5. Si Stalker

1340 Kata
Jam menunjukkan pukul setengah empat pagi dan Rhea masih belum menyelesaikan pekerjaannya. Entah karena Rhea yang lelet atau memang pekerjaan itu jumlahnya seabrek hingga Rhea merasa amat kesulitan. Di otak Rhea, sudah ada selintas pikiran untuk dirinya menyudahi saja acara melembur ini. Namun tentu kewarasannya yang sedikit tersisa itu menghalangi Rhea untuk menyerah. "Dikit lagi," gumam Rhea berusaha menyemangati dirinya sendiri. Rhea menyambar gelas kopi pemberian Cale yang isinya sudah hampir tandas. Ia menenggak kopi itu hingga tak lagi bersisa. Sejujurnya, Rhea sedikit bersyukur ada orang yang memberinya segelas kopi. Ini sangat berarti dan sukses menemaninya sepanjang malam. Sehingga Rhea berhasil tetap terjaga. Rhea masih dapat menahan kantuknya. Bahkan setelah dipikir-pikir, mata Rhea sekarang sudah jauh terasa lebih segar ketimbang beberapa jam yang lalu—barangkali karena jam tidur normalnya sudah terlewati. Namun sekarang ini yang Rhea rasakan adalah pinggangnya yang pegal serta kakinya yang kesemutan. "Masih muda, tapi badan udah kaya lansia," seloroh Rhea, menertawakan diri sendiri. Akhirnya karena merasa tidak kondusif juga jika melanjutkan pekerjaannya, Rhea memilih melakukan peregangan singkat. Sambil berjalan dan bergerak-gerak di dalam kamar, Rhea memegang kembali ponsel yang sudah lama ia campakkan saking fokusnya bekerja. Sewajarnya anak muda, Rhea memutuskan untuk bermain media sosial barang sebentar selagi ia mengambil jeda. Mata Rhea lantas memicing kaget ketika mendapati ada direct message dari Cale. Di dalam hati, Rhea membatin. Kali ini apa lagi yang Cale inginkan darinya? Rhea hendak mengabaikan pesan Cale itu. Namun mendadak saja sebuah pesan susulan dari Cale masuk ke ponsel Rhea. Rupanya Cale tahu bahwa Rhea sedang online di sana. "Kopinya enak?" lirih Rhea ketika membaca sebaris pesan yang Cale kirimkan. Lalu ia melanjutkan, "Masih begadang? Mau aku order-in kopi lagi? Ditambah camilan juga bisa." Rhea memutar bola mata. Gadis itu heran dengan sikap Cale. Pemuda itu punya masalah apa sih sampai tidak segan merusuh di hidup Rhea. Kalau naksir ya jangan terlalu terlihat dong dan mengejar sampai sebegininya—oke, ini Rhea yang terlalu percaya diri. Tapi betul adanya bahwa Rhea merasa risih sekaligus takut. "Dasar SKSD!" kesal Rhea. Ia pun mengetikkan balasan tak ramah kepada Cale sambil menggerutu. Lalu tak butuh waktu lama setelah Rhea membalas pesan Cale, pemuda yang baru Rhea kenal hari itu pun melanjutkan obrolan. "Jadi gimana? Mau aku order-in kopi sama camilan? Nggak baik begadang kalau kondisi perut kosong," ujar Rhea kembali membacakan balasan dari Cale. Ia pun berkomentar dengan nada mencibir, "Sok kaya amat jadi orang." Rhea memutuskan untuk tidak lagi menggubris Cale yang sok-sokan itu. Bikin Rhea merasa mual saja. Cale kira dengan sogokan begitu, Rhea akan senang? Yang ada justru sebaliknya. Rhea jadi kesal maksimal. Sudah lah, kepala Rhea makin terasa cenat-cenut kalau membicarakan Cale. Sebaiknya Rhea kembali ke pekerjaan yang sudah delapan puluh persen selesai. Rhea memantapkan hati untuk mengerjakan dua puluh persen sisanya dalam waktu yang tersisa ini. Namun dipaksakan pun, Rhea tetap tidak bisa fokus. Pikiran Rhea sudah ke mana-mana dan bukan memikirkan pekerjaan itu lagi. Helaan napas dalam Rhea lakukan. “Rhe, lo kenapa, sih?” rengek Rhea, kecewa pada diri sendiri. Akhirnya karena ingin buang air kecil, Rhea pun menggunakan kesempatan itu untuk keluar kamar. Mungkin dengan mencari suasana baru, Rhea akan lebih merasa siap melanjutkan pekerjaannya. Gadis itu keluar dari kamar dan menyusuri lorong menuju bagian dalam rumah. Ia sengaja berjalan berjingkat-jingkat agar tidak mengganggu penghuni lain di rumah itu yang sedang beristirahat. Namun ketika Rhea hampir masuk ke bagian utama dari rumah bibinya, gadis itu mendapati ada orang berdiri di pendopo rumah. Orang itu sendirian di sana tanpa ditemani Agninyan atau Tante Ganeeta. Jadi siapa kah dia? “Masa sih tamu? Ini masih pagi, lho!” Rhea menggumam. Ia terlihat curiga berat dengan sosok orang yang berdiri di pendopo rumah bibinya itu. Karena khawatir itu adalah orang yang berniat jahat di sana—entah ingin mencuri atau apa—Rhea putuskan untuk menghampirinya. Gadis itu bahkan lupa bahwa tujuan ia keluar dari kamar adalah ingin buang air. Untung saja Rhea bisa menahannya, kalau tidak bisa-bisa gadis itu mengompol. “Siapa?” tanya Rhea saat sudah berdiri barang beberapa langkah di belakang orang itu. Sosok pemuda di hadapan Rhea mengangkat wajah dari yang semula menatap layar ponsel. Sesaat kemudian, ia membalikkan badan. Rhea sedikit terkejut. Pemuda itu adalah Cale. Tak hanya Rhea yang terkejut atas pertemuan itu. Cale pun tampak menahan rasa kagetnya melihat Rhea berdiri di sana, di hadapannya. “Kamu ngapain di sini?” Rhea kembali menggunakan nada ketus. Alisnya tertaut curiga mendapati Cale ada di sana. “Kamu stalker, ya?” “Stalker?” Cale membeo tuduhan Rhea. “Memang aku terlihat kaya gitu?” Rhea memutar bola mata. Tangannya terlipat di depan d**a menunjukkan sikap yang defensif. “Iya, kelihatannya begitu.” “Terus siapa yang aku jadikan objek stalking? Kamu gitu?” Cale menenggerkan senyum asimetrisnya. Kelihatan sekali, lagi-lagi pemuda itu ingin berbuat iseng dan bermain-main dengan Rhea. Rhea menganggukkan kepala. “Ya, siapa lagi kalau bukan aku?” ujarnya masih dengan nada ketus, “masa kamu mau mengintai nyokapnya Agninyan? Ah, atau jangan-jangan bener gitu, ya!” “Sembarangan,” balas Cale lalu tertawa renyah. Ia tidak marah ketika Rhea menuduhnya yang tidak-tidak dan tetap menanggapi itu dengan santai. Rhea terdiam sambil memperhatikan Cale yang asyik tertawa. Entah apa yang ada di pikirannya—mungkin karena kecapaian dan kurang fokus juga—Rhea merasa tawa Cale terdengar menyenangkan di telinganya. Apalagi wajah tampan Cale juga ikut mendukung penilaian Rhea itu. Manis juga, pikir Rhea yang mulai gila. “Jadi kamu betulan begadang sampai pagi?” Seusai tertawa, Cale mengubah topik obrolan. Rhea mendengkus. Kenapa juga ia harus memberitahukan ini kepada Cale? Begadang atau tidak, itu urusan Rhea. Alih-alih menjawab pertanyaan Cale, Rhea justru mencecar, “Kamu kenapa ada di sini? Agninyan mana? Kenapa kamu sendirian?” Cale membasahi bibirnya. Ia cukup kecewa karena Rhea tidak menjawab pertanyaan darinya dan justru balik mencecar. Tapi Cale tetap memutuskan untuk menjawab pertanyaan Rhea itu. “Aku di sini tadinya buat ngobrol sama Agninyan, biasa lah. Tapi orangnya udah molor duluan. Jadi ya aku sendirian aja karena males balik ke rumah.” Rhea memicingkan mata. Sebenarnya ia tidak percaya seratus persen dengan ucapan Cale. Tapi ya sudah lah, Rhea tidak peduli-peduli amat. Yang jelas kalau ada apa-apa, misalnya saja Cale berbuat kriminal di sana, Rhea sudah tahu pelakunya. Tanpa bicara apa-apa, Rhea membalikkan badan. Ia teringat kembali soal tujuannya keluar kamar tadi. Kamar mandi! Namun yang tidak Rhea sangka adalah Cale berjalan mengekorinya. Saat Rhea menoleh, Cale hanya memasang wajah polos. “Kenapa?” tanya Cale sok bingung. Rhea menggusah napas. “Kamu ini yang kenapa ngikutin aku?” salaknya. “Owh, karena aku nggak punya teman selain kamu saat ini,” jawab Cale bak bocah. Rhea sampai kehilangan kata-kata. Ia hanya membuka mulut, lalu mengatupkannya kembali. Gadis itu terlalu kehabisan ide untuk menimpali ucapan Cale. Pada akhirnya karena panggilan alam sudah semakin mendesak, Rhea mengabaikan Cale. Gadis itu mengibaskan tangan dan menggumam, “Up to you, lah!” Cale mendengkus geli. Pemuda itu kembali menenggerkan senyum asimetris sembari memperhatikan Rhea yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Dan untuk ini, Cale tentu tidak akan lanjut mengekori Rhea. Saat Rhea keluar dari kamar mandi, barulah Cale kembali mencari gara-gara. Pemuda itu tetap ngotot mengikuti ke mana Rhea pergi. “Aku mau balik ke kamar. Kamu mau ikut juga?” Rhea bicara dengan nada sarkas. Cale mengedikkan bahu enteng. “Kenapa enggak?” Untuk kesekian kalinya, Rhea memutar bola mata. Ia heran sekaligus tidak paham. Di mana sebenarnya letak otak Cale? Pemuda itu benar-benar tidak punya etika. Mengikuti Rhea ke kamar? Memangnya Rhea sudi membawa makhluk tidak beres semacam Cale ke dalam kamar? Big no, Rhea tidak mau berada dalam masalah! “Dasar sinting,” gerutu Rhea sambil bergidik ngeri. “Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku ini stalker? Biar nggak jadi tuduhan semata, gimana kalau aku realisasikan aja?” Itu adalah kalimat terseram yang pernah Rhea dengar. Rhea tidak sedang berinteraksi dengan psikopat, kan? Tolong, Rhea masih ingin berumur panjang dan menjalani hidup dengan tenang!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN