PART 19

2638 Kata
19 “MAAF, APA BISA kau ulang lagi?” seru aku cepat saat kalimat itu keluar dari bingkai mulut Damon. Aku merasa seperti akan tertawa keras, namun gelak harsa itu tercekat di leher dan menolak untuk keluar. Rasanya seperti aku akan terbahak – bahak, tapi sebagian besar akal sehat yang rasanya sudah hilang dari benak aku itu masih menahan aku agar tidak memberikan reaksi yang sublim di depan laki – laki ini. Aku masih sibuk menafsirkan premis dan terlalu bingung harus berbicara apa. Pada dasarnya, ini semua seperti mimpi demam. Kau tahu apa itu mimpi demam? Seperti fever dream, sebuah mimpi yang hanya aku dapat ketika sedang sakit panas. Terkadang kau akan sakit panas, dan punya segala macam mimpi aneh dan buruk yang membuat kalian tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku menelan ludah menunggu respon dari Damon, tapi pria itu hanya diam dan menutup mulut. “Damon, aku serius. Bisakah kau ulang lagi apa yang kau katakan tadi?” pinta aku pelan. Aku perlu sebuah konfirmasi. Entah apa, tapi mungkin saja aku salah dengar di awal tadi, kan? Aku yakin aku salah dengar sebab, kalimat macam apa itu? Mungkin aku memang sudah salah dengar. Dari awal saat Nyonya Smith mengatakan aku harus tinggal di sini pun, aku sudah merasa mungkin aku ini ada masalah pendengaran. “Kita pasangan jiwa,” kata Damon akhirnya. Aku menarik napas panjang. Bagus. Baiklah. Ini semua asli atau hanya halusinasi aku saja? *** PASANGAN JIWA. Oh bagus. Bagus sekali. Bukan hanya fakta kalau semua ini ada sangkut – pautnya dengan hal – hal supernatural di bumi, Damon Hawkwolf, laki – laki itu harus mengeluarkan ultimatum tersebut. Pasangan jiwa. Kita. Berdua. Adalah. Pasangan. Jiwa. Kalau aku punya kekuatan untuk bisa memukul kepalanya dari belakang ke depan, aku akan melakukan itu. Apa dia tidak bisa melihat keadaan aku sekarang? Apa dia tidak bisa melihat kalau aku sudah cukup di kejutkan hari ini? Apa dia masih ingin terus membuat aku nyaris tidak bisa percaya dengannya? Heck . . . apa dia ingin aku kehilangan kesadaran lagi? Dalam seumur hidup aku, aku tidak pernah yang namanya pingsan. Sekarang, dalam satu hari saja aku bisa mengeluarkan rekor lebih dari dua kali pingsan. Ini sudah keterlaluan. Damon sudah keterlaluan. Aku tidak peduli dengan iblis, manusia serigala, vampir, atau apa pun itu. Sungguh. Tentu saja aku lebih tidak peduli dengan omong kosong seperti pasangan jiwa. Dia pikir dia siapa? Aku tahu dia tampan, tinggi, menawan, terkadang senyum lebarnya yang memperlihatkan gusi itu membuat aku nyaris tidak berjalan sebab lutut aku tiba – tiba menjadi lemas, tapi tetap siapa. Dia pikir dia siapa? Seumur hidup aku—iya, aku akan terus mengungkit masalah ini dan di bandingkan dengan pengalaman seumur hidup aku—tidak pernah yang namanya suka dengan laki – laki. Ya, ya, tentu saja aku pernah yang namanya tertarik pada kaum Adam. Tapi hanya itu saja. Sebatas rasa suka yang biasa. Dan sekarang laki – laki ini dengan mudahnya mengatakan kalau kita terikat dengan titel pasangan jiwa? Jatuh cinta saja aku tidak pernah! Damon berdecak, mungkin melihat apa pun itu ekspresi yang ada di wajah aku. Aku harap mimik tersebut sama dengan tatapan mengerikan. Atau mungkin tatapan pembunuh serial yang menakutkan semacam Ted Bundy. “Kaut tidak percaya.” Damon berkata. Sebuah pernyataan. Bukan pertanyaan. Dia tahu. Aku. Tidak. Percaya. Dan apa kah dia menyalahkan aku? Sungguh, jika keadaan terbalik, apa laki – laki itu bisa dengan mudah percaya omong kosong seorang gadis menyedihkan yang menyebut dia pasangan jiwanya? Bukannya aku mengatakan Damon menyedihkan. Tapi Damon sedikit menyedihkan saat ini . . . dengan wajah yang nyaris putih dan kecewa, dia bak seorang prajurit yang kehilangan komapanyon berharganya. Aku mengangkat bahu. Dan meledak. “Oh, pasangan jiwa? Yang benar saja!” Damon terlihat tersinggung. “Aku bahkan tidak pernah yang namanya cinta sama seorang laki – laki!” “Bagus,” Damon membalas sengit. “Jika kamu berani, laki – laki itu akan aku incar seumur hidup.” “Itu terdengar gila,” kataku datar. “That is psychotic.” “Dan apa aku terlihat peduli?” Tidak. Damon terlihat tidak peduli sama sekali. Yang ada, laki – laki itu malah terlihat penuh determinasi. Seperti fakta kalau aku berani – beraninya suka pada laki – laki lain akan benar – benar membuat dia memburu siapa pun pria malang itu. Aku menyipitkan mata padanya. “Kau tidak punya hak.” “Tentu saja aku punya hak. Aku pasangan jiwamu. We are mates.” “We are not mates!” aku melipat dua tangan di depan d**a. Aku tahu bertingkah laiknya anak kecil yang sedang membuang tantrum tidak akan pernah berakhir baik, tapi aku sudah lelah. “Aku mau pulang.” Damon bereaksi cepat dengan diktum itu. “Pulang? Perasaan aku saja, atau suaranya tiba – tiba kehilangan konfiden dan terdengar lirih? Aku menggigit bibir dan mengangguk. “Aku mau kembali ke rumah Nyonya Smith,” lanjutku lagi. Seketika Damon menjadi rileks. Bahunya tidak setegang tadi, dan dua alisnya turun. Laki – laki itu membuang napas seperti lega. “Oh.” “Sekarang, Damon.” “Kau tahu ‘kan Nyonya Smith masih membetulkan pipa air di rumahnya?” Damon menarik selimut di kaki aku, dan membawanya ke atas. Dia tidak melakukan gestur romantis seperti menyelimuti aku atau semacamnya. Dia melempar selimut aku ke wajah. “Tidur dan istirahat. Jika saat kau bangun kau masih ingin pulang, kau bisa melihat sendiri keadaan rumah Nyonya Smith seperti apa.” “Aku tidak mau—“ “Tidur, Shay.” Damon berdiri, dua tangan masuk ke dalam saku celana secara otomatis. “Kita akan membicarakan ini lagi nanti.” “Tidak ada nanti. Kita bicarakan ini sekarang. Kau dan aku,” tangan aku menunjuk aku dan dia bergantian. “Bukan pasangan jiwa. We are not mates, and I don’t believe that.” Damon terlihat . . . sakit hati. Dia menerawang ke depan, lalu akhirnya mendongak ke atas. Jari – jari panjangnya memijat leher dan tengkuk, dan napas nya terbuang dari mulut. Damon begumam jengkel, seperti melampiaskan frustasinya. Dan seperti berkata “kenapa ini harus terjadi padaku?” pada semesta. Dia menggeleng. “Kita bicarakan ini nanti.” “Nanti atau sekarang, aku masih tetap bukan pasangan jiwamu.” “Terserah, Shay.” Damon berjalan ke luar. Ketika dia sudah di pintu, laki – laki itu mengulurkan tangannya seperti akan mematikan lampu. Aku menelan ludah. Sebelum dia sempat mematikan lampu dari tuasnya, aku berdeham. “Jangan.” Damon menoleh ke belakang, satu tangan di kenop pintu. “Jangan apa?” “Jangan matikan lampunya.” Kata aku lirih. Gelap. Gelap. Gelap. Aku benci kegelapan. Aku tidak pernah mau gelap lagi. Kabut. Dan gelap. Aku tidak mau masuk ke sana lagi— “Baiklah.” Damon berkata pelan. Mata kami saling bertabrakan untuk waktu yang lama. Dia berdiri, mengobservasi aku, lalu mengangguk. “Baiklah.” Aku tidak menjawab. Sebelum dia menutup pintu, Damon berkata lagi. “Shay?” Shay . . . Shay . . . Shay . . . “Iya?” “Tidak ada yang bisa melukaimu.” Damon menatap aku lekat. “Tidak jika aku masih bernapas.” Dan aku harus bisa percaya itu. Aku harus percaya pada Damon Hawkwolf kalau dia bisa menjaga aku, memastikan kalau tidak akan ada yang bisa melukai aku, karena tidak mungkin aku terus hidup dalam ketakutan yang tinggi dan besar. Tidak mungkin aku terus hidup dalam ketakutan pada gelap. *** Entah berapa lama aku terlelap, tapi begitu aku bangun, rasanya aku sudah berada di gurun pasir selama berhari – hari. Tubuh aku lelah dan pegal. Tenggorokan aku kering. Sangat kering hingga aku tidak bisa bersuara. Kepala aku masih pening, tapi tidak sesakit tadi. Begitu aku sudah benar – benar sadar, aku segera bersih – bersih. Setelah aku puas dengan mandi yang memakan waktu lebih lama dari biasanya, aku mengenakan baju ternyaman mungkin, dan kembali naik ke atas tempat tidur. Tidak butuh waktu banyak, pikiran aku hanya tertuju pada satu tempat Pasangan jiwa. Ini gila. Ini sudah keterlaluan. Ini seperti plot sebuah buku romansa fantasi. Tapi ini bukan fiksi. Ini nyata. Aku benar – benar ada di New Cresthill, dan aku . . . aku sudah masuk dalam plot ini. Manusia serigala. Iblis. Pasangan jiwa. Apa berikutnya? Vampir dan peri? Aku bergidik ngeri. Tidak tahu jika ini semua memang benar. Rumit bagi aku untuk percaya seratus persen pada hal – hal yang biasanya hanya berupa cerita di dalam sebuah buku. Ayolah, siapa yang akan percaya jika seorang laki – laki asing yang tidak lama kau kenal tiba – tiba berkata kalau dia adalah sebuah makhluk supernatural? Aku melompat ketika suara nada dering terdengar. Suara itu semakin keras secara perlahan. Aku turun dari tempat tidur dan mencari benda tersebut. Di mana ponsel aku? Terakhir kali aku memegangnya . . . adalah saat Damon menelepon aku di mobil. Aku menggeleng dan menghapus ingatan tersebut. Belum saatnya. Mataku segera melihat tas yang digantung di dekat pintu. Cordelia mungkin membawanya. Aku menngambil ponsel dari dalam dan segera mengangkat tanpa melihat terlebih dahulu nama yang tertera di layar kaca. “Halo?” “Saoirse?” “Michael?” aku berjalan ke tempat tidur dan kembali duduk. “Halo. Ada yang bisa aku bantu?” “Ada yang bisa aku bantu?” Michael mengulang tak percaya. “Kau sudah gila? Ke mana saja kamu, Saoirse?” “Er . . . kenapa?” aku menahan diri untuk tidak meringis. Berapa lama aku tidak sadarkan diri? Michael mendengkus. “Kau menghilang selama tiga hari!” Oh. Baiklah . . . tiga hari. Itu tidak buruk. Pikiran aku sudah memikirkan skenario paling buruk. Apa aku tidak sadar sebulan lebih? Apa aku sudah di keluarkan dari sekolah? Seberapa banyak tugas dan kuis dan ulangan yang terlewat? Apa aku akan di deportasi kembali? Tapi nyatanya, aku hanya melewatkan tiga hari sekolah. Itu tidak buruk, ‘kan? “Michael aku, er . . . sakit.” Itu alasan yang cukup baik. “Aku tidak bisa masuk kelas.” “Setidaknya kau bisa mengirim pesan, Saoirse.” Michael membalas. “Oh, tidak. Apa sakitnya parah? Sampai kau tidak bisa mengirimkan kabar?” “Tidak, tidak,” jawab aku cepat. Sebelum Michael berpikir aku mendapat penyakit parah atau semacamnya. “Aku hanya terlalu lemah untuk melakukan apa – apa. Tapi aku sudah lebih baik!” “Mau aku jenguk? Aku bisa membelikan kamu makan—“ “Tidak perlu,” potong aku cepat. Michael? Ke sini? Tidak ada yang tahu aku menginap di rumah keluarga Hawkwolf. Dan aku ingin hal itu tetap seperti itu. Aku tidak ingin menjadi gosip kota kecil ini. Michael berdecak. “Tidak masalah. Aku bisa mampir setelah kelas terakhir. Aku akan membawakan tugas – tugas yang tertinggal dan—“ “Michael. Sungguh. Kau tidak perlu melakukan itu. Lagi pula, aku tidak ingin kau terjangkit juga,” kata aku. Dan untuk membuktikan, aku pura – pura terbatuk. “Aku berterima kasih atas tawarannya.” “Oh,” Michael terdengar kecewa. Kenapa dia kecewa? “Baiklah.” “Er . . . tapi tentang tugas – tugas. Bisakah kau menjelaskan dan mengirimkan nya di email?” “Tentu saja, Saoirse.” Aku tersenyum lebar. Di saat tiga ketukan terdengar dari pintu, dan Damon masuk tanpa menunggu jawaban dari aku. Rude. Laki – laki tidak sopan itu mengangkat dua alis saat melihat aku tersenyum lebar. Yang by the way, langsung hilang satu detik kemudian. “Cepat sembuh, ya.” Suara Michael membuat aku tersadar kalau sambungan masih menyala. “I will see you soon.” “Tentu saja. Terima kasih, Michael.” Menyebut nama itu, alis Damon semakin tinggi. Aku mematikan telepon dan balas menatapnya dengan ekspresi yang sama. “Pernah mendengar mengetuk dulu sebelum masuk?” “Aku sudah mengetuk pintu.” “Aku belum mempersilahkan kau masuk.” “Kelihatannya kau sedang dia sibuk,” dia menunjuk ponsel aku di tangan. “Sibuk dengan siapa?” Oh. Bagus. Aku tidak akan meladeni laki – laki ini sekarang. “Bukan urusanmu,” aku mendengkus dan melipat dua tangan di depan d**a. “Apa yang kau butuhkan?” “Makan,” Damon menunjuk ke bawah dengan dagunya. “Dengan siapa kau berbicara, Shay?” Aku berdiri dan mengantungkan ponsel di saku celana belakang. “Seperti yang aku bilang, bukan urusanmu. Apa Cordelia ada di bawah?” “Kenapa memangnya?” Damon bertanya. “Siapa yang meneleponmu?” “Karena aku tidak mau kalau tidak ada Cordelia.” Jawabku santai. “Yang menelepon aku bukan urusanmu.” “Ada Cordelia di bawah,” Damon mengatupkan rahangnya. Aku berjalan keluar. “Siapa yang menghubungi kamu, Shay?” “Bukan urusan—hey! Damon!” Laki – laki itu mengambil ponsel aku dari saku belakang. Dia mengangkat tangannya tinggi, membuat kau tidak punya kesempatan sama sekali untuk meraihnya. Apa ‘sih yang dia makan sampai bisa setinggi itu? “Damon kembalikan!” Dia berkutat dengan ponsel aku dan dengan mudah melihat panggilan terakhir aku. “Michael?” dia berpikir sebentar. “Ugh, Michael.” Aku melompat, menarik lengannya, dan mengambil ponsel aku dengan cepat. “Michael atau tidak, itu. bukan. Urusan. Kamu.” “Berhenti berhubungan dengannya,” Damon berkata santai. “Atau apa?” “Memburu. Ingat?” Damon tersenyum sarkas. Dan jika aku mampu, aku akan memukul senyum itu jatuh dari wajahnya. “Michael dan aku adalah teman. Kau dan aku . . . bukan apa – apa.” “Pasangan jiwa.” “Bukan.” Aku mengatupkan rahang lagi. “Kau jangan tingkahmu, Damon.” Dan aku berbalik badan meninggalkan laki – laki itu. Saat aku turun dari tangga, satu hal baru muncul di pikiran aku. Bagaimana dia bisa tahu kata sandi ponsel aku? Damon Hawkwolf. Aku akan membuat pria itu menyesal sudah berani mengganggu privasi aku. Aku akan membalas dendam padanya dan semua hal yang dia suka. Aku memicingkan mata dan mencibir. Damon Hawkwolf. Untung saja kau tidak ada di hadapan aku saat ini, dasar kau pria tidak tahu diri! *** Benar saja. Cordelia sudah duduk di meja makan, menunggu aku dan Damon datang. Di sebelahnya, kekasih tampannya Hunter sudah duduk dalam jarak proksimal. Sepertinya aku tidak pernah melihat Cordelia tanpa Hunter. Mereka selalu bersama, selalu berdua, selalu terikat. Saat aku duduk dan membalas senyum ramah Cordelia, inkuiri itu terlepas begitu saja. “Apa kalian pasangan jiwa juga?” Cordelia terbatuk. “Apa?” “Mates. Are you guys mates? Because you two never stands alone.” “Oh. Er . . .” Cordelia menoleh ke samping agar mendapat bantuan dari Hunter. Laki – laki itu hanya mengedikkan bahu nya. “Iya. Kita pasangan jiwa.” Damon tiba – tiba muncul dan duduk di samping aku. “Sama seperti kita.” “Kita bukan pasangan jiwa.” “Terus mengatakannya tidak akan merubah fakta, Shay.” Damon meraih makan malam—yang berupa Chinese Takeout—dan memberikan aku satu kotak. “Makan.” “Damon, kau memberi tahu dia?” Cordelia mengerang kesal. “Sudah aku bilang, jangan jatuhkan bom secara berturut – turut.” “Better now.” Aku mencibir mendengar jawaban Damon. “Aku ingin pulang,” kata aku pada Cordelia. “Kembali ke rumahmu.” “Tapi, pipa airnya belum selesai,” jawab Cordelia. “Lagi pula, er . . . kau tidak bisa pulang. Tidak sebelum kita bisa menangkap Ingruth.” Si iblis? “Mau tidak mau, kau harus tinggal di sini. Karena kau sudah menjadi targetnya.” “Bukan kah Knight sudah menangkapnya?” tanyaku. Lalu sedetik kemudian aku memerah. “M—maksud aku—“ “Aku kehilangan dia.” Damon mengepalkan tangan. Rahangnya terkatup. “Itu berarti, kau dalam bahaya. Saoirse, mulai hari ini, kau akan tinggal di rumah ini dan bersama dengan aku selamanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN