Mata Kirana terbuka perlahan.
Masih jam tiga dini hari.
Tapi suara itu…
Langkah kaki. Ringan, lambat, seperti seseorang sedang berjalan sambil menahan napas.
Kirana menoleh ke sisi tempat tidur—Reno masih tidur di sana, wajahnya tenang seperti tak pernah menyimpan amarah.
Tapi ada sesuatu yang selalu membuat Kirana merasa janggal. Bahkan saat Reno tertidur, ia tetap terasa seperti sedang mengamati.
Perlahan Kirana bangkit, melangkah pelan menuruni anak tangga, mengikuti suara samar itu. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Rumah ini terlalu sunyi, terlalu rapi, terlalu… asing.
Ruang tamu kosong.
Dapur gelap, hanya penerangan dari cahaya bulan yang menerobos celah tirai.
Tak ada siapa pun.
Tapi saat ia hendak kembali ke atas, Kirana melihat sesuatu dari balik lorong kecil—sebuah pintu kayu tua setengah terbuka.
Pintu yang tidak ada sebelumnya.
Penasaran mulai menguasai rasa takutnya. Ia mendekat, mendorong pintu perlahan. Ruangan itu kecil, hanya cukup untuk satu meja dan beberapa rak buku.
Namun yang membuat Kirana tercekat adalah bingkai-bingkai foto di rak, semuanya… tanpa gambar. Kosong. Seolah fotonya telah dihapus.
Dan di tengah ruangan, tergantung di dinding—sebuah cermin tua. Retak di sudut kanan atas. Satu-satunya cermin di seluruh rumah.
Ia mendekat, menatap bayangannya sendiri.
Tapi yang ia lihat bukan dirinya.
Bayangan itu… tersenyum padanya.
Tiba-tiba—
“Na?”
Kirana terlonjak.
Reno berdiri di ambang pintu, hanya mengenakan celana tidur, tubuhnya sedikit berkeringat seperti habis berlari.
“Kamu ngapain di sini?”
Nada suaranya lembut, tapi sorot matanya tajam seperti menelanjangi niat Kirana.
“Aku dengar suara… aku kira…”
Reno menarik Kirana dalam pelukannya.
“Kamu pasti capek dan panik. Rumah ini memang bisa membuat orang merasa tidak nyaman… di awal.”
Ia membelai rambut Kirana, mencium keningnya dengan lembut.
“Tapi kamu aman bersamaku.”
Untuk beberapa saat, Kirana melepaskan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan itu. Ada kenyamanan yang menipu. Aroma tubuh Reno—maskulin, hangat, dan familiar—membuatnya rindu akan rasa dicintai.
Malam itu, Reno mencium Kirana. Perlahan, dalam. Tangannya menggenggam erat pinggang Kirana, seolah ingin membuktikan bahwa ia miliknya.
Hanya miliknya.
Tapi ketika Kirana kembali menatap cermin di dinding itu…
Bayangan Reno tidak terlihat.
Hanya dirinya.
Sendiri...