Melihat Rhea memasang wajah horor dan ketakutan, akhirnya Cale berinisiatif untuk meminta maaf. Ia menyadari bahwa bercandaannya itu berlebihan dan terlalu kekanakan sehingga membuat Rhea tidak nyaman.
Cale pun mengubah topik pembicaraan. "Kerjaan kamu masih banyak? Bisa nggak dikerjain sambil breakfast?" Cale bicara begitu sembari menghadang Rhea yang sudah hampir masuk ke kamar.
Mata Rhea tampak melebar. Ajakan makan pagi dari Cale bukankah terlalu awal? Ini masih jam empat, buat apa makan sepagi ini!
Ah, Rhea tahu. Ini adalah bentuk modus lain dari Cale. Pakai acara mengajak makan pagi, dasar buaya darat. Rhea jadi curiga kalau-kalau cowok satu ini memang suka mengejar-ngejar wanita. Seolah itu adalah tantangan yang menarik baginya. Lalu begitu dapat, sang wanita akan dicampakkan karena cowok tipe semacam ini hanya penasaran saja.
Untuk itu, Rhea bertekad tidak akan memberikan akses bagi Cale untuk mengobrak-abrik hatinya. Masalah hidup Rhea saja sudah berjibun. Masa ditambah urusan hati? Rhea tidak ingin itu terjadi.
"Aku nggak biasa makan pagi. Dan ini masih terlalu pagi buat pergi makan pagi," ujar Rhea. Gadis itu berusaha menolak secara halus mengingat Cale juga mengubah cara bicaranya menjadi lebih waras.
Cale mengangguk kecil. Ia menampilkan tampang kecewa yang tidak berusaha ia tutup-tutupi.
"Kalau gitu permisi, aku mau balik ke kamar," kata Rhea tanpa memedulikan perasaan Cale.
Saat Rhea sudah melipir dan selangkah lagi ia akan masuk ke dalam kamar, Cale justru berceletuk, "Aku dengar dari Agninyan kalau kamu itu staf junior di departemen keuangan."
Rhea berhenti melangkah. Diam-diam, dia mendesis geram. Cepat atau lambat Rhea akan bikin perhitungan dengan sepupunya itu karena sudah membocorkan informasi pribadi Rhea kepada orang semacam Cale. Betul-betul ya si Agninyan ini, kurang kerjaan sekali.
Rhea jadi curiga kalau Cale sudah mengantongi banyak informasi tentangnya. Kan, Rhea jadi makin takut. Bagaimana jika Cale menggunakan itu untuk hal-hal tidak baik?
"Aku juga pernah jadi staf keuangan," ungkap Cale. Ia pun menyentuh ringan bahu Rhea dan membawa gadis itu untuk membalikkan badan dan bertukar tatapan dengan Cale. Dengan serius, Cale berkata, "Aku mungkin ngerti sedikit soal kerjaan yang bikin kamu begadang semalaman. Kalau kamu mau temani aku sarapan atau sekadar minum kopi, aku bakal bantu kamu."
Rhea diam di tempat dan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya. Beberapa detik berlalu, Rhea mengambil keputusan. "Thanks, Cale, tapi nggak usah repot-repot. Aku nggak berharap akan mendapat bantuan dari kamu. Yang aku kerjain sekarang ini menyangkut data-data perusahaanku. Aku nggak akan kasih akses orang luar buat turut baca atau tahu data itu."
Cale menggelengkan kepala. "Bukan gitu maksudku. Aku akan bantu kamu, tanpa aku lihat isinya. Aku kasih tahu caranya, tapi tetap pekerjaan itu kamu kerjain sendiri."
Rhea masih diam. Menurutnya melibatkan orang luar untuk membantu mengerjakan pekerjaan di perusahaannya sama saja membocorkan informasi rahasia perusahaan. Itu berbahaya apabila disalahgunakan pada akhirnya.
Siapa tahu Cale ini adalah kiriman dari perusahaan pesaing. Entah untuk tujuan apa, mungkin benchmarking dengan cara kotor atau justru ingin melakukan persaingan tidak sehat lainnya. Dan karenanya, Rhea harus berhati-hati.
"Cale, lain kali ya," ujar Rhea, lelah juga bicara dengan pemuda di hadapannya yang doyan ngotot kalau punya kemauan. Dengan tegas Rhea berkata, "Aku cuma pengen menyelesaikan pekerjaan ini tepat waktu. Aku masih bisa kok buat mengerjakan itu sendiri. Tapi makasih karena kamu udah nawarin bantuan. Mungkin lain kali kalau memang waktunya atau masalahnya pas buat dikerjain sama-sama, aku akan terima bantuan darimu."
Tanpa menunggu balasan Cale, Rhea menutup pintu kamar. Ia tidak tahu lagi apa yang Cale lakukan setelah ditinggal Rhea begitu saja. Rhea tidak peduli-peduli amat.
***
Rhea tidak sadar seberapa lama ia terlelap. Setelah mengirimkan pekerjaan yang membuat tubuh dan mentalnya lelah tidak karuan kepada sang atasan, Rhea memilih untuk balas dendam. Gadis itu tidur tanpa ingin diganggu. Ia bahkan tidak memasang alarm dan tidak peduli juga akan bangun jam berapa nantinya.
Dan saat akhirnya terjaga, Rhea mendapati bahwa hari telah beranjak sore. Gadis itu mengubah posisi dari yang semula tiduran menjadi duduk bersila di atas ranjang. Tangan Rhea menyambar ponsel yang ada di atas nakas, sekaligus mencabut ponsel itu dari kabel pengisi daya.
Untuk ukuran orang yang sudah tidur seharian, Rhea merasa sedikit linglung dan tidak bersemangat. Gadis itu malas untuk mulai beraktivitas karena toh hari juga tidak lama lagi akan beranjak gelap. Tebersit di kepala Rhea sebuah gagasan agar ia lanjut tidur saja.
Namun sebelum Rhea merealisasikan pikiran pemalasnya itu, Rhea terlebih dahulu dikejutkan oleh ketukan di pintu. Lalu terdengar suara bibinya yang memanggil-manggil nama Rhea. Tak hanya itu, sang bibi juga menanyakan apakah Rhea sakit hingga seharian ini mengurung diri di kamar.
Tak ingin membuat bibinya panik, Rhea bergegas turun dari ranjang. Kepalanya sedikit berputar dan pandangannya menggelap kala ia mengambil gerakan berdiri secara tiba-tiba. Namun setelah mengerjap beberapa kali, Rhea sudah merasa kepala dan indra penglihatannya normal kembali.
"Te," sapa Rhea sehabis membuka pintu. Kini ia berhadapan dengan sang bibi yang menatapnya cemas. Alhasil, Rhea menjelaskan, "Rhea semalam begadang buat menyelesaikan pekerjaan. Makanya sehabis itu, Rhea langsung pergi tidur buat mengganti jam tidur Rhea yang terlewat semalam."
Ganeeta bibi Rhea itu mengangguk-angguk mengerti. Ia lantas meminta Rhea untuk segera keluar kamar dan mengisi perut karena Ganeeta tahu keponakannya itu pasti belum makan sejak pagi.
Rhea mengiakan permintaan bibinya. Meski demikian, alih-alih langsung pergi makan, Rhea justru melipir ke kamar mandi.
Rhea tahu kalau di rumah itu sedang ada banyak teman Agninyan. Terdengar dari suara ribut-ribut cowok mengobrol. Rhea duga, kali ini tidak hanya satu atau dua orang saja yang datang. Mungkin Agninyan membawa kesebelasan ke rumahnya.
Dan sebagai anak gadis, Rhea mendadak malu kalau terpergok tampil bak gembel di hadapan teman Agninyan yang mestinya juga sudah bujang-bujang. Sehingga sebelum berkeliaran di rumah itu, Rhea harus membenahi penampilannya minimal dengan mandi, lebih bagus kalau dandan juga.
Sejujurnya, Rhea malas melakukan itu semua. Ia bukannya kecentilan dan ingin menarik perhatian teman-teman Agninyan. Tapi ini karena Agninyan doyan mengolok-olok Rhea di hadapan teman-teman pemuda itu, Rhea jadi tidak sudi memperlihatkan kekurangan dirinya di depan sepupu berwatak setan.
Seberes mandi, Rhea memoles make up tipis dan super duper natural. Ia juga memakai pakaian rumahan yang nyaman namun tetap enak dipandang. Setelah menyiapkan mental sebaik mungkin, Rhea kembali keluar dari kamar.
Gadis itu berjalan hati-hati menuju ke dapur. Nyaris saja Rhea berlagak layaknya maling, padahal bisa dibilang dia berada di rumah saudaranya sendiri. Lagi, tidak ada niatan Rhea untuk maling di sana. Ia hanya takut berpapasan dengan teman-teman Agninyan yang menginvasi rumah itu.
Dan sialnya, saat sudah hampir tiba di dapur, ia justru berpapasan dengan salah seorang teman Agninyan. Di hadapan Rhea, berjalanlah seorang pemuda sambil bertelanjang d**a dan tengah memperagakan adegan menenggak air mineral dingin.
Melihat tubuh pemuda yang bertelanjang d**a dan memamerkan perut six-pack ditambah perawakan yang bak model itu sukses membuat Rhea meneguk ludah. Rhea yakin ia sudah salah tingkah. Apalagi pemuda itu menyempatkan diri untuk menyapa Rhea dengan gaya ramah yang menjadikan Rhea meleleh seketika.
Demi sopan santun, Rhea dengan kaku membalas sapaan teman Agninyan. Ketimbang ia memalingkan wajah, itu malah akan membuat Rhea terlihat buruk—sekaligus aneh—di mata teman Agninyan.
Setelah cobaan berlalu, akhirnya Rhea tinggal sendirian saja di dapur. Ia menghela napas lega. Gadis itu pun gerak cepat mengambil makanan dan berniat menghabiskannya secara kilat. Demi ketenteraman, seberes makan ia akan bersembunyi saja di kandangnya—bisa dibaca kamar—sampai semua teman Agninyan pamit dari tempat itu.
Namun rencana tinggal rencana. Nyatanya, Rhea tidak diizinkan berlama-lama di dapur sendirian.
Entah secara kebetulan atau bagaimana, Cale masuk ke dapur. Pemuda itu langsung menuju ke arah kulkas dan mengambil minuman dingin dari sana. Dan tak butuh waktu lama untuk Cale menyadari keberadaan Rhea di sekitarnya.
"Udah bangun?" tanya Cale tanpa tedeng aling-aling. Entah cowok itu hanya berbasa-basi atau betulan tahu kalau Rhea sejak tadi sibuk tidur, Rhea tidak tahu.
Rhea memutuskan untuk tidak terlalu mengindahkan pertanyaan Cale yang tidak penting itu. Rhea hanya menekuri dan sibuk menyantap makanan di piringnya.
"Kalau kamu bisa tidur nyenyak, pasti kerjaan kamu selesai tepat waktu dan hasilnya memuaskan," celoteh Cale. Pemuda itu mengulurkan tangannya, berniat menjabat tangan Rhea. "Selamat, you’ve worked hard!" ujarnya.
Rhea mengernyitkan dahi, tentu ia heran sekali dengan sikap Cale. Namun karena Rhea mendapati Cale berkeras untuk berjabat tangan dengan Rhea—terlihat dari Cale yang tak kunjung menarik uluran tangannya meski diabaikan Rhea—gadis itu pun menyambut uluran tangan Cale dengan terpaksa.
"Thanks," gumam Rhea kaku. Ia tidak berharap akan diberi ucapan selamat begitu hanya karena mengerjakan tugas dari atasannya.
Tak seperti sebelum-sebelumnya, Cale tidak sengaja berlama-lama berurusan dengan Rhea. Setelah menandaskan satu botol minuman dingin, Cale pamit undur dari dari dapur dan kembali berkumpul bersama teman-temannya.
Tatapan mata Rhea mengikuti ke mana perginya Cale. Di dalam hati, Rhea sibuk membatin. Bisa-bisanya rumah Tante Ganeeta menjelma menjadi layaknya indekos putra. Bagaimana tidak, di luar sana berlalu lalang kaum adam dan mereka tampak santai bak di rumah sendiri.
Rhea memijat pelipisnya. Sepertinya gadis itu harus memikirkan tempat lain untuk menampungnya ketika tidak bisa kembali ke rumah.
Dulu sewaktu Rhea masih kecil, ia tidak keberatan dengan keberadaan teman-teman Agninyan di sana yang justru menghidupkan suasana. Bahkan sedikit banyak, Rhea bersyukur karena sepupunya itu tergolong kaum-kaum social butterfly.
Tapi sekarang sudah beda cerita. Rhea telah beranjak dewasa. Teman-teman Agninyan pun sudah bisa dikatakan sama dewasanya dengan Rhea, bahkan lebih. Ini membuat Rhea merasa aneh.
Gadis itu tidak ingin menjadi gila karena terbayang tampang-tampang rupawan rekan Agninyan.
"Aku harus keluar dari indekos putra ini!" Rhea bertekad.