4. Disaster

1516 Kata
Karena tingkah Rhea dan Cale, keduanya pun menjadi pusat perhatian orang-orang di sana. Orang-orang itu sepertinya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi atau bahkan mereka mempertanyakan ucapan siapa yang harus mereka percayai di antara permintaan tolong Rhea atau pernyataan nyeleneh Cale. Sial, karena jadi bahan tontonan, Rhea merasa malu maksimal. Sementara Cale justru menawarkan kembali tumpangan untuk Rhea sebagai jalan keluar dari masalah pelik ini. Akhirnya mau tak mau—karena ponsel Rhea juga ditahan Cale—Rhea pun masuk ke mobil Cale dengan terpaksa. Ia menutup keras-keras pintu mobil Cale agar cowok itu merasa menyesal telah memaksa Rhea ikut dengannya. Karena setahu Rhea, kaum adam akan kesal jika kaum hawa membanting pintu mobil sekencang itu. Namun anehnya, Cale tetap tidak terusik dengan tingkah Rhea. Malahan pemuda itu memasang senyum lebar dan berjalan santai mengitari mobil lalu masuk dan duduk di balik kemudi. "Mau langsung balik atau mampir ke mana dulu? Atau kamu mau berkeliling di sekitar sini?" tanya Cale sebelum menjalankan mobil. Rhea memicingkan mata sambil menoleh ke arah Cale. "Kamu main-main ya sama aku," kesal Rhea, "pulang sekarang!" Cale terkekeh geli. Tak bertingkah iseng lagi, Cale pun melajukan mobilnya. Ia menyetir dengan teramat santai. Sampai-sampai untuk tiba di rumah Agninyan yang hanya berjarak lima ratus meter dari lesehan pecel lele itu saja harus memakan waktu cukup lama. Bukannya Cale tak mahir menyetir. Cale bisa kok membawa mobilnya lebih ngebut dari sekarang. Hanya saja itu berarti Cale akan segera berpisah dengan Rhea begitu mobil Cale berhenti di rumah Agninyan. Cale tidak mau yang demikian itu terjadi. Sementara di lain pihak, Rhea juga tampak menyadari bahwa Cale sengaja membuat perjalanan mereka yang sebenarnya singkat menjadi lama. Namun Rhea tidak protes. Karena jika gadis itu membuka mulut, otomatis akan ada obrolan di antara ia dan Cale. Rhea ogah itu terjadi! Untuk membunuh waktu, Rhea melemparkan tatapan keluar jendela. Ia memandangi apa saja yang mobil ini lewati. Meski itu hanya berupa rumah-rumah penduduk atau lahan kosong yang sebenarnya tidak menarik perhatian. "Kamu kerja di mana?" tanya Cale tiba-tiba. Rhea bungkam, pura-pura budek saja—semoga tidak jadi budek betulan. Tak mendapati respon apa-apa dari Rhea, Cale pun mulai bernyanyi lirih mengikuti lagu yang sedang terputar. Sengaja Cale mengeluarkan suara-suara sumbang. Rhea berdeham. Namun gantian, Cale pura-pura tidak menyadarinya. Hingga Rhea turun tangan mematikan musik yang menggema di seluruh penjuru mobil. “Kamu nggak suka dengerin musik?” tanya Cale masih dengan santai, meski Rhea bertindak seenaknya di sana. Rhea menoleh dan mengomel lirih, “Iya, aku nggak suka dengerin musik. Apalagi dengar suaramu yang sumbang itu.” “Oh, gitu. Gimana kalau aku nyanyi pakai suara yang bagus? Kamu mau dengar?” tawar Cale. Rhea mendesis sambil mengangkat kepalan tangan. Gadis itu hendak melayangkan pukulan pada Cale, namun ia urungkan lantaran sadar ia tidak seakrab itu untuk melakukan kekerasan pada Cale. Bagaimana kalau Cale menuntutnya? Cale tidak bisa menahan senyum melihat tingkah Rhea yang lucu itu. Ia pun mencoba peruntungan dengan bertanya yang semoga saja dijawab. “Kamu sama Agninyan lebih tua siapa?” “Ninyan,” jawab Rhea datar. “Kok kamu panggil dia nggak pakai embel-embel Kak, Mas, Bang, atau apa gitu?” lanjut Cale. “Kepo!” hardik Rhea. Ia pun kembali melemparkan tatapan keluar jendela. Kali ini Cale berdecak dan mengajukan protes, “Aku tanyanya serius kali, Rhe. Bisa nggak jangan sewot terus?” Rhea diam sejenak sambil mengatur emosinya. Akhirnya ia kembali buka suara, “Dia emang lahir duluan. Tapi dia anak dari adik ibuku. Jadi kalau dari silsilah keluarga, aku lebih tua dari dia.” Cale ber-oh-ria. Sayangnya saat Cale hendak kembali mengajukan pertanyaan, mobil yang ia kendarai sudah tiba di rumah Agninyan. Rhea bergegas menyambar ponselnya yang Cale letakkan di saku celana. Rhea juga dengan tergesa keluar, bahkan ketika mobil Cale baru berhenti—barangkali Rhea takut Cale akan membawanya berkendara lagi. Cale terkekeh melihat kelakuan Rhea yang cukup tidak terduga. Alih-alih meminta dengan baik-baik agar Cale mengembalikan ponsel miliknya, Rhea justru mengambil dengan tangannya sendiri. “Sampai ketemu besok!” teriak Cale sebelum Rhea memasuki gerbang rumah. Rhea mendengar itu refleks membalikkan badan dan menukas, “Jangan harap!” *** Masuk ke dalam rumah, Rhea mendapati Agninyan sedang merokok di teras. Tampilan pemuda itu masih seperti beberapa saat lalu ketika pergi makan dengan Rhea. “Lho, udah balik aja?” tanya Agninyan tanpa rasa bersalah. “Cale nggak jadi ngajak lo jalan?” Rahang Rhea mengeras. Gadis itu membalas pertanyaan Agninyan dengan mengacungkan jari tengah sampai ia tidak lagi dapat melihat pemuda itu. Sementara Agninyan hanya terkekeh dan memilih tak ambil pusing. Ribut dan bersitegang dengan Rhea sudah jadi perkara permanen sedari mereka kecil. Bertukar kata kasar, umpatan, dan lain sebagainya juga bukan hal asing. Kembali ke Rhea, setibanya di kamar, Rhea langsung merutuki Agninyan dan Cale secara bergantian. Pokoknya Rhea sebal kepada kedua orang itu. Rhea merasa dipermainkan dan Rhea curiga kalau di belakangnya, Agninyan dan Cale punya rencana tersembunyi untuk mengacaukan hidup Rhea. Namun Rhea tidak bisa merutuki Agninyan dan Cale terlalu lama. Ada hal yang lebih penting untuk ia kerjakan sekarang. Salah satunya adalah mengecek surel dari kepala tim di divisinya yang mana notifikasi surel itu baru saja masuk ke ponsel Rhea. Sial, bahkan Rhea harus mengurus kerjaan ketika malam sudah larut. Tapi karena masih berstatus sebagai staf junior, Rhea tidak bisa banyak protes. Apalagi kalau atasannya sudah bilang bahwa deadline pekerjaan itu adalah besok pagi. Rhea tidak mau cari masalah, bahaya kalau sampai kerjaan ini tidak rampung tepat waktu. Sambil menghidupkan laptop dan menarik setumpuk berkas, Rhea mengomel, “Kenapa nggak dikasih dari tadi, sih? Kenapa nggak di jam kerja aja, Bambang! Kebiasaan, seenaknya kalau ngasih tugas. Tau kalau mau dipakai rapat sama klien besok pagi, malah baru diminta siapin malam ini. Ngaco juga ini atasanku!” Bertepatan Rhea yang sudah kembali duduk di kursi kerjanya, perhatian gadis itu tersita pada ponselnya yang berdenting beberapa kali. Sebelum berkutat dengan pekerjaan yang bisa memakan waktu hingga berjam-jam, Rhea menyempatkan diri untuk mengecek ponsel itu. Rhea langsung membuka bagian perpesanan. Di mana ia mendapati ada pesan masuk yang berasal dari teman sekantornya yang membuat Rhea merasa sakit kepala. “Sorry, Rhea. Ternyata lagi-lagi ada kerjaan yang belum selesai dan aku tinggal pas cuti lahiran. Kamu udah dapat salinannya dari Pak Bos, kan? Aku tuh udah bilang ke Pak Bos buat jangan ngelimpahin tugasku ke kamu lagi. Tapi ya gitu, katanya yang lain masih pada repot dan cuma kamu yang available. Nanti kapan-kapan aku traktir kamu makan, deh. Fighting!” Rhea mengembuskan napas kasar. Ia baru saja membacakan sekelumit pesan dari rekan sekantornya yang sedang cuti melahirkan. Dan yah, Rhea akhirnya tahu kalau tugas mendadak yang ia dapatkan ini ternyata merupakan limpahan tugas yang sebenarnya menjadi tanggung jawab orang lain. Kepala Rhea rasanya berdenyut sakit. Ia sudah mengantuk—mungkin karena perutnya terisi hingga kenyang—dan mood-nya sedang buruk. Namun ujian terasa datang bertubi-tubi. “Sampai kapan aku harus kerja sukarela kaya gini? Jam kerja nambah tapi gaji tetap segitu-segitu aja. Iya memang, aku fresh graduate, masih butuh banyak pengalaman kerja jadi kudu nerima apapun pekerjaan yang diberikan. Tapi nggak gini juga!” “Ngeluh mulu lo!” Sebuah suara berat menginterupsi dari arah luar kamar Rhea. Tak lama kemudian, ketukan di jendela meminta Rhea untuk bergerak membukanya. Saat jendela terbuka, Rhea mendapati Agninyan berdiri di hadapannya. Pemuda itu menyodorkan segelas kopi yang brand-nya terkenal itu. “Aku nggak ngopi,” kata Rhea jual mahal. Padahal ia tahu ia butuh sedikit asupan kafein untuk tetap membuatnya terjaga malam ini. “Ambil, gue juga udah ada,” paksa Agninyan. Saat Rhea sudah menerima uluran gelas kopi itu, Agninyan menambahkan ucapannya, “dari Cale.” Rhea dibuat cengo. Wait, jadi ini maksudnya apa? Rhea memicingkan mata, menatap curiga ke arah Agninyan. Jangan-jangan dugaannya benar. Agninyan dan Cale itu— “Nggak usah mikir yang aneh-aneh lo,” sela Agninyan. Bahkan pemuda itu bisa membaca tatapan mata Rhea yang penuh tuduhan dengan sinar mata jailnya. “Gue sama Cale itu straight. Alasan dia kirimin kopi ini ya apalagi kalau bukan buat elo, Bego! Cuma gue jadi perantaranya.” Rhea mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Aku kan juga nggak bilang apa-apa.” Akhirnya Agninyan tampak kesal sendiri. Ia pun menjauh dari kamar Rhea sambil mengabsen nama-nama hewan dan sederet umpatan kotor lainnya. Itu membuat Rhea menarik senyum asimetris—puas karena berhasil membuat Agninyan misuh-misuh. Sepeninggal Agninyan, Rhea kembali duduk di kursi kerjanya, mengoperasikan laptop, dan terutama membuka excel yang dipenuhi sederet angka dan juga rentetan tulisan yang membuat mata Rhea terasa pedas. Ia ingin mengeluh lagi, namun kata-kata Agninyan terlintas di kepalanya. Ya, Rhea tahu, yang harus bekerja keras hingga mengikis jam tidur ini bukan hanya dirinya. Rhea yakin Agninyan sepupunya itu juga begadang semalaman untuk bekerja. Karena biasanya ketika Rhea keluar kamar, ia mendapati Agninyan berada di teras sembari memangku laptop. Hanya saja iblis di kepala Rhea kembali berulah. Hingga gadis itu merutuk, “Tapi kan gaji dan bonus-bonus yang Agninyan terima sebagai CHRO gede. Wajar lah kalau kerjaan dan tanggung jawab dia lebih besar. Sementara aku? Ah, nasib b***k korporat!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN