Jim memutuskan untuk menarik keluar Yuka. Ia sudah cukup bersabar dan sekarang sudah mencapai batasnya. Sekalipun posisi Yuka penting, tapi Daniel adalah prioritas utamanya. Sejak awal hingga akhir, Yukalah yang memancing masalah. Sudah tahu Daniel begitu, masih saja sekeras batu. “Lepaskan aku!” pekik Yuka menghempas tangan Jim. Tapi pria tegap itu tidak memberi celah kosong lagi. Ia tetap menarik pergelangan tangan Yuka meski harus dipukuli. Sekencang apapun serangan itu, Jim masih bisa mengatasi. Toh, tidak sekeras pukulan pak Hudabi. “Pulanglah,” kata Jim saat mereka sudah sampai ke parkiran mobil. Ia akui, kalau mengijinkan Yuka masuk adalah tindakan paling gegabah. Tahu begitu, Jim akan tetap keukeh menghalangi. Yuka kesal karena diperlakukan kasar. Terlebih Jim cukup kuat. Ia ba

