Chapter 8

1416 Kata
Laura terbangun dari mimpi yang cukup mengerikan. Keringat dingin membasahi dahinya. Begitu bangun dia langsung menuju ke dapur untuk mencari minum. Dia habiskan dua gelas air putih, karena benar-benar merasa sangat kehausan.  Mimpi itu terlihat nyata, menurutnya malah seperti pesan. Dia sama sekali tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Bisa jadi mimpi itu adalah rasa perasaan bersalahnya. Bukankah hubungan Claudia dan Samuel rusak gara-gara dia sampai Claudia harus melakukan bunuh diri. Yah, tidak sepenuhnya salah dia juga sih. Kan memang pada dasarnya Samuel memang bekerja di seputar pertinjaan. Hari ini dia akan pergi ke rumah duka untuk menghormati Claudia. Terlebih Claudia juga tinggal di tempat kosnya dan termasuk penghuni kos yang tidak pernah telat membayar. Claudia sendiri tinggal di tempat kosnya, karena menurut mendiang lebih dekat ke tempat kerja.  Pagi itu Laura sudah menghubungi Lola untuk menjemputnya. Mereka ingin berangkat bersama. Laura sengaja memilih gaun hitam elegan. Tidak terlalu menyolok, tetapi cukup berkelas. Tak butuh waktu lama baginya untuk menunggu Lola. Asisten setianya memakai celana dan blazer hitam.  “Kamu tahu rumahnya Claudia?” tanya Lola.  “Iya, dulu pas daftar ke kos dia memberitahukan alamat rumahnya kalau sewaktu-waktu ada sesuatu agar bisa menghubungi keluarganya,” jawab Laura.  “Oh ya ya, yuk berangkat. Keburu siang ntar,” ucap Lola.  Keduanya pun pergi meninggalkan rumah. Menuju ke rumah duka.  * * * Keluarga Lie terkenal pekerja keras. Segala pekerjaan akan ditekuni asalkan halal. Demikian yang selalu diajarkan oleh Markus Lie. Sebab, bagi keluarga Samuel, halal adalah harga diri. Makanya meskipun pekerjaannya adalah sebagai pemilik jasa sedot WC, dia masih bisa bersyukur bisa makan dari hasil uang halal. Lebih baik jadi penyedot tinja daripada harus jadi penyedot uang rakyat. Memang mungkin bagi sebagian orang pekerjaannya hina. Bahkan, mendiang kekasihnya pun merasa malu punya pacar seperti dia.  Hari itu Samuel berkabung. Di dalam dirinya masih ada perasaan cinta kepada Claudia. Perempuan itu sudah dia kejar beberapa bulan ini, sayangnya semuanya kandas. Sebenarnya, Samuel bingung  apakah harus datang ke rumah duka atau tidak. Bahkan, sejak 30 menit yang lalu dirinya mematung dari kejauhan mengamati orang-orang berbaju hitam masuk ke rumah duka.    Orang-orang mulai memperhatikan Samuel yang hanya berdiri saja dari seberang jalan. Bukannya ia tak berani untuk masuk ke dalam hanya sekadar untuk mengatakan salam terakhir, tetapi ia merasa tak pantas untuk berada di sana, karena apa yang ada pada dirinya tak sesuai dengan yang diharapkan Claudia.  Dari dalam rumah duka, tiba-tiba seorang laki-laki muncul untuk menghampiri Samuel. Samuel langsung bisa mengenali orang itu. Laki-laki itu adalah Tomi, kakaknya Claudia. Tanpa babibu Tomi mendaratkan bogem mentah ke wajah Samuel. “b******k! Kenapa lo muncul di sini?” ucap Tomi.  Samuel sempat terhuyung akibat pukulan tersebut, tapi ia sanggup untuk menjaga keseimbangan agar tidak jatuh.  “Gara-gara lo adik gua meninggal. Jangan sampai gua melihat lo lagi di sini. Dasar kuli tai!” usir Tomi.  Samuel tak bisa berbuat banyak. Baginya tak ada lagi tempat di keluarga Claudia. Bahkan, untuk bisa mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kali saja tak bisa. Dengan lesu Samuel pergi dari tempat itu.  Kejadian itu secara langsung dilihat oleh Laura. Perempuan itu ternyata sudah ada di rumah duka. Laura tentu saja ikut melayat ke rumah Claudia, apalagi Claudia tinggal di kosnya. Kejadian ribut-ribut di luar membuatnya penasaran, sehingga menyaksikan aksi pemukulan yang dilakukan oleh Tomi terhadap Samuel. Rasa bersalah Claudia makin besar setelah melihat hal itu. Gadis itu buru-buru mengejar Samuel.  * * * Sengaja Samuel tak naik mobil pribadinya. Ia lebih memilih untuk naik Trans. Sedari tadi dia berjalan menyusuri trotoar, sebenarnya ia sudah sadar kalau diikuti Laura. Dadanya terasa sesak, karena kesal sekali. Gara-gara Laura, Claudia sampai seperti itu. Well, secara teknis bukan salah Laura sih, tapi kalau saja gadis itu tidak memanggilnya Tukang Tinja di depan Claudia, maka tidak akan seperti sekarang ini kejadiannya.  Samuel menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh ke belakang. Mengetahui Samuel sadar kalau diikuti tentu saja membuat Laura terkejut. Ya memangnya kenapa juga dia mengikuti cowok itu? Dan detik itulah dia bingung untuk menjawab apa yang sebenarnya dia lakukan.  “Ngapain lo buntutin gua?” tanya Samuel. “Aku...” “Belum puas lo melakukan semua ini?” Samuel mulai mencecarnya dengan kalimat-kalimat retoris, “Apalagi sekarang? Lo mau minta maaf? Memangnya semuanya selesai dengan minta maaf?” Samuel berjalan mendekat ke Laura. Gadis berponi itu terbelalak. Kebingungan apa yang harus ia lakukan, sehingga spontan dia berjalan mundur. Lucunya, Laura malah menutupi wajah untuk melindungi dirinya dari cecaran Samuel. Memangnya ada alasan lain selain minta maaf? “Iya, gue minta maaf. Memangnya gue harus ngapain? Gue minta maaf dengan tulus,” ucap Laura sambil ketakutan. Dia tak berani menatap wajah Samuel. Samuel mendengkus kesal. Cowok itu merogoh saku celananya setelah itu menyerahkan sesuatu kepada Laura. “Buka wajah lo!” pinta Samuel. “Enggak, enggak mau, entar lo gigit,” ucap Laura. “Grrr!! gua gigit beneran lo mau?”  Laura perlahan-lahan membuka tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya. Saat itulah ia merasa ada yang lain dengan wajah Samuel. Cowok itu bak cowok-cowok korea ataupun tokoh-tokoh cowok di webtoon atau manhwa dengan gemerlap bintang-bintang di sekitarnya. Apalagi ada benda yang tidak asing di tangan Samuel yaitu, ponsel miliknya terbungkus plastik. “Eh, ini?” tanya Samuel. “Gue berhasil menemukan hape lo. Gue terpaksa nyebur ke tanki tinja cuma buat ngambil. Sudah puas? Gue terpaksa bungkus pake plastik. Baunya bikin orang semaput. Lo masih mau nyelametin datanya? Gue kira tukang servisnya bisa pingsan duluan sebelum benerin.” Laura menerima begitu saja. Entah kenapa dia jadi berdebar-debar. Kalau diingat-ingat awal perjumpaan mereka memanglah epic. Namun, kali ini di benaknya masih terbayang-bayang bagaimana rasanya didekap oleh d**a bidangnya Samuel, perut roti sobeknya Samuel, biarpun do’i ini juragan sedot tinja, tapi ganteng. Atletis. Pekerja keras.  Laura hanya bisa memandangi Samuel dari kejauhan melangkah pergi untuk menuju ke halte busway. Masih dengan mematung, Laura menyaksikan cowok itu masuk ke Bus Trans-J. Saat ini gadis ini kebingungan. Antara rasa bersalah dan rasa ingin memiliki.  “Lau!” panggil Lola dari kejauhan. Sang Asisten berlari-lari kecil menghampiri majikannya macam anak anjing mengejar induknya. Setelah sampai di dekat Laura, Lola yang terengah-engah mulai mengatur napasnya. “Sialan, lo ngapain sih tadi pakai pergi segala? Hei? Sadar woy!” Lola terpaksa menepuk pundak Laura untuk menyadarkannya. Laura pun tersentak. “Eh, ada apa, La?” “Astaga tai naga. Lo ini yang ada apa? Dari tadi mematung? Kesambet?” tanya Lola. “Eh, enggak apa-apa. Hapeku udah balik. Yuk pulang!” ajak Laura.  Melihat tingkah aneh Laura, Lola memutar bola matanya. Apa ada sesuatu yang terjadi antara dia dengan Samuel?  *  * * Esoknya bukan hari yang sama bagi Laura. Saat ini dia tidak tenang. Urusan hapenya sudah beres, meskipun sekarang sedang menunggu laporan dari tukang servis yang sedang memperbaiki hapenya. Hari ini perasaan Laura tak tenang. Bagaimana tidak? Saat tidur dia memimpikan Samuel. Bahkan entah bagaimana dia bisa bermimpi yang aneh. Di dalam mimpinya Samuel berpose telanjang d**a dengan rambut basahnya. Senyumannya, d**a bidangnya, dan tentu saja perut roti sobeknya. “Cari Roti Roti Cari Roti” nah benar sekali, seperti itu suaranya. Ajaibnya Laura terbangun dari mimpinya saat mendengarkan suara penjual roti tersebut. Gadis itu mengerang, karena terbangun dari mimpi indahnya. Namun, ia bersyukur di dalam mimpi tersebut ia tidak terlalu jauh. Bisa-bisa kalau sampai mimpi jorok bayangin Samuel bisa ditertawakan oleh Lola.  Tidak hanya itu saja. Saat dia membuat kopi paginya bayangan wajah Samuel bisa tercermin begitu jelas di permukaan kopinya. Demi tahi naga, apa pula ini? Laura sampai menyingkirkan kopinya hingga tak ingin meminumnya. Urusannya belum beres untuk bisa membersihkan namanya dari gosip yang menimpa dirinya saat ini. Kalau ini sampai terus terjadi, bisa-bisa ia nggak bisa dapat penghasilan dari endorse lagi. Makanya mau tak mau ia akan mencoba mencari cara untuk bisa keluar dari permasalahan ini. Sekaligus ingin melakukan ini sebagai permohonan maafnya kepada Samuel. Laura segera mandi, berdandan yang cantik. Riasannya pun terlihat tidak biasa. Lebih sensual. Lola baru datang dari tukang servis saat melihat Laura berpenampilan berbeda. “Lo kesambet lagi?” tanya Lola. Laura tak menjawab.  “Jadi gini. Hape lo nyaris bikin pingsan orang-orang di tempat servis. Untungnya mereka bersedia dibayar mahal hanya untuk hape bau tinja. Bersyukurlah kita tidak dituntut. Tukang servisnya bilang datanya bisa diselamatkan,” ucap Lola. “Anterin gue!” pinta Laura.  “Kemana?” tanya Lola.  “Cari roti sobek,” jawab Laura, “Eh, maksudku ke tempatnya Samuel.” “Ngapain? 'kan hape lo udah balik.” “Gue mau jadi model iklan perusahaan Samuel,” jawab Laura. “HAAH??” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN