9. Permen Kapas

2141 Kata
"Bibi, berjanjilah pada Ano.. bibi, tidak boleh menangis lagi, okee.." Ucap Riano pelan dan memeluk perut buncit lina dengan penuh kasih sayang setelah lama ia baru berhenti bermain. "Baiklah Ano, Bibi tidak akan bersedih lagi.. apa kau puas sekarang?" Ucap Helina terkekeh kecil ia merasa sudah lelah mengelilingi seluruh bandara menunggu pesawat yang akan Riano naiki landing, sementara itu Riano terus saja mengajak main bayi yang ada di dalam kandungan Helina, ntah itu permainan mengumpat, mengejar satu sama lain, dan lebih banyak lagi, dengan perasaan yang sudah letih pun Helina tetap harus ikut bermain di permainan yang sudah Riano buat untuk nya dan bayi yang ada di kandungan nya saat ini. "Hey, Ano.. berhenti Nak, lihatlah Bibi Lina terlihat sangat letih." Ucap Gita cepat yang baru saja menutup telepon penting nya, Gita sangat lah sibuk berkerja karna itulah Riano lebih memilih untuk tinggal di indonesia bersama Helina. Helina tersenyum kecil, ia berucap "Tak apa Bibi, aku malah semangat karna sudah berolahraga kecil dengan si Ano yang aktif ini." Ucap Helina cepat dan tersenyum lebar memandang Riano untuk terakhir kali nya sebelum si kecil yang penasaran itu pergih jauh ke negri orang sana. Gita menghela napas nya ringan, ia tau betul Helina tidak ingin berpisah dengan Riano, Riano bahkan lebih leluasa bermain dengan Helina ketimbang dengan dirinya, karna itu lah Gita bahkan sangat sulit untuk mengatur Riano namun hal itu berbeda dengan Helina, seolah Riano sangat patuh terhadap semua printah dan larangan yang telah Helina buat untuk kebaikan Riano si kecil yang penuh dengan rasa ingin tau itu. Riano memang adalah anak kandung Gita, namun Gita bisa melihat lebih jelas di kedua bola mata putra kecil nya itu, bahwa Riano mempunyai ikatan yang lebih kuat dengan Helina ketimbang dengan dirinya yang notaben nya adalah Ibu kandung Riano, karna itulah sering kali Gita merasa iri terhadap Helina. "Baiklah, ayo kita pergih.. pesawat tidak akan menunggu penumpang nya! ayo.. Ano." Ucap Gita pelan dan menggandeng tangan kecil Riano di genggaman nya itu. "Trimakasih karna kau sudah menemani nya,Lina.. aku dan Riano pamit dulu.. sampaikan salam ku kepada kakak Gio, dan kakak ipar Ani." Ucap Gita sendu dan mengelus puncuk kepala Helina dengan lembut ingin meninggalkan sebuah kasih sayang untuk Helina agar tetap tegar, Gita sangat tau bahwa hari-hari yang selalu Helina jalani sangat lah berat. "Baiklah Bibi Gita, hati-hati di jalan." Ucap Helina sendu dan menecup kedua pipi gembul Riano untuk terakhir kali nya lagi, Helina ingin segera menangis! namun ia telah berjanji dengan si kecil itu, ia tak akan bersedih kembali. "Dadah, Bibi Lina cantik! tunggu Riano yaaa.. dadah." Ucap Riano berteriak-triak di sepanjang langkah nya yang semakin jauh dari Helina berada saat ini. Deg.. seketika Helina merasa sunyi kembali, di antara keramaian di bandara ini bahkan tak mampu membuat hati Helina merasa ramai! dengan switer putih nya Helina berjalan ke arah luar bandara dan mengarah ke mobil yang sudah terpakir disana menunggu kedatangan Helina kembali. "Nyonya.Helina.. silahkan." Ucap sang supir dengan hormat dan segera membukakan pintu mobil untuk Helina. Helina tersenyum kecil berterimakasih kepada sang supir dan masuk kedalam mobil dengan pikiran yang entah kemana. Di sepanjang perjalanan Helina hanya terdiam dan menatap keluar jendela mobil memandang bangunan-bangunan pencakar langit yang sungguh mewah dan terancang sempurna itu, sungguh manusia adalah sebaik-baik nya mahluk yang pandai dengan segala Akal yang sudah di anurgahkan oleh N'ya yang maha kuasa. "Berhenti." Ucap helina cepat dan dengan segera sang supir menginjak rem mobil dengan perlahan-lahan. "Iya, Nyonya.Helina.." Ucap sang supir sigap menengok ke arah Helina dengan pandangan yang penuh tanya. "Ada apa disana? mengapa ada yang membuat tenda-tenda besar itu? apakah akan ada karnaval?" Tanya Helina beruntun menatap sang supir penuh dengan tanda tanya. "Benar, Nyonya.helina.. akan ada karnaval besar-besaran disana.. apakah Nyonya. Helina berniat untuk ikut meramaikan karnaval? karnaval itu akan di mulai saat sehabis isya nanti." Ucap sang supir dengan cepat dan hormat berbicara pada Helina. "Benarkah? aku mau mengunjungi nya nanti malam.. ayo cepat kita pulang, hari sudah semakin sore." Ucap Helina cepat kembali bersemangat setelah ia bersedih akan kepergihan si kecil menggemaskan Riano ke negara tetangga yang jauh di sebrang sana. Vian memakirkan mobil nya tak jauh dari taman yang saat ini sedang ia singgahi bersama Nava yang sedang merajuk itu. Vian berdehem kecil lalu ia menyodorkan sebuah permen kapas di hadapan Nava berusaha membujuk kekasih nya yang sedang merajuk tak beralasan itu. "Ini, ambilah.. maafkan aku." Ucap Vian cepat dan dengan tegas menatap wajah Nava intens. Nava tambah mendengus kesal kembali lalu ia berucap "Apa seperti itu cara mu meminta maaf, Mayor Jendral, kepada seorang wanita? huh.. sungguh buruk." Ucap Nava ketus dan dengan segera membuang muka nya ke sisi lain tak mau menatap wajah Vian. Vian mengerutkan kedua alis nya bingung, apa kesalahan nya? mengapa Nava masih saja marah padanya? apa seburuk itu kesalahan yang sudah ia perbuat? semua pertanyaan-pertanyaan itu yang terus saja berputar di pikiran Vian saat ini. Vian menghela napas nya panjang, ia lalu duduk di kursi taman bersampingan dengan Nava yang sedang merajuk itu, ia mulai membuka dan mamakan permen kapas yang sedang ia gengam itu, sontak saja hal itu membuat Nava berdiri segera dan merebut permen kapas itu dari genggaman tangan Vian. "Mengapa kau memakan nya! ini kan punya ku." Ucap Nava kesal dan menatap Vian dengan pandangan tajam. "Itu punyaku! kan aku yang beli.." Jawab Vian enteng dan mengangkat kedua bahu nya acuh, memang benar perkaatan nya! lagi pula Nava tadi sudah menolak tidak mau permen kapas yang manis itu. "Dasar Mayor Jendral! menyebalkan, cepat belikan aku yang baru." Ucap Nava kesal dan membuang permen kapas yang sudah ia rebut itu jatuh ke tanah yang mana membuat Vian langsung menatap Nava dengan pandangan yang sulit untuk di artikan. "Mengapa kau membuang nya?" Tanya Vian cepat dan terdengar tegas dengan pandangan kedua mata yang saat ini menatap Nava intens. "Aku tidak suka! cepat belikan yang baru." Ucap Nava angkuh dan melipat kedua tangan nya di d**a menunjukan saat ini ia sedang merajuk. Vian menggelengkan kepala nya, Nava kini semakin tak bisa di tebak! ia selalu saja marah tampa alasan, semakin angkuh, dan bahkan sangat terlihat bahwa saat ini Nava tak bisa menghargai orang lain! Vian bertanya-tanya di dalam hati nya, ada apa dengan Nava? mengapa ia berubah sederastis ini? sungguh berbeda dengan kekasih nya yang dulu! Vian merindukan Nava yang dulu, yang selalu ceria dan tersenyum manis tampa di buat-buat. Vian kembali berdiri lalu ia berucap "Baiklah, tunggu disini.. akan aku belikan lagi." Ucap Vian cepat dan segera berlalu ke tempat asal ia membeli permen kapas itu. Nava tersenyum puas! ia merasa senang, Vian nya ysng dulu masih ada! Vian yang selalu saja menuruti kemauan nya! dan patuh akan semua ucapan nya! Nava duduk kembali di bangku taman dengan menyilangkan kedua kaki nya angkuh! sebentar lagi ia akan menjadi istri dari seorang Mayor Jendral, sungguh tak bisa Nava bayangkan betapa gembiranya dia saat ini. "Vian, hanya akan menjadi milik ku! boneka ku yang perkasa!" Gumam Nava tersenyum semirik dan menatap jauh ke dapan dengan penuh mimpi-mimpi saat ia akan menjadi istri dari seorang Mayor Jendral Vian Hamaran Juan yang terhormat itu. Vian kembali ke tempat jualan permen kapas, lalu ia mulai mengantri di antara anak-anak yang sedang membeli permen kapas dengan sabaran, Vian selalu saja mendahulukan anak-anak kecil itu untuk mendapat giliran nya, sampai-sampai Vian sendiri tak mengetahui bahwa ia sudah menghambiskan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan permen kapas itu. Nava yang melihat hal itu dari kejahuan pun membuat nya kesal dan berdecih! Vian memang tak akan pernah bisa bersikap acuh kepada orang lain! bukti nya saja saat ini ia rela mengantri lebih lama untuk mendahulukan anak-anak kecil yang sedang merengek meminta duluan itu. Nava pun memutuskan untuk menghampiri Vian, lalu ia menepuk lengan kiri Vian dengan pelan membuat sang punya lengan menengok ke arah nya. "Mana permen kapas ku? lama sekali." Grutu Nava kesal dan menghentak-hentakan kedua kaki nya merajuk manja. "Sebentar lagi." Vian hanya menjawab dengan singkat karna sudah lelah menghadapi sikap manja dan labil nya seorang Nava, kekasih nya itu. Ucapan singkat dari Vian, membuat Nava cemberut merasa di abaikan oleh pria yang sedang menatap layar ponsel nya sedari tadi itu. Sang pembuat permen kapas pun sudah membuat permen kapas dengan sangat besar nan lezat itu, ia ingin menyerahkan nya kepada anak kecil yang sedang menunggu-nunggu di depan gerobak nya saat ini, namun sayang! sebelum tangan kecil anak itu mengambil gagang permen kapas itu sudah kedahuluan dengan tangan Nava yang segera merebut nya secara paksa. Pedagang itu pun hanya bisa terdiam melihat perbuatan Nava yang tak mau mengantri itu, sementara itu sang anak kecil sudah menangis meraung-raung akibat ulah Nava yang tak sabaran itu. Vian tersadar dan menatap ke arah anak kecil yang sedang menangis kencang, lalu beralih pandangan ke arah Nava yang sedang tersenyum mengejek ke anak kecil yang sedang mengantri di depan gerobak itu. "Nava? ada apa ini?" Tegur Vian ketus dan manatap tajam ke arah Nava. "Ini permen kapas ku! kau sudah lama menunggu disini.. jadi ini giliran ku, Vian." Ucap Nava memelas dan menatap Vian dengan pandangan memohon. "Nava! apa kau tidak malu.. cepat kembalikan permen itu pada nya." Tegur Vian tegas tak habis pikir mengapa Nava tidak begitu sabaran dan selalu saja bersikap manja dan seenak nya. "Tidak! ini punya ku!" Jawab Nava ketus dan bersih keras tak mau mengembalikan permen kapas yang sedang ia genggam saat ini. Vian menatap wajah Nava dengan tajam, Nava sungguh keteraluan! ia bahkan tak mau mengalah dengan anak kecil sekalipun, membuat Vian geram dan segera melangkah jauh meninggalkan Nava sendirian di sana, tampa mempedulikan triakan Nava yang memanggil-manggil nama nya itu. Helina kembali ke kediman keluarga Anggara, ia melangkah masuk ke dalam rumah besar itu dengan hati-hati, kandungan yang sudah besar saat ini semakin membuat nya sulit berjalan lebar-lebar seperti biasanya. Helina mendudukan dirinya dengan perlahan-lahan di sofa ruang tamu, sejak bermain kejar-kejaran dengan Riano ia mulai merasakan sesuatu di dalam kandungan nya itu, namun Helina langsung menepis semua pikiran buruk nya dan bersandar lelah di senderan sofa yang empuk itu. "Nyonya.Helina.. apakah kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Bibi pelayan pelan segera menghampiri Helina karna ia merasa Helina terlihat sedang tidak sehat sehabis pulang dari bandara itu. Helina tersenyum kecil lalu ia berucap "Tolong ambilkan aku air minum dan air hangat untuk merendam kaki ku ini, Bibi.. rasanya semakin membengkak." Ucap Helina pelan dan masih tersenyum kecil sambil mengelus perut buncit nya sepertinya Aksa kecil sedang aktif untuk bergerak akhir-akhir ini. "Baik, Nyonya.Helina.. akan segera saya bawakan." Ucap sang pelanyan dengan sigap dan patuh segera pergih dari hadapan Helina. "Uhh.." Pekik Helina sakit karna merasakan tendangan kuat dari dalam perut nya saat ini. "Mengapa ia terus saja menendang-nendang di dalam sana, apakah anak ku akan menjadi pemain bola suatu saat nanti? ahh.. tidak!tidak! aku tak boleh memikirkan hal-hal itu semua." Ucap Helina tak habis pikir dan merasa bingung mengapa si bayi tak mau tenang didalam sana yang mana membuat nya selalu meringis kesakitan akibat tendangan-tendangan itu. Tak begitu lama 2 orang pelayan pun berdatangan kehadapan Helina dengan sebaskom air hangat untuk merendam kaki Helina, dan segelas air putih untuk Helina minum nanti nya. "Rendamlah kaki, Nyonya.Helina dulu.." Ucap sang pelayan dengan wajah yang terlihat khawatir akan kondisi Helina saat ini. Helina pun dengan patuh dan melakukan ucapan sang pelayan merendam kedua kaki nya di baskom air hangat dan tersenyum kecil lalu ia berucap "Mengapa wajah mu seperti itu, Bibi? aku baik-baik saja, kok." Ucap Helina pelan dengan tertawa kecil bahagia melihat wajah panik nya sang pelayan yang memang sudah Helina anggap sebagai Bibi nya sendiri. "Bagaimana aku tidak panik, Nyonya.Helina.. wajah mu pucat dan kau menganduh kesakitan sedari tadi." Ucap sang pelayan cepat dengan nada khwatir. Helina tersenyum kecil lalu berucap "Helina, sungguh tidak apa-apa Bibi.. bibi, boleh lanjutkan tugas Bibi lagi.. Helina, akan berdiam saja disini." Ucap Helina pelan dan tersenyum lebar, sungguh ia sangat beruntung di usia nya yang sudah dewasa dan ingin menjadi ibu ia sangat-sangat mendapatkan kasih sayang yang berlimpah ruah, sangat beda jauh dengan dulu saat ia masih kecil atau pun remaja. Sang pelayan pun mengagguk mengerti lalu ia berucap "Baiklah Nyonya.Helina, tapi saat Nyonya.Helina membutuhkan sesuatu segeralahan panggil saya atau yang lain nya yang ada disini." Ucap sang pelayan dengan cepat masih dengan wajah panik nya menatap ragu-ragu ke Helina tak mau meninggalkan Nyonya nya yang sedang mengandung besar itu sendirian. "Baik-baik, siap komandan!" Jawab Helina cepat dan tertawa kecil sambil menaruh tangan nya di dahi nya seperti seorang prajurit yabg sedang memberi hormat kepada sang komandan. Pelayan itu hanya mampu tersenyum dan tertawa kecil sebelum pergih berlalu dari hadapan Helina, begitu pun dengan Helina yang tersenyum dan menertawakan dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN