Gilang menutup pintu ruangan Elok dengan kasar, sehingga membuat sang kakak yang baru saja duduk di kursinya kembali berdiri dan menghardik pria itu.
“Apa-apaan, sih, Lang!” Elok menghela panjang, sambil mengusap perutnya dengan kedua tangan. “Belum waktunya lahiran, aku sudah brojol duluan gara-gara kamu!”
“Itu!” Gilang menghampiri Elok, sembari mengarahkan telunjuk ke arah luar ruangan. “Si Kiya itu makin besar kepala gara-gara papa nggak mecat dia!”
“Lang.” Elok membuang napas kecil, lalu kembali duduk di kursinya. Ia bersandar pelan, kemudian menyalakan perangkat komputer di mejanya. “Setelah aku sama papa ngobrol empat mata, yang bermasalah di sini itu sebenarnya kamu, bukan Kiya.”
“Aku?” Gilang menunjuk wajahnya sendiri. Ia menarik kursi yang berseberangan dengan Elok, kemudian menghempas kasar tubuhnya di sana. “Aku nggak ada masalah, Mbak. Tapi Kiya sudah bohongin keluarga kita selama ini.”
“Dan dia punya alasan untuk itu.” Elok berusaha sabar, kerena sudah membahas permasalahan Gilang dengan Adi sebelumnya. Jika ingat dan diperhatikan lagi, Gilang memang banyak berubah setelah kecelakaan itu menimpanya. Tidak ada lagi Gilang yang periang seperti dulu, kecuali saat pria itu bertemu dengan Kasih. Itu pun, keceriaan Gilang benar-benar sudah tidak seperti dahulu kala.
“Dan Mbak El, percaya sama dia?” Gilang berdecih, dan melepas satu tawa sinis. “Satu kebohongan, pasti akan ditutup dengan kebohongan lainnya.”
Elok memijat kepala. Hari masih pagi, tetapi Gilang sudah membuat masalah. Elok jadi merindukan Gilang yang dulu. Gilang yang santai, dan tidak pernah menganggap sesuatu dengan serius. Adiknya itu selalu bercanda, meskipun di luar sana kenakalan Gilang sungguh membuat Elok geleng kepala.
“Gilang, Sayang.” Elok mengatur napasnya, agar tidak terlibat dengan emosi sesaat karena Gilang. “Kiya itu, sudah kerja sama kita sekitar lima atau enam tahunan. Selama itu, Kiya nggak pernah ngeluh satu kali pun. Dia selalu siap, dan selalu ada, waktu aku butuh. Dia ngerawat Kasih seperti … mungkin, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kasih daripada anaknya sendiri selama ini. Di luar kebohongan Kiya masalah status, dia itu termasuk orang yang jujur, dan nggak pernah macam-macam. Jadi, dengan semua pertimbangan itu, kenapa aku dan papa harus mecat dia? Ayo kita diskusi dengan baik, dan silakan keluarkan argumenmu.”
Gilang diam dan tidak menjawab. Namun, ada rasa sakit di sudut hatinya, karena Kiya ternyata sudah berkeluarga. Sakit yang sama, seperti ketika Gilang melihat Damay jatuh ke pelukan Banyu.
“Kenapa diam?” Elok mengetuk meja kerjanya dengan telunjuk dua kali. “Gilang, belajarlah berdiskusi dengan mengemukakan pendapat secara realistis. Pakai logika, dan nggak pake perasaan. Bedakan urusan kantor, dan pribadi.”
“Ini bukan masalah pribadi, Mbak.”
“Lang, aku tahu tentang surat perjanjian yang kamu buat dengan Kiya.”
Gilang terkesiap. Mulutnya seolah terkunci, dan tidak dapat membalas Elok sama sekali. Pasti Kasih! Bukankah gadis kecil itu pernah menguping pembicaraannya dengan Kiya?
Gilang kira, Kasih tidak akan membicarakan hal tersebut dengan Elok. Namun, Gilang salah. Kasih benar-benar tidak bisa dianggap remeh.
“Aku nggak tahu pasti apa isinya, tapi …” Elok sengaja menjeda kalimatnya untuk beranjak menghampiri Gilang. Ia menarik lengan Gilang agar berdiri, lalu membawa sang adik keluar dari ruangannya. “Kalau kamu beneran mau nikah sama Kiya, nggak perlu sampai tunggu jadi CEO. Lamarlah, dan—”
“Mbak El sudah gila?”
Detik itu juga, Elok menoyor kepala Gilang dengan cepat. “Bicara yang baik-baik! Nggak bagus didengar sama anakku nanti.”
“Iya, maksudku …” Gilang berhenti melangkah, karena Elok juga berhenti di tengah ruang. “Kiya sudah punya suami, kenapa aku disur—”
Elok kembali menoyor kepala Gilang. “Gilang … kalau nyari info itu, jangan setengah-setengah. Kiya itu sudah cerai waktu … eh, anaknya umur satu setengah, atau usia pernikahannya yang satu tahun setengah, ya?”
“Ce … rai?” Gilang mundur satu langkah, sembari mencerna semua hal. “Mbak yakin dia sudah cerai? Bukan tipu-tipu?”
“Gilang.” Elok bertepuk tangan satu kali untuk menyadarkan sang adik. “Aku tahu kamu itu cerdas, dan lebih humble daripada aku. Dan masalah seperti ini … sebenarnya bukan masalah besar. Ayolah, Lang. Kamu sebenarnya bisa nyuruh orang, untuk nyari latar belakang Kiya, sebelum kamu bongkar rahasia dia ke aku. Jadi, sekarang keluar dan lanjutkan pekerjaanmu. Ingat, kalau kinerjamu bagus, dalam satu tahun ke depan, kamu bisa gantikan posisiku jadi CEO.”
~~~~
Kiya bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia tidak lagi menegur Gilang, kecuali untuk memberi pria itu sebuah pekerjaa. Kiya tidak memberi petunjuk, dan membiarkan Gilang membaca semua rangkaian beban kerja yang telah dirumuskan oleh Riris
Biar saja.
Biar pria itu tahu rasa. Selama ini, Kiya sudah cukup bersabar dengan sikap Gilang yang kekanakan itu. Namun, setelah pria itu membocoran semua hal tentangnya, Kiya ingin memberi Gilang sebuah pelajaran.
“Lang.” Elok keluar dari ruangannya, lalu berhenti sebentar di sisi meja Kiya. “Bumi otewe ke atas, kalau saya belum keluar dari ruangan pak Adi, suruh dia masuk dan tunggu di ruangan saya.”
“Ngapain orang itu ke sini.”
“Ehm!” Elok melebarkan matanya untuk menegur Gilang. “Ini kantor, dan kerjaan kamu itu, di sini jadi asisten pribadi merangkap sekretaris. Jadi, jangan bawa-bawa urusan pribadi.”
Urusan pribadi?
Urusan pribadi apa yang terjadi antara Gilang dan Bumi? Dan kenapa, Kiya harus dipertemukan lagi dengan pria itu di Jurnal? Bukankah Bumi sudah bekerja di Antariksa?
“Hem,” jawab Gilang dengan gumaman.
“Jangan lupa tawarkan minum.”
“Hah?” Gilang hampir saja berdiri dari kursi, saat mendengar ucapan Elok. “Aku? Aku yang nawarin dia minum? Mbak—”
“Ibu!” seru Elok meralat ucapa Gilang, bila berada di depan umum seperti sekarang. “Kamu cuma tawarin dia minum, Lang. Sisanya, kamu minta OB yang buatin.”
“Iya … Ibu Elok.”
Elok menggeleng, kemudian berbalik dan memasuki ruangan Adi. Haruskan Elok memaksa sang adik pergi ke psikolog, atau menemui seorang hipnoterapi? Hal ini akan ia bicarakan serius dengan Gilang, sepulang kerja nanti.
Hening.
Setelah Elok tenggelam di ruangan Adi, tidak ada pembicaraan yang terjadi antara Kiya dan Gilang. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sampai seorang pria yang dimaksud oleh Elok menghampiri mejanya.
“Lang?” Bumi menyapa dengan heran. Untuk apa Gilang ada tempat yang biasa diperuntukkan bagi sekretaris. “Kamu di sini?”
Gilang tersenyum paksa. Ia berdiri, lalu menunjuk ruangan Elok dengan malas. “Bu Elok lagi ada di ruangan pak Adi, jadi, silakan tunggu di ruangannya.”
“Oh …” Tatapan Bumi jatuh pada Kiya, yang sedari tadi sibuk membaca sebuah berkas. Gadis itu bahkan tidak melihat, atau menyapanya sama sekali. “Siang, Ki.”
“Hm.” Hanya gumaman yang Kiya berikan pada Bumi. Tanpa lirikan, ataupun senyuman untuk sekadar berbasa-basi. Walau hubugngan Kiya tidak terlalu lama dengan Bumi, tetapi luka yang ditorehkan karena penolakan pria itu, sungguh sangat membekas di hatinya. Hanya karena status Kiya yang seorang janda, dan memilki seorang anak, Bumi memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan mereka.
Cinta katanya? Semua itu hanya omong kosong semata!