Kunci Yang Tidak Cocok

429 Kata
Matahari pagi mengintip malu-malu dari balik tirai jendela. Kirana duduk di tepi ranjang, menatap punggung Reno yang masih tertidur. Semalam seharusnya terasa hangat, bahkan mesra—tapi ada yang mengganggu pikirannya. Bayangan di cermin itu. Dan ketiadaan bayangan Reno. Ia menggeleng pelan, mencoba berpikir logis. Mungkin hanya ilusi. Atau pikirannya sendiri yang terlalu lelah dan tertekan. Tapi satu hal yang tidak bisa ia abaikan: rasa ingin tahu yang semakin besar tentang siapa sebenarnya Reno. Setelah Reno pergi pagi itu untuk urusan pekerjaan, Kirana kembali ke ruangan kecil yang ditemukan semalam. Anehnya, pintu itu kini terkunci rapat. Bahkan tidak terlihat seperti pernah terbuka. Namun Kirana ingat satu hal—laci terkunci di dalam kamar mereka. Dengan hati-hati, ia mengambil penjepit rambut dan mulai mengutak-atik kunci. Ia pernah belajar teknik ini sewaktu kuliah di Jepang—bagian dari kelas desain furnitur antik, katanya. Tapi sebenarnya, dia menyukai rasa adrenalin yang muncul saat melanggar aturan. Klik... Kirana menahan nafas beberapa saat dan laci itu terbuka. Di dalamnya hanya ada satu benda: kunci tua berbentuk unik, dengan ukiran huruf D di kepala kuncinya. D? Deandra? Tangan Kirana bergetar saat menggenggam kunci itu. Ia tahu ini bukan kunci biasa. Dan ia yakin, ini cocok untuk pintu yang ia temukan semalam. --- Sore harinya, Kirana menyiapkan makan malam. Ia sengaja memasak makanan favorit Reno—steak medium rare dengan saus lada hitam dan mashed potato. Dia tahu caranya membuat Reno merasa nyaman... agar tidak curiga. Reno pulang dengan senyum lebar, mencium pipi Kirana dan memeluknya dari belakang saat ia memasak. “Malam ini kamu terlihat seperti istri sempurna,” bisik Reno sambil mencium lehernya. Kirana tertawa kecil, berpura-pura menikmatinya. “Kalau begitu, kamu harus jadi suami sempurna juga.” Saat makan malam, mereka bercanda, tertawa, bahkan saling bertukar cerita masa SMA. Ada saat-saat di mana Kirana nyaris percaya bahwa semua ini nyata—bahwa dia hanya istri biasa dengan suami yang mencintainya. Tapi malam itu, ketika Reno tertidur… Kirana mengambil kunci, dan melangkah pelan ke lorong bawah. Jantungnya berdetak kencang saat dia kembali ke pintu misterius itu. Kunci itu pas. Pintu terbuka perlahan. Ruangan itu lebih besar dari yang ia ingat. Dan kini terang—lampu menyala otomatis. Di dalam, terdapat rak-rak berisi dokumen, foto, dan... sebuah kotak kayu hitam. Kirana membuka kotak itu. Tangannya gemetar saat melihat isi di dalamnya: sebuah gaun pengantin putih, bernoda merah—dan foto pernikahan Reno dengan seorang wanita lain. Deandra. Namun bukan hanya itu. Di balik foto itu… ada surat. Tulisan tangan Deandra: > “Jika aku menghilang... jangan percaya siapa pun. Bahkan jika dia adalah suamimu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN