Menang

1006 Kata
"Aduh, sakit!" Erik memegangi sebelah kakinya sambil melompat-lompat hingga terduduk di kursi. "Itu balasan karena kau sudah mencapai batasan mu. Memeluk, mencium, dasar otak m***m!" Leona menatap Erik kesal. Pria itu memang sangat tampan, namun Leona sama sekali tidak tertarik dengannya. "Aduh, maafkan aku, aku hanya ingin membuatnya lebih nyata di depan Dara." Erik memijat kakinya yang masih terasa nyut-nyutan. Leona pun pergi ke dapur tanpa memperdulikan Erik. Hingga sepuluh menit kemudian, ia pun kembali dengan ember berisi air hangat. Ia menaruh ember tersebut di samping kaki Erik. "Rendam kakimu di sini agar rasa sakitnya berkurang." "Kalau kali bengkak, bukannya dikompres, ya?" "Dikompres pakai apa? Mana aku tahu dimana handuk kecilmu, aku saja baru setengah jam berada di sini." Leona menatap sinis. "Di dalam lemari pakaianku, ada laci kecil berisi handuk-handuk kecil," ujar Erik. Dengan kesal, Leona pun memasuki kamar Erik, lalu mengambil satu handuk kecil untuk mengompres kaki Erik dengan air hangat. "Letakkan kakimu di sini!" Leona menunjuk arah dimana Erik harus meletakkan kakinya. Erik pun menurut, ia meletakkan kakinya di tempat yang Leona suruh. Setelah itu, Leona langsung mengompres kaki Erik yang lumayan bengkak. Sepertinya, Leona menginjaknya terlalu keras dengan tumitnya. Ia sudah lama hidup di jalanan, otomatis, tenaganya pun bertambah kuat seiring dengan gaya hidup yang mengharuskannya seperti itu. "Darimana kau bisa kenal gadis seperti tadi? Dia sampai tahu rumahmu," ucap Leona membuka pembicaraan. "Aku mengenalnya setahun yang lalu. Saat itu, ban mobil taksi yang dia tumpangi bocor, jadi dia pergi ke kampus dengan menaiki ojek, dan di situlah awal mula pertemuan kami. Aku mengantarkannya setiap hari ke kampusnya. Dan kebetulan, rumahnya ada di RT sebelah," jelas Erik sambil menahankan sakit di kakinya yang masih dikompres Leona. "Jadi selama ini dia mengganggu mu? Kenapa tidak kau tolak saja. Kau sampai menikah demi menghindari gadis sepertinya." "Aku sudah pernah menolaknya, namun, sepertinya dia tidak terima. Dia menganggap bahwa aku menolaknya karena umurnya yang lebih muda dan dia masih kuliah. Padahal, aku benar-benar tidak menyukainya. Dia sangat manja dan kekanak-kanakan. Bukan tipe wanita yang ku sukai." "Memangnya wanita seperti apa yang kau sukai? Apa Mbak Mbak penjual jamu itu? Dia cukup cantik." Leona tampak berpikir. "Jangan sembarangan berbicara. Kau tidak perlu tahu seperti apa wanita yang aku sukai. Dan juga, bukan hanya Dara wanita yang seperti itu. Kau akan lihat nanti." "Hah? Apa maksudmu?" "Aku mohon, jika kita ada tamu wanita, izinkan aku bermesraan denganmu. Jangan injak kakiku lagi." Erik menatap dengan serius. Sebuah tatapan penuh permohonan. Meski heran, namun Leona akhirnya mengangguk setuju. Ketukan pintu terdengar dibarengi dengan ucapan salam dari luar. "Assalamualaikum." "Itu Aisyah, bukalah pintunya," ucap Erik. Leona langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ia pun membuka pintu tersebut, lalu melihat tamu yang ternyata adalah seorang wanita berhijab yang sangat cantik. "Waalaikumsalam," sahut Leona sambil tersenyum ramah. "Maaf, Mbak siapa? Untuk apa ke rumah Mas Erik?" tanya Aisyah dengan sopan. Di tangannya, ada satu rantang sepertinya berisi makanan. Apakah wanita itu sering mengantarkan makanan kepada Erik? "Kenalkan, saya Leona, istri Erik," ujar Leona yang langsung membuat Aisyah terkejut hingga membulatkan matanya. "Istri? Sejak kapan?" tanya Aisyah seperti tidak percaya. "Sejak tadi pagi," sahut Erik sambil beranjak dari duduknya, lalu berdiri di belakang Leona. "Apa? Kenapa Mas menikah?" Aisyah menutup mulutnya tidak percaya. Bahkan, rantang berjenis plastik yang error pun terjatuh dan membuat isinya berhamburan keluar. "Mbak, tidak apa-apa?" tanya Leona khawatir. Aisyah sepertinya sangat syok. "Tidak, Mbak, maaf, jadi berantakan," ucap Aisyah sambil mengucap kembali rantang yang terjatuh tadi. "Tidak apa-apa, Mbak." "Ya sudah, kalau begitu, saya pergi dulu, ya, Mbak, selamat atas pernikahannya," ucap Aisyah kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu. "Dia cukup umur, sopan, cantik, dan solehah, kenapa kau menolaknya?" tanya Leona sambil menutup pintu rumah itu. "Dia sudah dijodohkan dengan orang lain. Orang tuanya berkali-kali mendatangi ku dan memintaku untuk menjauhinya, tapi, kau bisa lihat bahwa dia sendiri yang datang kepadaku." Erik kembali mendudukkan dirinya ke kursi. "Kalau seandainya dia tidak dijodohkan, dan hubungan kalian direstui, apa kau akan menerimanya?" "Tidak juga." "Kenapa? Bagiku dia itu mendekati sempurna." "Sudahlah, mengapa jadi kau yang ingin tahu? Aneh sekali," gerutu Erik. "Huh, baiklah. Sekarang katakan padaku, ada berapa wanita lagi yang harus aku hadapi?" "Riska, Adelia, Feli, Anggi, Sifa, Bianca.." "Ah, sudah teruskan, aku pusing! Mengapa banyak sekali. Kau pakai pelet apa sehingga mereka semua tergila-gila padamu?" Leona mengernyitkan dahinya. Ia melihat Erik dari atas sampai bawah, dan hasilnya, pria itu memang benar-benar sangat tampan, nyaris tidak punya cela. Hanya saja, mungkin pekerjaannya yang membuatnya diragukan oleh orang tua para gadis yang menyukainya. Satu persatu wanita yang mendekati Erik pun berdatangan. Terpaksa, Leona menghadapi mereka satu persatu. Ada yang menangis, mengamuk, bahkan ada yang hampir pingsan mendengar Erik sudah menikah. Hingga saat malam tiba, wanita terakhir pun datang. Namanya adalah Lidya, seorang karyawan swasta yang lumayan cantik. Gadis itu sampai memohon kepada Leona untuk menceraikan Erik karena ia sudah cinta mati pada pria itu. Erik dan Leona sama-sama memberi pengertian kepada wanita itu agar berhenti menaruh harapan pada Erik. Dan dengan terpaksa, Erik memanggil RT agar wanita itu bisa pergi karena terus memaksa Leona untuk menceraikan pujaan hatinya itu. Leona merebahkan dirinya ke atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih polos, dengan lampu di tengahnya. "Bagaimana bisa Erik melewati hari-harinya dengan gangguan dari para wanita tadi? Apa ia tidak stres? Dan mengapa juga yang menyukai Erik para wanita dari kalangan menengah ke atas? Mereka juga cantik, membuat Leona menjadi minder. Apalagi, kebanyakan wanita yang datang tadi mengolok-olok dirinya yang dianggap tidak cantik. *** "Mari, kita beri sambutan kepada Panji!" Suara riuh tepuk tangan terdengar setelah nama Panji dipanggil. Ternyata ia sedang berada dalam acara yang biasa diikuti Leona setiap tahun. Dan tahun ini, ia dinobatkan sebagai pengusaha yang paling berprestasi. Gelar itu harusnya diraih oleh Leona. Namun, karena Leona sudah dicoret dari daftar pengusaha yang menginspirasi, maka Panji lah pemenangnya. Terlebih lagi, beritanya yang berbulan-bulan lalu sempat viral karena dikhianati Leona, akhirnya membuatnya mendapatkan banyak simpati dari semua orang. Mereka hanya tidak tahu, orang yang mereka sanjung saat ini, tak lain adalah seorang pria yang licik dan jahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN