"Dimana suaminya?" tanya Mas yanto kepada Bu Ida. "Masih di sawah," jawab Bu Ida kembali panik. "Jemput dia, Bu!" titah Mas Yanto. "I-i-iya, Mas." Bu Ida melangkah keluar dari kamar Dahlia. "Kenapa aku bisa ngelupaian si Aji." Kudengar Bu Ida bermonolog lirih, tetapi aku masih bisa mendengarnya lamat-lamat. Sepertinya bakat mengupingku mulai mendarah daging. Telingaku sampai terbiasa dengan suara selirih apapun. "Dek, jaga Dahlia! Jangan kemana-mana!" titah Mas Yanto. Aku menganggguk pelan, sebenarnya jika mau jujur aku sangat takut dan bingung. Bagaimana tidak takut dan bingung? aku yang belum pernah menyaksikan dan merasakan melahirkan harus menemani wanita melahirkan. Berkali-kali aku menarik napas dan mengembuskan perlahan tanpa bersuara. Tanpa kusadari Dahlia mengikuti carak

