Chapter 6

1326 Kata
Cinta itu apa? Sungguh, bila Laura harus ditanya begitu, dia tak akan pernah bisa menjawab. Cinta terlalu rumit untuknya, hingga dia harus mengulang kembali apa yang telah terjadi belakangan ini. HP kesayangannya menjadi awal bagaimana cerita ini dirangkum, ah... tidak. Bukan itu. Bukan tentang HP-nya. Ini tentang ayam geprek. Benar, ayam yang dengan sangat sadis mengeksploitasi isi perutnya, b******u dengan lambung, usus dan segala organ dalam pencernaannya. Lalu, siapa sangka bila itu menjadi awal bagaimana dia dan Samuel bertemu? Tidak ada yang tahu. Benar, tidak ada yang tahu. Ini takdir. Takdir. Seperti sekarang, ketika secara tak sengaja Laura bertemu dengan Samuel yang sedang duduk bersama Claudia pada sebuah cafè. Laura senang cafè itu karena jarang dikunjungi orang. Sekarang, dia bertemu dengan Samuel bersama pacarnya. Tidak, tepatnya mantan pacar. Laura memandang Samuel dengan tatapan campur aduk. Cinta terlihat klise sekarang. Bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta pada orang yang jelas-jelas baru saja dia kenal? Apalagi pekerjaannya yang... ah, Laura tidak ingin menjadi orang yang sangat kejam dengan mengaitkan perasaannya hanya dengan pekerjaan semata. Lagi pula, pekerjaan itu sama sekali tidak salah. Apalagi sekarang di depannya ada tragedi. Setelah kejadian kemarin, Samuel menemui Claudia untuk menjelaskan semuanya. Dan Laura mendengarnya dengan versi penuh. Bahkan, meskipun tak disengaja. “Aku bisa jelaskan, Cla....” “Kenapa kamu nggak cerita ini ke aku?” “Lantas?” “Aku bisa pikir-pikir untuk lanjut apa nggak sama kamu!” “Apa pekerjaan ini begitu memalukan di mata kamu?” “Sangat. Aku malu. Apa yang harus kukatakan bila orang tuaku atau teman-temanku bertanya?” Claudia membentak. Dia murka. Samuel menggenggam jemari Claudia. Bibirnya membisu. Dia bingung harus menjelaskan bagaimana. Ketika dia menjalin hubungan dengan Claudia, dia ingin mengatakan semuanya. Dia ingin memperkenalkan dunia yang tak pernah Claudia singgahi. Sayangnya, dia salah. Claudia tidak memiliki pandangan seluas itu. Dia menatap pekerjaannya sebagai pekerjaan yang kotor. Apalagi ketika Claudia mengatakan kalimat, “Aku beneran muak sama kamu, dan aku mau kita putus!” barusan, seluruh dunia Samuel seolah dibingungkan pada sebuah realita. Apalagi ketika Claudia pergi dengan kekecewaan yang mendarah-daging di matanya. Jelas, Samuel tahu itu bukan hanya tatapan marah dan kecewa saja, tetapi juga... jijik. Samuel melongo, termenung dengan begitu shock. Ini tidak masuk dalam rencana Laura. Kekasih Samuel memutuskan lelaki itu kemarin, dan sekarang Samuel mengemis cintanya kembali. Tepat di depan mata Laura. Jujur, kalau ditanya bagaimana perasaan Laura, dia sangat bingung. Sangat bingung. Samuel diputuskan oleh pacarnya, begitu saja, bahkan tanpa penjelasan. Horeeee...! Tunggu, kenapa dia malah bahagia? Dia jelas bukan wanita seperti itu. Dia bukan pelakor. Iya, memang bukan? Namun, bila harus diulas kembali, Samuel putus dengan pacarnya gara-gara siapa? Laura. Iya, Laura. Dirinya, bukan Laura-Laura yang lain. “Aku...,” Laura tergagap sekejap, mencoba mencairkan suasana. Samuel masih termenung, tidak mengejar Claudia seperti yang di sinetron ataupun FTV. “Apa mau lo?” Samuel menelanjanginya dengan tatapan, menghakimi dengan pertanyaan tajam itu. “Maaf...,” Laura bodoh karena mengucapkan maaf. Meski memang benar, dia yang bersalah. Eh, meski begitu... itu kenyataan, bukan? Tidak ada yang salah dengan pekerjaan Samuel. Laura tercekat ketika Samuel mendengkus dan melangkah menjauh darinya. Hari ini adalah hari yang menyebalkan untuknya, setelah kejadian kemarin tentunya. Laura melangkah pulang, membuka pintu, hingga Lola menjerit. Dia terlihat gusar, melotot dengan tatapan mengadili. Laura masih shock dengan apa yang terjadi dan tidak ingin diganggu. Namun, Lola menariknya. “Jangan ganggu gue!” Laura mendelik galak, menyemburkan emosinya. Apalagi bukan hanya emosi yang menguar dari tubuhnya. Bau busuk yang kemarin kembali menusuk juga mengganggunya. Dia ingat kembali kejadian kemarin. Secara harfiah dia memang tidak tersiram, namun aroma itu tak akan pernah bisa terhindar dari tubuhnya. “Penting!” “Gue lagi nggak ingin diganggu!” Lola menggeleng kencang, menarik tangan Laura paksa. Laura menggeleng, menepis tarikan Lola karena terusik. Biarkan dia sendiri, mandi dengan sabun wangi, lalu beristirahat. Biarlah, biarlah urusannya dengan Samuel itu menjadi urusan nanti setelah tubuhnya wangi dan bersih kembali. Setelah kemarin dia melakukannya berjam-jam, dia ingin mengulanginya hari ini. Dia kesal lantaran kejadian hujan tinja kemarin, sekaligus karena Samuel yang sudah putus dari pacarnya hari ini mendadak jadi bucin. b***k cinta. “Ini tentang reputasi kamu!” “Reputasi apaan? Reputasi yang ada! Udah hilang sejak tadi!” “Lau... kamu bakalan shock kalau lihat ini!” Lola mengulurkan HP-nya, memaksa Laura untuk melihat sesuatu yang mengejutkan. Mata Laura melotot. Masih belum selesai ya masalah yang datang bertubi-tubi sejak kemarin? Ditambah ini lagi? Tidak, masalah yang sedang Lola tunjukkan ini adalah ujung dari semua kekacauan yang terjadi. Dipublikasikan beberapa menit yang lalu di internet. Ditayangkan oleh situs yang senang sekali membuat berita isu-isu miring ataupun perselingkuhan. Kali ini mereka sangat kreatif dengan memberikan judul yang ambigu. Hujan Tinja, Cinta Laura Withdraw Mengintai. Siapa Lelaki Itu? Di berita itu, ada fotonya yang tengah dipeluk oleh Samuel, lengkap dengan semburan lava perut yang telah encer pada bajunya. Jelas, itu foto menjijikkan meski untuk Laura itu adalah foto yang sangat menyentuh. Samuel melindunginya. Apakah ini yang disebut karma? Iya, karma karena telah berbahagia di atas penderitaan orang lain! Dia bahagia karena Samuel putus dengan pacarnya. Iya. Karma. Karma is a b***h! The real b***h! “Kita harus apa?” Lola panik, membuyarkan kejadian-kejadian dalam lamunan Laura yang dia sesali. Dalam beberapa detik, bertubi-tubi panggilan di HP-nya berdatangan. Isi telepon itu tidak menyenangkan. Sangat. Itu adalah panggilan-panggilan terburuk sekaligus akan menjadi mimpi yang tak akan pernah bisa hilang dari hidup Laura. “Maaf, kami tidak bisa melanjutkan kontrak dengan Mbak Laura lagi. Kami takut citra produk kami tercoreng!” “Kayaknya harus dipending dulu, deh! Maaf, ya... gara-gara berita itu, kami takut kalau berpengaruh juga ke penjualan!” “La, bos nolak Laura buat iklanin produk sabun kemarin. Lo tahu, kan gara-gara berita itu.” Lola terduduk lesu. Semua kontrak dibatalkan secara sepihak dalam waktu bersamaan. Semuanya hancur, luluh-lantak tak bersisa. Laura jatuh, lengkap ditimpa tangga. Segala hal yang menjadi mimpinya, semua pekerjaannya lenyap hanya gara-gara kejadian itu. Tidak, ini semua karena ayam geprek. Mulai sekarang, Laura akan mengutuk dan menjatuhkan black list yang amat pedih pada makanan itu! Berita itu mendadak viral. Semua orang seolah mengadilinya, menertawakannya, bahkan bertanya-tanya siapa lelaki yang sedang memeluknya dalam hujanan tinja itu. Berbagai media online menuduhnya, menudingnya tanpa ampun. Lola merampas HP Laura untuk menjauhkan Laura dari kondisi yang menakutkan itu. Laura shock. Air mata berhamburan di pipinya. Semuanya hancur. Dia menjerit, mengutuk siapa pun tanpa ampun. Lola mencoba mencari cara, meskipun ini sulit sekali. Wartawan mulai menghubungi Lola, bahkan mulai mengunjungi kediaman mereka. Para wartawan itu berkerumun dengan kurang ajar, merampas hak privasi yang Laura punya. “Kamu nggak apa-apa?” Lola mencoba menghibur. Laura menelungkupkan tubuhnya di balik selimut. Dia sudah mandi, sudah wangi. Namun, matanya tak bisa tertutup. Dia tidak bisa istirahat seperti yang dia rencanakan barusan. Laura menggeleng pias. “Iya.” Kalau jawabannya begitu, artinya tidak. Laura bukan tipikal wanita yang menjawab dengan nada pelan. “Ada yang mau kamu ceritakan? Aku nggak akan mengadili kamu.” Lola berhasil menjadi seorang kakak di waktu seperti ini. Lalu... cerita itu keluar dari bibir Laura. Lola mendengarkan, tanpa memotong sedikit pun. Kalau ditanya, dia jelas sangat kecewa. Hanya saja, semuanya tidak mudah. Ini sulit untuk Laura. Apalagi Laura baru saja mengatakan kalau dia jatuh cinta pada Samuel, luluh karena kebaikan lelaki itu. Tanpa direncanakan. Mendadak cinta. Itu omong kosong! “Bagaimana bisa kamu jatuh ke Samuel, Laura?” Laura membisu. “Kita bisa keluar dari masalah ini.” Lola mengangguk yakin. “Gimana?” bisik Laura akhirnya. “Bawa Samuel ke masalah ini, Laura!” “Kejam ! Dia sama sekali nggak salah, bahkan gara-gara aku, dia putus.” “Hanya dia yang sanggup bantu kita sekarang. Apa pun itu, Samuel harus ikut!” Laura menatap Lola bingung. Namun, Lola mengangguk setuju. Dia harus melakukan ini. Laura harus mengajak Samuel untuk ikut terjun dalam masalah yang tak sengaja menyeret Samuel!  Maaf, Samuel! Aku jatuh. Tolong bangunkan aku! Dalam beberapa menit, Laura sadar bahwa dirinya egois. Juga licik. Sangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN