Belum sempat Laura memikirkan solusi untuk masalah yang menimpanya saat ini, muncul masalah baru lagi di kehidupannya. Pagi yang seharusnya tenang itu berubah menjadi berisik. Hiruk-pikuk seperti pasar membuat tidur Laura yang baru sekejap saja langsung terbangun. Ia mengerang malas untuk beranjak dari ranjangnya karena ia menebak jika keributan di luar sana pastilah wartawan yang masih tidak menyerah untuk berusaha mewawancarainya.
Laura menarik bantal untuk menutupi wajahnya karena tidak ingin mendengarkan keributan itu. Namun, Lola mendadak berhambur masuk ke kamar Laura dengan ekspresi tegang. Ia mengguncang tubuh Laura dengan keras secepat mungkin.
“Lau, Bangun! Kita ada masalah!” serunya dengan keringat bercucuran.
Laura berdecak sebal karena semuanya sudah menjadi masalah baginya, kontrak diputus, cinta yang bertepuk sebelah tangan, nah sekarang mau apa lagi?
“Apa? Wartawan lagi? Udah, cuekkin aja. Nanti juga pergi sendiri tuh orang-orang gak ada kerjaan,” gerutunya. Namun, Lola menggeleng cepat.
“Bukan! Bukan masalah itu! Ini masalah lain lagi! Ini masalah kos lo!”
Laura mengerutkan keningnya, “Kos? Emang kenapa? Ada yang digerebek pacaran?”
Lola menggeleng kembali, “Bukan! Ada yang mati di kos lo!”
Otomatis mata Laura terbuka lebar dan rasa kantuk hilang seketika. Laura beranjak cepat tanpa berusaha menunggu tubuhnya terbiasa terlebih dahulu. Tanpa menunggu penjelasan Lola, Laura langsung berlari keluar dari rumahnya menuju tempat kos miliknya.
Dengan cepat, Laura menyingkirkan kerumunan itu untuk melihat apa yang terjadi. Bahkan mobil polisi sudah tiba juga di sana dan garis polisi telah dibentangkan di depan sebuah kamar bernomor empat yang dikenali Laura.
Jantung Laura mencelos karena ia tahu siapa penghuni kamar nomor empat itu, Claudia Dreuno.
Mata Laura kembali membelalak melihat tubuh Claudia bergelantungan di tengah-tengah ruangan. Ia baru saja bunuh diri.
Seorang polisi menghampiri Laura, “Mohon maaf bu, apa ibu Laura Withdraw?” tanyanya serius. Jantung Laura berdegup kencang, apa kematiannya ada kaitannya dengannya?
“Y-ya… saya Laura Withdraw,” gumam Laura dengan sedikit gugup.
“Baiklah Ibu Laura, penghuni kos anda, Nona Claudia Dreuno ditemukan meninggal dunia tadi malam. Kami membutuhkan kesaksian anda sebagai pemilik kos,” ucap si polisi.
Laura menghela napas lega. Sepertinya ia tidak ada urusan dengan kematian Claudia dan memberikan kesaksian hanya sebagai pemilik kos tidak akan menyulitkannya. Namun, tiba-tiba sang polisi memberitahunya sesuatu.
“Nona Claudia meninggal karena bunuh diri dan besar kemungkinannya karena patah hati. Ada surat peninggalannya di lantai dan kami sudah mengkonfirmasi teman-temannya yang mengenali tulisan Nona Claudia. Ini benar-benar surat peninggalannya,” sang Polisi memberikan secarik kertas yang telah dibungkus plastik kepada Laura yang menerimanya. Gadis itu membaca surat itu dan matanya kembali membelalak. Tangannya bahkan sedikit gemetar sehingga ia harus berusaha menutupinya.
Samuel… maafkan kepergianku…
Sebenarnya aku sangat mencintaimu… hanya saja aku tidak bisa menerima ucapan yang akan diberikan orangtuaku jika mereka tahu pekerjaanmu…
Aku juga tahu kau tidak mungkin melepaskan pekerjaanmu karena aku telah pergi melihat kantormu diam-diam dan menemukan slogan di depan kantormu, ‘Rejekiku berasal dari pantatmu’.
Kau nampaknya sangat menyukai pekerjaanmu…
Aku tahu pekerjaanmu tidak salah. Tapi, tetap saja aku malu.
Aku tidak ingin melepaskanmu, tapi aku harus melakukannya dan aku berpikir aku tidak bisa hidup tanpamu.
Aku yang terlalu gengsi untuk meminta kembali padamu akhirnya memilih keputusan yang sangat bodoh ini.
Maafkan aku…
Laura mendekap bibirnya karena secara tidak langsung yang menyebabkan mereka putus adalah karena teriakannya yang langsung membuka rahasia Samuel. Jika saja ia tidak berteriak menyebut pekerjaan Samuel, Claudia pasti tidak tahu dan mereka tetap akan berakhir bahagia. Laura mengutuki keegoisannya yang sempat mengharapkan mereka putus dan akhirnya terjadi juga. Namun, ia tidak berharap jika Claudia akan berpikiran sempit seperti ini untuk melakukan bunuh diri.
“Bu? Ibu Laura? Ada apa, Bu? Apa ibu bisa memberikan kesaksian?” teguran sang polisi langsung mengaburkan lamunan Laura.
“A-ah ya… ya, bisa pak,” Laura mengangguk gugup dan ia mengikuti sang polisi untuk pergi ke kantor.
Setelah melalui interogasi yang cukup melelahkan, Laura pulang ke rumahnya dan menghempaskan tubuhnya dengan lelah. Kata-kata polisi tadi membuat pikiran Laura semakin kusut.
“Kami akan memanggil Bapak Samuel Lie juga untuk memberikan kesaksian karena namanya tertulis di dalam surat.”
Astaga, bagaimana jika Samuel mengatakan jika Laura yang menyebabkan mereka putus? Apa polisi akan menangkapnya?
Laura duduk dengan tegang dan ia menggigiti kukunya. Ia cemas sekali dengan apa yang akan terjadi sehingga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Laura tidak ingat lagi bagaimana akhirnya ia bisa tertidur setelah berpikir berjam-jam.
Tidur Laura sedikit terusik. Ada yang menggelitiki wajahnya sehingga membuatnya harus menyingkirkannya. Namun, saat tangan Laura menyingkirkan ‘sesuatu’ itu, jantungnya mencelos kembali.
Benda yang ia singkirkan seperti rambut…
Laura mulai ketakutan dan ia berusaha mengatur detak jantungnya yang tidak normal. Diberanikannya dirinya untuk membuka mata lebar-lebar dan ia tidak melihat apapun di sana. Kamarnya masih gelap karena ia tidak menyalakan lampunya sewaktu pulang tadi.
Laura menghela napas lega dan ia berpikir jika ia terlalu banyak berpikir sehingga ketakutan seperti itu. Laura berusaha untuk tidur kembali.
Duk !
Duk !
Duk !
Ada suara sesuatu yang sedang menghantam langit-langit kamarnya. Laura yang masih memejamkan matanya mengernyitkan kening karena terusik dengan suara itu. Tiba-tiba, ia mendengar ada suara berbisik seorang wanita. Namun, Laura tidak bisa mendengar apa yang dibisikkan oleh wanita itu.
Bisikannya berubah menjadi sangat cepat dan semakin kuat sehingga Laura benar-benar tidak nyaman mendengarnya. Ia membuka mata kembali dan suara-suara itu langsung menghilang !
Laura menghela napas dan ia mengusap wajahnya. Sepertinya ia benar-benar terlalu lelah dan banyak berpikir mengenai masalah Claudia.
Tunggu, Claudia?
Laura langsung terdiam saat teringat dengan nama seseorang yang telah berubah menjadi mayat itu. Laura ingat betul jika Claudia memiliki rambut yang panjang dan jantungnya berdegup kencang lagi. Bagaimana jika yang menggelitiki wajahnya tadi adalah rambut Claudia?
Tanpa disadari Laura, tubuhnya gemetar dan ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya yang gelap. Laura berpikir jika sepertinya ia harus menyalakan lampu untuk membuat perasaannya berubah menjadi lebih tenang. Kegelapan ini benar-benar menakutinya.
Laura beranjak dari ranjangnya. Namun, sebelum ia sempat melangkah menuju sakelar lampu, langkahnya terhenti. Ada sesuatu di sana.
Sesosok manusia yang berdiri di sudut ruangan dekat sakelar lampu membelakanginya. Hanya dengan bermodalkan cahaya dari jendela kamarnya yang remang-remang, Laura bisa melihat sosok itu berambut panjang. Ia tadinya berpikir jika Lola yang masuk ke kamarnya. Tapi, Lola tidak berambut panjang! Jadi, sekarang siapa yang ada di kamarnya itu?
“Ha-halo? Siapa itu?” panggil Laura dan ia bisa merasakan suaranya gemetar. Laura hanya berani mengintip tanpa berani melangkah lebih jauh.
Namun, kakinya berkata lain. Tanpa bisa dikendalikannya, Laura malah berjalan ke arah sosok misterius itu. Ia sudah hampir menangis ketakutan karena tidak ingin mendekatinya sama sekali. Perasaannya benar-benar tidak enak melihat siluet yang tidak dikenalnya itu.
Tunggu, tidak dikenal?
Kening Laura berkerut, sepertinya ia pernah melihat siluet itu. Hanya dalam beberapa detik saja, Laura langsung mendekap bibirnya karena punggung itu persis dengan punggung Claudia!
Kaki Laura akhirnya berhenti juga dan ia menghela napas lega. Ia berniat untuk menelepon Lola agar segera datang ke tempatnya. Tapi, Laura mengutuk dalam hati karena sekarang ia tidak memiliki ponsel setelah ponselnya tertelan dalam truk tinja itu.
Laura tersentak karena sosok itu tiba-tiba berbalik perlahan seakan hendak memandangnya. Jangan berbalik… jangan mendekat… pergilah sana!!! batin Laura dan ia hendak menutup matanya rapat-rapat untuk tidak melihat wajah itu.
Tapi, lagi-lagi tubuhnya tidak menuruti perintahnya. Matanya malah terbuka lebar seakan menanti siapa wajah sosok itu.
Ketika sosok itu berbalik, Laura hendak berteriak namun suaranya tercekat karena ia tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali seperti ada yang mencekik lehernya dengan tangan-tangan tak tampak.
Wajah Claudia yang pucat dengan mata kosong menatap ke arah Laura. Gadis itu bahkan bisa melihat bekas tali yang memerah di leher Claudia yang pucat. Laura gemetar luar biasa dan keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya.
“Ibu… Ibu Laura… Kenapa ibu memberitahu saya?”
Suara Claudia terdengar sangat menyayat hati hingga Laura ingin menutup telinganya rapat-rapat. Laura menggeleng keras.
“Bu-bukan… bukan begitu…! Aku tidak berniat begitu!” gumam Laura dan tanpa sadar ia sudah menangis ketakutan.
“Ibu… ibu ingin saya putus dengan Samuel ‘kan…? Kenapa? Kenapa? Apa karena ibu jatuh cinta pada Samuel?”
Claudia memandangnya dengan tatapan yang sangat menakutkan. Apalagi matanya yang kosong itu semakin membuat Laura ketakutan. Laura hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dan terisak.
“JANGAN BERANINYA IBU MENDEKATI SAMUEL!!!”
Claudia berteriak mengerikan dan ia secara cepat langsung mencekik leher Laura hingga tubuh gadis itu terlempar ke ranjang. Laura berusaha menyingkirkan tangan dingin Claudia yang mencekik kuat lehernya tanpa belas kasihan. Napasnya mulai sesak dan kakinya meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari cekikan itu.
Tubuh Laura melemas karena ia mulai kekurangan oksigen. Laura bahkan bisa melihat tatapan mata Claudia yang menatapnya dengan benci. Ia benar-benar ketakutan dan lemas sehingga tidak sanggup melawan.
Tubuh Laura mengejang sehingga akhirnya ia diam tak bergerak lagi…