Helina tersenyum lebar, ia bahagia memandang foto-foto USG yang kini sedang berada di genggaman nya itu, Helina mengelus perut buncit nya dengan penuh perhatian lalu ia berucap "Sebentar lagi kamu akan melihat dunia, Nak." Ucap Helina pelan dan tersenyum lebar.
Helina teringat akan waktu sholat isya nya yang belum terlaksana, Helina segera beranjak dari kasurnya setelah meletakan foto USG bayinya ke album keluarga, Helina mengarah ke laci kedua dari lemari kecil yang ada di dekat tempat tidurnya itu, ia segera memasukan album besar berwana biru itu ke dalam laci, ia pun segera bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Helina sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa anak nya kelak tidak akan pernah kehilangan kasih sayang dari seorang Ayah! Helina akan menjadi Ayah sekaligus Ibu yang terbaik untuk anak nya kelak.
Vian mengitari jalan-jalanan pinggir kota, setiap mengingat ucapan nya sendiri Vian sontak menjadi kesal dibuatnya! akan menjauh dari Lina? hah? yang benar saja! bukan kah ia harus bertanggung jawab kepada Aksa yang sudah menitipkan Helina pada nya! bagaimana bisa ia sebodoh itu berucap akan menghilang dari hidup Helina! bagaimana caranya agar Vian bisa menjaga Helina tampa Helina mengetahui keberadaan nya? bagaimana.
"Huuuff.. berat sekali ujian mu ini, ya rabb." Gumam Vian menghela napas nya berat dan memberhentikan mobil nya di jalanan kota yang sudah sepi itu.
Tak ada kendaraan yang melewati jalan itu hanya hawa angin malam yang semakin terasa di tubuh Vian, Vian terseyum kecut membayangkan ucapan bodoh nya yang baru saja ia kata kan pada Helina.
Tak begitu lama terdengar suara mobil berhenti di samping mobil Vian, Vian menengok sekilas kearah mobil berhenti itu lalu ia kembali menatap langit-langit malam dari atas kap mobil nya yang sedang ia duduki itu.
"Sudah lama sekali.." Ucap seorang pria bertubuh tegap dengan suara berat menegur Vian yang termerenung entah kemana.
"Apa maksud mu?" Ucap Vian pelan masih menatap langit-langit malam yang indah itu.
"Sejak kau menjadi Mayor! kau seakan lenyap dari kita semua." Ucap pria bertubuh kekar itu dengan kekehan kecil nya seolah-olah menyindir lawan bicaraan nya itu.
"Apa kau iri dengan jabatan ku itu? kau boleh mengambil nya!" Ucap Vian tak kalah dingin dari pria bertubuh kekar itu.
"Hahaha.. melihat mu seperti ini justru aku malah bersyukur karna tak mendapatkan jabatan itu!" Ucap pria bertubuh kekar itu tertawa mengejek.
Vian menatap nya tajam lalu berucap "Lebih baik kau lanjutkan tugas malam mu! kau tidak mau makan gaji buta bukan?" Ucap Vian ketus dan menatap ke arah pria itu dengan tatapan tajam.
"Hah! ini lah mengapa aku malas berteman dengan mu! hanya Aksa lah yang betah berteman dengan orang seperti mu!" Ucap pria bertubuh kekar itu ketus dan bukan nya pergih ia malah menyenderkan punggung nya di kap mobil Vian.
Vian terdiam, ucapan pria itu benar! hanya Aksa lah yang tahan akan semua tingkah dan tindakan nya selama ini.
"Bocah itu bahkan merelakan nyawa nya untuk mu! kau pasti sangat tersakiti akan hal itu bukan? bagaimana rasanya melihat orang terdekat mu mati untuk menyelamatkan dirimu? hm." Ucap pria bertubuh tegap itu kembali dan tersenyum meremehkan kepada Vian.
Vian mengeraskan wajah nya lalu berucap "Diamlah, Farhan!" Ucap Vian dingin dan menatap tajam ke arah pria itu, Farhan adalah teman lama nya saat masa SMA dulu namun Farhan lebih memilih menjadi polisi saja ketimbang menjadi seorang tentara militer.
"Hey! baiklah.. baiklah.. aku tidak akan menyinggung mu lagi! santai sob!" Ucap pria itu kembali dan terkekeh bahagia karna sudah berhasil memancing amarah Vian.
Vian mengebrak kap mobil nya yang sedang ia duduki itu dengan kedua tangan nya! omongan pria disamping nya itu membuat luka di hati Vian kembali terbuka! rasa penyesalan di dalam dirinya tak akan pernah bisa di luapkan oleh ucapan atau pun tindakan! Vian benar-benar merasa bodoh! karna tak bisa mengetahui siasat lawan nya saat itu.
"Aku mengunjungi makam Aksa tadi sore, makam itu selalu wangi dan terawat! Helina pasti sering kesana." Ucap Farhan kembali dan tersenyum kecut.
Farhan dulu nya adalah seorang pria pengagum Helina jauh sebelum Helina bertemu dengan Aksa dan mereka berdua menikah! bahkan sampai sekarang Farhan masih menyimpan rapih-rapih cintanya itu pada Helina seorang.
Vian menengok ke arah Farhan, lalu ia berucap "Yaa.. ia selalu datang di pagi hari." Ucap Vian cepat dan memandang langit-langit malam kembali.
"Bagimana dengan mu? kau sudah putus dengan Nava?" Tanya Farhan penasaran dan menatap ke arah Vian dengan lekat.
Vian sontak menaikan sebelah alis mata nya bingung, Putus? bagimana bisa Farhan menanyakan hal itu kepada nya? sementara selama ini hanya Nava lah yang selalu Vian pikirkan.
"Tidak! aku masih dengan nya." Ucap Vian cepat dan tegas, yaa.. hanya Nava lah wanita yang ada di hati nya saat ini.
Farhan sontak saja terkejut! lalu ia kembali berucap " Benarkah? tapi seminggu yang lalu ia jalan dengan seorang pria yang memanggil nya sayang! apakah dia selingkuh darimu?" Ucap Farhan terkejut dan menatap Vian penasaran.
Vian pun tak kalah terkejutnya! perkataan Farhan bukan kali pertama yang Vian dengar dari semua teman-teman nya selama ini! Nava selalu di bicarakan selingkuh! jalan bersama pria lain! di belakang Vian selama ini! namun sontak saja Vian dengan cepat merubah kembali wajah terkejut nya dan membuang napas panjang nya.
"Mungkin kau salah lihat!" Ucap Vian getir dan tersenyum kecut lagi dan lagi Vian membela Nava untuk kesekian kali nya kembali, walau kenyataan yang begitu menyakitkan ini! tetaplah tak bisa membuat nya membenci Nava! dengan bodoh nya Vian masih tetap mencintai Nava, wanita yang manja dan arogan itu.
Farhan bergidik nyeri! ia sudah tau bahwa Vian mengetahuinya sejak lama, namun setelah melihat reaksi Vian yang begitu biasa saja setelah mendengar semua itu! sontak saja membuat nya kasihan sekaligus meneriaki Vian bodoh di dalam hati nya saat ini.
"Baiklah, terserah kau saja! yang terpenting aku sudah memberitahukan mu! sampai jumpa.. aku tak mau makan gaji buta dengan duduk-duduk saja di balik meja atau menemani mu bicara disini!" Ucap Farhan cepat dan tersenyum simpul sebelum meninggalkan Vian.
"Bolehkan aku menemani mu menjaga kota malam ini?" Ucap Vian cepat dan menengok ke arah Farhan yang sudah membuka pintu mobil nya saat ini.
"Apakah seorang Mayor kekurangan perkerjaan? atau kah sangat mencintai Negara mu ini sampai-sampai masih mau menjaga Negara di waktu liburan nya?" Ucap Farhan ketus dan meledek ke arah Vian.
"Sudahlah! tidak jadi.. wajah mu membuat ku muak!" Ucap Vian ketus dan menatap langit-langit kembali.
"Hahaha.. Ayo, ku dengar ada perdagangan ilegal di sekitaran sini! kau pasti akan sangat menyukai nya, bukan begitu Mayor?" Ucap Farhan cepat dan tersenyum simpul, ia sangat tau Vian adalah seseorang yang teliti akan tugas penyelidikan.
"Yang benar saja! apakah aku akan mendapatkan imbalan nya jika membantu mu menyelidiki nya?" Ucap Vian kembali dan tersenyum miring ke arah Farhan.
"Yaa.. mungkin secangkir kopi di malam yang dingin ini." Ucap Farhan kembali dan terkekeh kecil.
"Kau tau? dari dulu kau adalah orang terpelit yang pernah aku temui!" Ucap Vian cepat dan terkekeh mengejek.
"Hey! ayolah.. gaji ku tak sebesar gaji mu!" Ucap Farhan cepat dan tertawa lebar.
"Apa kau tak berniat membantu orang-orang korup, agar gaji mu naik dan kau bisa naik pangkat secara singkat?" Ucap Vian meledek dan tertawa geli akan ucapan nya sendiri.
"Jadi.. apakah itu jalan pintas yang membuat mu menjadi seorang Mayor Jendral yang perkasa saat ini?" Tanya Farhan kembali dengan cepat dan menaik turunkan kedua alis nya mengejek.
Sontak saja mereka berdua tertawa lepas sebelum memasuki mobil mereka berdua masing-masing dan berjalan ke arah tempat tujuan mereka berdua.
Kini kedua mobil tengah berhenti di sebuah gang kecil yang berada di pinggiran kota, Vian dan Farhan segera turun dari mobil mereka berdua dan mengendap-endap meneliti gang kecil yang ada di depan jalanan itu.
"Apakah ini tempat nya?" Tanya Vian cepat dan segera mendapatkan anggukan kepala dari Farhan.
"Ini ambilah.." Ucap Farhan cepat dan segera melempar sebuah pistol ke arah Vian, dan dengan cekatan Vian segera menangkap pistol itu.
"Thanks," Ucap Vian cepat dan tersenyun kecil.
"Yaah, hanya kau Mayor yang aneh.. tak membawa senjata saat sedang berada di luar!" Grutu Farhan kesal dibuatnya.
"Stt.. diamlah, kau seperti kakek-kakek yang sedang mengomeli cucu mu! ayo.. segera periksa gang ini saja." Ucap Vian cepat dan dengan hati-hati melangkah ke dalam gang kecil itu dengan Farhan yang berjalan di balakang nya.
Vian mengangkat satu tangan nya dengan cepat menandakan untuk Farhan berhenti berjalan, Farhan yang mengerti intruksi itu pun segera menempelkan tubuh nya di dinding gang kecil itu dan berusaha melihat ke dalam apa yang sedang terjadi disana.
"Hahahhaha.. kita menang banyak! si bodoh itu tak tau barang berkuwalitas seperti ini!" Ucap seseorang pria berperut besar yang sedang meracau di situasi dirinya yang sedang mabuk.
"Heyy.. ini semua berkat aku, Kak! beri aku imbalan yang besar." Ucap seorang pria berbadan kurus kering terlihat semponyongan mabuk.
"Hahahah.. benar juga! mari kita rayakan dengan berpesta malam ini!" Ucap pria berperut besar kembali dan tertawa lebar seperti raksaksa.
"Huuft.. ternyata benar! mereka pasti sekumpulan orang-orang yang menjual dan membeli senjata-senjata ilegal di pinggir kota." Ucap Farhan cepat dan tersenyum semirik menakutkan, Farhan pun dengan gegabah ingin menyergap tempat itu namun.
"Berhenti! tidak kah kau memperhatikan mereka? mereka begitu lemah bukan.. seperti tidak berpengalaman? ku rasa mereka hanya kaki tangan saja!" Ucap Vian cepat dan mulai meneliti bangunan-bangunan yang ada di sekitaran gang kecil itu.
Rumah-rumah yang terlihat tak berpenghuni itu terkesan kumuh dengan sejumlah barang-barang rosokan dimana-mana dan orang-orang yang sedang berpesta di dekat api unggun itu terlihat lemah dan bodoh! sangat tidak mungkin mereka semua adalah kepala dari perdagangan ilegal ini.
"Farhan! tempat apa ini?" Tanya Vian cepat dan menatap Farhan dengan lekat.
Farhan yang seolah-olah mengerti itu pun langsung memukul dahinya kencang lalu ia berucap "Sial, ini adalah tempat sebagian para pemulung di kota.. ini adalah tempat istirahat mereka! berarti selama ini.. mereka sering berada di sekitaran kami? sial kami semua tertipu." Ucap Farhan kesal dan mengeratkan kedua genggaman tangan nya marah.
Tap.. tap.. tap.. terdengar suara langkah kaki yang mulai memasuki bibir gang, Vian pun segera bertindak.
"Tunggu! ada yang datang! berpencar.." Ucap Vian cepat dan segera menyuruh Farhan lari ke bagian kiri dan Vian berlari kebagian kanan bersembunyi di balik barang-barang rongsokan.
"Hahaha.. selamat datang, Bos!" Ucap pria berperut besar itu memberi hormat kepada seseorang yang baru saja tiba itu.
"Apakah kalian menang banyak? kenapa disini sangat tercium bau minuman dimana-mana? apa kalian mau mati! hah? menghabiskan uang ku untuk minum-minum!" Triak seorang pria berbadan cukup besar itu terlihat marah dan menampar pria berperut besar itu hingga bersuara sangat keras dan memekikan telinga yang mendengar nya.
"Maaf.. maaf, Bos! tidak akan saya ulangi lagi! maafkan kami." Ucap pria berperut besar itu memohon di bawah kaki seorang pria tua yang baru saja menampar nya sangat keras itu.
"Maaf katamu? fuih.. hajar ba** bod*** ini! wajah nya benar-benar membuatku muak!" Ucap pria tua itu tegas dan menatap tajam ke arah sekeliling para bawahanya nya setengah mabuk itu.
"Tidak!! tidak, bos.. tidak!" Triakan mencengangkan dari seorang pria berperut besar itu memekikan telinga.
Tab..terdengar suara sentuhan di bahu Farhan, Farhan terkejut seketika ia pun segera mengarahkan senjata api nya ke seseorang yang sedang memegang bahu nya itu.
"Ini, aku.. santai sob." Ucap Vian cepat dan segera. menarik kembali Farhan di tempat persembunyian barang-barang rongsokan itu.
"Bagaimana bisa kau sudah berada disini? bukan kah tadi kau di sana?" Tanya Farhan penasaran dan menatap wajah Vian lekat.
"Sudahlah, kau tak perlu memujiku! lebih baik hubungi markas!" Ucap Vian cepat dan memerhatikan kembali apa yang sedang mereka lakukan disana.
"Hubungi markas? what? maksudmu teman-teman ku? yaa.. yang benar saja! dasar tidak mempunyai teman." Ucap Farhan terkekeh kecil sangat lucu mendengar Vian mengatakan hal itu.
Vian sontak menatap Farhan tajam, akhinya Farhan dengan gerakan cepat menyalakan handy talky nya dan segera menghubungi dan melaporkan akan hal yang sedang terjadi ini.
"Sudah, sekitar 15 menit mereka akan tiba." Ucap Farhan cepat dan kembali fokus memeriksa sekeliling nya.
"Kenapa kau tidak dari dulu memeriksa tempat ini? lihatlah.. sepertinya mereka adalah orang-orang yang sering menjual dan membeli barang-barang ilegal di sekitaran kota." Ucap Vian ketus dan menatap tajam ke arah Farhan.
"Hey, ayolah.. mereka itu suka berpindah-pindah tempat! hari ini saja aku beruntung bisa mendapatkan informasi ini." Ucap Farhan cepat membela dirinya dan menghindari tatapan tajam dari Vian.
"Bodoh.." Cibir Vian mengejek dan tentu saja berhasil membuat Farhan kalah telak.
"Bawa barang-barang ini cepat! kita tinggalkan tempat ini segera." Ucap pria tua itu dengan tegas yang sedari tadi di panggil dengan sebutan bos oleh mereka semua.
"Baik, Boss." Jawab mereka semua dan segera menyusun-nyusun kotak-kotak besar yang ada di sekeliling mereka.
"Mereka akan datang 10 menit lagi! gawat! bagaimana ini." Ucap Farhan cepat dan terlihat sedikit rasa panik di wajah nya yang tampan itu.
"Kita harus menghalai mereka." Ucap Vian cepat dan segera keluar dari tempat persembunyian nya.
"Apa! What? Nani?" Pekik Farhan cepat rak habis pikir 20 lawan 2? hah.. malam yamg panjang ia pun ikut menyusul Vian yang sudah melontarkan tembakan-tembakan yang memekikan telinga ini.
Dor.. dor.. dor.. terdengar sekali suara bising amunisi yang memekikan telinga! Vian dan Farhan menjadikan barang rongsokan sebagai tameng perlindungan mereka.
"Kau gila! 20 lawan 2 orang? dan mereka mempunyai persediaan senjata yang banyak! dasar stupid! kalau kau mau mati.. mati saja sendirian!" Triak Farhan frustasi ingin sekali ia mencakar wajah Vian yang tampan dan tak berdosa saat ini.
"Kau salah satu hal! mereka hanya 20 orang, dengan bersenjata api yang tidak berpeluru!" Ucap vian cepat tersenyum miring dan langsung menjatuhkan sekantung peluru yang sudah ia keluarkan dari senjata api sebagian yang ada di sana.
"Bagaimana bisa? hebat sekali." Gumam Farhan cepat dan tersenyum semirik.
"Mari kita barmain-main kawan." Ucap Farhan cepat dan tersenyum semirik.
"Hati-hati, Farhan.. mereka pasti masih mempunyai senjata tersembunyi." Ucap Vian cepat dan mendapat anggukan dari Farhan.
Dor.. dor.. dor.. suara tembakan saling beradu dengan kacau, sudah tak terhitung lagi berapa kali Farhan dan Vian menembak sekaligus menyuruh mereka semua untuk menyerah saja.
"Angkat tangan kalian! cepat." Teriak Farhan kencang dan membuat semua orang-orang itu menganggakat tangan nya ke atas.
"Capat katakan! dari mana kalian mendapatkan senjata-senjata ini!" Teriak Farhan kencang dan mulai terdengar samar-samar suara sirine mobil polisi yang semakin mendekat.
Vian terkekeh kecil, memang perkerjaan ini lah yang cocok untuk Farhan yang suka berteriak itu! Vian dengan tak sengaja menoleh ke sisi kanan dan ia melihat sebuah pistol sedang mengarah pada Farhan! Vian dengan cepat menembak lengan orang yang sedang memegang pistol itu.
Dor.. dor.. dua peluru sudah terlontar dari tempat nya! "Akhh.." Triakan seseorang yang terkena tembakan di lengan nya.