"Ohh iya, yaa.. yah, Ibu tidak bisa menemani mu, Nak." Ucap Bu Ani sendu dan mengusap-usap kepala Helina lembut.
"Ibu, tidak apa-apa kok.. Helina, bisa pergih sendiri kesana." Ucap Helina cepat tak mau membebani ibu mertuanya itu dengan mengkhwatirkan dirinya yang ingin pergih ke karnaval.
"Sendirian? tidak! tidak bisa, Lina.. harus ada yang menemani mu." Ucap Bu Ani cepat merasa cemas akan kondisi Helina yang tengah hamil besar itu.
"Lina, akan mengajak, Dea.. jadi ibu tak perlu cemas lagi." Ucap Helina cepat dan tersenyum lebar, keinginan nya untuk pergih ke karnaval sudah sangat besar dan tak bisa di bendung lagi, ia dan bayi nya sangat ingin pergih ke keramaian yang mengasikan itu.
"Hmm, baiklah Lina.. hati-hati di jalan dan disana juga, mengerti?" Ucap Bu Ani cepat dan tegas, memberikan pringatan kepada menantunya yang sedang hamil besar itu.
"Hehehe.. baiklah, Bu komandan! akan Lina laksanakan." Ucap Helina cepat dan tegas dengan satu tangan di dahi memberi penghormatan kepada Ibu mertua nya itu.
Bu Ani hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil menanggapi candaan dari menantu nya itu, Helina sangat suka membuat orang di sekitar nya tertawa namun sayang nya Helina lupa membuat tawa untuk dirinya sendiri setelah kematian Aksa suami nya.
"Cepat berangkat, dan bersikap baiklah disana.. jangan terlalu bersemangat dan melupakan kandungan mu yang sudah besar ini, oke." Ucap Bu Ani kembali dan mengelus pipi chabi Helina dengan tulus dan lembut.
"Baik, Ibu.. Lina akan bersiap-siap dulu." Ucap Helina cepat dan segera menyerahkan tugas nya bersih-bersih meja makan kepada pelayan dan berjalan menuju ke arah kamar nya.
Helina membuka lemari pakaian nya ia mulai memilah-milah pakaian apa yang akan ia kenakan untuk datang ke karnaval itu, Helina kemudian memutuskan untuk memakai gaun sepanjang mata kaki dan memakai jaket berbulu karna keadaan di luar pasti dingin nya lebih terasa di bandingkan di dalam ruangan.
Helina melangkahkan kaki nya menuju ke ruangan kerja milik ayah mertuanya itu, Helina mengetuk pintu dua kali dan baru ia di izinkan untuk masuk kedalam.
"Helina.. ada apa?" Ucap Gio cepat dengan suara berat nya menatap ke arah Helina dengan penuh tanda tanya.
"Ayah.. dimana Ibu?" Tanya Helina pelan dan berjalan kembali mendekat ke arah meja kerja Gio berada.
"Dia baru saja keluar, ada perlu apa? apa sudah saat nya kau periksa kandungan mu, Nak?" Tanya Gio cepat melihat penampilan menantu nya itu yang sudah rapih seolah-olah ingin pergih ke suatu tempat.
"Tidak ayah, Lina ingin pergih ke karnaval.." Ucap Helina pelan dan tersenyum malu-malu.
Gio pun ikut tersenyum dan menaikan sebelah alis mata nya, Gio merasa Helina juga membutuhkan waktu untuk menikamati hidup nya setelah semua kejadian itu! Gio meletakan pulpen nya dengan perlahan-lahan di atas meja kerja nya itu.
"Ahh, baiklah Nak.. kau akan pergih dengan siapa kesana?" Ucap Gio cepat dan tersenyum kecil.
"Dengan Dea, ayah.. gadis itu juga ingin pergih ke karnaval." Ucap Helina kembali dan tersenyum kecil.
"Ohh, baiklah.. hati-hati di jalan, aku akan menugaskan Pak Joko untuk menjaga mu." Ucap Gio cepat dengan suara berat nya tak mau dibantah.
"Baik, Ayah.. Helina pamit pergih dulu." Ucap Helina cepat sambil mengucapkan salam sebelum pergih meninggalkan ruangan itu.
Gio dengan segera mengambil gagang telpon nya dan menyuruh salah satu penjaga untuk mengawal Helina di karnaval yang sangat ramai itu.
"Dea,.." Panggil Helina cepat dan sontak saja seorang gadis berpenampilan seperti anak kekinian itu menoleh ke arah Helina yang baru saja menuruni satu per satu anak tangga.
"Tante, Waah.. udah gede banget perut tante ya." Ucap Dea tapjub dan mengancungkan kedua jempol nya keara Helina.
"Kamu ini, ada-ada aja deh.. udah lama nunggu nya?" Ucap Helina cepat merasa malu karna Dea yang seolah-olah tabjup kepada nya itu.
"Udah nih, Tante terlalu lama berdandan nya!" Ucap Dea cepat dengan di barengi tawa nya yang super menyebalkan itu menurut Helina.
"Hmm, awas kamu yaa.. akan Tante Lina bilangi ke Bibi Lastri kalo kamu pacaran sama anak juragan sayur loh!" Ucap Helina cepat kembali meledek gadis kecil yang saat ini pipi nya sedang merona merah padam karna ucapan Helina.
"Ihh, Tante jangan.. Dea, jadi malu tau." Ucap Dea cepat dan menggelengkan kepala nya cepat agar Helina tidak membocorkan rahasia nya itu.
"Hmm, gimana yaa? akan Tante pertimbangkan! tapi sekarang ayo kita berangkat dulu." Ucap Helina cepat dan tertawa kecil senang sekali bisa mengerjai gadis centil itu.
Karnaval, pukul 20: 23 WIB..
"Tante, sudah yaa.. Dea cape nih!" Ucap Dea berkelit pasal nya ia bukan merasa kecapaian tapi merasa malu karna terus saja di ajak Helina berkeliking karnaval! Helina terus saja mengajak nya mencoba atau menaiki semua permainan yang ada di karnaval itu.
"Yah, Dea mah lemah! Tante belum naik itu, itu, itu dan itu.." Ucap Helina protes tak suka dengan menunjuk-nunjuk semua permainan yang belum ia naiki satu-persatu.
"Tante, aku bingung deh.. persaan yang hamil besarkan Tante nih.. tapi kenapa Tante ngga merasa cape si?" Tanya Dea cepat, pertanyaan itu terus saja berputar-putar di pikiran nya sejak tadi.
"Yaa.. itu, makan nya kamu tuh harus senam terus setiap hari.. biar sehat dan kuat! masa baru segitu aja udah cape." Ucap Helina pelan dan memanyunkan bibir nya kedepan mengejek Dea yang sudah letih untuk berjalan kembali itu.
"Terserah ahk.. cape! aku mau beli es dulu, tante duduk disitu aja tuh." Ucap Dea cepat sambil menunhuk bangku kayu yang memang sudah tersedia dipinggiran jalan sana.
Helina mengagguk setuju lalu berucap "Oke, jangan lama-lama, yaa." Ucap Helina cepat dan berlalu pergih ke arah bangku itu namun.
Kedua mata Helina tak bisa berkedip ketika melihat Vian tengah berjalan dan bergandengan tangan dengan Nava, pandangan mata Vian juga menuju ke arah Helina sesaat ada sesuatu hal yang tak bisa di ucapakan oleh bibir namun terlihat jelas di kedua bola mata mereka berdua.
"Apa kabar, kak? sehat?" Ucap Nava cepat sangat terdengar basa-basi dan sengaja mempereratkan gandengan tangan nya dengan Vian di hadapan Helina.
Helina tersenyum kecil dan ia menggit bibir bawah nya terlebih dahulu sebelum memulai permainan topeng lama ini! dengan suara berat nya Helina berucap "Baik, dan sehat." Ucap Helina cepat dan segera pergih menjauh dari Vian dan juga Nava, ia tak ingin bertemu dengan kedua orang itu! kedua orang yang selalu mengambil kebahagian dari hidupnya! tidak! tidak untuk malam ini.
"Lihatkan! tidak punya sopan santun! dasar anak pembantu!" Grutu Nava marah dan mengolok-olok Helina yang sudah pergih jauh itu.
Vian mengerutkan kedua alis matanya dan menatap tajam ke arah Nava, ia pun mulai membuka suara "Kau, memang tak akan pernah bisa berubah!" Ucap Vian cepat menatap marah ke arah Nava.
"Ups, maafkan aku, sayang." Ucap Nava cepat dan mengeratkan pegangan tangan nya memohon pada Vian, yang mana membuat Vian malah bertambah marah padanya.
Vian sontak saja melepas paksa gegaman tangan Nava pada lengan nya lalu berucap "Hentikan! lebih baik kita pulang masing-masing saja." Ucap Vian cepat dan tegas ia pun segera melangkah meninggalkan nava sendirian di tengah karnaval yang ramai itu.
Nava mengepalkan kedua tangan nya kuat-kuat! lalu berucap "Ini semua salah Helina! tunggu saja aku akan membuat perhitungan dengan mu! dasar anak pembantu murahan!" Ucap Nava geram dan marah akan sikap Vian yang kasar padanya hanya karna seorang Helina? anak pembantu yang tak dianggap itu.
Helina sudah berlari cukup jauh menjahui keramaian karnaval, detak jantung nya tak beraturan! bayang-bayang masa lalunya berputar kembali bagaikan film yang terekam di kepala nya! Helina terduduk lemas di terotoar jalanan.
Langkah kaki kian mendekat ke arah Helina berada "Nyonya.Helina.. anda baik-baik saja?" Tanya seorang pria tegap yang langsung menghampiri Helina dari kejahuan sana.
Helina sontak menggeleng dengan cepat lalu berkata pelan "Tolong.. segera bawa Lina pulang, Pak Joko." Ucap Helina pelan dan terdengar gemetaran di setiap kata yang ia ucapkan.
"Baik, Nyonya.Helina.." Ucap Pak Joko cepat dan sigap membantu Helina berjalan ke arah pakiran mobil.
Sebelum memasuki mobilnya Helina berkata "Pak joko, bisakah bapak mencari Dea di dalam karnaval sana? Dea pasti sedang kebingungan disana." Ucap Helina pelan dan duduk di kursi belakang mobil.
"Baik, Nyonya.. saya akan segera kembali." Ucap Pak Joko cepat sebelum ia menutup pintu mobil dan berlari ke arah karnaval yang sedang berlangsung itu.
Helina menghela napas panjang nya berulang kali, namun rasa cemas dan takut di dalam dirinya belum kunjung-kunjung menghilang! entah mengapa setiap ia melihat Nava, Helina langsung di selimuti rasa cemas dan kekhawatiran yang mendalam.
"Ada apa ini?" Gumam Helina cemas dan mengusap-usap perut buncit nya khawatir.
Kekhawatiran Helina semakin menjadi saat bayangan masa lalu itu kembali! tak bisa di pungkiri waktu kecil Helina pernah makan-makan yang di campur racun tikus! pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Nava! adik tiri nya yang selalu senang melihat Helina menderita dan bersedih.
Tok..tok..tok.. terdengar suara ketukan dikaca mobil yang mana membuat Helina menengok ke kaca mobil kanannya, Helina sontak terkejut! Vian yang sedang mengetuk kaca mobil nya.
"Mau apa dia? tidak puaskan sudah membuat ku menderita?" Gumam Helina kesal dan dengan ragu-ragu Helina menurunkan kaca mobil nya dengan perlahan-lahan.
"Lina, kau baik-baik saja?" Tanya Vian terdengar cemas dan mengkhawatirkan keadaan Helina.
Helina terteguh, ia tak percaya Vian akan menanyakan pertanyaan itu! namun wajah Vian yang sangat menampilkan wajah cemas itu membuat hati Helina sedikit tenang, entah ada apa dengan Vian! Helina selalu merasa tenang jika ia berada dekat dengan nya.
"Apa aku perlu menjawab mu?" Ucap Helina ketus dan menatap tajam ke arah Vian, walau ia merasa aman dekat dengan Vian namun tak akan bisa mengapus pristiwa yang sangat menyakitkan itu! yaitu kematian Aksa Anggara karna telah menyelamatkan seorang pria yang sedang berdiri di hadapan nya itu.
Vian menghela napas nya dan tersenyum getir! tentu saja Helina belum memaafkan dirinya! namun seakan hati nya memiliki pikiran yang lain, yang selalu ingin memastikan keadaan Helina setiap saat.
"Ku anggap kau baik-baik saja, jangan berlari seperti itu lagi saat bertemu dengan ku kembali! kandungan mu sudah besar itu akan sangat berbahaya nanti nya, biar aku saja yang pergih menjauh dari mu!" Ucap Vian cepat dan tegas ia pun tersenyum getir sebelum berlalu dari hadapan Helina.
Helina menatap punggung besar Vian dengan sejuta kebingungan di benaknya! mengapa Vian berbicara seperti itu padanya? mengapa Vian mengkhawatirkan nya? mengapa Vian tersenyum seperti itu? seolah-olah tersakiti akan ucapan nya sendiri! bukan kah dulu Vian selalu menatap Helina dengan pandangan merendahkan dan memaki Helina tampa alasan yang jelas.
"Apakah Vian sakit? atau sudah tobat ya?" Gumam Helina pelan dengan sejuta pertanyaan-pertanyaan lainya di benak nya.
"Kalau pun benar! maka akan bagus untuk nya.. ia tak akan mudah di peralat kembali oleh Nava yang mengerikan itu." Ucap Helina pelan tak mau ambil pusing oleh sikap kedua orang itu.
"Tante! yaallah.. buat dea khwatir deh!" Ucap Dea cemas dan langsung masuk ke dalam mobil tampa aba-aba atau pun salam.
"Dea, suara kamu kecilin ihh.." Ucap Helina protes dan mencubit-cubit gemas lengan tangan Dea yang sudah menarik perhatian para pejalan kaki yang sedang melewati mobil nya itu.
"Yaa.. maaf, abis Tante si main pergih aja!" Protes Dea kesal dan menyipitkan kedua matanya menatap intens ke arah Helina saat ini.
"Pak joko, ayo cepat kita pulang, pak." Ucap Helina cepat yang mana langsung di angguki oleh Pak Joko.
"Baik, Nyonya.Helina.." Ucap Pak Joko cepat dan mengarahkan mobil nya untuk keluar dari pakiran mobil.
"Tante Lina, tak mau menjawab pertanyaan, Dea?" Tanya Dea kembali merasa di abaikan oleh Helina yang malah berbicara pada Pak Joko supir sekaligus penjaga keluarga anggara itu.
"Apa maksud mu, Dea?" Tanya Helina balik pelan berpura-pura tidak tau dan mulai mencari alasan di benak nya.
"Huuf.. tadi Dea tanya Tante Lina, kenapa Tante pergih gitu aja?" Tanya Dea kembali dengan segudang rasa penasaran nya nya itu.
Helina tersenyum kecil lalu berucap "Tante lelah, dan keponakan mu ini juga.. jadi Tante putuskan untuk pulang deh." Ucap Helina gamblang dan tersenyum lebar tampa berdosa itu.
Dea melongo seketikan dan mulai mengatur sara sebalnya pada bumil satu ini, akan tidak baik jika ia mencari masalah pada bumil yang super labil ini.
"Haah.. sudahlah Tante, ini untuk keponakan ku!" Ucap Dea cepat dan dengan segera menyerahkan es boba untuk Helina.
Helina yang melihat pemandangan yang mengiurkan itu pun sontak saja tersenyum lebar seketika! es boba impian nya, telah ada dihadapan nya saat ini.
"Waahh.. terimakasih Tante, Dea." Ucap Helina cepat dan langsung mengambil es boba milik nya itu.
Dea merinding seketika! ia akan menjadi tante? what? di usianya yang baru menginjak 17 tahun? hahaha.. Dea hanya bisa menertawakan dirinya sendiri.