Pagi menjelang. Ayam berkokok, bersahut-sahutan membangunkan sang pemilik. Kontrakan yang ditempati Leona dan Erik memang berposisi di daerah perkampungan. Memasuki gang-gang kecil dan berada jauh dari komplek perumahan mewah.
Leona terbangun saat mencium aroma masakan yang sangat menggugah selera. Saat itu ia langsung bangun dan berjalan ke sumber aroma yang berasal dari dapur.
"Erik?" Ia terperanjat saat melihat Erik tengah memasak di sana. Dengan celemek berwarna biru yang membuatnya persis seperti ibu-ibu yang sedang memasak. Tapi tidak juga, zaman sekarang banyak pria yang memasak, namun dengan status sebagai juru masak di cafe, restoran, atau warung kecil.
"Sudah bangun?"
"Kau memasak? Memangnya bisa?" Leona masih berfokus pada kegiatan Erik saat ini tanpa memperdulikan pertanyaan dari pria itu.
"Kau bisa menilainya nanti." Erik mengambil dua buah piring, lalu meletakkan nasi goreng yang baru saja dimasaknya ke masing-masing piring itu. Tak lupa telur mata sapi sebagai pelengkapnya.
"Kenapa tidak beli saja?"
Erik meletakkan kedua piring yang sudah terisi nasi goreng dan telur mata sapi ke atas meja makan yang tak jauh dari tempatnya memasak. Memang, bentuk rumah yang kecil mengharuskannya tidak memiliki akses yang luas untuk menaruh barang-barang.
"Kenapa malah menanyakan hal seperti itu? Mengapa tidak bertanya begini, 'seharusnya aku saja yang masak'?"
"Maaf, aku tidak bisa memasak. Daripada bahan makanan terbuang percuma, lebih baik tidak usah diolah saja," sahut Leona dengan entengnya. Ia pun duduk di kursi meja makan itu, lalu segera menyantap nasi goreng itu.
Di suapan pertama, ekspresi wajahnya tidak bisa disembunyikan. "Ini enak sekali. Mengapa tidak menjadi pedagang nasi goreng saja?"
"Kalau aku jadi pedagang nasi goreng, sudah pasti kau akan menjadi istri paling beruntung di dunia."
"Apa salahnya pria yang bisa memasak?"
"Dan apa salahnya wanita juga belajar memasak?"
"Bukannya aku tidak mau belajar memasak, tetapi, dulunya aku itu adalah seorang CEO yang sangat terkenal dan berprestasi. Jadi, aku sama sekali tidak… tertarik untuk memasak." Leona semakin memperkecil suaranya di detik-detik kalimat terakhirnya.
"Alasan macam apa itu? Memangnya kau yakin bahwa kau adalah CEO yang sangat terkenal dan berprestasi?" tanya Erik dengan tatapan penuh ejekan.
"Hei, aku sering memenangkan beragam penghargaan pengusaha sukses dan berprestasi. Namaku juga ada di beberapa surat kabar dan televisi." Leona mulai membanggakan dirinya yang dulu, tanpa sadar ia telah membuka pembicaraan terkait masa lalunya yang sebenarnya tidak ingin ia ingat.
"Waw, itu hebat sekali!" Erik bertepuk tangan sambil tersenyum penuh kekaguman, meskipun itu hanyalah pura-pura. Ia tidak benar-benar terkesan dengan Leona.
"Tentu saja aku hebat." Leona semakin percaya diri.
"Kalau begitu, aku tidak perlu bekerja, bukan? Aku akan menikmati hidupku dengan bersantai di rumah karena mempunyai istri yang merupakan seorang CEO terkenal dan berprestasi." Dengan entengnya Erik mengatakan hal itu.
"Hei, aku mengatakan itu bukan untuk membuatmu menjadi pria yang tidak berguna. Kau harus tetap melaksanakan tanggung jawabmu, yaitu menafkahi aku, sebagai istrimu. Lagi pula itu hanya cerita lama."
"Kalau sudah tahu itu cerita lama, untuk apa kau katakan sekarang? Mengapa kau menghindari tugas memasak dengan cara memamerkan prestasimu dulu?"
Leona menghela nafas pelan. Ini memang tidak akan berhasil. "Baiklah, aku akan belajar memasak. Tuliskan beberapa resep yang kau tahu untuk aku pelajari."
Wajah Leona seketika berubah menjadi masam. Nyatanya pengalaman saja tidak akan cukup untuk membuat hidupnya merasa nyaman.
Erik tersenyum puas melihat Leona akhirnya mengalah. Mereka pun melanjutkan sarapan bersama, lalu membereskan piring-piring kotor bersama. Leona mencuci piring, sedangkan Erik membersihkan meja makan. Meski pada akhirnya Leona melakukan pekerjaan seperti itu, nyatanya hal itu tidak terlalu berat karena dikerjakan bersama-sama.
"Hari ini sepertinya aku tidak bisa ke pangkalan," ucap Erik ketika ia baru saja selesai membersihkan meja makan.
"Kenapa?" tanya Leona heran.
"Karena terlalu dini untuk kembali bekerja setelah menikah. Lagi pula aku yakin di pangkalan sedang ramai, berita pernikahan kita pasti sudah tersebar. Dan aku sedang malas menanggapi pertanyaan mereka." Erik menghela nafas pasrah.
"Mereka? Maksudnya para wanita yang menyukaimu?"
Erik mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah, kalau begitu temani aku pergi hari ini."
"Kemana?"
"Ke makam ayahku."
"Bukankah sebelum menikah kita sudah ke sana?"
"Aku ingin berziarah lagi ke makamnya. Jika waktu itu akan memperkenalkanmu sebagai calon suami, maka hari ini aku ingin memperkenalkanmu sebagai suamiku."
"Apa kau sedang merindukan ayahmu?" tanya Erik dengan tatapan serius. Melihat raut wajah Leona yang cemas, membuatnya yakin bahwa gadis itu sedang mengalami sesuatu.
"Tadi malam aku memimpikan ayah. Katanya dia sangat merindukanku. Aku juga tidak mengerti, tapi ayah bilang gelap dan sesak. Entahlah, itu hanya Bunga tidur. Tapi gara-gara itu aku jadi sangat merindukannya."
"Bukankah Ayahmu meninggal ketika kau masih batita?" tanya Erik dengan tatapan heran. Ia sudah mendengar cerita tentang Leona dari paman dan bibinya.
"Ya, tapi aku kan memiliki foto ayahku. Memangnya salah jika aku merindukannya? Om Daniel memang sangat baik padaku, bahkan dia menganggap sebagai anak kandungnya sendiri. Kasih sayangnya melebihi kasih sayang ibuku. Tapi, tetap saja, dia bukanlah Ayah kandungku." Leona menunduk sedih.
"Baiklah, kita akan pergi ziarah. Tapi, kita harus mampir dulu ke toko untuk membeli bunga untuk ziarah. Jangan minta pada tetangga, kau belum mengenal karakter mereka semua. Selalu berhati-hatilah dalam memilih teman." Erik memperingatkan Leona.
Meski tidak mengerti mengapa Erik mengatakan hal itu, Leona tetap mengangguk mengiyakan. Lagi pula, yang dikatakan Erik memang benar, mereka harus pintar memilih teman. Karena nyatanya, ia sudah mengalami akibat dari memilih orang yang salah. Panji yang terlihat sangat sopan, baik, dan penyayang, ternyata berhati iblis.
Setelah keduanya bersiap-siap, Mereka pun segera berangkat ke makam Ayah Leona. Pertama, mereka mampir di sebuah toko yang menjual bunga untuk ziarah.
Leona turun dari sepeda motor, kalau masuk ke dalam toko untuk membeli bunga. Sedangkan Erik tetap menunggu di atas sepeda motor, sambil memperhatikan sekitar.
Beberapa menit kemudian, Leona kembali dengan membawa dua kantong plastik berisi bunga ziarah. Sedangkan botol berisi air ada di bagasi sepeda motor Erik.
Saat Leona hendak naik, tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya dari belakang. Saat ia menoleh, ternyata yang menarik tangannya adalah….
"Livia!"
Kata-kata kejunya Leona saat melihat Livia ada di sini sedang menahan tangannya agar tidak pergi. Mata gadis cantik itu terlihat berkaca-kaca. Lalu, beberapa detik kemudian, ia menarik Leona ke dalam pelukannya. "Kakak, aku rindu!"
Livia menangis terisak dalam pelukan haru itu. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Leona di sini.
"Hei, Livia! Lepaskan!" Tiba-tiba saja, Lyana, ibu mereka mendatang dan menarik Livia dari Leona. Tak hanya itu, Lyana juga mendorong tubuh Leona hingga wanita itu terjerembab ke aspal.
Erik yang melihat kejadian itu langsung turun dari sepeda motornya, tolong menolong Leona untuk berdiri. Terlihat kini air mata Leona sudah jatuh berlinang.
"Siapa kau?" tanya Lyana sambil menunjuk wajah Erik.
"Aku adalah suaminya Leona. Mengapa nyonya memperlakukannya begitu kasar? Bukankah dia adalah anak anda?" tanya Erik sesopan mungkin.
"Tidak! Dia bukan anakku lagi! Dia sudah menodai kehormatan keluarga kami dengan lelaki b******k sepertimu! Bisa-bisanya kalian menunjukkan wajah hina kalian di sini!"
"Itu semua tidak benar, Nyonya. Saya dan Leona itu dijebak oleh…."
"Diam! Jangan beri alasan apapun padaku, karena itu tidak berguna sama sekali! Syukurlah, kalian sudah menikah, jadi sekarang aku bisa mengatakan padamu untuk menjaga istrimu agar menjauh dari keluargaku!"
Erik terheran-heran menatap Lyana yang sepertinya sangat membenci Leona. Dengan tatapan penuh kekesalan, ia masih berusaha menahan emosi sambil berkata, "Nyonya, apakah Leona bukan anak kandung anda?"