"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu kepada para saksi yang hadir.
"Sah!" sahut mereka serempak.
Akhirnya, hari ini, Leona dan Erik pun menikah.
"Kalau begitu, mempelai wanita silakan keluar," ujar penghulu.
Leona pun segera keluar dari dalam kamar. Karena kamar yang agak jauh, ia tidak sempat mendengar kalimat ijab kabul yang Erik ucapkan.
Dengan dibimbing bibinya, ia pun segera duduk di sebelah Erik. Pria yang telah resmi menjadi suaminya itu terlihat sangat tampan dan gagah.
"Sekarang, silakan cium punggung tangan suamimu," ujar pak penghulu.
Leona pun langsung mencium punggung tangan Erik. Kemudian Erik mencium kening Leona. Setelah itu, mereka pun menyematkan cincin pernikahan mereka.
Acara yang diadakan di rumah tersebut hanya acara sederhana saja. Tidak mengundang orgen tunggal, atau dekorasi mewah. Hanya acara di dalam rumah saja.
Para tamu pun datang silih berganti. Menyalami paman dan bibi serta kedua mempelai.
Leona terus celingukan mencari sosok yang sedari tadi ditunggunya bahkan sebelum ia menikah.
"Paman, apakah Paman sudah mengundang ibu?" tanya Leona dengan ragu.
Arfian menatap Leona dengan tatapan iba. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Leona. Haruskah ia jujur dengan apa yang terjadi kemarin, saat ia berkunjung ke rumah kakak iparnya itu. Bersama istrinya yang bernama Bella, mereka hanya mendapatkan perlakuan yang buruk dari Lyana, ibunya Leona.
Ia masih ingat akan percakapan mereka kemarin, saat ia menyambangi rumah kakak iparnya itu.
"Arfian? Bella?" Lyana begitu terkejut melihat kedatangan adik suaminya setelah bertahun-tahun lamanya mereka lose contact. Sebenarnya bukan lose contact, tetapi, Lyana sendiri yang memutuskan kontak dengan mereka. Ia tidak pernah membalas pesan atau mengangkat telepon. Dan hal itu pun berakhir saat ia mengganti nomor ponselnya. Ia mengira bahwa adik suaminya itu ingin meminta warisan. Tentu saja ia tidak akan memberikannya.
"Mbak Lyana, apa kabar?" tanya Arfian sopan.
"Baik, ayo, masuk dulu," ujar Lyana. Arfian dan Bella pun masuk ke dalam rumah tersebut. Mereka pun duduk di sebuah sofa empuk dan bagus di ruang tamu. Sebuah meja berbahan kaca tebal dengan ukiran bunga menjadi pemanis ruang tamu itu. Apalagi dipadu dengan bunga dan berbagai cemilan untuk pada tamu yang datang.
Dua cangkir teh tersaji sesaat sebelum Arfian memulai pembicaraannya. Ia menyesap tehnya setelah dipersilakan oleh Lyana.
"Begini, Mbak, kedatangan kami kesini ingin memberitahu bahwa besok, Leona akan menikah."
Mata Lyana membulat saat mendengar nama Leona.
"Bagaimana kalian bisa bertemu dengannya?"
"Dia datang ke rumah saya dan meminta saya menjadi wali nikahnya."
"Siapa laki-laki yang menikah dengannya?"
"Katanya, pria itu adalah pria yang tidur bersamanya dalam foto."
"Oh, jadi mereka akhirnya menikah. Lalu, mengapa kalian datang kesini? Kalau mau meminta uang, maaf, aku tidak akan memberikannya. Apalagi untuk anak tidak tahu diri seperti dirinya." Mata Lyana menatap tajam ke arah Arfian dan juga Bella yang kini saling pandang melihat reaksi yang ditunjukkan kakak ipar mereka itu.
"Tidak, Mbak, kami tidak meminta uang. Kami hanya ingin Mbak hadir di pernikahan Leona untuk sekadar memberi restu."
"Cih, aku tidak sudi bertemu dengan anak itu! Dia hanyalah anak pembawa sial dalam hidupku. Aku sudah mencoret namanya dari daftar keluarga. Jadi, dia bukan tanggung jawabku lagi!"
Arfian terkejut dengan apa yang dikatakan Lyana. Begitu mudahnya ia membuang anak yang selama ini adalah kebanggaan keluarganya. Yang telah berjasa memajukan perusahaan, hingga mengantongi banyak penghargaan sebagai pengusaha muda yang berprestasi.
"Tapi, Mbak, dia tetap darah daging Mbak. Datanglah sebentar saja. Dia pasti akan senang. Selama ini dia sudah menderita karena hidup di jalanan sebagai gelandangan. Kelaparan, kedinginan, kesepian, dia sudah menjalani hukumannya, Mbak." Arfian memberi pengertian pada Lyana agar sedikit menurunkan egonya.
"Tidak! Sekali aku bilang tidak, maka itu artinya tidak! Sekarang lebih baik kalian pergi dari sini! Aku sibuk!" Lyana berdiri, lalu menunjuk pintu keluar.
Dengan perasaan sedih, Arfian dan Bella pun keluar dari rumah mewah itu.
"Paman!" Leona membuyarkan lamunan Arfian. Membuat pria separuh baya itu terkesiap dan segera sadar sedang ada dimana.
"Ibumu, katanya sangat sibuk. Hari ini dia ada penerbangan ke luar negeri yang tidak bisa ditunda. Tapi, dia menitipkan doa restu untukmu." Arfian mengusap kepala Leona dengan lembut sambil tersenyum.
"Ya, Nak. Ibumu memang sangat sibuk sekali, maklumi saja, ya," sambung Bella.
"Ya, Paman, Bibi, terima kasih telah berusaha membujuk ibu." Leona tersenyum lirih. Ia tahu bahwa paman dan bibinya sedang berbohong. Mana mungkin ibunya mau memberikan doa restu untuknya. Mendengar namanya saja, mungkin ibunya sudah sangat muak.
***
"Bu, bukankah ini hari pernikahan Kakak?" tanya Livia pada ibunya yang sedang asyik membaca majalah.
"Ibu tidak tahu," jawab Lyana tanpa menoleh seakan tidak peduli dengan pertanyaan Livia yang sebenarnya membangkitkan rasa emosinya saat ini.
"Aku mendengar pembicaraan Ibu dengan Paman Arfian kemarin." Dengan hati-hati, Livia pun duduk di samping ibunya namun dengan jarak yang tidak dekat.
Kemarin, ia memang tanpa sengaja mendengar pembicaraan ibunya dengan pamannya itu saat akan menuruni anak tangga untuk mencapai dapur.
"Sejak kapan kau punya perilaku memalukan seperti itu? Menguping pembicaraan orang lain adalah hal yang paling Ibu benci." Lyana menatap tajam sekilas, lalu beralih kembali ke majalahnya.
"Tapi, Bu, aku tidak sengaja. Bu, ayolah kita ke pernikahan Kakak. Aku sangat merindukan dirinya," bujuk Livia dengan tatapan penuh harapan.
Lyana langsung menutup majalahnya dengan kasar, lalu menatap Livia dengan tatapan tajam. "Tutup mulutmu. Apa yang Ibu bilang soal jangan membahas anak sialan itu!"
Livia langsung terdiam dan menundukkan kepalanya. "Maaf, Bu, aku hanya sangat merindukan Kakak. Aku ingin sekali bertemu dengannya."
"Hentikan rindu yang tidak berguna itu!"
"Tapi, Bu, aku.."
"Jangan pernah datang ke sana, atau kau akan tahu akibatnya!" Lyana langsung berdiri, lalu berlalu meninggalkan Livia menuju ke kamarnya. Livia hanya bisa tertunduk sedih melihat sikap ibunya yang sama sekali tidak berubah jika menyangkut soal Leona.
Ia pun menelepon seseorang untuk mengirimkan hadiah pernikahan kepada Leona. Namun, baru saja ia akan menutup teleponnya, tiba-tiba saja ibunya sudah kembali dan merebut ponselnya.
"Jika kau berani mengirimkan hadiah pada Leona, maka akan aku pastikan kau akan hidup menderita di jalanan!" teriak Lyana pada seseorang di seberang telepon.
"Oh ya? Jadi kau akan mengusirku dari rumah? Malang sekali nasibku."
"Daniel?" Lyana menjauhkan ponselnya, lalu melihat nomor dengan nama Ayah di sana.
"Awas saja jika kalian memberikan dia hadiah!" Lyana mengembalikan ponsel Livia, lalu pergi dengan perasaan kesal.