Part 11 "Wajah bertopeng"

1923 Kata
Alexa menoleh ketika terdengar suara ketukan pintu di rumah nya. Dia melirik Dimitri dengan tatapan bertanya, mencoba mencari tahu siapa yang mengetuk pintu rumah nya di pagi hari. "Apa kita punya janji dengan seseorang di pagi ini?" tanya Alexa Dimitri menggeleng, "Entahlah. Biar saya buka, aura nya terasa familiar." Alexa menghabiskan roti sarapan nya dengan cepat. Dia menarik tas sekolah nya dan melangkah mengikuti Dimitri yang hendak pergi membuka pintu. 'Aura ini...' pikir Alexa termenung Dia membeku ditempatnya sementara Dimitri mempercepat langkah nya ketika mencium aroma darah seseorang yang familiar di hidung nya. "Nona, seseorang mencari anda." ujar Dimitri pada Alexa yang keberadaan nya tersembunyi di balik tembok Alexa menghela nafasnya dan melanjutkan langkahnya. Dia menatap hampa wajah datar Brian yang terlihat begitu Dimitri menyingkir dari tempatnya berdiri. "Ada apa?" tanya Alexa pelan Dia enggan menatap wajah Brian dan berakhir dengan menatap kosong udara di tempat lain. "Aku kesini untuk menjemputmu." jawab Brian datar Alexa tanpa sadar menahan tawa nya. Sedetik kemudian dia mengangkat kepalanya dan menatap lurus Brian. "Dalam rangka apa ini?" dengus Alexa "Tidak perlu repot repot. Aku akan pergi dengan Karina dan Leon." lanjut Alexa Sesaat setelah ucapan Alexa, perhatian ketiga nya teralihkan oleh suara deru mobil yang mendekat. Suara itu membuat Alexa berjinjit dan melihat mobil siapa yang datang dari balik bahu Brian. "Hmph Nona, anda bisa meminta saya untuk melihat siapa yang datang. Tidak perlu berjinjit." ujar Dimitri sambil menahan tawa nya Alexa hanya tersenyum tipis, enggan menyahuti nya. "ALEXAAA" seru Karina sambil keluar dari mobil dan berlari mendekati rumah Alexa Dia melirik Brian dengan tajam sebelum akhirnya kembali menatap Alexa dan menyunggingkan senyuman lebar nya. "Ayo! Supir pribadi kita sudah menunggu di mobil." ajak Karina "WOY!" protes Leon yang mendengar ucapan Karina soal supir pribadi. Pasalnya pria itu yang menyetir hari ini untuk membawa Karina dan Alexa ke sekolah. Alexa tertawa dan mengangguk. "Dimitri, aku pergi. Segeralah menyusul, aku mungkin akan pulang denganmu." perintah Alexa yang langsung diangguki dengan patuh oleh Dimitri Alexa melangkah keluar rumah. Dia berjalan melewati Brian yang masih berdiri di depan pintu tanpa meliriknya sama sekali. Karina tersenyum dan menggandeng lengan Alexa. Ketika keduanya mulai menjauh dari area rumah, Brian berlari dan memegang lengan Alexa yang bebas. "Dia pergi denganku." ujarnya dingin "Ah, ternyata dia adalah manusia. Aku kira Alexa sangat kurang kerjaan karena memajang patung mirip Brian di rumah nya." cetus Karina sinis Sementara Alexa melepaskan lengan Karina dari lengan nya. Brian sempat tersenyum penuh kemenangan saat melihat itu, tapi kemudian senyuman culas nya menghilang ketika Alexa justru turut melepas pegangan Brian dari lengan nya. Alexa menatap Brian dengan datar sebelum akhirnya kembali beringsut ke sisi Karina. Dia menarik lengan Karina untuk lebih cepat berjalan ke mobil Leon. Alexa menolak Brian tanpa suara. Hal itu membuat Brian mengepalkan tangan nya kesal. Dirinya sudah susah susah datang untuk mengajaknya pergi sekaligus meminta maaf, tapi Alexa justru menolak nya. Egonya tersindir begitu saja ketika melihat Alexa lebih memilih pergi dengan Karina dan Leon dibandingkan dengan nya. Ada rasa kesal yang sulit untuk dijelaskan oleh Brian. Dia kesal karena penolakan Alexa atau justru kesal karena dirinya telah membuang waktu dengan menjemput seseorang yang tidak ingin di jemput. Sementara Dimitri bersandar di kusen pintu dan tersenyum melihat Brian yang mengepalkan tangan nya. "Dia tidak akan bisa mengerti dirinya sendiri sebelum Ryan turun tangan." gumam Dimitri "Dasar manusia. Jalan pikiran nya sulit di mengerti." lanjutnya sambil berbalik dan menutup pintu, hendak bersiap dan mengikuti Nona nya ke sekolah ☸⚛☸⚛☸ "Alexa, sedang apa Brian di rumah mu?" tanya Karina Alexa mengangkat kepala nya yang sedari tadi tertunduk, dia menipiskan bibirnya sejenak sebelum akhirnya menggeleng. "Aku tidak tahu. Dia mengajak ku pergi ke sekolah dengan nya." jawab Alexa Karina mengerutkan dahinya dan memutar tubuhnya ke belakang, menatap Alexa yang duduk di kursi belakang. "Kira kira apa yang akan dia katakan di perjalanan?" tanya Karina Alexa hanya tersenyum dan menghembuskan nafasnya, "Entah. Aku tidak mau mendengar kata kata menyakitkan lain nya." Karina termenung sejenak sebelum akhirnya kembali membalikan tubuhnya menghadap ke depan. "Jika aku jadi kau, aku juga tidak akan mau bersama dengan orang yang sudah memukulku." jujur Karina "Kemarin Brian benar benar menyeramkan." lanjutnya Leon mengangguk setuju, "Aku kemarin kelepasan memukulnya. Doakan aku agar Brian tidak akan memukulku balik." Karina berdecih mendengar ucapan Leon yang seperti ketakutan. Padahal pria itu kemarin menahan nya mati matian, tapi malah dia juga yang membalas perlakuan Brian. "Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu setelah kemarin kau berkali-kali memukul Brian?" decih Karina Leon berdeham sebelum akhirnya melirik Karina dengan seulas cengiran. "Kemarin aku sangat kesal melihat Brian kelewat batas. Setelah aku cukup waras, aku mulai ketakutan." kilah Leon Alexa tertawa kecil mendengar ucapan Leon. Pria itu sepertinya memang tidak terlalu suka campur tangan dalam semua kelakuan Brian. Tapi yang kemarin lain ceritanya. "Tenang saja, Leon. Aku akan membela mu jika Paman Ryan memanggilmu ke ruangan nya." sahut Alexa Leon menipiskan bibirnya dan menatap Alexa dengan pasrah, "Benar ya? Jangan seperti Karina. Dia bilang dia tidak akan membantuku jika Tuan Ryan memanggilku." "AKU HANYA BERCANDA." seru Karina kesal "Bagaimana pun tindakan mu kemarin tidak bisa disalahkan. Kau kan hanya membalas perbuatan Brian. Jika berita ini sampai ke Paman Ryan pun, dia hanya akan memarahi anaknya." jelas Alexa "Tenang, relaks. Aku yakin berita ini sudah sampai pada Tuan Ryan." ujar Karina santai "Karena kemarin ada beberapa staff sekolah yang melihat kejadian itu. Mereka pasti akan langsung bertindak melihat kekerasan dihadapan mata mereka sendiri." sambung Karina sambil tersenyum culas Alexa mengangguk kecil. "Mungkin itu juga alasan kenapa Brian menjemputku. Dia pasti terpaksa melakukan nya atas perintah dari Paman Ryan." sahut Alexa Untuk yang satu ini, Leon termenung sesaat sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. Terlihat tidak setuju dengan ucapan Alexa. "Untuk yang satu ini, aku kurang setuju. Entah kenapa aku bisa melihat sebersit perasaan bersalah Brian pada Alexa kemarin ketika dia melihat kita memapah Alexa ke dalam kelas." sangkal Leon "Walau tadi aku tidak melihat wajahnya secara jelas, aku kira mungkin Brian hanya ingin meminta maaf padamu." lanjut Leon Opini dari Leon membuat Karina menatap pria itu dengan kesal dan berdecak malas. "Sebenarnya kau ada di pihak siapa, ha?" tanya Karina kesal "Aku dipihak netral. Tapi jika membela Brian membuatku terhindar dari hukuman, aku akan melakukan nya." jawab Leon sambil tertawa "Cih, si bodoh ini." decak Karina "Tidak, aku bercanda. Aku memang merasa seperti itu. Tapi kenyataan nya, siapa yang tahu? Tidak ada yang pernah mengerti jalur pikiran Brian bahkan Tuan Ryan selaku ayahnya sendiri." ralat Leon ketika melihat wajah Karina semakin keruh dan menyeramkan Sementara Alexa termenung di belakangnya. Dia juga mengingat dengan jelas rasa bersalah yang sempat berada di mata Brian. ☸⚛☸⚛☸ Mobil Leon datang bersamaan dengan motor Brian. Pria itu menghentikan motornya di samping mobil Leon dan menatap mobil itu dengan lekat. "Dia tidak sedang menunggu untuk memukuli ku kan?" tanya Leon ngeri "Tidak, sepertinya bukan." sahut Alexa Sementara Karina malah menakut nakuti Leon dengan ucapan ucapan nya. "Wahh, jangan jangan dia kesini untuk mencegahmu." "Jangan jangan dia kesini untuk membalas perbuatan mu padanya karena telah memukul wajahnya." "Leon kau harus berhati hati." Dan ucapan menyebalkan lainnya yang membuat Leon menatap Karina dengan wajah datar setengah kesal. "Kau tidak membantu sama sekali." dengus Leon Mendengarnya, Karina malah tertawa puas. Sedangkan Alexa hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Dia meraih tas nya yang disimpan disamping nya. "Kita keluar? Aku kira sebentar lagi bell akan berbunyi." tanya Alexa "Ayo. Biarkan Leon menghadapi Brian sendiri." jawab Karina sambil tertawa puas Sementara Leon mendengus kesal dan mencabut kunci mobilnya. Dia berdecak sambil membuka pintu mobil, mencoba memberanikan dirinya jika memang Brian sedang mencari nya untuk membalas pukulan kemarin. Tapi sedikit ketakutan Leon justru menghilang setelah Brian hanya melewatinya dan berjalan ke arah lain. Yaitu ke arah Alexa yang sedang tertawa bersama Karina karena melihat wajah tegang Leon. "Ikut aku." ujar Brian sambil meraih tangan Alexa dan menyeret perempuan itu dengan langkah lebar "Mau kemana?" tanya Leon sambil menarik tangan Alexa agar menjauh dari Brian "Bukan urusan mu." jawab Brian pada Leon "Sepertinya status anak ketua yayasan yang kau sandang membuatmu lupa siapa aku ya? Aku ketua kelas dan ketua dewan di sekolah ini. Kau sudah melakukan kekerasan pada Alexa kemarin, jadi jangan harap aku membiarkan mu berbicara dengan Alexa dari jarak dekat." jelas Leon Brian mengeraskan rahang nya, kesal sekaligus menahan emosi karena ketiga nya sudah menjadi pusat perhatian di lapangan luas itu. Beberapa mungkin mengira ada cinta segitiga diantara Alexa, Brian dan Leon. Nyatanya bukan cinta segitiga. Tapi ketegangan segitiga yang ada. Hingga ketegangan itu terpecah oleh bell pertama tanda kelas akan segera di mulai. Hal itu membuat semua yang menyaksikan menghela nafas kesal karena kehilangan tontonan menarik di pagi hari. Karina dengan cepat menarik Alexa dan berjalan cepat menuju ke kelas mereka. "Wah, sekilas aku kira tadi aku melihat sinetron." bisik Karina "Sinetron apanya, Karina? Tanganku sakit." balas Alexa sambil meringis kecil dan memperlihatkan kedua pergelangan tangan nya yang memerah Karina turut meringis dan melepaskan rangkulan nya pada lengan Alexa. "Sorry." ringisnya kecil Alexa tersenyum dan mengangguk. Tatapan nya mengarah pada lapangan luas di bawah. Leon dan Brian masih berhadapan disana. Keduanya sepertinya terlibat dalam pembicaraan yang alot. Melihat bagaimana wajah Leon memerah menahan kesal dan rahang Brian yang mengeras. Entah apa yang keduanya bicarakan, tapi mereka sepertinya mengobrol dengan suara rendah. Terbukti dari tidak ada suara yang dapat Alexa dengar dari jarak sedekat ini. Bagi manusia biasa mungkin tidak aneh. Tapi tidak dengan Alexa yang seorang Vampire. Seharusnya dari jarak se dekat ini, Alexa dapat mendengar percakapan mereka. Alexa berhenti berfikir ketika kaki nya melangkah memasuki kelas. Dapat dia lihat jika Sarah ada di tempat nya duduk. Postur lemas nya langsung tegak seketika ketika melihat Alexa, seakan ingin menarik perhatian Alex agar menoleh padanya. Tapi masa bodoh, Alexa sudah lelah dan tidak peduli dengan drama apa dan seperti apa yang sedang perempuan itu lakukan. Alexa hanya ingin hidup dengan tenang di dunia manusia tanpa tekanan apapun. Dan keadaan dimana Brian sering berlaku kasar padanya sangat membuat Alexa tertekan dalam hal itu. Terlebih ikatan mate sepihak yang ada diantara mereka sangat menyiksa Alexa sebagai satu satunya pihak yang merasakan ikatan itu. Alexa menolehkan kepalanya ketika melihat Leon dan Brian memasuki kelas. Leon terlihat memasang wajah datar, pria itu hanya tersenyum sesekali saat ada yang menyapa nya. "Psstt, ada apa?" tanya Karina setengah berbisik sesaat setelah Leon duduk di kursi nya "Tidak ada apa apa. Hanya saja aku kesal setelah berdebat dengan Brian." balas Leon berbisik Karina menipiskan bibirnya dan menarik kembali tubuhnya. Sementara itu, Alexa menghentikan kegiatan membaca buku nya. Dia mengerutkan dahi ketika mencium aroma khas dari makhluk immortal sepertinya, lengkap dengan aura khas seorang pemimpin yang semakin mendekat. "Aku dengar ada murid baru." seorang siswa berujar pelan "Ohh ya? Perempuan atau laki laki?" sahut seorang perempuan yang mendengar ucapan pelan itu "Sepertinya laki-laki. Aku mendengar suaranya di ruangan Tuan Ryan. Tapi disana aku juga melihat asisten Alexa, Tuan Dimitri." jawab siswa pertama Alexa mengerutkan dahinya ketika mendengar itu. Dia menegakkan tubuhnya, mencoba memfokuskan pendengaran nya pada suara berat dua pria di luar kelas. Pintu kelas terbuka. Seorang pria berjalan tegas dengan wajah datar yang terlihat seperti dibuat oleh pemahat patung ahli. Pria muda dengan seragam sekolah itu berhenti di tengah dan tersenyum tipis. Hanya senyuman tipis, memang. Tapi berhasil membuat beberapa siswi terpekik heboh melihatnya. Termasuk Karina. Lain hal nya dengan Alexa. Dia menatap seorang pria yang disebut sebut sebagai murid baru itu dengan raut yang sangat terkejut. 'Gabriel. Anak dari Alpha Nichalas. Sedang apa dia disini?' :: Author Note:: Gabriel, anak dari Alpha Nichalas. Minat buat jadi pasangan nya?? ? Semua kaum Werewolf terkenal setia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN