Part 6

1264 Kata
Alexa menghirup nafas dalam dalam. Dia memejamkan matanya, mencium aroma yang familiar tapi kali ini lebih menggoda. "Darah siapa ini?" gumam Alexa Dia berjalan perlahan mengikuti aroma darah yang menggoda dirinya sendiri. Langkahnya berhenti pada tempat parkir yang terletak tak jauh dari lapangan sekolahnya. "Brian?" bisik Alexa Dia berjalan menjauh dari tempat parkir sambil menggerutu. "Apa apaan ini?! Kemarin kemarin darahnya biasa saja tapi sekarang bisa sewangi ini. Aku tidak lupa meminun ramuan, aku tidak lupa apapun yang bisa membuatku tergoda pada darah manusia." cicit Alexa gundah Dia berjalan cepat memasuki kelasnya dan langsung duduk di samping Karina. Alexa menatap Karina dengan bibir melengkung ke bawah. "Ada apa? Sesuatu membuat mu sedih?" tanya Karina yang memang peka terhadap semua hal "Tidak juga. Aku sedang bingung." jawab Alexa Karina mengalihkan semua perhatian nya pada Alexa sambil menyunggingkan senyuman menggoda. "Hooo, apa kau menerima banyak surat cinta hingga membuatmu bingung akan membaca yang mana terlebih dulu?" tanya Karina jahil "Bukan." jawab Alexa singkat Karina mendengus dan meraih sesuatu dari dalam tasnya. Dia menjerit kecil dan langsung menarik tangan nya kembali. "Astaga, berdarah!" kesal Karina Alexa menatap jari Karina yang berdarah. Dia mengerutkan dahinya ketika tidak merasakan apapun. Alexa meraih plester dan tissue basah. Dia menyerahkan dua benda itu pada Karina. 'Tunggu. Berarti ini bukan karena darah manusia.' pikir Alexa Dia menyentuh d**a nya yang berdebar kencang. 'Mate? Siapa?' lanjut Alexa. Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Alexa menghirup nafas nya dalam dalam. Dia melirik ke arah pintu, Brian dan Sarah baru memasuki kelas bersamaan. Sebuah sirine tanda peringatan yang ada di diri Alexa berbunyi. Dia tertawa kecil sebelum akhirnya mendesah pelan. 'Tidak mungkin Brian mateku.' pikirnya lelah Alexa menelungkupkan kepalanya pada meja. Dia tahu Brian tidak akan menyadari apapun soal hubungan mate. Walau pria itu adalah anak dari seorang pemilik darah murni, tapi Brian justru buta soal Underworld. Mendekati Brian secara tiba tiba juga tidak mungkin Alexa lakukan. Dia bukan tipe perempuan yang mau berjuang untuk seseorang yang tidak mau diperjuangkan. Suara bel yang berbunyi nyaring membuat Alexa bangun dari lamunan nya sendiri. Dia menegakan tubuhnya dan bersiap akan mengeluarkan sebuah buku ketika Karina menepuk pundaknya dan menatap Alexa dengan aneh. "Ini jam olahraga, Alexa. Untuk apa kau mengeluarkan buku?" tanya Karina Alexa mengerjapkan matanya dan tertawa kecil. "Kau benar. Aku lupa." sahutnya Karina tertawa dan beranjak dari duduknya. "Ayo, Alexa. Kita harus mengambil baju di loker dan mengganti baju kita." ajak Karina yang dengan cepat diangguki oleh Alexa "Tunggu!" seruan seseorang membuat mereka menghentikan langkahnya "Boleh aku ikut?" tanya Sarah Karina menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu mengikuti kami. Kau bisa bergabung dengan yang lain." tolak Karina Alexa melirik Brian dengan takut takut ketika mendengar Karina menolak Sarah. Raut pria itu berubah semakin dingin ketika mendengar ucapan Karina. "Dengar, walau banyak orang tidak mempercayai ucapanku, tapi aku tidak akan lupa tentang apa yang sudah kau lakukan pada kembaranku." ujar Karina Alexa memejamkan matanya ketika mendengar Brian yang menyimpan sesuatu di atas meja dengan suara keras. "Jangan mengikuti pembual itu, Sarah. Kau pergilah dengan siswi lain." Brian menekan kata 'pembual' Hal itu membuat Karina mengepalkan tangan nya geram. Dia menggandeng lengan Alexa dan menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. "Akan aku buktikan jika aku bukan pembual seperti yang kau bilang. Jangan karena kau anak dari pemilik sekolah, kau bisa bertindak sesukamu. Ingatlah jika keluargaku juga memiliki saham di sekolah ini." seru Karina Dia melangkah cepat bersama Alexa setelahnya. "Karina... Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alexa dengan hati hati ketika melihat wajah Karina yang memerah menahan marah "Sarah membunuh kembaranku, Alexa. Aku tidak tahu dia kelainan atau apa. Tapi dia menenggelamkan kembaranku hingga tewas." jawab Karina "Adik ku memang bodoh. Sudah berkali kali aku bilang untuk tidak menyukai Brian. Pria itu adalah obsesi terbesar Sarah. Sarah tidak akan segan melakukan apapun agar tidak ada perempuan lain yang menyukai Brian." lanjut Karina Mendengar hal itu, Alexa semakin ciut. Walaupun dia Vampire, tapi dia tidak bisa membunuh manusia begitu saja. Alexa akan mendapat hukuman karena melakukan kejahatan. 'Lalu aku harus apa agar Brian bisa menerima ku sebagai mate nya?' tanya Alexa dalam hatinya ☸⚛☸⚛☸ Berdiri di samping Brian. Posisi ini diatur oleh guru olahraga mereka sendiri. Alexa diam diam menelan ludahnya gugup. Darah Brian terasa semakin menggodanya. Alexa meringis ketika melihat olahraga apa yang akan mereka lakukan hari ini. "Aku tidak bisa melakukan nya." gumam Alexa ketika mendengar perintah jika masing masing siswa harus memasukan bola basket ke dalam ring sebanyak sepuluh kali "Kau tidak bisa melakukan semua hal dengan baik." cemooh Brian Alexa melirik Brian sejenak sebelum akhirnya memusatkan kembali penglihatan nya ke depan. Mencoba menghiraukan ucapan Brian yang bergema di kepalanya. Alexa menangkap sebuah bola basket yang dilempar ke arahnya. Dia memantulkan sekali bola basket di tangan nya sebelum akhirnya berlari dan melempar bola nya ke dalam ring. Dia tersenyum tipis ketika melihat bola nya berhasil masuk dengan sempurna. Alexa menangkap kembali bola yang memantul di tanah. Dia mencoba melemparkan kembali bola nya ke dalam ring, tapi gagal. Bola itu tanpa sengaja mengarah pada Sarah yang tiba tiba berdiri di dekat ring. "Ck, bodoh sudah ku bilang kau tidak bisa melakukan apapun dengan baik!" sentak Brian sambil mendorong Alexa hingga terjatuh Dia berlari menghampiri Sarah dan memeriksa keadaan nya. Alexa dalam diam memejamkan matanya. 'Ayo Alexa, kau harus berlatih menerima penolakan lain dari Brian.' pikir Alexa Dia berjalan mendekat pada Sarah. "Maaf ya, aku tidak sengaja." ujar Alex tulus Brian melirik Alexa dengan tajam. Dia pergi begitu saja memapah Sarah untuk pergi ke ruang kesehatan. Sementara Alexa menghela nafasnya. 'Vampire mana yang di tolak oleh mate nya sendiri.' pikir Alexa "Kau baik baik saja?" tanya Leon tiba tiba "Ya." jawab Alexa singkat Leon tersenyum dan menepuk singkat kepala Alexa. "Ayo, akan aku ajarkan kau bermain basket." ajak Leon Alexa mengangguk dan menerima lemparan bola dari Leon. Dia mendengarkan instruksi dari Leon dengan baik sebelum akhirnya kembali mencoba melemparkan bola pada ring basket. Interaksi tadi terekam oleh Dimitri dan Ryan. "Nona ku terlihat sangat menyedihkan." gumam Dimitri "Tapi aku tidak bisa ikut campur pada hubungan mate nya." lanjut Dimitri Sementara Ryan menghela nafasnya. Anak satu satunya itu memang kasar. Bagaimana bisa Alexa mendapatkan mate seperti Brian. "Sifat anak itu berubah sejak Ibu nya meninggal. Dia mengetahui jika Ibu nya tewas karena Vampire." sahut Ryan "Tapi Brian tidak tahu jika Nona Alexa adalah Vampire kan?" tanya Dimitri "Tidak. Dia tidak tahu." jawab Ryan "Entah bagaimana reaksinya jika tahu suatu saat nanti dia harus bekerja sama dengan Alexa demi perdamaian dunia." lanjut Ryan Alexa berjalan menjauh dari lapang setelah dia berhasil mengambil nilai olahraga nya. Dia melambaikan tangan nya pada Leon dan mengucapkan terimakasih atas bantuan nya. Langkah Alexa berhenti ketika melihat Brian berada di hadapan nya dengan raut wajah menyeramkan. "Bisakah kau menjauh dari Sarah?!" bentak Brian pada Alexa "Kau pembawa sial!" seru nya Alexa terdiam mendengar ucapan dari Brian yang menusuk. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Brian dengan datar. "Apa tidak pernah ada yang memberitahumu sebelumnya jika ucapanmu sangat menyakiti orang lain?" tanya Alexa "Aku tidak sengaja. Lagipula kenapa tiba tiba Sarah berpindah tempat? Posisinya waktu awal sangat jauh dari ring. Tapi kenapa tiba tiba berpindah?" tanya Alexa lagi "Dengar, Brian. Lebih baik kau mengacuhkan ku daripada kau mengucapkan kata kata kasar padaku." ucap Alexa "Kita mungkin tidak saling mengenal. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya berbicara kasar padaku." lanjutnya Alexa pergi dengan tangan terkepal. Belum apa apa dirinya sudah kalah jauh dibandingkan Sarah. Alexa menunduk dan mengusap air mata yang tiba tiba keluar dari sudut matanya. "Sejak kecil aku tidak pernah mendengar ucapan menyakitkan seperti itu." lirih Alexa sambil melanjutkan langkahnya ke dalam ruang ganti "Ada apa?" tanya Karina "Karina... Apa aku pembawa sial?" balas Alexa "Apa apaan ucapanmu itu." sahut Karina "Seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan?" tanya Karina perhatian "Iya. Itu... Cukup menyakiti ku." gumam Alexa "Kau mirip dengan kembaranku, Alexa. Tolong jauhi Brian. Aku tahu dia yang mengucapkan itu." ujar Karina ☸⚛☸⚛☸ Sepulang sekolah, Alexa berjalan lesu menghampiri mobilnya. Dia hanya tersenyum tipis membalas sapaan dari Ryan. "Langsung pulang. Aku lelah." perintah Alexa pada Dimitri "Ya, Nona." jawab Dimitri Alexa menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya. Dia memejamkan matanya, mengingat kembali ucapan Brian padanya yang sangat menyakitkan. "Ada sesuatu yang mengganggu Nona?" tanya Dimitri "Dimitri, jika Brian... adalah dia mateku. Aku harus apa?" lirih Alexa "Tentu saja Nona harus mendapatkan Mate Nona. Nantinya dia akan membantu Nona mengurus tahta." ujar Dimitri Alexa menghela nafasnya dan menatap keluar jendela dengan kosong. "Aku pembawa sial untuknya." gumam Alexa "Dimitri, apa aku bisa menolak Mateku?" tanya Alexa Dimirti langsung mendongkak dan menatap Alexa dengan terkejut. "Nona, apa yang anda katakan? Kita hanya mendapatkan mate kita satu kali. Kita tidak akan pernah mendapat gantinya." tegur Dimitri "Aku tidak mau hidup dengan seseorang yang membenciku." gumam Alexa "Saya tidak percaya saya mengatakan ini. Tapi tolong jangan menyerah, Nona. Mungkin lebih baik anda mencoba mendekati mate anda secara perlahan." saran Dimitri "Entahlah. Aku yakin jika aku akan sangat menderita jika memiliki mate seperti Brian. Dia terlalu emosional dan pemarah. Ucapan nya bahkan sangat tajam dan bisa membuat orang sakit hati." sahut Alexa sambil menghela nafasnya Dimitri tertegun mendengarnya. "Seburuk apa perkataan nya hingga Nona berkata seperti ini?" tanya Dimitri "Sangat dan sangat buruk. Aku hampir tidak percaya jika dia adalah anak dari Paman Ryan." sahut Alexa "Tapi kau benar. Jika Mateku seburuk Brian, aku harus bisa mendapatkan nya. Takdir yang tertulis untukku tidak mungkin dibuat secara sembarangan." sambung Alexa Dimitri terdiam. "Mate Nona... Apakah anda sudah menemukan nya?" tanya Dimitri, memancing informasi dari Alexa Tapi Alexa hanya tersenyum menanggapinya. :: Author Note:: Diawal mungkin bakal sedikit bikin bosen. Tapi aku janji ketika mulai masuk konflik, cerita ini bakal lebih seru❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN