Meminta Restu

1010 Kata
Leona masih diam di tempatnya. Ia menatap Erik dengan tatapan penuh keheranan. Kalimat tadi sukses membuat dirinya terkejut setengah mati. "Maaf, apa kau sudah gila? Aku bahkan belum tahu namamu dan kau juga belum tahu namaku," ucapnya sambil mengernyitkan dahinya. "Kalau begitu kenalkan, aku Erik." Erik mengulurkan tangannya. "Aku Leona." Leona juga menjabat tangan Erik. "Kita sudah berkenalan, lalu, apakah sekarang kau sudah memutuskan tanggal pernikahan kita?" tanya Erik sekali lagi. "Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan dengan pernikahan ini. Kalau ingin balas dendam, kita cukup bekerja sama, bukan?" "Aku ingin menghindari gadis yang selalu mendekatiku. Datang ke rumahku, minta di antar ke sana ke sini, bahkan ada yang pernah menjebakku agar aku menikahinya. Aku bosan hidup seperti itu." Erik mulai mengeluarkan segala keluh kesahnya. "Kenapa tidak memilih salah satu diantara mereka?" "Aku belum ingin menikah." "Lantas yang kau ucapkan tadi apa? Bukannya menikah?" tanya Leona kesal. "Tidak ada cinta di antara kita. Kau tidak akan mengganggu hidupku. Bagaimana? Kau setuju atau tidak? Kalau tidak setuju, maka aku akan pergi." Erik bersiap melangkahkan kakinya dan akan pergi meninggalkan Leona. Namun, Leona langsung memegangi tangan Erik agar pria itu tidak pergi. "Baik, aku mau. Tapi, aku minta kita pisah kamar, dan jangan pernah menyentuhku," ujar Leona. "Baik, aku juga tidak berniat menyentuhmu." Erik mengangguk setuju. "Ya sudah, kapan kita menikah?" "Sesegera mungkin. Sekarang, bagaimana caranya kita memanggil wali nikahmu untuk melakukan rencana kita. Kita butuh ayahmu sebagai walimu," ujar Erik. "Ayah kandungku sudah meninggal. Tapi, dia punya adik yang tinggal di sudut kota. Bagaimana kalau kita temui dia dan memintanya menikahkan kita saja," ujar Leona. "Baik, ayo kita ke rumahnya," ujar Erik. Mereka pun segera pergi ke rumah paman Leona yang bernama Arfian. Ketika sampai di depan rumah sederhana itu, Leona tampak ragu mengetuk pintu rumah karena takut paman dan bibinya tidak mau menerimanya. Melihat Leona yang ragu, Erik pun mengetuk pintu rumah tersebut hingga keluarlah seorang pria separuh baya dengan penampilan agamis. Di tangannya ada sebuah tasbih. Diperkirakan ia baru selesai sholat. "Leona?" tanya Arfian menatap tak percaya pada Leona yang bersembunyi di belakang Erik karena takut. "Pa-paman. Maaf, mengganggu." Leona memberanikan diri berhadapan dengan Arfian. "Leona? Apa kabarmu, Nak? Selama ini kau dimana?" tanya Arfian sambil mengusap kepala Leona. "Aku, hidup di jalanan, Paman. Aku tidak berani pulang karena ibu telah mengusirku. Paman sudah tahu, kan sebabnya?" Kini mata Leona berkaca-kaca. "Iya, Leona, Paman mengerti. Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Oh ya, masuk dulu," ujar Arfian mempersilahkan mereka masuk. Setelah duduk di ruang tamu, Arfian pun menanyakan perihal kedatangan Leona. "Siapa dia? Apa dia pacarmu?" tanya Arfian sambil menatap Erik. "Ya, Paman. Dia pacarku. Dan kami akan menikah." Leona menatap ragu. Ada rasa malu yang kini membuatnya terus menundukkan kepalanya. Arfian cukup terkejut dengan ucapan Leona. "Apakah dia...." "Ya, Paman, dia adalah pria dalam foto itu. Maaf, Paman, aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi, kami akan menikah." Leona menatap serius. "Baiklah, kalau begitu, apa yang bisa Paman bantu? Paman bisa membiayai pernikahan kalian." "Tidak, Paman. Paman hanya perlu menjadi wali nikahku," ujar Leona. "Hanya itu? Kalau begitu, kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan?" tanya Arfian. "Besok lusa, Paman. Kami hanya akan menikah siri saja," sahut Erik. "Mengapa tidak sah kan secara hukum saja?" "Maaf, Paman, kami ingin menikah siri saja," ujar Leona. 'Karena disaat misi kami selesai, maka kami akan bercerai,' batin Leona. "Ya sudah, Paman akan menikahkan kalian. Biarkan Paman membuat acara kecil-kecilan di sini. Hanya mengundang beberapa tetangga saja. Mereka tidak mengenalmu di televisi. Sambil menunggu lusa, sebaiknya kau menginap di sini saja, Nak." "Baik, Paman, terima kasih. Aku akan pergi mencari baju pernikahan dulu, baru datang ke sini nanti malam." Arfian menganggukkan kepalanya menanggapi permintaan Leona. Setelah itu, Leona dan Erik pun berpamitan. Mereka segera pergi ke toko untuk membeli kebaya pernikahan dan aksesoris lainnya. Di akhir perjalanan, mereka pun makan bakso di warung pinggir jalan. Itu adalah permintaan Leona agar mereka bisa menjalin kedekatan meski hanya sebatas teman. Mereka juga bercerita tentang poin-poin yang harus dipatuhi ketika sudah menikah. Leona meminta pisah ranjang, dan tidak boleh melakukan hubungan suami istri. Sedangkan Erik meminta agar Leona mesra padanya jika ada wanita yang mendekati atau datang ke rumahnya. Leona heran dengan permintaan Erik. Awalnya ia menilai Erik berlebihan. Namun, saat ini, menit ini, detik ini, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pesona Erik dapat membuat wanita tergoda. Meski Erik hanya tukang ojek, nyatanya Leona tidak bisa memungkiri bahwa Erik sangat tinggi dan tampan. Jika Erik menjadi abdi negara atau bos perusahaan, tentu ia akan menjadi rebutan wanita se-Indonesia. Anak pemilik bakso, nyatanya langsung curi-curi pandang dengan Erik. Sesekali ia melihat dan tersenyum, lewat, menaruh minuman, melap meja, lewat lagi, bahkan sampai menanyakan soal rasa baksonya. Erik hanya menanggapi seperlunya saja. Dan ketika mereka akan pulang, wanita itu menghampiri Erik dan meminta nomor ponselnya dengan alasan ingin memberi tahu jika ada promosi. "Saatnya kau tunjukkan bakatmu," bisik Erik pada Leona. Meski awalnya tidak mengerti, pada akhirnya Leona paham dengan apa yang dimaksud oleh Erik. "Maaf, Mbak, saya adalah calon istrinya. Catat saja nomor saya," ujar Leona sambil menggandeng tangan Erik. "Kalau begitu, tidak jadi, ya sudah, terima kasih!" Wanita itu pergi dengan perasaan kesal. Hal itu berarti bahwa, Leona berhasil melakukan tugas pertamanya, menghalau wanita-wanita yang mendekati Erik. "Memangnya kau setampan apa sampai mereka semua suka padamu. Bahkan ada yang langsung suka pada pandangan pertama," ujar Leona sambil mengernyitkan dahinya. "Entahlah, kata orang, aku lebih pantas jadi artis daripada tukang ojek." "Oh ya, mengapa tidak daftar online saja. Maksudku, menjadi ojek online akan lebih mempermudah pekerjaanmu," ujar Leona. "Tidak, aku lebih suka menunggu penumpang saja." "Oh ya, aku tahu alasannya." Leona tersenyum tipis. Ia mengerti bahwa Erik tidak mau karena takut para penumpang akan berebut mendapatkan jasanya. Fotonya akan terpampang di aplikasi, dan ia akan menjadi primadona di antara kang ojek online. "Kau hanya tidak ingin menjadi rebutan para penumpang, bukan?" "Ya, begitulah." Erik mengangguk mengiyakan pendapat Leona. "Padahal, alasan sebenarnya bukan itu. Aku hanya tidak ingin jika identitas asliku sampai ketahuan. Karena ada sesuatu yang memang harus dirahasiakan," batin Erik menatap Leona dengan sorot mata penuh rahasia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN