Jane langsung berdiri, menyeret Daniel agar mereka segera pergi. Di sana terlalu ramai, banyak pasang mata yang mengawasi. Bukan hanya itu saja, kesalahpahaman kecil gampang diunggah ke media sosial oleh orang lain. Jangan sampai hanya gara-gara Jane, timbul masalah baru. “Ayo pulang. Aku bertemu dengannya karena ada urusan kampus.” Jane mencoba berdalih. Dicengekramnya bahu Daniel yang masih tidak mau bergeser dari tempatnya berdiri. “Omong kosong.” Pria bertato itu mengeratkan giginya lalu melempar pandangan ke arah Adam,”padahal aku sudah memperingatimu kemarin.” Tidak ada gunanya meladeni ucapan itu. Lebih baik bungkam daripada berujung perkelahian. Adam cukup tahu diri kalau kekuataan Daniel sulit ditandingi. Alih-alih memukul, ia hanya akan dijadikan samsak nanti. “Kalau tidak ma

