10. Mengenang Masa Lalu

2027 Kata
Dan tak berselang lama Ayah Gio dan Bu Ani telah sampai kerumah Anggara, mereka berdua pun tersenyum tak kala melihat Helina yang sudah pulang ke rumah terlebih dahulu. "Lina, kau sudah sampai.. Nak?" Ucap Gio tersenyum ramah dan mengelus puncuk kepala Helina dengan pelan. "Sudah, Ayah.. Bibi Gita dan juga Riano menitipkan salam untuk kalian berdua." Ucap Helina pelan dan tersenyum kecil merasakan hal yang tak pernah ia bayangkan selama ini, bahkan ayah kandung nya tak pernah memperlakukan Helina sehangat dan seperhatian itu. "Waalaikumsalam, padahal Ibu mau ikut mengantarkan mereka berdua.. tapi, gara-gara rapat itu.." Ucap Bu Ani pelan tertunduk sedih tak bisa mengantar kepergihan Gita dan juga Riano ke bandara. "Walaikumsalam, sudahlah Ani.. mereka pasti memaklumi nya, tolong siapkan berkas-berkas lahan tanah yang ada di pedesaan itu.. taruh di meja kerja ku ya, aku ingin mandi dulu." Ucap Ayah Gio cepat dan tegas, sikap Gio yang tegas dan bijaksana itu membuatnya sulit untuk di tebak dan di prediksi! namun jauh di hati kecil nya ia juga merasa sedih karna tak bisa mengucapkan salam perpisahan kepada ibu dan anak itu! Gio hanya tak mau menunjukan itu semua di hadapan semua orang! sikap nya yang tegas sulit untuk di hilangkan dari dirinya. Ani hanya mampu tersenyum kecil lalu menggangguk "Baikalah, aku juga akan ikut membantu menyelesaikan nya.. bolehkah?" Ucap Bu Ani cepat dan terdengar ragu-ragu bahwa ia akan di izinkan untuk ikut campur di dalam perusahaan. Gio memandang Ani dengan pandangan yang sulit di artikan, lalu ia berkata "Baiklah, aku juga pasti akan sangat membutuhkan bantuan, mu." Ucap Ayah Gio cepat dan langsung berlalu begitu saja pergih meninggalkan kata-kata yang membuat kedua pipi Bu Ani merona seketika. Helina hanya mampu tertawa kecil melihat dan mendengar kedua pasangan yang masih terlihat kaku walau pernikahan mereka bahkan sudah lebih dari 34 tahun, sungguh Gio dan Ani terlihat seperti pasangan yang baru saja menikah! terlihat ragu-ragu dan malu-malu namun ada cinta yang dasyat di kedua bola mata mereka berdua. "Lina, jangan menertakan Ibu.. Nak." Ucap Bu Ani malu akan Helina yang terus saja tertawa kecil menertawakan pristiwa yang barusan terjadi itu. Helina menggeleng lalu ia berucap "Ayolah Ibu, katakan saja pada Ayah.. kalau Ibu ingin selalu membantu dan berada di dekat nya! apakah aku yang harus berbicara pada, Ayah?" Ucap Helina pelan terkekeh kecil senang sekeli meledek Ibu mertua nya yang masih terlihat kaku kepada suami nya. "Lina.. jangan Nak, hal ini sudah cukup untuk membuat Ibu senang! Ibu tak mau meminta lebih dari ini.. Ibu, tak mau tamak nantinya." Ucap Bu Ani pelan dan tersenyum lebar merasa bahagia akan ucapan Gio tadi. "Kenapa? Ibu kan istrinya?" Tanya Helina cepat merasa bingung akan ucapan Bu ani yang ambigu menurut nya itu. Bu ani hanya mampu tersenyum simpul, dan mengingat kembali cerita cinta lama nya yang begitu panjang dan rumit! cinta, persahabatan, dilema, dan drama, menjadi kesatuan dan air mata yang tak bisa di pisahkan! diawali dengan sebuah perjodohan yang menjerat semua hati yang merasa tersakiti, kisah cinta? akan kan semulus dan sebahagia itu?kita semua tak akan pernah tau. Bu ani hanya mampu tersenyum simpul, dan mengingat kembali cerita cinta lama nya yang begitu panjang dan rumit! cinta, persahabatan, dilema, dan drama, menjadi kesatuan dan air mata yang tak bisa di pisahkan! diawali dengan sebuah perjodohan yang menjerat semua hati yang merasa tersakiti Fashback~~~~~ Di sebuah rumah sederhana kini sedang terjadi keributan besar-besaran, dua orang wanita yang saling adu pendapat dan argumen mereka sendiri-sendiri. Ani hanya mampu menundukan pandangan nya dan memegang kedua tangan nya sendiri bergemetaran, hati nya tak bisa menerima semua ini! tapi seluruh keluarga sangat menginginkan pernikahan ini terjadi! Ani bingung tak tau harus berbuat apa, ia hanya mampu meremas rok abu-abu sekolah nya dengan kuat-kuat. "Ani, tetap harus menikah dengan putra ku." Ucap seorang wanita tua yang terlihat marah dan kesal itu tetap kekeh akan perjodohan yang akan segera di lakukan ini. "Tolong, mengertilah.. putra mu memiliki kekasih nya sendiri! dan kekasih nya adalah sahabat putri ku! perjodohan ini tak bisa dilakukan." Ucap seorang wanita lain nya yang masih tetap membela Ani, tentu saja! ia adalah ibu kandung Ani Pramita sari, bagaimana bisa ia menempatkan posisi anak nya di kedua dilema antara persahabatan dan perjodohan. "Dewi, kumohon.. aku cuma akan merestui Gio menikah dengan putri mu! aku tidak setuju dengan kekasih Gio.. ia terlihat tidak baik." Ucap seorang wanita yang masih terlihat kesal itu berusaha membujuk Dewi teman nya agar perjodohan anatara kedua anak nya tetap berlanjut. "Clara, aku juga mau kita berbesan.. tapi anak kita yang akan menjalani semua batra rumah tangga mereka! kita tak bisa memaksakan nya." Ucap Dewi pelan berusaha membujuk kembali dan berulang kali agar teman nya itu mau mengerti akan kondisi dan situasi yang di luar kendali itu. "Aku tau! karna itulah.. perjodohan ini harus terus berlanjut! aku percaya Ani akan mempu bersama dengan Gio.. kumohon, tolong kabulkan permintaan ku ini." Ucap Clara pelan meneteskan air mata nya yang mana membuat Dewi tak kuasa dan mengagguk mengiyakan permintaan teman nya yang sedang sakit itu. SMA Negri 6, kantin pukul 12:08... Brak.. Ani terjatuh ke lantai dan kuah bakso yang sedang ia bawa dengan nampan tepat mengguyur tubuh nya itu, Ani merintih kepanasan akibat kuah bakso yabg masih panas mengenai tubuh nya, sementra itu seorang siswi berambut panjang berwarna ke pirangan itu tersenyum mengejek. "Gak punya muka yaa! udah ngrebut pacar orang, dan masih berani nya nampilin diri di sini." Sindir siswi itu dengan nada ketus. "Aku ngga ngrebut! tanya saja sama Gio.." Bela Ani pada dirinya sendiri merasa kesal pada sahabatnya itu yang terus saja mengganggu nya setelah pertunangan Ani dan Gio terlaksana. "Basi! gua gak nyangka lu bisa berbuat itu sama gua sahabat lo! apa lu gak bisa nolak hah? gua itu sahabat lo! masa ia lu ngrebut pacar sahabat lo sendiri, udah gila ya lo?" Ucap siswi itu kesal dan marah meluapkan kekesalan nya pada Ani yang hanya bisa terdiam kaku menerima pasrah semua tuduhan-tuduhan yang tak di masuk akal itu. Prank.. suara nampan besi tepat melayang dan terjatuh di lantai dan di hadapan Ani dan Siswi itu dengan sangat kencang dan menggemparkan nya. "Jauhin, Ani.." Ucap Gio cepat terlihat sekali di wajah nya amarah yang hampir saja meledak jika ia tidak tahan akan semua tindakan mantan pacarnya itu pada Ani yang terjebak perjodohan yang tak di inginkan. "Sayang, dia ngambil kamu dari aku!" Ucap siswi itu memelas dan berhamburan ke arah Gio sambil memegang lengan tangan Gio dengan sangat erat nya. "Cukup! kita sudah putus.. dan Ani adalah tunangan aku! jadi cerna itu semua baik-baik dan jahuin Ani.. kalo aku masih melihat atau pun kau melakukan hal ini kembali, maka bersiaplah.. aku orang pertama yang akan kau hadapi nanti nya!" Ancam Gio tegas pada siswi yang manja itu dan dengan gampang nya Gio melepaskan pegangan tangan siswi itu dari lengan nya dan segera menghampiri Ani. Gio melirik ke arah Ani, ia dengan cepat menggandeng tangan Ani erat-erat berjalan menjahui kanti dan menuntun Ani ke arah kamar mandi khusus siswi wanita berada. "Bodoh! masuklah.. dan pakai saja jaket ku ini." Ucap Gio ketus dan segera melemparkan jaket nya ke arah Ani. "Aku tidak bodoh!" Ucap Ani pelan bergumam kecil dan segera masuk ke kamar mandi dengan patuh nya terhadap perintah Gio tunangan nya yang baru saja 3 hari itu. Gio tersenyum kecil mendengar gumaman Ani yang terdengar seperti merajuk kesal tapi ia tak berani berkata tegas meluapkan kekesalan nya, Gio mengerti Ani memang adalah siswi yang pandai dan penuh dengan rasa empati yang kuat! karna itulah Gio terkadang merasa Ani terlalu lemah untuk menjadi istri nya kelak. Semilir angin bertiupan dari berbagai arah, Ani kini sedang menunggu di sebuah taman yang berada dekat dengan rumah nya, ia merasa bingung mengapa Gio meminta nya datang kesana. "Sudah lama?" Ucap seorang pria yang baru saja turun dari kotor ninja nya dan segera menghampiri Ani yang tengah terduduk di bangku taman. "Sudah! lama sekali.." Ucap Ani pelan merasa sedikit kesal karna dirinya sudah menunggu Gio sedari tadi. Gio hanya mampu tersenyum simpul dan mengaggukan kepala nya beroh ria saja yang mana membuat Ani bertambah jengkel melihatnya. "Ada apa?" Tanya Ani pelan sifat nya yang pemalu kembali lagi kepada dirinya yang tadi sempat hilang akan kekesalan pada Gio yabg datang terlambat dari waktu yang di tentukan oleh dirinya sendiri. "Aku akan masuk ke militer! apa kau tetap mau menjadi tunanganku? dan menunggu ku?" Ucap Gio tegas dan serius menatap wajah Ani yang terlihat terkejut. "Apa yang kau ucapkan? kau mau memutuskan pertunangan ini? setelah semua itu?" Ucap !ni gugup merasa tak di inginkan oleh Gio tunangan nya yang baru saja 3 hari itu. "Apa kau tunarungu? aku tidak bilang ingin memutuskan pertunangan ini! periksakan telingan mu kedokter sana." Ucap Gio kesal dan segera duduk di samping Ani tampa permisi lagi. Ani bahkan tak bisa menutup mulut nya, perkataan Gio sangat membuat nya kesal bukan main! karna itu lah ia bingung mengapa sahabat nya dulu pernah berpacaran dengan pria yang seketus dan tak berperasaan ini! huuh.. Ani mengasihi dirinya sendiri, sungguh malang nasib nya. "Berikan jawaban mu? aku tidak punya banyak waktu." Ucap Gio kembali dengan nada angkuh. Ani menghela napas nya berat, disatu sisi ia beriyes ria karna pertunangan nya akan batal namun ia tak mau jika harus membebani kedua orang tua nya yang sangat menginginkan pertunangan ini untuk nya. "Kalo kau diam aku anggap jawabanya adalah kau mau menunggu ku!" Ucap Gio tegas dan menatap wajah Ani intens. "Apa? bagaimana bisa kau memutuskan nya secepat ini? aku bahkan tak bilang apa pun." Ucap Ani sedikit meninggi merasa tak adil karna tak di berikan kesempatan untuk berbicara. "Kau yang diam sedari tadi! sudahlah.. aku mau pulang," Ucap Gio cepat dan segera menaiki motor ninja nya kembali namun ia sama sekali tak menjalankan motor itu hingga beberapa menit berlalu. "Kau sedang apa disana? melamun? ayo naik." Ajak Gio cepat dan segera melemparkan helm pada Ani, yang mana membuat Ani kerepotan menangkap helm yang telah Gio lempar padanya. "Sudah kasar! angkuh! tegas! berbicara pedas! lengkaplah sudah, pantas saja dirinya selalu saja memancarkan aura dingin." Gumam Ani kesal menatap tajam Gio dengan pandangan ingin memangsa. "Aku mendengar nya! ayo cepat naik.. aku akan mengantar mu kerumah sekalian menyapa mertua ku." Ucap Gio cepat dan melemparkan senyuman simpul nya pada Ani yang mana membuat Ani gugup seketika. Fashback Off~~~~~ Ani saat ini berada di alam kenangan nya dan tersenyum kecut mengingat itu semua! yang mana membuat Helina makin aneh dan penasaran akan apa yang sedang di lamunkan ibu mertuan nya itu sedari tadi. "Ibu, ada apa?" Tanya Helina pelan yang mana membuat Ani kembali tersadar dari lamunan nya itu. "Ahh, hanya mengenang masa lalu.. kemarikan kedua kaki mu, biar ibu pijitin lagi.. pasti cape kan." Ucap Bu Ani pelan dan tersenyum hangat memandang wajah menantunya dengan lembut. "Ohh begitu.. iyaa buu, Cucu ibu terus saja menendang-nendang di dalam sini.. Helina, jadi merasa sediikit kesakitan." Ucap Helina pelan mengadu pada Ibu mertuanya itu. "Cucuku berati sudah tidak sabaran untuk melihat dunia yang indah ini." Ucap Bu Ani pelan dan tersenyum lembut kepada Helina. Helina hanya mampu tersenyum, dan kembali bercerita, bercanda ria dengan mertua nya itu memang benar kata orang waktu kebersamaan dengan orang yang kita sayang sangatlah berharga dan sulit untuk di lupakan. Kediaman Anggara~~~ Kini Helina tengah disibukan dengan membersihkan piring-piring sehabis makan malam, dengan hati-hati Helina membantu para pelayan membawakan piring-piring ke tempat cucian piring. "Helina.." Panggil Ani lembut sontak saja yang merasa nama nya dipanggil menengok seketika kearah asal suara itu. "Iya, buu.."Jawab Helina cepat "Ibu, dengar dari supir.. katanya kamu mau ke karnaval bukan?" Tanya Bu Ani cepat membuat Helina langsung menepuk jidat nya pelan. "Ups, Helina lupa.. karnaval nya pasti sudah dimulai." Ucap Helina pelan dan cemberut tak suka, ia sudah kehilangan kesempatan melihat karnaval yang ramai dan menyenangkan itu. "Issh, baru aja dimulai kok.. mau ibu temani kesana?" Ucap Bu Ani tertawa kecil melihat wajah menantu nya yang sangat ingin datang ke karnaval itu. "Beneran, buu? pasti menyenangkan.. ehh, bukankah Ibu mau menemani ayah mengurus data-data lahan tanah itu?" Ucap Helina cepat manatap wajah Ibu mertua nya dengan pandangan penuh tanda tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN