Orang Pertama

1202 Kata
Kiya menelan ludah. Menatap Adi dan Elok yang berada di depannya secara bergantian. Kemudian, ia tertunduk dan menghela panjang karena memikirkan nasibnya saat ini. Gilang sungguh keterlaluan, karena sudah membongkar rahasia yang selama ini Kiya simpan rapat-rapat. Hanya satu harapan Kiya saat ini, jangan sampai kedua orang itu memecatnya. Banyak hal yang belum Kiya selesaikan, termasuk biaya sekolah Duta yang memang tidak murah. Karena ingin memberi semua yang terbaik, maka Kiya juga menyekolahkan putranya di tempat yang terbaik pula. “Jadi Ki, saya mau dengar semuanya dari mulut kamu sendiri,” pinta Elok. “Pak Adi dan saya di sini, sudah nganggap kamu itu seperti keluarga sendiri, jadi, ceritakan semuanya dan nggak perlu sungkan.” “Dan jangan ada lagi yang ditutupi,” tambah Adi bersedekap tegak menatap Kiya. Sulit dipercaya, bila Kiya memang benar sudah memiliki suami dan seorang putra. Bahkan, usia putranya lebih tua satu tahun daripada Kasih. Sementara itu, selama ini Kiya selalu bekerja tanpa mengenal waktu dan tidak pernah meminta izin di luar batasnya. Bagaimana bila putranya sakit? Atau … meminta Kiya datang ketika ada acara di sekolah? “Sebelumnya …” Kiya berusaha menatap Elok, meskipun banyak rasa bersalah yang tidak bisa diungkap. “Saya minta maaf, terutama sama Ibu. Dari awal, saya memang sudah bohong dengan status saya. Dan … semua yang diomongkan mas Gilang itu … benar. Saya sudah menikah dan punya anak laki-laki.” Adi dan Elok sama-sama menghela panjang. Akhirnya, kebenaran itu sudah terkuak di depan mata. “Kenapa nggak bilang dari awal?” Elok mengusap perutnya. Memandang Kiya dengan perasaan bingung. Kenapa Kiya sampai harus banting tulang menjadi asisten Elok, sementara gadis itu memiliki seorang suami? Tidak jarang Elok membawa Kiya ke luar negeri, untuk menemaninya liburan di kala akhir pekan atau urusan kerja di hari-hari biasa. Kiya juga kerap menjaga Kasih, bila Elok terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ditambah, pekerjaan Kiya sebagai asisten pribadi Elok, sungguhlah tidak berbatas waktu, alias tidak memiliki jam kerja. Kapan pun Elok membutuhkan Kiya, maka gadis itu harus selalu siap sedia. Karena memang itulah resiko yang harus diterima, bila hendak menjadi asisten pribadi seorang Elok Mahardika. “Karena, lowongan yang Bu El buka waktu itu … butuhnya perempuan single,” terang Kiya. “Waktu itu status saya memang single, Bu, tapi punya anak satu. Jadi sa—” “Wait, wait,” sela Elok mulai mendapat pencerahan, atas pertanyaan yang ada di kepalanya barusan. “Kamu single, tapi punya anak?” Kiya mengangguk. “Saya sudah cerai dari suami saya.” “Kapan?” Elok segera menggeleng. “Kamu kerja sama saya itu sekitar umur-umur 20, 21, kan, ya? Tapi kamu sudah cerai?” Kiya tersenyum datar. “Saya nikah cuma satu tahun setengah, Bu. Lulus SMA langsung nikah karena … nggak pernah mikir ke depannya harus gimana?” “Dan cerai karena?” tanya Adi kembali membuka suara. “Ekonomi, Pak.” Kalau sudah seperti ini, Kiya tidak bisa lagi berbohong dengan keluarga Mahardika. Jalan satu-satunya hanyalah mengutarakan semuanya. Untuk keputusan akhir, Kiya sudah memasrahkan semuanya dan tidak berani berharap banyak. “Suami saya dulu cuma lulusan SMA, dan kerjaannya nggak pasti. Sementara kami juga punya bayi, jadi … sekali lagi saya minta maaf, Pak, Bu. Saya nggak pernah punya niat untuk bohongin Bu El, waktu itu. Cuma, saya takut bakal nggak diterima, karena saya tahu gimana resiko kerja jadi asisten pribadi.” Alasan Kiya cukup masuk akal. Saat itu, Elok memang hanya mencari kriteria wanita single. Tidak memiliki tanggungan, karena tanggung jawab pekerjaan yang mengharuskan asistennya selalu siap sedia. “Duta,” celetuk Elok menyebut nama putra Kiya, yang ia ketahui dari Gilang. “Nama anakmu Duta, kan?” “Iya, Bu.” “Jadi selama ini, ibu kamu yang urus?” “Ibu bantuin jaga dari sore ke malam, kalau saya masih kerja,” angguk Kiya. “Karena Duta saya taruh di sekolah full day.” Usapan Elok pada perutnya terhenti. Elok saja tidak menyekolahkan putrinya di sekolah yang berbasis full day, tetapi Kiya? “Ya sudah. Mau bagaimana lagi.” Adi berceletuk sembari bangkit, lalu berjalan ke meja kerjanya. Ia sampai harus kembali ke kantor di penghujung sore, karena Elok mengatakan ada hal penting yang harus didiskusikan. Untuk masalah Kiya, Adi rasa ia tidak perlu berkomentar banyak. Secara garis besar, Adi sudah bisa menarik kesimpulan dan semua itu tidak perlu lagi dipermasalahkan. Menjadi seorang ibu, memang tidak mudah, apalagi didera dengan kesulitan ekonomi. Yang terpenting, selama ini kinerja Kiya tidak pernah bermasalah dan gadis itu selalu setia dengan keluarga Mahardika. “Apa saya dipecat, Pak.” Kiya menggeser posisi duduknya ke arah meja kerja Adi. “Pak Adi mau mecat saya karena—” “Siapa yang mau mecat kamu,” putus Adi kemudian duduk bersandar pada meja kerjanya. “Sudah waktunya pulang, jadi pulanglah.” “Jadi, besok? Apa besok—” “Kiya, Sayang,” sela Elok bisa melihat kegugupan dan rasa gusar dari gestur Kiya. Ia juga tidak ingin membahas mengenai pernikahan terdahulu Kiya, karena Elok juga tidak ingin masa lalunya dengan Harry diungkit oleh siapa pun. Pada intinya, Elok bisa mengerti dengan perasaan Kiya saat ini. “Pulang, dan besok kamu tetap bekerja seperti biasa. Nggak ada yang berubah. Tapi saya pesan, jangan lagi merahasiakan sesuatu yang penting seperti ini ke depannya. Kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung bicara dan cerita sama saya. Paham, ya?” Kiya mengangguk lega, dan penuh rasa syukur. “Terima kasih banyak Bu, El, Pak Adi.” ~~~~ Brakk! Baru saja datang, tetapi Kiya sudah membanting beberapa berkas yang diambilnya dari gudang arsip di meja Gilang. Sakit hati? Jelas! Mulai hari ini, Kiya akan membalaskan rasa sakit hatinya pada Gilang. Pria itu sudah membocorkan semua rahasianya, walaupun ujungnya berakhir bahagia. Namun, sebagai seorang wanita, Kiya jelas memiliki kekesalan yang terpendam dan harus ia lampiaskan pada putra pemilik Jurnal itu. Kemudian, Kiya meletakkan tasnya di atas tumpukan berkas dan mengeluarkan sebuah map. Dari dalam sana, Kiya mengeluarkan selembar kertas bermaterai, yang pernah ditandatanganinya bersama Gilang. Dengan kedua tangan, Kiya membentang kertas tersebut di hadapan Gilang dan merobek-robeknya menjadi serpihan kecil. “Karena mulai kemarin gue bukan lagi asisten lo, jadi, gua nggak akan lagi ngasih tahu apapun tentang seluk beluk yang ada di direksi Jurnal!” Lo … gue? Untuk beberapa saat, Gilang hanya terbengong-bengong dengan kehadiran Kiya. Gadis itu, sedang menumpahkan amarahnya, hingga melupakan sopan santun yang seharusnya ada di antara mereka, bila sedang berada di kantor. Pasti karena perihal Gilang membuka rahasia Kiya di depan Elok. “Ini kantor, Ki,” sahut Gilang sambil menatap koridor lift sesekali. “Gue tahu.” Kiya bertolak pinggang, dan ikut melarikan tatapannya pada koridor lift. Karena hari masih terlalu pagi, maka Kiya bisa memuaskan hatinya untuk meluapkan amarah pada Gilang. “Dan gue cuma mau bilang sama lo, jangan pernah lagi ikut campur dengan hidup gue! Dan perjanjian kita resmi batal hari ini!” Gilang berdecih, kemudian bersandar pada kursinya. “Lo kira, gue nggak mampu?” “Ya sudah! Kalau lo emang mampu, jangan lagi ngerepotin gue!” “Heh! Jangan songong jadi orang!” seru Gilang. “Di mata gue, lo itu cuma karyawan biasa. Ingat, begitu gue jadi CEO-nya, orang pertama yang langsung gue pecat … itu adalah LO!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN