Langit malam itu terlalu gelap, seolah menelan cahaya terakhir yang tersisa. Tak ada bintang, tak ada rembulan. Hanya kelam yang menyelimuti apartemen mewah tempat Kirana dan Reno duduk berhadapan dalam hening yang menggantung.
Suasana hati mereka tak kalah kelam. Tak ada yang bicara. Hanya denting halus jam dinding yang mengiringi detak jantung Kirana yang semakin tak beraturan.
Akhirnya, suara mulai keluar. Pelan, ragu, namun tak bisa dibendung lebih lama.
Obrolan mereka mengalir, seperti membuka lembaran-lembaran tua yang penuh debu. Tentang pertemuan mereka di café itu. Tentang nostalgia palsu yang dibungkus senyum Reno. Tentang hari-hari penuh keanehan yang datang setelah Kirana resmi menjadi istri rahasia pria itu.
Dan akhirnya… mereka sampai pada topik yang tak bisa dihindari: perpisahan.
“Mau sampai mana hubungan kita, Reno?”
Suara Kirana terdengar serak. Bukan karena amarah, tapi karena lelah. Hatinya tak marah lagi. Sudah beku.
“Bagaimana kalau kita sudahi saja semua ini? Hubungan ini terlalu rumit untuk diteruskan.”
Ia menunduk, menatap jemarinya yang saling menggenggam di pangkuan. Tak berani menatap mata Reno.
Lelaki itu tertawa kecil—tawa yang tidak benar-benar lucu.
“Menurutmu itu solusi? Kamu pikir kamu bisa hidup tanpaku, Na?”
Tatapan mata Reno tajam, tapi bukan karena cinta. Ada sesuatu yang lain di balik sorot matanya. Sesuatu yang menakutkan.
“Kita nggak perlu cerita ke siapa-siapa. Tentang ini. Tentang kita,” ucap Kirana. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha tetap tenang.
“Lagipula, siapa yang tahu kita sudah menikah? Kita sendiri yang memilih merahasiakannya.”
“Kamu lupa janjimu, Kirana?” Reno memiringkan kepalanya, seperti seseorang yang sedang menguji mainannya.
“Sejak malam Deandra meninggal... kamu berjanji akan tetap bersamaku.”
Kirana menahan napas. Kata-kata itu seperti hantaman keras ke dadanya.
“Atau... kamu sudah siap menghadapi keluarga Deandra?” Reno berdiri perlahan, mendekatinya.
“Kamu tahu kan, mereka tak akan berhenti sampai pembunuh anaknya dihukum mati.”
Ia tersenyum—senyum sinis, penuh tekanan.
Wajah Kirana memucat. Ingatan itu menyeruak kembali, seperti pecahan kaca yang menusuk balik ke dalam pikirannya. Malam itu. Jeritan, Darah. dan tangan Deandra yang menggenggam pergelangan tangannya—meminta tolong.
“Tolong, Kirana… tolong aku…”
Kirana menutup matanya. Tapi suara itu tetap ada. Mengendap di benaknya. Tidak pergi. Tidak pernah pergi.
Ia membuka mata dan menatap Reno. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.
Reno tidak datang untuk mencintai. Ia datang membawa rahasia... dan kunci kehancurannya.