7. Tinggal di Rumah Saya Saja

1203 Kata
Cale mengantarkan beberapa temannya keluar dari rumah Agninyan. Setelah puas menghabiskan waktu di sana, teman-teman Cale yang juga merupakan teman Agninyan itu akhirnya pamit pulang. Meski demikian, Cale tidak ikut pulang bersama mereka. Ia masih betah tinggal di rumah Agninyan meski ia sudah berada di sana sejak tadi malam. "Balik duluan, Bro!" seru salah seorang teman Cale, disusul teman yang lain dengan kalimat pamitan yang hampir sama. "Le, duluan, ya!" "Sampai ketemu lusa, Bang Le!" "Sepatu lo gue pinjam dulu!" Dan masih banyak lagi ucapan teman-teman Cale yang saling bersahutan, membuat Cale tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang teman-temannya coba katakan. Pada akhirnya, Cale memutuskan untuk melambaikan tangan. Sesekali ia berpesan kepada teman-temannya untuk hati-hati di jalan. Sebatas itu saja. Setelah beberapa mobil dan sejumlah motor meninggalkan rumah Agninyan, Cale pun kembali masuk ke dalam. Ia mencari tuan rumah yang tadi sedang dipanggil oleh sang ibu, sebab itu juga yang membuat Agninyan tidak bisa mengantarkan kepergian teman-temannya yang hendak pulang. Cale tidak tahu Agninyan berada di mana sekarang. Sehingga pemuda itu hanya mengikuti instingnya untuk terus berjalan. Cale menyusuri tiap jengkal rumah Agninyan. Sebelum berbelok dan masuk ke salah satu ruang di kediaman Agninyan, samar-samar Cale mendengar obrolan beberapa orang dari dalam sana. Cale memilih untuk berhenti melangkah dan urung masuk ke ruangan itu. Bukannya pergi dari sana, Cale justru memasang telinga untuk mencuri dengar. Oke, Cale akui ia cukup lancang. Tetapi rasa penasaran pemuda itu membuatnya nekat untuk tetap berada di sana. "Rhea sayang, Mami kamu nitipin kamu ke Tante. Kalau kamu keluar dari rumah ini, Te kerepotan buat jagain kamu. Jangan ya, Rhea? Kamu di sini aja, sama Te dan Ninyan." Ucapan ibu Agninyan berhasil ditangkap oleh telinga Cale. Sehingga saat itu juga, Cale berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Suara Agninyan terdengar menyusul. “Rhe, lo nggak usah cari perkara. Lo nggak kasihan apa sama nyokap lo? Si Lasmaya ngilang gitu aja. Sekarang lo juga mau cari tempat tinggal di luar? Kalau lo nggak betah tinggal di sini, harusnya lo balik ke rumah, Rhe.” Tak ada balasan apa-apa dari Rhea yang sepertinya menjadi sasaran nasihat Agninyan dan ibunya. Sampai kemudian terdengar suara ibu Agninyan yang kembali bertanya, “Jadi gimana? Rhea nggak jadi cari rumah buat ditinggali sendiri, kan?” “Te, Rhea sebentar lagi mulai work from office. Kalau misal Rhea cari rumah kontrakan yang dekat tempat kerja gimana? Rhea udah besar, Te. Rhea bisa jaga diri. Te nggak perlu khawatir.” Kali ini, suara Rhea yang terdengar sampai ke telinga Cale. Kentara sekali, Rhea masih berusaha meyakinkan bibinya. Cale menarik napas dalam. Setelah menggusah jauh-jauh rasa ragunya, pemuda itu maju untuk menimbrung ke dalam obrolan antara Rhea, Agninyan, dan Tante Ganeeta. “Tante,” sela Cale sehingga obrolan itu berhenti sejenak. Cale berjalan mendekati Tante Ganeeta. Menyadari kehadiran Cale, sontak saja ketiga orang di hadapan Cale langsung menoleh ke arahnya. Tante Ganeeta mengulas senyum mendapati ada Cale di sana. “Eh, Nak Cale, kenapa?” tanyanya dengan hangat. Cale menoleh ke arah Rhea. Dengan yakin, pemuda itu berkata, “Tinggal di rumah saya saja.” Tawaran Cale itu membuat Tante Ganeeta, Agninyan, dan Rhea memberikan respon yang berbeda-beda. Tante Ganeeta semakin melebarkan senyumnya dengan alis yang terangkat sebelah, tampak penasaran dengan alasan kenapa Cale menawarkan hal seperti itu kepada keponakannya. Sementara Agninyan justru menatap Cale dengan dramatis, matanya menyipit dan kepalanya menggeleng pelan. Mungkin Agninyan berusaha memperingatkan Cale untuk tidak menjerumuskan diri pada masalah ini. Lalu adapun ekspresi Rhea yang paling mencolok di mata Cale. Gadis itu memberikan tatapan seolah ia tengah berujar, “Kamu gila, ya!” Tak ingin membuat kerancuan akan maksud ucapannya itu, Cale buru-buru menambahkan, “Kebetulan saya punya rumah yang belum resmi saya tempati karena saya masih tinggal dengan orang tua. Daripada rumah itu rusak karena tidak dirawat, mungkin akan lebih baik jika saya sewakan. Tadi saya sempat dengar soal Rhea yang sedang berniat untuk mencari rumah kontrakan.” Mendengar itu, Tante Ganeeta dengan semangat ber-oh-ria. Mungkin sebelumnya ia sudah punya pikiran tertentu atas ucapan Cale. Makanya ketika mendapat penjelasan demikian, ia jadi lega. Ah, ketimbang lega, mungkin Tante Ganeeta jadi tidak lagi berpikir bahwa Cale sedang melancarkan serangan pendekatan pada keponakannya. “Jangan, Bro,” celetuk Agninyan, “kalau Rhea tinggal di sana, rumah lo bukannya jadi terawat, malah bakalan rusak lebih cepat.” Rhea melemparkan tatapan tajam ke Agninyan. Sepertinya ego gadis itu terluka atas klaim dari sepupunya. Cale dengan enteng membalas celetukan Agninyan. “Nggak masalah, Nyan. Yang penting ada yang nempatin biar nggak dihuni sama hewan atau setan. Oh ya, Rhea bisa memikirkan tawaran dari saya matang-matang. Saya nggak buru-buru kok buat dengar jawabanmu.” *** Rhea menutup pintu di balik tubuhnya. Ia lantas berjalan ke kursi malas yang merupakan salah satu sudut favoritnya di kamar itu. Pikiran Rhea sibuk mempertimbangkan tawaran dari Cale. Jujur saja, Rhea sangat ingin menerima tawaran itu. Karena kebetulan sekali, Rhea memang sedang mencari tempat untuk dihuni. Lumayan kan ia jadi tidak usah repot-repot mencari informasi atau menghubungi orang yang mungkin bekerja sebagai agen properti atau makelar rumah. Namun di satu sisi, Rhea juga merasa enggan untuk menerima tawaran Cale. Rhea mempertimbangkan jangka panjang. Jika Rhea menyewa rumah Cale, otomatis Rhea akan sering berurusan dengan pemuda itu. Membayangkannya saja sudah membuat Rhea merasa malas. Ponsel Rhea berdenting hingga membuyarkan lamunan gadis itu. Rupanya dentingan itu berasal dari notifikasi salah satu media sosial Rhea sebagai tanda adanya pesan yang masuk ke sana. Dan, Rhea pun langsung tahu siapa pengirimnya karena terpampang nyata di layar ponsel Rhea. “Cale,” gumam Rhea lalu memutar bola mata. Gadis itu membaca sekilas pesan kiriman Cale tanpa membukanya. Dari sana saja Rhea sudah bisa mengetahui bahwa Cale mengirimkan tawaran lanjutan, seperti masalah harga sewa dan lama Rhea bisa menghuninya. Cale juga mengirimkan alamat dari rumah itu yang entah kebetulan atau bagaimana memang ada di sekitaran kantor Rhea. Tak cukup sampai di sana, Cale juga menyusulkan kiriman foto bagaimana penampakan rumah itu. “Sial, masuk kriteria rumah idamanku. Gimana dong? Mana Cale kasih harga miring banget. Aku yakin di luaran sana harga segini nggak akan dapat rumah kontrakan sebagus rumah Cale.” Ya, wajar sih. Setelah Rhea perhatikan lagi, Cale memang terlihat berasal dari golongan atas. Entah apa pekerjaan pemuda itu, tetapi kadang ia tampil berkelas. Meski di lain waktu, Cale hanya berpenampilan seadanya. Rhea yakin kalau Cale memang tidak berniat mencari untung dengan menyewakan rumah itu. Seperti kata Cale tadi, pemuda itu hanya ingin rumahnya ditempati. Dasar orang kaya, yang seperti ini bukan masalah besar bagi mereka. Rhea sampai geleng-geleng kepala. Akhirnya dengan tanpa pikir panjang—sebelum ia kembali meragu—Rhea mengiakan tawaran Cale. Gadis itu minta untuk diperlihatkan rumah Cale secara nyata sebelum benar-benar sepakat untuk menyewa. Balasan dari Cale pun Rhea terima segera, tak sampai berganti menit. Pemuda itu dengan senang hati menemani Rhea datang ke rumahnya dan menunjukkan rumah itu secara langsung kepada Rhea. Bahkan tanpa menunda, Cale bersedia untuk mengantar Rhea ke sana hari itu juga. “Ah, aku pasti gila,” ujar Rhea sembari meletakkan ponsel ke pangkuan. Sekarang saja Rhea sudah menyesali kenapa ia menyetujui tawaran Cale itu. Mata Rhea lantas membelalak. Kemudian ia memicing curiga. Ini bukan sekadar permainan Cale untuk semakin menjebak Rhea, kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN