sensitif dengan benda elektronik.
Jane lagi-lagi mengangguk,”terima kasih.”
“Buat mode getar. Jangan ada suara apapun selama kamu ada di dalam. Mengerti maksudku, kan? Turuti saja perkataanku agar kita bisa saling bantu.” Jim menunjuk pintu kamar Daniel, seakan meminta Jane agar segera masuk lagi.
“Ah ya, mandi yang bersih. Dia tidak suka bau keringat atau hal menganggu lain,” tambahnya sebelum Jane benar-benar masuk kamar.
Kali ini Jane tidak menanggapinya. Gadis itu menutup pintu dengan penuh kehati-hatian, berharap Daniel masih terpejam di ranjangnya yang besar. Ia perlu menghubungi Mila untuk mengkonfirmasi pembayaran juga hal-hal lain. Dalam perjanjian tertulis, ia mendapat perlindungan. Kalau benar, mungkin akan ada sedikit bantuan nanti. Daniel terlalu mengerikan untuk ditangani sendiri.
Sayangnya, Jane justru menemukan fakta kalau Mila tidak bisa dihubungi. Nomornya tidak aktif dan panggilannya selalu diarahkan ke kotak suara. Dalam situasi itu, yang bisa disimpulkan cuma satu yaitu kena tipu.
A-apa? yang benar saja. Setelah apa yang aku lalui, malah berakhir begini? Batin Jane tidak bisa membendung air matanya. Bingung, kesal juga marah. Matipun sejuta kali lebih baik daripada dihina sebagai p*****r gratis.
“Ambilkan aku minum.”
Suara berat Daniel mengejutkan Jane yang masih larut dalam masalahnya. Gadis itu menoleh, buru-buru mengusapi pipinya yang basah. Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan Jane sekarang.
Daniel adalah masalah terbesar setelah Mila. Pria itu layak dicincang hingga bagian tubuh terkecilnya menghilang. Hidupnya sekarang tidak lebih dari neraka dunia gara-gara diperbudak uang lima ratus juta. Itupun dirampok oleh wanita k*****t.
“Apa tidak bisa lebih cepat?” Daniel menggerutu lalu dengan kasar merebut gelasnya dari tangan Jane. Persis seperti kejadian semalam, gadis itu tersungkur pelan gara-gara dorongan.
Jane menggigit bibirnya kuat. Luka di pinggirannya tentu saja masih sakit. Kalau dipikir-pikir, ia sekalian ingin bunuh diri. Kemarin ia masih bertahan karena menganggap setimpal dengan bayaran. Tapi sekarang? Jangan harap akan sama.
“Kenapa tiba-tiba melotot? Ada yang salah dengan matamu?” tanya Daniel memergoki tatapan sengit Jane padanya. Cukup mengejutkan mengingat kecengengannya semalam.
“Sebenarnya aku dibayar untuk apa? Dijadikan samsak? Pembantu atau b***k?” Jane menguatkan hati, tidak peduli. Meski ini hari terakhirnya, ia akan menjadi cacing yang menggeliat kuat meski diinjak sekuat tenaga.
Anggap saja ia tengah menghadapi laki-laki dengan gangguan jiwa. Jadi wajar kalau pada akhirnya dilawan juga dengan kegilaan.
“Apa? Berani benar!” seru Daniel membuang gelas di tangannya. Tanpa ampun, ia mencengkeram leher Jane lalu dihempaskannya ke atas kasur.
“Dasar pengecut. Bunuh saja aku kalau begitu. Kenapa juga kamu menyiksa perempuan lemah? Ini namanya bukan kekuatan, tapi pertunjukan konyol. Kalau mau bertarung, pilih lawan yang seimbang.” Jane meringis, menahan sesak karena lehernya ditekan cukup kencang.
Daniel mengeratkan giginya penuh emosi.
“Kamu bahkan tidak berhak mati. Enak saja,” decihnya sama sekali tidak terpancing. Mata nanar Jane memperlihatkan keputus asaan tinggi. Yang artinya sengaja ingin dilukai.
“Katakan, apa maumu. Jangan sampai napasmu habis karena aku bosan menunggu.” Daniel menaiki sisi paha Jane, menguasai tubuh bawah gadis itu dengan kakinya.
Jane cukup specchless. Ia seketika ingat adegan erotis terakhir yang ia lihat di film dewasa. Pikirannya seketika terkontaminasi lalu membayangkan adegan selanjutnya. Umurnya masih delapan belas. Wajar kalau jiwa pubertasnya jadi penguasa pikiran. Terlebih Daniel punya bentuk tubuh yang bagus. Dadanya bahkan terlihat membusung meski terhalang kaus.
Dipandangi begitu, Daniel langsung tahu. Tanpa perlu pengalaman bersentuhan dengan wanita, jiwa laki-lakinya langsung mengerti sendiri. Mata berbinar itu ingin diberi kenikmatan pertama.
“Aku tidak akan menidurimu.” Daniel merenggangkan cengkraman di leher Jane. Tidak ada yang salah. Jane cukup cantik, kulitnya halus, bersih. Wajahnya juga lumayan dengan bentuk tubuh ideal. Namun, karena benci dengan yang namanya wanita, birahinya tidak pernah benar-benar keluar. Seperti sekarang, keinginannya bukan b******u, tapi hanya menganggu.
Jane tanpa sadar menghela napas lega. Pikirnya, ia benar-benar akan dihabisi tadi.
“Syukurlah. Aku juga belum dibayar untuk melayanimu di atas ranjang. Mamiku tidak bisa dihubungi. Padahal uang darimu belum dibagi.” Jane berakhir duduk setelah Daniel menyingkir dari atas tubuhnya.
“Apa maksudmu?” tanya Daniel bingung.
“Artinya, aku mau keluar dari sini. Urusanmu bukan denganku, tapi dengan mucikari. Sebelum aku mendapatkan bagianku, aku tidak mau diperbudak atau apapun. Kalau masih memaksa, aku akan menggigit lidahku sampai mati.” Jane menahan suaranya agar tidak gugup.
Daniel terdiam dan mulai mengerti masalahnya sekarang. Pantas gadis di depannya itu marah-marah. Rupanya karena bayarannya belum masuk dari semalam. Tapi apapun alasannya, tidak ada ampun untuk sebuah pemberontakan.
Jane sudah tidak waras kalau melimpahkan kesalahan pada pihak pembeli. Justru, itu masalahnya dengan mucikari. Saat uang sudah dibayarkan, tanggung jawabnya dianggap sudah selesai. Mau diselewengkan atau apapun, itu bukan urusan Daniel.
“Kalau begitu, gigit lidahmu sekarang. Aku mau melihatnya. Kalau darah di mulutmu benar-benar keluar, aku janji akan membantumu mencari mamimu.” Daniel tiba-tiba menyeringai. Tangannya seketika menangkup pipi Jane hingga gadis itu terhenyak. Ia lupa kalau di depannya adalah seorang psikopat. Ancaman begitu, justru menjadi pertunjukan menarik.
“Gigit, ayo gigit.” Daniel mendekat, menghimpit tubuh Jane hingga tidak ada ruang untuk melarikan diri.
Tanpa pikir panjang, Jane benar-benar melakukannya. Demi uangnya kembali, apapun tidak masalah. Hanya luka di bagian lidah, itu bukan apa-apa.
Daniel menunggu, menatap bagaimana gadis berambut panjang itu terpejam dan mulai menancapkan giginya pada lidah. Semenit berselang, darah segar mengalir keluar. Mengaliri bibir lalu ke dagu. Sedikit lebih lama dari perkiraan, tapi melihat itu Daniel terpaku.
Ia b*******h. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi birahinya tiba-tiba naik saat melihat darah.
Tanpa pikir panjang, ia mendekatkan wajahnya. Meraup mulut Jane dengan bibirnya. Aroma darah juga rasa asin bercampur saat bibir mereka bertemu. Jane tersentak mundur, tapi tidak menolak sedikitpun.
Rasa perih seketika terabaikan dengan hasrat biologis. Cara mencium Daniel begitu lembut, hingga Jane tidak tahu kalau darahnya tadi adalah pemicu gairah seksual yang sesungguhnya. Tanpa itu, tidak ada sentuhan atau apapun.
Daniel tidak bisa berhenti. Ia memagut habis rongga mulut Jane demi mencari sensasi amis. Darah laki-lakinya menggelegak hingga di satu titik, baju juga celananya begitu menganggu.
Bagaimana kalau dilepas saja?