Kirana tidak bisa tidur malam itu.
Surat Deandra terus terputar di kepalanya. Suara-suara masa lalu seperti bisikan yang menari di lorong-lorong rumah itu.
“Jika aku menghilang... jangan percaya siapa pun. Bahkan jika dia adalah suamimu.”
Tapi Reno… suaminya… pria yang memeluknya dengan lembut setiap malam, mencium bibirnya seperti tak ingin berpisah, menyentuhnya dengan gairah seperti tak ada esok…
Apakah semua itu hanya topeng?
---
Pagi hari, Reno menatap Kirana dari balik secangkir kopi. Tatapan itu menusuk. Hangat tapi menyimpan rahasia.
“Semalam kamu tidak tidur nyenyak,” katanya sambil menyentuh dagu Kirana dengan lembut.
“Ada yang kamu pikirkan?”
“Tidak… cuma mimpi buruk,” jawab Kirana pelan, menghindari tatapan mata itu.
Tiba-tiba Reno bangkit, menarik tangan Kirana, membawanya ke kamar tanpa bicara sepatah kata pun.
“Aku ingin menghapus mimpi buruk itu.”
Di ranjang, Reno mencium Kirana. Ciuman itu bukan sekadar lembut, tapi mendesak. Gairah Reno malam itu berbeda—gelap, penuh obsesi.
Tangan-tangannya menjelajah tubuh Kirana seperti pria yang takut kehilangan. Kirana sempat terpaku. Tapi pelukan Reno... begitu panas. Bibirnya membisikkan namanya, berulang-ulang.
“Na… kamu milikku. Hanya milikku. Jangan tinggalkan aku.”
Kirana… menyerah dalam dekapan yang membingungkan itu—antara cinta, ketakutan, dan keraguan. Ada bagian dalam dirinya yang masih ingin percaya Reno.
Tapi ada bagian lain di pikirannya… yang ingin kabur sejauh mungkin.
---
Malamnya, saat Reno tertidur lelap, Kirana diam-diam kembali ke ruang rahasia. Kali ini dia lebih berani.
Dia menggeledah setiap dokumen. Setiap berkas, setiap foto.
Lalu dia menemukannya. Satu jurnal milik Deandra.
Tulisan tangan wanita itu terguncang, tidak stabil. Ada halaman yang dirobek. Tapi yang tertinggal cukup untuk membuat darah Kirana membeku:
“Reno bukan siapa yang kamu pikir. Cintanya seperti racun manis. Dia membuatku jatuh, lalu mencengkeram. Jangan sampai kamu jadi pengantin kedua…”
“Karena pengantin kedua tidak pernah bertahan.”
Di halaman terakhir, hanya ada satu kalimat dengan tinta merah:
“Jika kamu membaca ini… maka kamu selanjutnya.”