13. RS. Cahya Delapan

2196 Kata
Dor.. dor.. dua peluru sudah terlontar dari tempat nya! "Akhh.." Triakan seseorang yang terkena tembakan di lengan nya. Deg! Vian memegangi d**a nya yang mulai mengeluarkan cairan darah, Vian menatap sekilas ke wajah Farhan yang panik itu! Vian tersenyum kecil sebelum mengerjapkan mata nya yang sudah berat itu, Vian pun sesaat mendengar suara sirine mobil polisi dan terdengar langkah-langkah berat yang mulai berdatangan ke arah nya. Deg! Helina memegangi dadanya yang berdetak dengan kencang! tak terasa air mata mengalir dari kedua bola matanya, Helina sendiri tidak tau mengapa ia bisa seperti itu! Helina kembali beristigfar dan berdoa, hatinya tidak tenang! entah mengapa ini semua bisa terjadi? air mata nya tak mau berhenti sama seperti saat kematian Aksa, suaminya! namun bayangan sosok kali ini bukanlah Aksa, melaikan Vian! bagimana bisa ini terjadi? ada apa ini? apakah Vian baik-baik saja? semua pertanyaan itu berputar-putar di kepala Helina yang sedang cemas saat ini. Samar-samar suara orang-orang sudah tak bisa lagi Vian dengarkan, Vian mentap ke langit-langit atap yang berwarna putih bersih itu disana banyak sinar lampu-lampu yang menyilaukan mata dan bau obat-obatan yang menyeruak dimana-mana membuat Vian tersenyum getir! apakah ini sudah saat nya ia bersama dengan Aksa kembali? apakah ini artinya ia tak bisa mengabulkan permintaan Aksa yang terakhir kali nya untuk menjaga Helina dan juga anak nya? Vian menutup kedua mata nya ketika sebuah jarum suntik masuk ke dalam tubuh nya. Kediaman Anggara pukul 06 : 08 WIB Helina turun ke lantai bawah setelah mendengar suara keributan disana, Helina terteguh melihat Bu Ani yang sedang menangis di sofa sementara itu Ayah Gio sedang memakai jaket mantel nya sudah bersiap-siap untuk pergih kesuatu tempat. Helina bergegas menuruni anak tangga dan memeluk Bu Ani dengan erat lalu ia beralih pandangan menatap Ayah Gio lekat dengan penuh tanda tanya. "Ayah, ada apa ini? kenapa Ibu menangis seperti ini?" Tanya Helina cepat dan ikut menangis, entahlah air mata nya terus saja keluar tak bisa dicegah dari kedua kelopak matanya itu. "Nak, jaga Ibu mu.. Ayah akan segera kembali." Ucap Ayah Gio tegas dan terdengar sedikit gemetaran di akhir suara nya sebelum ia segera melangkah keluar rumah. Helina pun menggangguk mengerti, lalu ia kembali berusaha menenangkan Bu Ani yang saat ini sedang menangis, Helina mengusap-usapkan kedua tangan nya di punggung Bu Ani, ia berusaha menenangkan Bu Ani walau dirinya sendiri entah mengapa merasakan ada yang sakit di hati nya saat ini. "Ibu, tenanglah Buu.. ada Helina disini." Ucap Helina pelan dan memeluk Bu Ani dengan erat. "Lina, Ibu akan kembali kehilangan putra Ibu.. Nak." Ucap Bu Ani sesegukan dan menatap Helina dengan pandangan lemas. Helina mengerutkan kedua alis mata nya bingung lalu ia berucap "Ibu.. apa yang ibu ucapkan? putra Ibu? Aksa memang sudah tiada.. Ibu." Ucap Helina cepat dan menangis bersama dengan Bu Ani. Bu Ani menggeleng seketika lalu ia berucap dengan pelan kembali "Vian, Lina.. Vian telah tertembak di bagian dadanya! Vian anak ku dalam kondisi kritis sekarang ia sedang di operasi.." Pekik Bu Ani Frustasi dan memeluk Helina erat menangis di pelukan Helina. Helina terserentak ia tak mengira semua ini akan terjadi! sejak semalam ia memang memiliki firasat akan Vian! Helina meneteskan air mata nya sedih rasa sakit di hati nya saat ini semakin terasa menyakitkan seakan-akan ia ikut merasakan rasa sakit yang Vian rasakan. "Ibu, tenang lah.. Vian tidak akan kenapa-kenapa! Vian harus tetap hidup!" Ucap Helina sesegukan menangis, yaa.. Vian tidak boleh mati! Vian harus tetap hidup lebih lama lagi! pengorbanan Aksa tak boleh disia-siakan seperti ini. "Helina, akan kesana Buu.. Lina tak bisa hanya berdiam diri disini." Ucap Helina cepat dan segera menghapus air mata nya ia pun segera beranjak dari sofa namun tangan Helina segera di pegang oleh Bu Ani. "Ibu, akan ikut Lina.. Ibu sangat mengkhwatirkan Vian! bawa Ibu juga kesana." Ucap Bu Ani cepat dan segera beranjak dari sofa. "Baiklah Ibu, Helina siap-siap dulu.. Ibu tunggu disini." Ucap Helina cepat dan segera menaiki anak tangga dengan hati-hati. "Yaallah, mengapa ujian mu ini begitu berat, hamba tak akan kuat jika harus kehilangan anak hamba lagi.. bantulah Vian untuk bisa melewati masa kritisnya, aku memohon pada mu Yaarabb." Ucap Bu ani cepat dan terduduk lemas kembali di sofa menunggu Helina kembali sambil memegangi kepala nya yang terasa sangat berat sekali seketika. Helina segera mengambil tas dan memakai jaket yang berukuran besar sampai ke mata kaki nya, secara tak sengaja Helina menatap dirinya di pantulan cermin kedua mata yang sembab sangat terlihat jelas saat ini, Helina tak mempunyai waktu untuk memperhatikan penampilan dirinya saat ini! ia pun segera mengarah ke nakas untuk mengambil ponsel nya yang ada disana, ia pun segera keluar dari kamar nya dan menuju ke lantai bawah. 30 menit kemudian, RS. Cahya Delapan "Permisi, dimana arah ruangan operasi yang sedang berlangsung, Suster?" Tanya Helina cemas dan langsung memberhentikan seorang suster yang ada di dekat nya. "Lurus saja Bu, lalu berbelok ke kiri.. itu ruangan nya." Jawab Suster dengan cepat dan terlihat bingung menatap tampilan Helina dan Bu Ani yang terlihat sebab sehabis menangis sedari tadi. "Terimakasih, Suster." Ucap Helina cepat dan segera berlari kearah yang di beritahukan ia dan Bu Ani berlari tampa mempedulikan orang-orang di sekitar nya yang menatap bingung ke arah mereka berdua. Deg.. deg.. deg.. suara jantung Helina berdetak dengan kencang, Bu Ani dan Helina pun saling menatap cemas, setelah melihat pintu putih bersih dan lampu merah yang menandakan operasi sedang berlangsung di dalam sana. Tiit... terdengar samar-samar suara monitor Elektrokardiograf berbunyi nyaring sebelum berhenti, hal itu yang membuat seluruh tubuh Helina bergemetaran! Bu Ani pun hampir terjatuh karna syok setelah mendengar suara itu! Helina segera memapah Bu Ani untuk duduk di kursi tunggu yang di sediakan di sana. "Lina.. itu tidak mungkin Vian kan? tidak kan! Vian anak ku.. huhuhu." Ucap Bu Ani berteriak dan menangis tersendu-sendu. "Ibu.." Lirih Helina pelan dan segera memeluk Bu Ani erat ia ikut mengisi apa yang telah ia dengar itu. Cklek.. suara pintu ruangan operasi telah dibuka, lampu merah yang sedari tadi menyala pun telah padam menandakan operasi telah usai, seorang dokter pria keluar dari ruangan operasi itu, Helina pun segera menghampiri sang dokter dan mulai bertanya-tanya. "Dok, apakah operasi nya berjalan dengan lancar? atau pasien di dalam sudah meninggal, Dok?" Tanya Helina cepat ia sangat ingin memastikan suatu hal! hati nya berkata bahwa Vian baik-baik saja! namun suara monitor yang samar-samar ia telah dengar membuat nya bimbang. "Maaf, kalian ini siapa nya pasien? apakah keluarga dari pasien?" Tanya sang Dokter dengan suara berat. "Iya, saya Dok.. Ibu dari pasien yang baru saja Dokter operasi." Ucap Bu Ani cepat dan segera menimbrung percakapan Helina dan sang Dokter. Sang dokter pun langsung menatap Bu Ani dengan lekat lalu dengan suara berat nya ia berucap "Pasien tidak bisa di selamatkan, Bu." Ucap sang Dokter cepat dengan sekali tarikan napas nya. Deg.. Helina merasa lemas seketika, begitu juga dengan Bu Ani yang langsung terduduk lemas di lantai setelah mendengar hal itu! Helina meneteskan air mata nya kembali, Vian telah tiada? kenapa hati nya sangat sakit setelah mendengar semua ini?mengapa ia begitu peduli dengan Vian! mengapa. "Serangan jantung dadakan yang terjadi saat pasien kecelakan membuat nya, tidak bisa terselamat kan." Ucap sang Dokter kembali dengan suara berat nya. Helina langsung menatap wajah sang Dokter dengan penuh pertanyaa! serangan jantung? kecelakan? bukankah Vian tertembak? ada apa ini. "Dok, siapa nama pasien yang ada di ruangan itu?" Tanya Helina pelan ia memberanikan dirinya untuk bertanyan kesekian kali nya lagi. "Nama pasien adalah.. Bapak, Safiul Ahmad telah tiada sekitar 5 menit yang lalu." Jawab sang Dokter cepat yang mana membuat Bu Ani dan Helina saling berpandangan seketika itu juga. "Inalilahiwainalilahirojiun." Ucap Bu Ani dan Helina secara bersamaan. "Lalu dimana ruangan operasi Mayor Vian, Dok?" Tanya Helina cepat sekarang sebuah senyuman kecil kebahagian terlihat di sudut bibir Helina ternyata hati nya benar! Vian pasti baik-baik saja. "Maaf, kami tidak bisa memberitahukan hal itu! silahkan Ibu tanda tangan di meja resepsionis kami, dan dari pihak kami akan menyerahkan jasat Bapak Ahmad ke keluarga, Ibu." Ucap sang Dokter cepat dan segera ingin melangkah pergih namun langsung di tahan oleh Helina. "Tidak, Dok.. saya-saya adalah keluarga dari Mayor Jendral Vian! bukan Bapak Ahmad." Ucap Helina cepat yang mana membuat raut wajah sang Dokter kebingungan seketika. "Iya Dok, saya adalah Ani Anggara! istri dari Mayor Gio Anggara." Timpal Bu Ani cepat dan memperihatkan ekspersi yang menjanjikan bahwa yang ia katakan itu adalah benar dan memang kenyataan nya seperti itu. Sang dokter pun memicingkan kedua mata nya melihat satu persatu ke arah Bu Ani dan Helina secara bergantian, seolah-olah ia tak yakin tentang apa yang di katakan Helina dan Bu Ani. "Khm.. khm.. Password nya?" Ucap sang Dokter dengan cepat membuat Helina dan Bu Ani melongo seketika dan memiringkan kepala mereka heran. "Password? maaf, Dok! tapi kami tidak sedang ikut kuis! tolong Pak Dokter mengerti dan cepat beritahukan dimana ruangan nya?" Ucap Helina cepat dan tidak sabaran ingin sekali ia mencakar wajah sang Dokter yang menyebalkan itu menurut nya. "Saya juga sedang tidak bercanda! itu adalah informasi yang rahasia! saya harap kalian memahami nya dan tolong beri alamat rumah Ibu, dari pihak rumah sakit akan mengantarkan jasat Pak Ahmad nanti kesana." Ucap sang Dokter cepat dan segera melangkah kembali. Helina yang sudah kehilangan kesabaran itu pun langsung melemparkan tas kecil nya ke arah sang Dokter! brak.. tas kecil itu pun mendarat tepat di punggung sang Dokter. "Kau!" Pekik sang Dokter dengan wajah keras nya menatap tajam ke arah Helina. Bu Ani yang sedari tadi melihat tingkah menantu nya dan sang dokter itu hanya mampu menghela napas pasrah dan kepalanya pening seketika! Helina yang sedang mengandung mudah sekali kesal atau pun marah! dan sang dokter yang terus saja tak percaya dan bersikap seenak nya itu lah yang membuat Helina kesal. "Apa? hah?" Ucap Helina kesal dan menatap balik sang dokter yg usia nya terlihat tak beda jauh dari Helina. "Ibu, tolong ajari anak Ibu ini sopan santun!" Ucap sang Dokter cepat dan menatap tajam ke arah Helina. Helina yang sudah berkoar pun tak bisa reda ia menanikan sebelah alis mata nya dan tersenyum miring ke arah sang dokter lalu ia berucap "Dokter, macam apa yang tak membolehkan keluarga pasien nya menengok?" Ucap Helina cepat dan menatap tajam ke arah sang Dokter. "Cukup! kalian berdua ini! seperti anak kecil saja hah.." Ucap Bu Ani marah dan terduduk lemas di kursi tunggu yang ada di dekat nya. "Baiklah, mana tanda pengenal yang bisa membuktikan kalau Ibu, dan kau yang menyebalkan tak punya sopan santu ini! adalah keluarga dari Mayor Jendral Vian Hamaran Juan!" Ucap sang dokter dengan cepat dan tegas menatap ke arah Helina dengan tersenyum miring ia tau Helina tak akan mampu untuk membutikan nya, yang benar saja! wanita yang sedang mengandung ini ingin mengelabui ku? huh.. payah sekali. "Kemarikan tas, ku!" Ucap Helina cepat dan masih terbawa kesal oleh sang dokter yg menyebalkan ini, bahkan bayi yang ada di dalam kandungan nya pun merasa hal yang sama dengan apa yang di rasakan Helina itu. Sang dokter pun menatap sekilas ke tas kecil yang saat ini telah ia genggam dan langsung menyodorkan kepada Helina "Ini ambilah!" Ucap sang Dokter itu cepat dan setengah hati menyerahkan tas kecil yang sudah melukai punggung nya itu kepada Helina. "Ini lihat! ini adalah foto keluarga! dan disini ada Mayor Vian! lihat.. kau sudah melihat nya kan?" Ucap Helina cepat dengan tak ikhlas menyodorkan ponsel nya kehadapan sang dokter. "Cih, jaman sekarang semua foto bisa di edit!" Ucap sang dokter cepat dan tersenyum miring. "Apa? apa kau pikir aku repot-repot melakukan itu hanya untuk menjenguk? apa kau sadar tentang apa yang baru saja kau ucapkan, Dokter?" Tanya Helina meruntut kesabaran nya benar-benar habis oleh sang Dokter yang keras kepala ini. "Huuff.. Baiklah, aku akan mengantar kalian.. tapi jika kalian berbohong maka aku akan meminta petugas untuk mengusir kalian secara paksa dari sini, setuju?" Ucap sang Dokter cepat dan memandang rendah Helina, ia pun mengulurkan telapak tangan nya di hadapan Helina. Helina dengan cepat dan tak sabaran langsung mengulurkan telapak tangan nya juga di atas telapak tangan sang dokter, lalu ia berucap "Setuju!" Ucap Helina dengan tegas dan memandang sang Dokter dengan tajam. 5 menit kemudia, Ruangan VIP "Ruangan VIP?" Pekik Helina pelan sedikit terkejut, bukankah Vian di operasi? apakah operasi nya berhasil? satu persatu pertanyaan-pertanyaan muali bermunculan di pikiran Helina. Tampa aba-aba atau pun permisi Bu Ani langsung mendobrak masuk ke dalam ruangan! bahkan tampa mengucap salam, dengan perasaan nya yang cemas ia ingin memastikan bahwa Vian baik-baik saja! Helina dan sang Dokter pun dibuatnya melongo seketika akan tindakan Bu Ani itu. "Vian, anak ku!" Ucap Bu Ani sedikit berteriak berhamburan dan memeluk tubuh Vian yang sedang terbaring lemah di kasur. Helina masuk ke dalam ruangan, melihat Bu Ani yang sedang memeriksa tubuh Vian dengan teliti dan memarahi Vian di saat bersaman membuat Helina sedikit lega, akan kah bu ani seperti itu jika yang sedang terbaring lemah disana adalah Aksa? helina tersenyum getir, disaat-saat akhir hayat suami nya pun Helina tak bisa bersama nya! skenario kehidupan seperti apa ini? Helina tak mengerti mengapa ia selalu saja di pisahkan dengan orang terkasih nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN